(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Setan Kecil


__ADS_3

Ma, kenapa orang itu ikut makan sama kita????" bisik Daffi yang terlihat tak senang melirik ke arah William


"Sayang, jangan seperti itu, dia adik papamu yang artinya dia keluarga kita, " ucap Jovanka sambil mengelus puncak kepala Daffi


Sejak bangun pingsan, William terus mencari Ratna, ia tak berkata apa-apa hanya memandang Ratna yang sibuk mondar mandir mempersiapkan makan untuknya.


Saat Ratna mengajak bicara pun William hanya mengangguk dengan pandangan mata penuh kerinduan pada Ratna


" Willian sepertinya sangat shock melihat ibu, apa ibu mengingatkan pada seseorang ya???? pandangan matanya sejak tadi terus mengikuti kemanapun ibu berjalan, dan ia nampak sedih, matanya berkaca-kaca "gumam Jovanka memperhatikan William


"Will, ayo di makan, mungkin kamu pingsan karena kelaparan" ucap Jovanka asal membuat William mau tak mau mengalihkan pandangannya ke arah Jovanka


"Aku tak akan mati hanya kerena kelaparan, aku lelaki kuat" ucap William kesal


"Lelaki kuat tidak ada yang pingsan ya kan Daffi?" sindir Daffa sambil bersedekap dada


"Atu gak pernah pingsan" timpal Davina mengejek William


"Astaga mengapa Ayu punya tiga setan kecil yang menyebalkan seperti ini, untung kalian imut dan mengingatkanku pada seseorang


Ya Tuhan bisakah mereka tak memiliki sifat pria itu????" pekik William yang merasa sebal melihat si sulung yang seperti kakaknya Arjuna.


"Ya ampun aku sampai lupa, aku harus tahu anak siapa mereka, lalu Bu Ratna... " William kembali memandang Bu Ratna yang membantu Jovanka merapihkan piring yang sudah Jovanka cuci*


"Om beneran adik papa kami??? lalu dimana papa kami?" tanya Daffi yang tiba-tiba sudah berada di sebelah William, memegang kaki William


"Astaghfirullah jangan mengagetkan om dong" ucap William yang terkejut


"Daffi jangan membuat jantung tua om ini copot" cibir Daffa yang menyebalkan di balas anggukkan saudara kembarnya, membuat William ingin sekali melakban bibir anak sulung Jovanka yang pedas


"Om belum terlalu tua, dan jantung om sehat.


Jadi anak-anak, om mau tebak, Daffa kakak pertama, Daffi kakak kedua dan Davina si bungsu nan cantik dan imut, apa om benar?? " tanya William


Seperti biasa, Davina langsung berbinar senang, apalagi yang memujinya om tampan seperti William, dengan sikap malu-malu Davina mendekati William


"Davina, kenapa kamu mudah di hasut, dia memfitnah mu" teriak Daffa tak suka adiknya mendekati William


"Fitnah???" tanya William lirih


"Iya, Davina kan seperti baby gendut, mana cantiknya, kalau mauren baru cantik" ucap Daffi memegang dagunya membayangkan wajah Mauren teman sekolah mereka


"Siapa...." belum sempat William menyelesaikan ucapannya, terdengar isak tangis Davina


"Hik hik hik mamaaaaaaa, kak Daffi dan kak Daffa nakal" teriak Davina berlari kearah Jovanka mengadu


"Daffa, Daffi...." ucap Jovanka melotot


"Maaf ma, ini salah om tua itu, kami mau mengerjakan pr, ayo Daffi" ucap Daffa lirih di ujung kalimatnya, mereka berdua langsung ngacir masuk ke kamar dan menutupnya, menghindari Omelan Jovanka karena ketahuan meledek adik bungsu mereka yang cengeng


"Loh kok aku????" tanya William bingung, sementara Jovanka memandang William meminta penjelasan darinya

__ADS_1


"Aku gak bilang apa-apa Ayudia, anak-anakmu memfitnahku" ucap William tak terima


"lihat saja anak-anak jika kalian benar anak Arjuna habis kalian ku ikat pakai lakban , anak sama bapak sama-sama devil" gerutu William kesal


Sementara Jovanka menenangkan Davina, ia hanya memberinya coklat dan gadis itu langsung terdiam dari nangisnya, duduk manis sambil menikmati coklatnya


"Ayo...."


"Kemana???" tanya William bingung


"Astaga Will ini sudah jam setengah dua, kita harus bersiap ke kantor dan apa kamu tidak sholat dulu??? aku akan menunjukkan tempat sholat mu" ucap Jovanka


Wiliam bingung harus berkata apa, ia dan Willy di ambil saat masih balita di sebuah yayasan Nasrani, namun setelah mereka di adopsi, William kecil terbiasa dengan ajaran muslim sehingga ia tahu apa itu sholat.


ia tak pernah memikirkan keyakinannya,


"Anu Ayudia, aku..."


"Owh maaf, aku gak tahu, tunggu sebentar ya aku sholat dulu" ucap Jovanka bergegas pergi.


Jovanka melihat keraguan di mata William saat mengajaknya sholat, dan ia menduga William bukan muslim.


Setelah Jovanka pergi, Ratna menyediakan teh hangat untuk William


"Diminum nak" ucap Ratna lembut lalu duduk di hadapan William


"Bu, apa ibu ingat seseorang bernama William, Willy dan Arjuna???" tanya William mencari tahu


"Owh maaf, ayo Will antar ke kamar ibu" ucap William merasa bersalah, ia membantu Ratna berdiri, berjalan menuju kamar Ratna


Setelah membaringkan tubuh Ratna, William mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk


Mata William terpaku pada sebuah foto usang di nakas, foto seseorang yang sangat William kenal


"Arjuna...." ucap William lirih


"Kepala ibu sakit, maaf ibu tak ingat apa-apa" ucap Ratna lirih memegangi kepalanya


"Will, William " panggil Jovanka


sebenarnya William ingin bertanya lagi, namun suara Jovanka mengagetkannya, ia tak bisa memaksa Ratna mengingat masa lalunya, melihat Ratna kesakitan William memilih menghentikan pertanyaannya dan keluar dari kamar Ratna


"Loh kok kamu keluar dari kamar Bu Ratna??"


"Iya, ibu sakit kepala, jadi aku bantu beliau ke kamar


"Apa??? sakit kepala ibu kambuh?" jovanka langsung berlari masuk ke dalam kamar Bu Ratna, mukanya terlihat panik


"Apa perlu kita panggil dokter?" tanya William tak tega


"Iya tolong" ucap Jovanka.

__ADS_1


William tak tahu dimana dokter, ia memutuskan memanggil dokter Rahmat


"Maaf menyusahkan om, alamatnya aku kirim lewat pesan singkat, terima kasih om" ucap William lalu mengakhiri panggilannya


Kemudian dia menelpon seseorang


"Aku tidak kembali ke kantor, tolong handle semua, jika bos mencari ku bilang aku tak enak badan.


Owh ya tolong kamu keruangan Bu Jovanka, beliau juga tidak kembali ke kantor, tadi mamanya sakit.


ingat lakukan se rapih mungkin"


Setelah mengakhiri panggilnya William kembali menuju kamar Bu Ratna, terlihat Jovanka sedang memijit tubuh tua Bu Ratna


"Apa, apa sering seperti ini?" tanya William sedih


"Iya beliau terkadang kambuh sakitnya, bukan sakit kepala biasa, dokter mengatakan trauma pasca kecelakaan, aku juga gak tahu detailnya karena bu Ratna tidak pernah cerita.


"Jadi Bu Ratna tidak tahu masa lalunya???" tanya William penasaran.


Jovanka menggeleng lemah.


Jovanka pernah suatu kali penasaran dan berujung Bu Ratna sakit kepala parah, sehingga sejak itu ia tak pernah mau bertanya lagi pagi Bu Ratna karena tidka tega melihat wanita yang sudah ia anggap mamanya sendiri itu kesakitan.


"Assalamu'alaikum maaaa, mamaaaaa" teriak seorang pria dari arah ruang tamu


Jovanka dan William saling memandang,. lalu Jovanka keluar dari ruangan Bu Ratna untuk melihat siapa yang datang


"Maaaaa, ma..ma......." ucapan pria itu terhenti begitu melihat orang asing di rumah mamanya


"Siapa kamu???" tanyanya tak senang


" Loh kok kamu yang nanya, seharusnya saya yang tanya kamu siapa ??? main masuk rumah orang teriak-teriak" jawab Jovanka judes


"Kok anda yang sewot, jelas ini rumah mama saya, lalu anda siapa??" bentaknya marah


"Aaa.. anak??? Bu Ratna???" ucap Jovanka tergagap,


"Lalu Anda pikir saya anak siapa??? orang aneh, kemana mama saya?" dengus nya kesal


"Beliau sakit di kamar" ucap Jovanka.


lalu pria itu berjalan menuju kamar Jovanka, jovanka lalu berlari menghalangi pria itu masuk ke kamarnya


"Eh mas, mas, kamar Bu Ratna bukan di sini"


"Kamu mau mempermainkan saya ya??? itu adalah kamar mama saya" ucap pria itu kesal


"Itu, itu kamar Bu Ratna" tunjuk Jovanka


dengan menggerutu pria itu langsung menuju kamar yang di tunjuk Jovanka tak lama terdengar pria itu menangis, sementara William dan Jovanka bingung dan hanya bisa diam berdiri di depan kamar Bu Ratna

__ADS_1


__ADS_2