(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Mengurung Diri


__ADS_3

Pagi ini pengacara keluarga Benedito mengajukan berita acara gugatan pidana pada Lia dan Aurel, beberapa hari lagi keduanya akan di panggil dengan dua kasus berbeda.


Ayudia menghela nafas pelan, satu persatu akan mendapatkan balasan darinya, namun yang membuat hatinya sakit adalah perbuatan Lia pada mamanya, padahal Eldrea adalah wanita yang baik sekaligus sahabat yang pengertian pada sekitarnya.


Khadijah juga terlihat terpukul setelah mengetahui alasan kenapa sahabatnya itu meninggal, walau perbuatan Lia secara tak langsung, namun yang ia lakukan pemicu semu musibah yang terjadi.


Tak berbeda dengan keadaan Ayudia, Adhi bahkan terus saja menyalahkan dirinya sendiri, ia bahkan mengurung diri tak keluar kamar dan menolak makan dan minum.


Adhi hanya duduk ruang kerjanya, dan menatap sedih lukisan mendiang istri tercintanya.


Khadijah yang sudah membujuk tak bisa merubah sendirian Adhi, ia tetap tak mau membuka pintu.


Mau tak mau hanya Ayudia yang bisa membujuk papanya.


Khadijah berjalan mondar mandir di teras depan kediaman Adhi, sejak Lia menerima surat cerai, Adhi sudah mengusir mantan istri dan anak tirinya itu, ia tak perduli lagi dengan mereka.


Dan pagi tadi Khadijah mendapat telepon dari Nana, asisten rumah tangga yang sudah bekerja bertahun-tahun di rumah tersebut.


"Mba Ijah, duduk aja dulu, mba pasti lelah sejak pagi mondar mandir" ucap Nana yang sudah mengenal Ijah sejak lama


"Gak apa-apa mba, aku nunggu Ayu disini saja, mba tolong panaskan lagi makanan mas Adhi, sebentar lagi ayu datang, ia pasti mau mendengar ucapan Ayudia"


"Baik mba" ucap Nana merasa iba pada Ijah.


sejak Eldrea meninggal, Ijah dan Nana bahu membahu mengurus Ayudia dan rumah ini, sehingga hubungan mereka seperti adik kakak.


Karena sejak dulu di rumah tersebut tidak pernah ada perbedaan antara majikan dan pembantu, Eldrea dan Adhi seluruh memperlakukan pembantu mereka dengan sangat baik.


Sebuah mobil sport memasuki halaman kediaman Adhi, Khadijah langsung berdiri menghampirinya karena ia hapal dengan mobil tersebut


Sosok ramping berparas ayu keluar dari mobil sport di ikuti seorang pria yang tak lainya adalah Jacky.


Ayudia berjalan setengah berlari ke arah Khadijah yang berjalan ke arahnya


"Bagaimana keadaan papa ma?" tanya Ayudia tak bisa menyembunyikan ke khawatirannya


"Papamu tak mau membuka pintu ruang kerjanya, dia mengurung diri sejak kemarin siang hingga sekarang," ucap Khadijah yang juga panik.


Ayudia langsung berjalan masuk ke dalam rumah, ia menuju ruang kerja, mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada sautan


"Pa, papa, ini Ayu pa, buka pintunya" ucap Ayudia panik


"Mama,.mama " teriak ketiga anaknya, rupanya Khadijah meminta bodyguard yang menjaga anak-anak untuk membawa mereka ke rumah Adhi


"Anak-anak, sini bantu mama.


Kakek ada di dalam, bantu mama minta kakek keluar" ucap Ayudia


"Kakek, kakek, kakek,


kakek keluar lah" teriak mereka bertiga langsung memukul-mukul pintu


"Kakek, atu datang" ucap Davina memukul pintu keras


"Kek, kami tak mau kehilangan kakek, kami belum puas mendapatkan kasih sayang kakek.


selama ini kami hanya punya mama" ucap Daffa


"Iya kek, kamu masih butuh kakek menemani kami sampai kami besar" timpal Daffi, ketiganya mulai menangis sambil menggedor pintu


Cekrek, cekrek


Suara kunci pintu di putar, pintu ruang kerja terbuka, nampak Adhi dengan meneteskan air mata keluar, ia memeluk ketiga cucu nya dan mereka menangis bersama


"Kakek, jangan tinggalkan kami, kami baru bahagia punya kakek" ucap Daffi sesenggukan,


Ayudia dan Khadijah serta Nana menangis terharu


Ayudia lalu menuntun papanya duduk di sofa ruang keluarga, nampak ketiga buah hatinya mengekor mama mereka

__ADS_1


"Ma, kakek sakit ya?" tanya Davina yang melihat Adhi pucat pasi


"Iya kakek sakit, Davina hibur kakek ya"


"Iya ma" ucapnya patuh


"Aku akan menginap disini bi, bibi kalau mau pulang tak apa ada aku"


"Aku akan merawat papamu, sebaiknya kamu biarkan si kecil makan siang dulu, kasian mereka pulang sekolah langsung ke sini" ucap Khadijah melihat ketiga cucu nya yang mengelilingi Adhi, ada yg memijat kakinya, ada yang memijat tangannya, sementara Davina memijat kepala Adhi sambil sesekali mencium pipi lelaki paruh baya itu


"Kakek jangan sakit, atu sedih" ucapnya lirih


"Maafkan kakek ya sayang, kakek janji gak akan sakit lagi" ucap Adhi memilih mengatakan sakit, jika mengatakan yang sebenarnya pun Adhi yakin mereka tak akan mengerti.


"Seberat apapun masalahnya, sebaiknya kakek renungkan dengan kepala dingin, masa lalu tidak akan kembali, masa depan adalah suatu yang pasti" ucap Daffa bijak


Adhi yang sedang tertekan menatap cucu sulungnya, hatinya bergetar.


Entah darimana kalimat itu ia dapatkan, namun Adhi merasa apa yang anak itu ucapkan seolah menyentil egonya yang paling dalam


"Kakek tidak sendiri, setidaknya kakek memiliki kami, mama dan nenek Khadijah.


menyesali sesuatu tak akan ada faedahnya.


lebih baik memikirkan apa yang akan kakek lakukan kedepannya.


Nenek Khadijah mencintai kakek, begitu juga mama dan kami. Apakah kakek tidak memikirkan bagaimana perasaan kami jika terjadi sesuatu pada kakek???" ucap Daffi menambahkan.


Adhi kesulitan berkata, ia menelan Saliva nya dengan sulit.


Apakah di depannya ini anak berusia tujuh tahun atau pria yang sudah dewasa??? mereka seperti orang dewasa dalam badan anak kecil.


Adhi bahagia sekaligus sedih secara bersamaan.


bahagia karena memiliki cucu yang pandai, sedih karena pemikirannya yang dangkal hampir saja membuat orang-orang di sekelilingnya bersedih.


"Pa, papa istirahat di kamar ya, aku mau menggantikan anak-anak pakaian dan memberi mereka makan siang"


"Enggak pa, papa makan di kamar aja, mama yang akan menyiapkan makan papa.


Jika papa memaksakan kesehatan papa, kapan papa bisa bermain lagi sama anak-anak?"


"Baiklah" ucap Adhi pasrah.


Khadijah menuntun calon suaminya ke kamarnya.


lalu ia membawakan teh hangat dan bubur untuk Adhi, karena tak makan seharian, Khadijah meminta Nana untuk membuatkan bubur agar mudah di cerna.


Sementara si kembar sudah duduk di meja makan, ini pertama kalinya si kembar di bawa ke kediaman orangtua Ayudia, mereka sangat bersemangat.


Nana yang melihat anak Ayudia tak henti-hentinya mengeluarkan air mata haru dan bahagia.


"Bi, makasih ya selama ini sudah jaga papa" ucap Ayudia menepuk lembut bahu BI Nana yang masih menatap lurus si kembar yang sedang bercengkrama sambil menunggu makan siang mereka


"Sudah tugas bibi non, bibi senang akhirnya non kembali dan membawa tiga orang anak" ucap bi Nana berbinar senang


"Ah maaf bi, aku lupa mengenalkan mereka"


"Anak-anak sini, kenalkan ini bi Nana, beliau yang merawat Mama waktu kecil, jadi kalian bisa panggil BI Nana, nenek Nana" ucap Ayudia yang di angguki ketiga anaknya, mereka Salim bergantian sambil memperkenalkan nama mereka


"Ya Allah non, gak usah pake panggil nenek, bibi teh cuma pembantu aja, malu"


"Bi, Ayu udah anggap bibi keluarga sendiri. sudah sewajarnya mereka juga harus menghormati bibi" ucap Ayudia tersenyum


"Nuhun, nuhun non, bibi merasa tersanjung" ucap bi Nana menitikkan air mata terharu.


Karena rumah itu kosong lama dan hanya di tinggali BI Nana dan Lia serta Aurel, maka hi Nana tidak pernah lagi menyetok sayuran.


kedua orang itu tak pernah makan di rumah dan bi Nana makan seadanya.

__ADS_1


beruntung masih ada satu pack NuGet dan sosis.


Ayudia membuatkan mereka sup jagung dan menggoreng Nuget dan menggoreng sosis yang ia buat seperti cumi-cumi.


ketiganya langsung lahap memakan makan siang mereka.


Sementara di kamar, Adhi sedang di suapi Khadijah, tak ada pembicaraan diantara mereka.


awalnya Adhi menolak di suapi, namun Khadijah memaksa, dan ia hanya menurut.


Adhi terus memandang Khadijah yang menunduk, alisnya berkerut melihat wanita itu membuang muka lalu seperti menghapus sesuatu di pipinya, Khadijah menangis


"Sayang, mengapa kamu menangi?" tanya Adhi lembut


"Kita batalkan saja rencana pernikahan kita mas" ucap Khadijah terisak


"Kenapa?? apa kau tidak mencintaiku?" tanya Adhi memegang tangan Khadijah yang bergetar


"Aku mencintaimu, tapi aku terlalu takut kau meninggalkanku. lebih baik seperti ini, kita pendam perasaan masing- masing.


Hari ini kau membuka mataku, bahwa kau tidak pernah menganggap diriku penting"


"Tidak, bukan begitu Khadijah, aku hanya larut dalam kesedihanku dan rasa bersalah.


Maafkan aku, aku tak kan mengulanginya lagi.


Aku mencintai Eldrea dan aku juga mencintaimu.


kalian punya tempat masing-masing di hatiku.


Maafkan aku sudah mengabaikannya" ucap Adhi langsung memeluk Khadijah


"Aku akan menikahi mu besok jika kau mau, aku tak mau jauh darimu, aku butuh kamu" ucap Adhi menghapus air mata di pipi Khadijah.


ia memeluk Khadijah dan menciumi puncak kepala wanita itu, tanpa mereka sadari Ayudia yang melihat itu tersenyum, ia ikut bahagia melihat mama dan papanya mesra kembali.


"Ma, mama pasti setuju kan melihat mama Khadijah menggantikan tempatmu disisi pria yang sangat kau cintai??? mama istirahat lah dengan damai di sana.


Ayu akan membalaskan apa yang sudah Tante Lia lakukan pada mama" ucap Ayudia menatap pigura foto di dinding, lalu berjalan menuruni tangga dengan perasaan lega.


Sementara di kantor Arjuna


Arjuna memukul mejanya dengan marah, membuat sekertaris ya bergetar ketakutan


"Aku tak mau menemui siapapun saat ini, tapi kau malah membawa wanita itu ke ruangan ku!!!!


apa kau sudah bosan kerja di perusahaan ini???" bentak Arjuna marah.


"Ma..maaf pa, saya beneran gak tahu jika bapak juga tak mau menemui beliau.


Tadi beliau memaksa saya dan mengatakan akan memecat saya..."


"Bos nya disini saya atau orang itu????"


"Ba.. bapak" ucap sekertaris tersebut makin ketakutan melihat mata Arjuna yang memerah karena marah


Pintu ruangan Arjuna terbuka dan masuklah William yang memandang kasian sekertaris Arjuna


"Kamu bisa meninggalkan ruangan" ucap William memerintahkan wanita itu pergi


"Kau berani memerintah sekertaris ku???" ucap Arjuna dengan nada tinggi membuat sekertaris itu membeku di tempatnya


"Pergilah, percaya padaku, tak akan ada sesuatu yang terjadi pada pekerjaanmu, aku menjamin" ucap William lirih membantunya berdiri dan mengeluarkannya dari ruangan Arjuna.


Arjuna sampai kesal dan melempar buku di depannya


"William, apa kau sudah berani padaku???" bentak Arjuna murka


"Aku bukan berani, tapi sekertaris itu tidak bersalah.

__ADS_1


dia hanya karyawan biasa yang mencari aman, apalagi sudah diancam oleh wanita itu, dia sepenuhnya tidak tahu bagaimana dan apa yang terjadi dalam keluarga kita, sebaiknya tutup mulutmu dan jangan buang energi mu untuk hal yang sepele" ucap William memandang tajam ke arah Arjuna, lalu duduk dengan elegannya di sofa ruang kerja Arjuna


__ADS_2