
Seperti yang Davina duga, tak perlu menunggu lama, malam itu juga di sebuah lapas terjadi percobaan pembunuhan, beruntung Jimmy lolos dari percobaan pembunuhan itu dengan luka di kakinya yang patah, lukanya terbuka.
Malam itu juga Jimmy di larikan ke rumah sakit dalam keadaan babak belur. beruntung anak buah Davina berada di sel yang sama dengan Jimmy Chou.
Jam tiga dinihari, Jimmy menjalani operasi kaki untuk kedua kalinya
Kali ini Davina sendiri yang memastikan pria itu selamat.
Bukan karena dendamnya sudah hilang, namun memastikan ia menerima yang seharusnya ia terima sebagai penebus dosa itu lebih baik daripada mempersingkat ya, begitulah pemikiran Davina.
Setelah bergelut selama satu jam setengah, akhirnya operasi Jimmy berhasil,
Malam itu entah mengapa lampu mati, seperti sudah di rencanakan, dan dalam sel tersebut ada empat penghuni dimana salah satunya adalah Jimmy dan orang suruhan Davina, sementara yang dua lagi narapidana kambuhan yang sering keluar masuk bui.
Anak buah Davina berhasil melumpuhkan keduanya, sayangnya ia harus melawan satu orang sementara satu orangnya melukai Jimmy, baru setelah satunya di lumpuhkan ia melumpuhkan satunya lagi.
Keduanya memiliki bela diri yang baik.
Davina harusnya mengirim tim khususnya yang mahir dalam keadaan terdesak.
Setelah berhasil mengorek keterangan, dari dua napi tersebut, penjaga lapas datang.
Davina sudah menghubungi Tian sejak beberapa waktu lalu dan sudah dua jam ponsel Tian tidak juga merespon.
Pada saat yang sama Tian sedang berbincang-bincang dengan dua saudarinya, sehingga ia tak tahu Davina menghubungi nya lebih dari dua jam lalu secara terus menerus.
Sarah yang berada di kamar sebelah merasa terganggu, ia berjalan sempoyongan dengan mata mengantuk mengetuk pintu kamar adik bungsunya, namun tak ada sautan dan saat ia membuka handle pintu, pintu itu tak terkunci dan ia tak menemukan Sebastian di sana.
Ia hanya melihat ponsel Tian yang terus berdering.
Sania dengan malas memanggil Tian ,namun pemuda itu tidak ada di kamarnya
"Anak nakal, berisik sekali ponselmu, kemana dia.
Awas saja sudah mengganggu tidurku. tunggu pembalasanku" ucap Sarah kesal
"Hallo, Ya ampun om, aku telepon gak diangkat-angkat ini urgent" serius seorang wanita di ujung telepon membuat mata darah yang mengantuk melebar dan memeriksa nama yang tertera di layar.
"Davina??? yang benar saja, Tian memiliki pacar yang namanya sama dengan keponakan mereka dan yang lebih lucunya lagi, pacarnya itu memanggil Tian om??? ini hal paling lucu yang pernah ia tahu"
"Hallo, Tian gak ada di kamarnya, apa tidak bisa besok saja kau menelponnya??
dengar adik manis, kau bis menyukai seroang. pria tapi tak mau di jam seperti ini kau menelponnya, ia juga perlu istirahat dan yang terpenting adalah, suara ponsel Tian menggangu kenyamanan tidur" cerocos Sarah
"Tante Sarah, ini urgent gak bisa besok" ucap Davina kesal
"Ih nih anak di kasih tahu sama yang lebih tua juga ngeyel.
Denger ya bocil, lebih baik kau cuci tangan, cuci kaki , gosok gigi terus tidur.
Masih kecil banyakin belajar bukan pacaran sama om-om, mengerti???"
"Dasar Tante genit, kaya Tante beneran belajar, Tante juga kerjaannya pacaran terus" ucap Davina di ujung telepon kesal. Davina langsung memutuskan panggilan teleponnya
"Astaga, nih... aaaaa menyebalkan" ucap Sarah tak terima malah di nasihati balik oleh anak kecil.
"Loh, Sarah loe ngapain di kamar gue malam-malam begini??" tanya Sebastian yang sudah kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Nampak di belakang Sebastian Vera dan Sania
"Kalian ngapain bertiga malam-malam begini???
bukanya tidur malah begadang" ucap Sarah balik bertanya
"Rahasia, ya kan ver" ucap Sania dengan senyum lebar
"Mau tau aja" timpal Vera membuat Sarah makin kesal
"Kalian bertiga orang aneh.
Dan kau Tian, jangan pacaran sama anak abege, dan satu lagi, gak usah ceritai keburukan ku sama pacarmu itu, menyebalkan" ucap Sarah menghentakkan kakinya dan kembali ke kamarnya
"Kenapa dia???" tanya Tian pada kedua saudarinya
"Enggak tahu" jawab Sania mengangkat kedua bahunya
"PMS kali" celetuk Vera asal
"Sepertinya" timpal Sania mengangguk. sementara Sebastian yang tak pernah tahu urusan wanita menjadi bingung saat Vera dan Sania kembali ke kamarnya masing-masing
"Hai kalian berdua, apa PMS itu???" tanya Tian
"Cari google" ucap Sania hanya menjulurkan kepalanya dari balik pintu
"Cih dasar jomblo permanen, pms aja gak tahu" ucap Vera menabahkan, keduanya langsung menutup pintu kamar mereka tak perduli pada Tian yang masih kesal dengan jawaban kedua saudarinya
"Emang kalau gak tahu kenapa? apa hubungannya dengan jomblo? Dasar aneh" ucap Tian ngomel-ngomel sendiri
Ia teringat tadi Sarah ngomel-ngomel sambil memegang ponselnya, Sebastian langsung memeriksa ponselnya dan terkejut.
"Hahahaha" Tian tertawa terbahak-bahak, ia baru mengerti maksud perkataan Sarah.
Sarah berpikir jika Davina kekasihnya, apa dia tidak pernah berpikir jika itu keponakanya sendiri???
"Berisik woi" teriak ketiga saudarinya berbarengan dari balik pintu membuat Tian secara reflek menutup mulutnya sendiri
"*Kenapa ya Davina menelpon ku malam-malam begini??"tanya Sebastian mulai merasa firasat buruk
Sebastian membaca pesan singkat Davina
"Urgent, sesuatu terjadi di lapas dan kini papamu di rumah sakit ku. Datang segera!!!!!" Davina*
"Apaaaa??? papa??? apa yang Davina khawatirkan terjadi, tapi...?????" Sebastian tak bisa berfikir jernih.
Ia langsung menghubungi Davina
"Mau apa lagi Tante genit!!!" teriak Davina di ujung telepon
"Davina, ini aku.
Ada apa dengan papaku???" tanya Sebastian panik
"Astaga om ganteng, kau menyebalkan.
Aku menelpon mu lebih dari sepuluh kali, tapi gak juga diangkat, ok kemana???" cerocos Davina
__ADS_1
"Maaf , om gak bisa tidur jadi om ngobrol di dapur sama Vera dan Sania"
"Cepat ke rumah sakit, Jimmy Chou di serang"
"Di dalam lapas???" tanya Sebastian masih tak percaya
"Enggak di rumahnya, ya di lapas lah om.
ih kalau bukan om sendiri udah ku ***** nih.
Lola bener habisnya kesel" Dengus Davina membuat Sebastian geleng kepala.
Bisa-bisanya anak kecil ini berbicara yang seenaknya saat bicara serius
"Ommmmm, kok malah bengong sih? cepet udah sini.
Aku udah ga sabaran. Maksudnya biar om liat sendiri keadaan kakek tua itu" ucap Davina mengakhiri panggilan telepon
"Ya Ampun Davina... Sayang masih kecil kamu.
gemesin bener" ucap Sebastian tersenyum, lalu tiba-tiba ia menepuk kepalanya sendiri
"Gila, kenapa gue jadi mikirin yang enggak-enggak, sadar Tian, sadar.
Dia keponakan loe sendiri dan masih bau Pesing.
Loe bukan pedofil" ucap Tian meyakinkan dirinya sendiri
Sebastian langsung memakai jaket dan keluar dari kamarnya, saat menuruni tangga ia bertemu dengan Willy yang memang sudah seminggu ini tinggal di kediaman Baskoro
"Loh Tian, loe mau kemana??" tanya Willy bingung
"Anu kak, mau ke rumah sakit"
"Siapa yang sakit??? mama Deswita???" tanya Willy terkejut
"Bukan kak, anu... itu...."
"Tunggu di sini, Kakak ganti baju sebentar"
"Kak, aku...."
"Kakak ikut, jadi tunggu sebentar gak lama" ucap Willy meneguk segelas air putih di tangannya dan langsung menuju kamarnya, Sebastian kehilangan kata-kata.
Apa yang harus ia katakan pada Willy nanti jika ia tahu bahwa Tian menjenguk Jimmy, musuh keluarga mereka???
Bagaimana jika Willy tahu jika ia anak Jimmy?? dan keluarga besar mereka tahu???
Akankah perlakuan mereka pada Tian akan tetap sama??? Sebastian dilema.
Ia takut dan bingung secara bersamaan.
Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya pada Willy??? Sebastian belum siap kehilangan orang-orang yang menyayanginya, terutama Arjuna kakak sulungnya.
Ia menyayangi dan mencintai kelurganya.
Tapi...
__ADS_1
Jimmy Chou juga juga papanya, walau pria itu musuh keluarganya.