(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Sadar


__ADS_3

Sebastian kini berdiri di depan sesosok pria paruh baya yang terbujur tak berdaya dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya, tubuhnya bergetar hebat.


Semua emosi dalam dirinya bergejolak, sedih, dan merasa bersalah


"Pa... bangun pa, ini Tian" ucap Sebastian tercekat , suaranya terdengar parau


"Papa, maafin Tian selama ini ya pa.


Maafin Tian udah buat papa menderita lagi dan lagi, Tian bukan anak yang berbakti.


Mengapa Tian bukan anak kandung papa aja??


Mengapa Tian harus keluar dari rahim wanita itu dengan pria lain, Tian merasa hancur pa.


Tian gak mau papa yang lain, Tian hanya punya satu papa, papa Baskoro" Sebastian menuangkan semua uneg-uneg hatinya, ia menangis tersedu-sedu sambil menggenggam.jari baskoro,


Perasaan bersalahnya makin menyiksanya, ia lebih memilih di marahi oleh Baskoro atau ditegur oleh pria ini.


"Baskoro selalu berkata tegas namun ia tahu di balik ketegasannya ada kasih sayang yang tak terukur untuk anak-anaknya.


Ia tak pernah mengekang Sebastian yang menolak pergi belajar menjadi pengusaha, ia justru mendukung Sebastian selama itu positif dan membuat anak-anaknya senang dan yang paling membuat hatinya terpukul adalah


Mengapa ia bukan putra kandung Baskoro????


Tiba-tiba layar dengan jantung berbunyi kencang, tubuh Baskoro menegang sehingga Sebastian panik dan berteriak


"Papa, papa, dokter, tolong, tolong papa saya" teriak Bastian histeris


Beberapa dokter dan perawat langsung datang dan memeriksa kondisi Baskoro.


Sebastian merasa tubuhnya tak bertenaga, ia sangat takut kehilangan papanya, hingga ia jatuh terduduk di lantai.


Arjuna membantunya berdiri dan mendudukkannya di bangku


"Kak, papa baik-baik aja kan kak???


kalau terjadi sesuatu sama papa, aku gak bisa memaafkan diriku sendiri" ucap Sebastian sambil menangis.


Arjuna juga merasa panik, namun di depan Tian ia harus tegar


"Kau pasti lupa, pria tua itu lebih kuat dari yang kita duga, jangan khawatir, papa akan baik-baik saja dan akan segera siuman untuk memarahi kita" ucap Arjuna membuat sebastian dan William tertawa


"Kau benar kak, papa orang kuat, dia pasti akan bangun segera"


Tak la team dokter keluar, Arjuna segera menghampiri untuk menanyakan kondisi papanya.


Setelah menjelaskan keadaan Baskoro, team dokter langsung meninggalkan tempat tersebut.


"Papa hanya sedikit bereaksi, itu wajar untuk pasien koma. Jadi tak usah khawatir" ucap Arjuna menutupi kebenaran bahwa Baskoro hampir terkena serangan jantung lagi, namun menilik kondisi Sebastian yang belum stabil, ia memilih menutupinya.


"Aku takut kak"


"Kita perbanyak berdoa, insha Allah papa kuat" ucap William yang di angguki Arjuna.


Akhirnya Sebastian menginap di rumah sakit berjaga, sementara Arjuna hanya kembali untuk mandi dan mengambil baju, ia juga membawa pakaian ganti untuk adiknya tersebut.


Ayudia yang di kabari Arjuna Tian berada di rumah sakit, memaksakan diri memasak beberapa makanan kesukaan Tian, dan meminta suaminya membawanya saat ia kembali ke rumah sakit.


Tiga hari berlalu, kondisi Baskoro masih belum juga siuman, padahal dua hari kedepan mereka akan melakukan memasukkan gugatan pada Deswita, Arjuna merasa tak enak jika Samuel menunda lagi.


Bagaimanapun Samuel sudah banyak mengalah pada keluarga mereka.


Sementara sebastian sudah baik kondisi mentalnya, tak seroang pun berani mengungkit maslaah Deswita, tak terkecuali Arjuna


Namun di luar dugaan, Samuel menahan gugatannya, ia menunggu kondisi stabil, sehingga semua orang mau tak mau mengucapkan syukur dan terima kasih atas pengertian Samuel.

__ADS_1


Memasuki hari kelima saat Sebastian sedang berbicara dengan Baskoro, tiba-tiba jari tangannya bergerak.


Sebastian langsung memanggil perawat.


Dokter langsung datang dan memeriksa Baskoro.


dokter memeriksa kondisi Baskoro termasuk reaksi matanya terhadap cahaya dan bereaksi


Bola mata Baskoro mengerjap beberapa kali karena cahaya yang menyilaukan matanya, perlahan ia membuka matanya


pandangan nya kabur, ia mengerjap dan membuka matanya kembali, masih samar, setelah beberapa saat pandangan mata Baskoro baru fokus, ia memindai semua orang yang berada di ruangan tersebut, lalu pandangannya berhenti karena melihat putra bungsunya


"Tian, anakku" ucap Baskoro lirih


"Iy apa, ini Tian, papa...." Tian mendekati Baskoro Menggenggam tangan pria tua itu


"Sebaiknya biarkan pasien istirahat dulu karena baru bangun dari koma, jangan membuatnya tertekan atau emosi berlebihan, itu sangat berbahaya untuk kesehatan ya" ucap dokter menjelaskan pada Arjuna yang mengantar dokter menuju pintu keluar.


Arjuna menghampiri papanya dan tersenyum


"Pa, papa istirahat dulu, papa baru siuman"


"Papa gak mau istirahat, papa mau ngobrol sama Tian" ucap Baskoro yang takut jika ia tidur lagi, Sebastian akan pergi lagi


"Pa, aku gak akan kemana-mana.


Papa akan selalu menjadi papaku, tempat aku pulang. Papa sebaiknya istirahat dan jangan banyak berfikir" ucap Sebastian lembut


"Bener pa, Tian sudah menunggu papa dari tiga hari lalu"timpal William


" Iya pa, sejak tiga hari lalu Tian selalu di samping papa.


dia tak akan pergi lagi" tambah Arjuna membuat kerutan di kening Baskoro langsung menghilang, pria tua itu mengkhawatirkan putra bungsunya.


Selama Baskoro di rawat, Ratna beberapa kali datang menjenguk dan membawakan makanan untuk mereka semua.


Karena Baskoro kembali ke rumahnya, maka Ayudia dan ketiga anaknya yang menginap di rumah Baskoro.


Seluruh keluarga sedang duduk mengobrol di ruang keluarga, sementara Davina sedang asik main dengan barbie nya, ia asik menyuapi bonekanya dengan makna khayalannya.


Willy tak habis pikir dengan jalan pikiran Davina, dengan kecerdasannya saat ini, mengapa ia masih harus pura-pura menjadi anak polos yang menggemaskan???


Willy kembali teringat perjumpaannya beberapa waktu lalu, keponakanya itu sangat cantik dan sexy.


Willy menepuk nepuk kepalanya karena berfikiran jauh.


Memang sosok dewasa Davina merupakan idamannya.


Saat ini melihat Davina bertingkah seperti ini, membuat kepala Willy gatal, ia langsung menghampiri Davina.


sebelumnya ia celingak celinguk melihat keadaan sekeliling.


Jika saja ada yang melihat kelakuan Willy, mungkin orang menyangka jika ia tak normal, seorang pedofil.


"Om, tingkah mu mencurigakan tau" ucap Davina tanpa menoleh


"Apa seperti itu?? aku hanya risih melihatmu aneh seperti ini" ucap Willy berbisik


"Aneh bagaimana??? bukankah wajar??? ini merupakan hal yang biasa di lakukan oleh anak seusiaku???" tanya Davina dengan wajah polos


"Jika kau tak pernah menemui ku sebelumnya, aku akan percaya kau gadis kecil yang imut dan menggemaskan tapi setelah bertemu aku merasa kepalaku rasanya gatal melihatmu bisa bertingkah seperti anak kecil normal" ucap Willy duduk di depan Davina memperhatikan keponakanya dengan penuh selidik


"Om tahu?? aku menikmati peranku sebagai anak kecil..


menjadi orang dewasa melelehkan, menguras emosi dan tenaga. lagi pula tak ada yang salah mengingat usiaku memang masih kecil.

__ADS_1


Dan menjadi imut itu menyenangkan" ucap Davina ucap Davina menyeringai lebar membuat bulu kuduk Willy justru meremang, ia merasa kedinginan.


Wanita dengan IQ diatas rata-rata memnag menyeramkan, ia bisa bertingkah normal.


dan Davina memerankan peranannya dengan sangat apik.


"Kau membuat om merinding tau" ucap Willy tak menutupi apa yang ia pikirkan.


"Hahaha, om terllau banyak berfikir" ucap Davina mengedipkan sebelah matanya genit


"Davina, sedang apa sayang??? om Willy diajak main juga??"tanya Ayudia menghampiri putrinya yang sedang asik bermain


"Iya ma, om mau ikut main ibu-ibu an.


Om mamam om aaaaaa, aaaaa" ucap Davina menyodorkan sendok makan barbie nya ke mulut Willy. Dibawah tatapan Ayudia mau tak mau ia ikut permainan Davina walau dalam hatinya ia mengumpat kesal. Willy menyesal karena menghampiri gadis kecil licik ini.


"Mama, aku mau ice cream" ucap Davina memberikan tatapan puppies nya, seperti anak anjing imut.


Jika di masa lalu Willy akan gemas dan menggendongnya, kini ia merasa geli dan ingin menjitak kepala Davina


"Baik, om Willy mau juga gak??" goda Ayudia pada adik iparnya


"Aku bukan anak kecil" ucap willy. Ayudia hanya terkekeh kecil


"Anak besar juga terkadang suka ice cream kok.


kakakmu juga suka ice cream" ucap ayudia tersenyum


"Kalau kakakku, dia pemakan segalanya.


Bahkan kalau kak Arjun di lepas di alam liar, dia bisa hidup hanya memakan rumput" ucap Willy membuat Davina terkekeh papanya di samakan dengan kambing


"Aku setuju sama om" ucap Davina mengacungkan jempol


"Hus nanti kualat kamu sama papa, tunggu sebentar ya mama ambilkan ice mu sayang" ucap ayu lembut


"Makasih mama, Lope u" ucap Davina mengirim ayu kiss jauh.


"Kau..."


"Om imut sekali kalau akting" goda Davina yang memang melihat Willy kesal sejak tadi


"Kau, aku pria dewasa kau suapi makanan Barbie"


"Totalitas dalam peran om hahaha, gak usah marah, nanti gak aku Salami sama Agatha" goda Davina membuat Willy mendengus kesal, betapa liciknya keponakannya itu.


"Kau.. siapa yng perduli dengan anak buahnya itu???"


"Om aku mungkin masih kecil, tapi aku pengamat yang baik, om tertarik pada Agatha si centil itu" tawa kecil davina terdengar


"Kau mengkhayal.


Menyesal om mendekatimu" ucap Willy langsung pergi.


Davina tertawa terbahak-bahak


"Loh sayang, mana om Willy nya?? mama bawakan dia ice cream juga"


"Om Willy katanya kebelet pup ma" ucap Davina asal


Ayudia hanya diam dan menyerahkan ice cream untuk Davina


"Ingat, gak boleh berantakan ya sayang" ucap Ayudia mengelus puncak kepala putrinya


"Siap bos" ucapnya membuat Ayudia Hanya tersenyum dan meninggalkan putrinya

__ADS_1


__ADS_2