(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Bukti Lain


__ADS_3

William masih menekuk mukanya kesal, sementara Ayudia berusaha membuta sepupunya itu tidak mengambil lagi,


Sore harinya Emillia datang dengan membawa empat kotak pizza dan beberapa cemilan, tak lupa ia juga membelikan Bu Ratna buah.


Davina dan Daffi yang melihat kedatangan Emillia membawa pizza langsung bersorak senang, pasalnya Ayudia jarang sekali memperbolehkan putra dan putrinya makan junk food karena tidak baik untuk tumbuh kembang mereka.


Namun berbeda dengan Daffa, pria kecil itu hanya duduk sambil meminum juice buatan neneknya sambil memperhatikan kedua saudaranya yang berebut makan pizza


"Sayang apa kau tidak rindu pada mama Emil??" tanya Emillia yang melihat putra sulung Ayudia cuek melihat kedatangannya


"Hallo Tante kaleng rombeng, aku tidak merindukanmu. sepertinya om William yang merindukanmu" ucap Daffa melirik pada omnya yang langsung tersedak dan batuk-batuk.


Wajah Emillia langsung merona merah karena malu, sementra William langsung melotot pada ponakannya itu, mengapa anak dan kedua orangtuanya sama-sama menyebalkan.


Ratna melempar tatapan pada Ayudia yang langsung di balas senyum pernah arti


"Iya sayang, kemarin Mahesa mengatakan jika kau tak pernah lagi main" ucap Ratna menambah kayu bakar di api yang menyala


"Ma.. sejak kapan aku..."


"Itulah ma, aku juga sudah ajak Emil ke rumah mama, tapi mama tahu sendiri kan anak mama jual mahal" Ayudia makin memanasi


"Jual murah saja tak laku, buktinya dia jomblo pakai formalin" ucap Daffa memakan pizza yang di ambilkan Emillia


Emillia maupun William tersendak air ludahnya sendiri, mereka ingin sekali menyumpal mulut anak kecil itu


"Apa menurutmu begitu sayang???" tanya Ratna tertawa kecil sambil mengelus puncak kepala Daffa


"Begitulah menurut anak kecil ini" ucapnya bangga, Sementara Ayudia memuji sekaligus ingin menjewer putranya, darimana mulut beracun itu berasal, kakeknya??? atau pria penyumbang benih itu?, entahlah keduanya sama-sama.....


Ayudia speechless


"Aku rasa saat kau hamil, kau ngidam burung berkepala ular kak, mulut anakmu lincah berbicara seperti burung, namun berbisa dalam waktu yang sama" ucap William mendengus kesal


"Hahahaha, sayang, kenapa kau ambil hati ucapan anak kecil??? kau kekanak-kanakan sekali"


"Apa ada anak kecil seperti dia ma?, dia reinkarnasi iblis kecil" ucap William


"Om klo aku iblis lalu mamaku???" ucap Daffa sengaja memancing William menaruh jebakan di jawaban yang akan William berikan


"Tentu saja ib..."


"Apa?? aku gak dengar?" ucap Ayudia


"Jadi anakku iblis kecil, lalu aku apa???" ucap Arjuna yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana


"Kak, kau dewa, ya dewa" Daffa tersenyum puas, setidaknya papa mesumnya datang Membelanya


"Kalau aku dewa, gak mungkin aku melahirkan iblis dan kau????"


"Aku salah kak, aku salah" ucap William langsung memperbaiki ucapannya.


terakhir kali ia menyinggung kakaknya, ia harus di tugaskan seminggu ke kota kecil.


dan ini...


William tak akan Sudi.


"Kak, bantu jelaskan pada ib.. eh kak Arjuna" tatapan William meminta pertolongan


"Kau memang iblis maka dari itu melahirkan iblis kecil seperti anakmu" bisik Ayudia tepat di kuping Arjuna sambil tersenyum kecil, Arjuna membulatkan matanya.


wanita ini berani sekali mengatainya dan putranya.


"Ayu buat minuman dulu untuk mas Arjuna" ucap ayu langsung melenggang pergi


"Bu, Arjun kebelakang dulu ya" ucap Arjuna mencium tangan Rana lalu bergegas menyusul Ayudia ke dapur


"kau seperti papamu Daffa " ucap William menatap keponakannya


"Tentu saja, masa mirip om, kalau mirip om, mama selingkuh dengan om"


"Astaga, cucu nenek betapa pintarnya" ucap Ratna memuji cucunya membuat William makin gondok di buatnya


"Aku akan buat selusin cucu lebih tampan dari dia, tapi tidak menyebalkan sepertinya" ucap William pada mamanya


"Anak bodoh, kau pikir wanita mesin penghasil anak, aku lebih suka kau melahirkan anak kembar seperti kakakmu, Samuel"

__ADS_1


"Tenang ma, mama gak usah khawatir, pokoknya anakku nanti lebih baik dari bocah nakal ini" ucap William percaya diri


"Nek, anak nenek halu, pacar saja gak punya tapi mau buat anak, apa om William pikir buat anak itu seperti buta kue?? cari dulu kekasihmu, nikahi baru berfikir punya anak" ucap Daffa melenggang pergi mendekati suara dan saudarinya.


William kalah telak, ia melongo di buatnya, betapa Daffa...


"Arrghhh bocah itu, menyebalkan"


"Hahaha kau ...


mengapa lebih pandai cucuku, Emil aku jadi berfikir lagi apa kau sanggup jika nanti menikah dengan anak bodoh ini????


William, ingat, cari pacar dulu dan menikah. jangan kau down payment sebelum menikah, akan ku coret kau dari daftar keluarga" ucap Ratna langsung bangkit.


William sangat malu di depan Emillia, begitu juga emillia malu karena ucapan Ratna


Setelah kepergian Ratna keduanya salah tingkah, William batuk-batuk kecil untuk mencairkan suasana


"Maafkan mamaku, mamaku suka bercanda" ucap William menggaruk kepalnya yang tak gatal


"Gak masalah kok pak, santai aja" ucap Emillia tak tahu harus berkata apa


"Kalau di luar kantor, cukup panggil..."


"Mas atau sayang dong Tante, biar akrab gitu, ya kan de?" tanya Daffi yang belepotan saus tomat, sementara mulutnya masih menginjak pizza, Davina mengangguk mantab menjawab ucapan Daffi


"Kalian,...


sana, sana, makan pizza kalian. anak kecil ikut campur aja" ucap William mengusir dua kurcaci kecil yang mengganggunya


"Kit akan cuma membantu, kasian om kemana-mana sendiri.


roda motor aja ada dua masa on sendirian aja" ucap Daffi


" Uhmmm" jawab Davina karena mulutnya penuh dengan pizza


William meremas rambutnya frustasi.


kedua ponakannya sungguh....


"Yu de, kita makan lagi" ajak Daffi menggandeng adek nya


"Semangat om, Tante Kareng rombeng juga cakep cuma berisik" ucap Daffi cekikikan, mereka berdua kembali ke meja makan sambil berlari kecil.


Emillia di puji sekaligus di jatuhkan, William maupun Emillia kesal dengan bocah kecil itu, keduanya tanpa sadar beradu pandangan dan akhirnya tertawa canggung.


Sementara di dapur


"Sayang, kau meninggalkan suamimu yang tampan ini" ucap Arjuna memeluk Ayudia dari belakang


"Eit lepasin, kita sudah lama berpisah, kita bukan muhrim"


"Kalau begitu Abang halalkan Eneng deh, biar jadi muhrim" ucap Arjuna menaik turunkan alisnya


"Dalam mimpi" ucap Ayudia menyodorkan gelas berisi teh manis pada Arjuna lalu meninggalkannya


"Jangan tinggalkan aku sayang" ucap Arjuna membuntuti Ayudia, namun mulutnya langsung mingkem setelah melihat ke tiga buah hati mereka menoleh ke arah Arjuna dengan menaikan sebelah alisnya


"Memalukan" ucap Daffa dan Daffi


"Atu mau ganti papa" ucap Davina masih kekeuh mengatakan itu, Arjuna salah tingkah


"Anak-anak, papa lupa kalau papa membelikan kalian banyak ice cream, tadi sudah papa kasih mama Kalina" ucap Arjuna berharap si kembar luluh


"Kami kenyang ice cream, Tante Emillia membelikan baaaaanyak" ucap Davina


"Kami gak mudah di sogok" ucap Daffa yang di angguki kedua adiknya


Sementara Ayudia memilih menutup matanya malu, mereka sangat matrealistis, namun Ayudia membuatkan saja, ia ingin melihat seberapa layak Arjuna menjadi papa anak-anak nya.


"Bagaimana kalua besok kita ke Waterboom???"


"Daffa, Daffi dan Davin saling pandang, mereka lalu menyeringai penuh arti


"Waterbom di jungle, setelah itu melihat binatang" ucap Daffi yang ingin sekali menghabiskan waktu disana dengan kedua orangtua lengkap


"Apa kau tidak kekanak-kanakan???" tanya Daffa menaikan sebelah alisnya

__ADS_1


"Atu setuju"


"Ah baiklah, kalian menang" ucap Daffa tak tega melihat wajah melas Daffi. Daffa tahu jika Daffi memiliki cita-cita menghabiskan waktu dengan orangtua lengkap, itulah mengapa sejak awal ia sangat bahagia mengetahui Arjuna adalah papanya, ia bahagia akhirnya memiliki keluarga lengkap, ada papa dan mama.


Daffi bisa membusungkan dadanya bangga, ia tak merasa minder dan sedih saat orang mengatainya TKA memiliki papa.


Keesokan harinya, mereka bersiap untuk pergi tamasya, Ayudia memerintahkan Jacky untuk mengambilkan pakaian renang anak-anak, karena ia tak mau boros harus membeli lagi di saat mereka masih punya pakaian renang.


Seperti biasa sebuah mobil berisi dua orang bodyguard d mengikuti Ayudia pergi bertamasya.


Saat melihat anak-anaknya bermain, Jacky menghampiri Ayudia dan menyerahkan ponselnya


"Nona, Miss Al Rasyid menghubungi anda tapi tidaka anda angkat, beliau sekarang sedang menelpon, silahkan" ucap Jacky sopan


"terima kasih Jacky" Jacky mengangguk sopan dan berjalan dua langka, berbaik arah membelakangi mereka.


"Hallo assalamu'alaikum ma, maaf ponsel Ayudia silent"


"Wa'Alaikum salam, sayang kamu membuat mama khawatir, apa kalian bersenang-senang???"


"Iy ma, anak-anak sedang berenang bersama papa mereka, mereka kelihatan bahagia sekali" ucap Ayudia, namun alisnya berkerut melihat suaminya malah asik berbincang dengan ibu-ibu muda, bahkan beberapa dari mereka minta Selfi, Ayudia mencibir kesal


"Dasar ganjen" ucapnya lirih, lupa jika ia sedang menerima telepon khadijah


"Apa sayang??? siap yang ganjen???" tanya Khadijah bingung


"Ah enggak ma, mama salah dengar,.


Atu cuma bilang mereka gak mau di ganggu.


Mama menelpon Ayu ada apa ya???"


tanya Ayudia mengalihkan pembicaraan


"Sayang, mama harap kamu bisa memaafkan suamimu, bagaimanapun Arjuna gak salah, Kesalahannya adalah ia tak coba menerima pernikahannya dan menghindar, sehingga membuka celah buat orang berbuat salah.


Lagi pula kamu harus memikirkan anak-anakmu, walau mereka mandiri, namun mereka masih sangat kecil.


mereka butuh figur seorang ayah, jangan buat masa kecil mereka suram hanya karena keegoisannya.


Mereka mungkin tidak mengatakan, namun hidup tanpa orangtua lengkap seperti anak itik yang tak punya arah, kesepian jauh di lubuk hati mereka, pikirkan kata-kata mama.


jika kau tidak bisa menerima Arjuna karena belum ada cinta, pikirkan masa depan anakmu.


cinta akan datang seiring waktu.


Dan kakek serta nenekmu serta mama mendukung kalian bersama.


Ternyata kakek dan nenekku sudah lama mengenal Arjuna, mereka sangat tahu jika Arjuna sejak kau menghilang tak pernah dekat dengan wanita manapun.


jika kenyataanya sekarang dia bertunangan itu karena paksaan mama tirinya"


Ayudia mendengarkan ucapan Khadijah tanpa menyelanya, ia sadari apa yang Khadijah katakan ada benarnya.


"Apa kau masih di sana sayang?? maafkan mama terlaku ikut campur urusan kalian, itu mama lakukan karena mama sangat menyayangi kalian"


"Ma, makasih ya, Ayu justru bahagia, Gak pernah ada yang memberitahu Ayu harus apa dan bagaimana, Ayu akan ikuti perkataan mama"ucap Ayudia menghapus air matanya haru


"Sama-sama sayang, oh ya, bukti keterlibatan Lia dan putrinya dalam menjebak mu sudah mama peroleh, dan tentang mamamu...


kita bicara setelah kau kembali" ucap Khadijah memotong ucapannya


"Mama kenapa??? apa yang Lia lakukan pada mama.kandungku?" tanya Ayudia setengah berteriak"


"Segera temui mama begitu kau kembali.


hal ini tidak bisa melalui telepon, kalau begitu mama tutup dulu teleponnya, assalamu'alaikum"


"Maa, please beritahu"


"Mama tunggu kau kembali sayang"


"Baiklah, wa'alaikum salam"


"Hati-hati dijalan dan salam buat suami dan cucu-cucu mama ya"


"Baik ma...

__ADS_1


__ADS_2