
Davina sedang asik memoles jari kakinya dengan vitamin kuku, walau masih kecil ia suka sekali merawat dirinya, terkadang ia bahkan terlihat seperti tante-tante menurut Daffa dan Daffi.
setelah itu Davina memonyongkan bibirnya, mengoleskan lipsgloss ke bibirnya yang imut. dan memandang wajahnya di cermin kecil yang biasa ia pakai
"Sempurna" ucapnya lalu berjalan menuju kamarnya sambil mendongakkan kepalanya angkuh.
sebenarnya Davina sudah menyadari sejak tadi jika kedua saudaranya memperhatikannya dari kejauhan, sehingga ia hanya bisa tertawa dalam hati.
Kedua saudaranya itu mengawasi Davina di kejauhan sejak satu jam lalu, sehingga Davina dengan sengaja bersikap genit dan santai saja mempercantik dirinya
"Dua tikus kepala hitam yang malang" ucap Davina terkekeh
Setelah Davina pergi, Daffa dan Daffi keluar dari tempat persembunyian mereka
"Kau lihat, bayi gendut itu bersikap seperti biasanya, apa yang aneh???" ucap Daffa pada adiknya
"Iya sih, tapi aku merasa ada yang janggal.
Mungkin saja dia mengetahui kita memantaunya dari kejauhan"
"Daffi please, berhenti berfikiran terlalu jauh pada Davina. Itu tidak mungkin.
Sekarang lebih baik kita fokus pada kesembuhan bu Mirna," ucap Daffa
"Mirna??? Mirna siap sayang???" tanya Ayudia yang mendengar ucapan putranya menyebut nama seseorang yang tak asing
Daffa. dan Daffi menoleh dan mereka terkejut melihat Ayudia berada di dekat mereka
"Mama, bikin kaget aja"
"Mirna siapa???" tanya Ayudia masih penasaran
"Anu, itu...."
"Itu ma, pengganti Miss Dewi, karena Miss Dewi keluar kota" ucap Daffi asal
Daffa melotot kearah adiknya, bagaimana Daffi bisa begitu bodoh, bagiamana jika mamanya mencari tahu, tamatlah mereka berdua ketahuan bohong
"Benar begitu Daffa???" tanya Ayudia menatap putra sulungnya
"Iiya ma"
"Panggil adik kalian, sebentar lagi papa pulang, kita kaan makan malam di rumah kakek" ucap Ayudia memberi perintah
"Baik ma" kedua kakak beradik tersebut langsung menuju kamar adik mereka
"Kok aku merasa mereka menyembunyikan sesuatu.
bukankah Mirna adalah mantan asisten pembantu di kediaman Arjuna yang akan di jadikan saksi kunci kasus Deswita???
Apa hanya kebetulan saja , ah kau terlalu berfikir berlebihan" gumam Ayudia lalu berjalan ke kamarnya.
sepuluh menit kemudian Arjuna pulang, mereka langsung menuju kediaman Baskoro, dan rencananya mereka juga akan menginap di sana, mengingat mereka belum pernah menginap di kediaman Baskoro.
Sesampainya di kediaman Baskoro, nampak Baskoro, Vera, Sarah dan Sebastian menyambut kedatangan mereka, si kembar langsung akrab dengan adik-adik Arjuna.
Daffa dan Daffi langsung akrab dengan Sebastian.
Mereka terlihat menaruh minat saat Sebastian mengajak mereka ke kamarnya, dan berujung ke studio Bastian yang sengaja Baskoro buat di bagian rumah yang berada di sebelah belakang dekat kolam renang.
Mereka sangat antusias, mungkin karena ini pertama kalinya mereka melihat bermacam-macam alat musik.
Sebastian juga terlihat sangat bahagia, maklum ia sosok yang pendiam, tapi begitu melihat Daffa dan Daffi, ia menjadi om yang penyabar dan penyayang.
Arjuna merasa hatinya menghangat.
__ADS_1
walau ia tahu jika Sebastian bukan adik kandungnya, namun ia berharap tak akan ada satu orangpun yang mengungkap jati diri sebenarnya Sebastian, anak itu sudah menderita karena ulah mamanya.
Sebastian memeluk kedua keponakan kecilnya, ia juga mengajari si kembar bermain musik.
"Apa kalian suka om Tian???" tanya Arjuna yang tahu-tahu berdiri di depan pintu
"Suka sekali, om Tian hebat, keren.
Kami suka om Tian ya kan Daffi" ucap Daffa antusias
"Iy om Tian gaul, gak kaya om Willy sama om William, mereka seperti perjaka tua.
Tapi om Willy tidak terlalu juga sih, hanya ...
pokoknya aku lebih suka om Tian" ucap Daffi memeluk Sebastian
"Kak, anak-anakmu sangat menggemaskan" ucapan Tian mencubit pipi Daffa dan Daffi.
Biasnya keduanya akan memprotes jika ada yang memegang pipi mereka, namun kali ini mereka jinak malah menempelkan pipi mereka pada Tian, dasar penjilat!!!
"Mereka begitu karena ada maunya" ucap Arjuna membuat Daffa dan Daffi menatap tak suka
"Papa, kami benar menyukai om Tian.
Om Tian gaul dan asik, tidak seperti papa dan kedua adik tua papa yang lain"ucap Daffa membuat Sebastian tertawa terpingkal-pingkal.
selama ini tak pernah ada yang berani membantah Arjuna.
kini Arjuna kena karmanya sendiri, sepertinya kedua putranya sangat berbakat menyiksa papa mereka.
"Iya, sudah om kita abaikan saja papa, mungkin papa iri karena tak punya jiwa seni" ucap Daffa yang di angguki Daffi.
Tian hanya bisa nyengir dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, kedua keponakanya ini tahu bagaimana caranya membalas ucapan Arjuna, papa mereka.
"Kau dengar om, dia papa yang kejam" adu si kembar dengan wajah sedih.
William hanya bisa tertawa, ia tahu kakaknya bukan orangtua yang kejam, tapi anak-anaknya berwajah esih seperti ini, Tian harus percaya yang mana???
Sementara Davina di culik kedua adik kembar Arjuna, Vera dan Sarah, keduanya sangat antusias melihat keponakan mereka yang sangat imut sekali seperti boneka Barbie yang agak berisi.
ditambah kornea mata Davina yang biru sebiru langit, membuat Vera dan Sarah tak henti-hentinya memeluk si kecil Davina.
Davina ingin berteriak karena sulit bernafas, pasalnya mereka memeluk dan menciumi pipi Davina
"Ya, Tuhan, pipiku, tulang mudaku...
wahai tante-tante cantik jika kalian memelukku seperti ini , bisa remuk tulang mudaku" gumam Davina dalam hati.
"Davin sayang, ini buat Davina" ucap Sarah memberikan sebuah clutch cantik bertabur berlian imitasi
"Terima kasih tante" ucap Davina memandangi tas kecil pemberian Sarah, selera salah sama dengannya, Blink Blink.
"Ini buat kamu" ucap Vera menyerahkan topi yang berduri-duri, walau itu terlihat lucu, tapi Davina akan berfikir beberapa kali memakainya, ia suka yang feminim tapi Tante satunya ini memiliki selera "unique"
dan Davina makin merinding melihat ada dua tanduk di atas topi tersebut, apa artinya ia iblis kecil yang imut????
"Dan ini buat kakakmu, Tante membelikan kalian yang mirip" ucpa.vera menyodorkan dua topi lagi yang.....Davina speechless
Kalau topi untuk kedua kakaknya sesuai, mereka berdua iblis kecil menyebalkan, dengan topi ini sesuai dengan karakter mereka.
"Tunggu, tunggu, apa Dimata Vera mereka tiga iblis kecil??? mengapa semua topi itu bertanduk?? sungguh selera yang sangat aneh" gerutu Davina menghela nafas
__ADS_1
"Davin sayang apa kau tidak suka dengan pemberian Tante??" tanya Vera sedih, padahal ia sudah memikirkan hadiah yang imut saat ketiga ponakan nya bertandang ke rumah mereka
Melihat raut kecewa Vera, mau tak mau Davina harus bersikap seolah suka
"Suka Tante, ini lucu dan unik hehehe" ucap Davina canggung
"Syukurlah kalau suka, nanti di pakai ya kalau jalan-jalan, biar muka kamu yang cantik g kena sinar matahari langsung" ucap Vera menangkup wajah Davina gemas.
"Apa hubungannya matahari sama topi, kalau takut hitam tinggal paket sunblock, apa kak Sarah dan kak Vera beneran kembar??? mengapa mereka seperti dua magnet yang berbeda.
Yang satu cantik sempurna, yang satu...
Ah sudahlah" gumam Davina dalam hati
"Davina mau minum apa??? Tante ambilkan ya??? susu? atau kopi, teh???" tawar Vera penuh semangat
Davina hanya diam, ia tak menjawab karena bingung dengan tawaran Vera
"Apa dia sedang menawari kakek-kakek??? hello Tante, kau masih kecil" protes Davina dalam hati
"Juice atau soft drink aja , loe bukan nawarin papa minum dodol" ucap Sarah yang melihat keponakannya bingung
"Hahaha sorry gue kan gak tahu anak kecil suka apa, tunggu ya Tante ambilkan"
"Sekalian gue juga ver" teriak Sarah
"Bodo, loe ambil sendiri" teriak Vera menjauh
"Rese loe"
"Emang" saut Vera masih mendengar umpatan saudari kembarnya
"Maafin Tante Vera ya, dia agak- agak sedikit..." Sarah memutar jarinya membentuk lingkaran di samping pelipisnya
"Sedikit error dan unik" ucap Davina tersenyum canggung
"Ahhh benar, kau memasang anak kakakku, cantik dan pintar.
Kak Arjuna, papamu itu dulu paling pintar di sekolah nya, ia selalu mendapat peringkat pertama...
BLA BLA BLA...."
Davina memutar bola matanya malas, bukan ia tak minat saat Sarah bercerita tentang papanya, namun ia tak percaya jika papanya sepintar itu, mengapa itu semua tak nampak sekarang???
Sebenarnya gen kecerdasan siapa yang menurun pada mereka???
"Tahu gak ada kejadian lucu, waktu mau di sunat, apapun kabur sambil bertelanjang berlari di antara para tamu dan lupa memakai celana, ia bersembunyi di bawah meja, sampai harus di tarik ke luar dan akhirnya papamu sampai di pegangin lima orang karena meronta.
setelah sunat papamu pingsan" ucap Sarah memegangi perutnya sambil tertawa terbahak-bahak
"Beneran Tante???" Davina yang awalnya bosan setelah mendengar cerita ini, ia antusias sekali
"Beneran lah, udah gitu setelah sadar dia terus menangis selama seminggu penuh mencari cumi-cumi yang di potong dokter" Davina langsung tertawa terbahak-bahak membayangkan hal tersebut.
mengapa papanya begitu memalukan.
"Hehehe sepertinya cerita ini menarik untuk membuat papa menuruti kemauanku,
jika mama tahu ... hahahaha
papa sudah berkomplot sama kedua kakak jahat itu" ucap Davina mengulum senyum devil nya
Sarah berhenti tertawa, ia merasakan aura dingin di tengkuknya dan merinding
"Kok gue merinding ya?? apa ada sesuatu yang jahat Deket gue???
__ADS_1