
Setelah panggilan telepon terputus, Ayudia masih terbengong memandangi ponselnya , sementara ketiga anaknya hilang dari pengawasannya. dan Arjuna malah asik tertawa dengan Mahmud alias mama muda yang ganjen nya gak pake ukuran, main nempel aja padahal udah punya suami.
"Dasar ganjen, anak gak kelihatan malah sibuk tebar pesona" gerutu Ayudia langsung mencari ketiga anaknya, nampak Jacky sedang berjongkok memakaikan pakaian si kembar, sosok pria bule itu masih terlihat tinggi walau dengan posisi berjongkok
"Anak-anak, mengapa kalian pergi gak bilang mama?" tanya Yudia khawatir
"Maaf ma, om Jack bilang mama teleponan sama.nenek Khadijah, jadi kami mandi di temani om Jack"ucap Daffi
Daffi lalu terlihat berbicara bahasa Portugal dengan Jack, keduanya seperti dua orang yang sudah akrab dan tidak berbeda usia jauh, tapi kenyataanya Daffi masih anak kemarin sore, bukan hal itu yang jadi perhatian Ayudia, tapi kemampuan Daffi berbicara bahasa Portugal, bahasa asal orangtua Ayudia, dia sendiri saja tidak biasa, darimana Daffi begitu fasih berbicara Portugal??? siapa yang mengajarinya???
"Sayang, itu kamu....
Mama tanya, darimana kau belajar bahasa Portugal?"
"Aku bahkan bisa berbahasa Inggris, Jepang, Mandarin, Herman, Belanda" ucap Daffi bangga
"Tapi nak, bagaimana kamu bisa????" Ayudia menelan Saliva nya dengan sulit, apa Daffi membual???, namun kenyataannya Putra keduanya itu tak pernah berbohong.
Daffa mendelik pada saudaranya, ia khawatir melihat mama mereka yang kebingungan, saat ini belum waktu yang tepat membuka semuanya.Nmaun Daffi seolah hilang akal, ia terus berceloteh dengan bangga
"Aku tak berbohong ma, aku bisa semua bahasa" ucap Daffi, Ayudia memeluk Daffi dan berlari, entah apa yang ada di pikirannya, ia melihat Jacky yg bingung melihat tingkahnya
"Jacky, bawa anak-anak pulang langsung, aku perlu pergi ke suatu tempat" ucap Ayudia sedikit panik
Daffi yang menyadari kesalahannya langsung pucat, terlebih melihat wajah merah Daffa
Daffa meletakkan jarinya di lehernya membuat Daffi bergidik ngeri, kakaknya itu pria kecil yng menyeramkan.
"Ma, hehehe .
aku hanya bercanda, maafkan aku" ucap Daffi berusaha memperbaiki keadaan
"Duduk tenang dan jangan melakukan apapun" ucap Ayudia meletakkan Daffi di kursi sebelah supir lalu memasangkan sabuk pengaman, lalu ia sendiri langsung duduk di kursi penumpang dan menjalankan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
"Willian, temui aku di rumah sakit P, segera. aku butuh dua jam sampai di sana" ucap Ayudia langsung mematikan ponselnya
"Ma, aku mau dengan saudara ku" ucap Daffi lirih
"Kita akan pulang setelah mama memastikan sesuatu sayang, sebaiknya kau tidur, kita kembali ke Jakarta" ucap Ayudia menyentuh puncak kepala putranya.
Kini Daffi menyesali ucapannya, ia jelas telah membuat masalah besar.
Dua jam akhirnya mereka sampai disebuah rumah sakit swasta ternama di kota Jakarta, di lobby Khadijah sudah menantinya dengan cemas
"Apa yang terjadi dengan cucuku?? tanya Khadijah langsung memeriksa Daffi yang nampak lesu
"Tak ada ma, aku hanya mau memeriksa kondisinya, terutama IQ nya" ucap Ayudia.
mereka lalu menuju sebuah ruangan, menanti.
terlihat Daffi melakukan serangkaian test hingga memakan waktu empat puluh menit, setelah menunggu setengah jam, seorang dokter menghampiri mereka dan tersenyum lebar.
"Selamat nyonya, putra anda memiliki IQ diatas 200, ini... sangat luar biasa" ucap dokter terebut sambil melirik Daffi yang terlihat sedang asik mendengarkan musik
"Be..benarkah?"
"Tentu saja , kami terikat sumpah kerja, jadi kami tidak pernah berbohong dan bisa mempertanggung jawabkan asik pekerjaan kami" ucap dokter itu tersenyum
"Terima kasih dok" ucap Khadijah tersenyum.
__ADS_1
Setelah dokter tersebut pergi menghampiri Daffi, Khadijah mengajak anak tirinya itu duduk.
"Ma, mama dengar kan, dia...anakku, jenis" ucap Ayudia masih tak percaya
"Tentu saja, mama sudah menduganya.
Dia dan Daffa keduanya memiliki mata tajam dan terlihat pandai" ucap Khadijah menepuk punggung tangan Ayudia
"Apa mama berfikir Daffa juga??" tanya Ayudia yang di balas anggukan pasti Khadijah.
"Kak, kak Ayu, ada apa??? Davina menangis dan menelpon ku mengatakan kau membawa Daffi, apa yang terjadi pada keponakanku itu?"
"Will, apa kau sudah tahu putraku memiliki IQ tinggi???
"Itu... secara tak langsung aku sudah tahu, hanya belum pasti. Kakak ingat ketika aku menerima telepon klien ku yang berkebangsaan Jepang, Daffi yang membantuku, sampai klienku meminta aku membawa Daffa saat meeting, ingat gak kak yang waktu aku izin ajak Daffi ikut meeting"
"Aku ingat sekarang, ku kira kau bercanda"
"Aku tak bercanda, karena Daffi aku jadi mendapatkan proyek tersebut." ucap William tegas
"Apa , apa yg harus ku lakukan??? apa aku harus memasukkan ia ke sekolah khusus??? tapi..." Ayudia panik
"Tak perlu, bersikaplah seperti biasa, anak-anakmu yang lain akan panik dan sedih jika tahu mereka di pisahkan dari kembarannya, seperti sekarang, lihat" ucap William menunjukkan ponselnya, ada lebih dari dua puluh panggilan masuk dari Davina dan Daffa, mereka mengkhawatirkan saudara kembar mereka
"Benar apa kata William, bersikaplah seperti biasa"
"Baik, baik" ucap Ayudia mengigit jarinya, ia senang sekaligus khawatir, bagaimana jika Daffi menanyakan sesuatu yang tidak ia ketahui???
"Sekarang ayo kembali, by the way kak, apa ku meninggalkan KK Arjuna di kolam renang???" tanya William menahan tawa , Arjuna mendapatkan pelajarannya sendiri dari istrinya.
William puas melihat pria itu menderita.
Setidaknya Willy butuh kurang lebih dua jam untuk sampai ke lokasi dimana Ayudia meninggalkan suaminya.
"Aku lupa...." ucapnya tanpa dosa., Ayudia kalau memeriksa ponselnya, banyak panggilan masuk dari Arjuna dan juga pesan singkat penuh kemarahan
(Ayudia , kau kemana kau dan anak-anak) Arjuna
(ayu.... kau meninggalkanku sendirian di kolam renang??? apa yang ada di pikiranmu, kembali!!!!) arjuna
(Ayudia aku akan membuatmu menyesal sudah mengerjai ku, lihat saja nanti!!!!) arjuna
Itu sebagian text yang di kirim Arjuna, penuh dengan kemarahan, Ayudia tak berani membuka pesan singkat lainnya, ia merasa bersalah!!!
Sore harinya Ayudia yang sedang menyuapi anak-anaknya di kejutkan dengan kedatangan Arjuna, wajahnya terlihat tak bersahabat.
"Bagus sekali, suamiku kedinginan di kolam renang, kalian sedang senang-senang di rumah" ucap Arjuna sinis. Ayudia tak membalas ucapan Arjuna, wajar jika pria itu marah, ia hanya tersenyum canggung dan meminta si kembar bermain, sementara ia menarik Arjuna masuk
"Jangan merayuku, mau apa menarik-narik" ucap Arjuna kesal
"Aku tak akan membiarkanmu merayuku dengan mudah, kau sudah membuat adikku mengkerut karena terlalu lama bersama di air" gerutu Arjuna dalam hati, ia berusaha tak tersenyum dan menampilkan wajah marah agar Ayudia tahu kesalahannya
" Nih, baca," ucapnya tanpa membalas perkataan Arjuna
ekspresi Arjuna terlihat bingung, kedua
alisnya menyatu.
"Daffi?? Super jenius????" tanya Arjuna dengan wajah bodoh
__ADS_1
"Seperti yang kau baca, itu alasanku langsung membawanya.
Dia bisa berbicara setidaknya lebih dari enam bahasa, tidakkah itu luar biasa??" ucap Ayudia antusias
"Aku tak terkejut, anak itu menuruni gen ku yang smart dan tampan" ucap Arjuna penuh percaya diri membuat Ayudia memutar bola matanya malas dan meninggalkan Arjuna yang berbicara sendiri
"Ayudia, suamimu sedang bicara, kau malah meninggalkanku" teriak Arjuna mengekor Ayudia
Keesokan harinya
Karena permintaan si kembar, akhirnya mereka menginap beberapa hari lagi di kediaman Ratna, ayu hanya bisa meminta bodyguardnya untuk membawakan pakaian ganti untuk mereka, karena ketiganya bersekolah dari rumah Ratna
wajah Ayudia kuyu terlihat kurang tidur, itu karena Arjuna baru pulang menjelang jam satu dini hari fans telah pria menyebalkan itu pulang, ia masih menggangu Ayudia dengan panggilan telepon di tengah malam, hingga akhirnya Ayudia mematikan ponselnya dan baru bisa tertidur menjelang subuh.
Setelah mengantar ketiga buah hatinya, Ayudia langsung menuju kantor, ia penasaran apa yang Khadijah temukan.
Sepertinya bukan hal yang baik, terutama ini menyangkut dengan persalinan mamanya yang membuatnya meregang nyawa.
Khadijah sudah menunggu kedatangan ayu di ruangannya, setelah mengucapkan salam, ayu menghampiri calon mama tirinya itu
"Ma, apa yang mau mama beritahu???" tanya Ayudia tak sabaran
"Duduk dulu saya g dan minum teh hangat mu" ucap Khadijah menunjuk teh hangat yang sepertinya ia persiapkan, sementara Khadijah meresap tehnya dengan elegannya.
Ayudia hanya bisa menuruti ucapan Khadijah, walau di hatinya tak karuan.
Jantungnya berpacu dengan kencang.
"Mama menemukan kejanggalan.
Harusnya mamamu tidak melahirkan prematur, karena berdasarkan laporan kesehatannya, kondisi mamamu baik dan anak dalam kandungannya Tak ada maslah.
Tak ada tanda keracunan, hanya saja mamamu fisiknya langsung drop secara bertahap.
Awalnya mama curiga jika ia di racun, namun hasil pemeriksaan tidak menemukan hal yang janggal, tapi..."
"Tapi apa ma???"
"mamamu selalu mengkonsumsi air kelapa muda, jika di konsumsi dalam takaran sesuai, itu baik untuk kesehatan, tapi jika di konsumsi oleh ibu hamil dan lebih dari dua gelas sehari, itu buruk buat kesehatan, karena sesuatu yang berlebihan akan berbahaya untuk tubuh.
karena air kelapa mengandung kalium dan natrium tinggi sehingga bisa mengganggu elektrolit, sehingga membuat tekanan darah naik. karena di konsumsi bersamaan vitamin ibu hamil.
Mamamu terjatuh dari tangga dan harus melakukan operasi Cesar untuk menyelamatkanmu, namun karena tekanan darah mamamu sebelum dan sesudah operasi tinggi membuat ia mengalami komplikasi dan meninggal dunia setelah melahirkan mu" ucap khadijah menunduk sedih
"Bagaimana mama bisa meminum banyak sekali air kelapa ma, apa jangan-jangan...."
Khadijah mengangguk pelan.
"Dokter saja menyarankan minimal dua Minggu tidak mengkonsumsi air kelapa saat akan operasi Cesar karena di khawatirkan akan menggangu kestabilan tekanan darah, namun kondisi saat itu urgent, jika tidak melakukan Cesar bayi dalam kandungannya akan meninggal dan Eldrea tak mau, ia memilih berjuang untuk melahirkan kau ke dunia, walau resikonya ia kehilangan nyawa"
Ayudia menangis sesenggukan, betapa besar pengorbanan mamanya , Ayudia merasa sangat marah mengetahui penyebab mamanya mengalami komplikasi
"Ma, siapkan semuanya dan minta pengacara keluarga kita untuk membuat berita acara, aku akan menjebloskan Lia ke penjara, susun materi gugatannya, juga untu Aurel, aku mau lihat apa yang akan mereka lakukan untuk menyelamatkan diri mereka" ucap Ayudia lirih.
"Baik sayang, mama akan siapkan.
Mama harap kamu tegar, ikhlaskan semua yang terjadi, tapi jangan biarkan musuh yang Telang merebut kebahagiaanmu tenang.
Seperti ucapan mama, memaafkan bukan berarti melupakan. Beri mereka pelajaran sehingga mereka akan takut melakukan kesalahan lagi di kemudian hari" ucap Khadijah memeluk putri sahabatnya itu.
__ADS_1
"Baik ma, Ayu akan selalu mengingat ucapan mama" ucap Ayudia menghapus air matanya, ia berjanji dalam hati akan membalas satu persatu orang yang sudah menyakitinya.
Ayudia tak semangat kerja, ia lalu bersama Khadijah menuju pemakaman tempat Eldrea beristirahat untuk selamanya.