
Vera sudah ditangani oleh team dokter, kepalanya yang cidera juga sudah mendapat jahitan dan kini sudah di perban, dokter sepertinya mencurigai luka yang di derita oleh Vera akibat KDRT, melihat luka tersebut biasanya karena korban KDRT, namun Baskoro meyakinkan jika luka anaknya itu bukan akibat KDRT.
Baskoro terpaksa berbohong jika putrinya terjatuh dari tangga, ia bukan menutupi perbuatan istrinya, namun ia masih menunggu penjelasan istrinya itu, terlebih nama kelurganya di pertaruhkan jika sampai berita penganiayaan putrinya tersebar luar, ia takut berdampak buruk dengan perusahaan yang sudah di besarkan Arjuna.
Setelah lukanya ditangani dan meminum obat, Vera akhirnya tertidur pulas.
Seberapa keras pun Baskoro mengorek keterangan dari Vera, anak itu tak mengatakan apapun, ia memilih menangis dan bungkam seribu kata, sehingga percuma sama mendesak Vera untuk mengatakan yang sebenarnya.
Baskoro tahu di balik sikap anaknya itu ada alasan yang tak masuk akal, bagaimana Vera masih saja .melindungi mamanya setelah apa yang ia alami, Vera sangat menyayangi mamanya, sayang saja Deswita tak pernah melihat ketulusan kasih sayang Vera.
Entah apa yang mendasari Deswita sangat membenci Vera, padahal ia bisa menyayangi Sarah yang merupakan saudari kembar Vera, tapi mengapa dengan Vera sikapnya berbeda????
Baskoro menatap sedih putrinya, entah apa ynag harus ia lakukan pada Deswita yang pasti ia tak bisa melepaskan Deswita begitu saja.
Baskoro sangat kecewa dan marah, jika saja bukan di depan anak-anak mereka, sudah pasti Baskoro akan menjatuhkan tangan pada Deswita.
"Arjun, papa akan pulang lebih dulu, papa titip Vera ya, jika Vera terbangun dan mencari papa, segera hubungi papa.
Kasian adikmu Sarah juga sudah lelah..
Ia pasti shock melihat apa yang di perbuat mamamu pada saudari kembarnya " ucap Baskoro menatap Sarah yang tertidur di sofa karena terlalu banyak menangis hingga saat tidur ia terdengar bergumam dan menangis lirih.
Walau sifat mereka bertolak belakang, namun pertalian hati kedua anak kembar itu kuat. Sarah yang lemah lembut berbanding terbalik dengan Vera yang ceplas ceplos dan sedikit keras kepala, sedikit banyak sifat Vera mirip dengan Baskoro.
"Baik pa, papa tenang aja, Arjuna yang akan menjaga Vera, serahkan semuanya sama Arjuna.
Papa juga sepertinya lelah, papa istirahat dan kita cari solusi yang terbaik untuk keluarga kita.
ayo Arjun bantu papa angkat Sarah ke mobil" ucap Arjuna mendekati adik kembarnya
"Biar papa saja nak, papa tahu kamu lelah" ucap Baskoro
"Tenang saja pa, untuk keluargaku tak pernah ada kata lelah.
Lagi pula Sarah berat, Arjuna takut pinggang papa akan kambuh" ucap Arjun berusaha mencairkan ketegangan
__ADS_1
"Kau benar nak, terima kasih.
Papa selalu bangga dan tenang karena kamu bisa diandalkan saat dibutuhkan" ucap Baskoro menepuk punggung putra sulungnya.
Entah mengapa ia jadi teringat dan rindu akan mendiang istri pertamanya yang masih sangat ia cintai.
Dan Arjuna adalah simbol cintanya dengan istrinya itu, sifat dan wajah Arjun sangat mirip dengan wanita itu
sayangnya istrinya itu meninggalkannya tanpa kata dan memilih menikah dengan pria lain, meninggalkan Arjun yang masih kecil.
Beruntung Deswita yang kala itu adalah sekretarisnya dengan tulus merawat Arjuna, Baskoro pun akhirnya menikahi Deswita tanpa cinta , semua atas permintaan mamanya, karena Arjuna masih sangat kecil, dan Deswita bisa menjadi sosok pengganti istrinya yang telah pergi itu.
Sementara Baskoro terpuruk dalam rasa kecewa dan sedih yang berkepanjangan, Baskoro sempat depresi namun melihat Arjun yang saat itu tumbuh, semangat hidupnya kembali lagi, hingga detik ini, ia tak percaya jika istrinya itu pergi karena menikahi pria lain.
"Pa, Mama memang bersalah, dan Arjuna juga sangat marah dan sedih melihat apa yang terjadi pada Vera, tapi Arjun mohon jangan terlalu keras pada mama pa, tapi pastikan mama tidak akan mengulangi perbuatannya lain kali" ucap Arjuna
"Papa rasanya sudah tak percaya pada mamamu nak, sejujurnya papa merasa wanita itu menyimpan banyak misteri, ia seperti menyembunyikan sesuatu yang besar di belakang papa"
"Itu hanya perasaan papa aja, bagiamana pun mama Deswita sudah merawat Arjuna dan ada Vera dan Sarah serta Bastian dari pernikahan kalian"
"Ayo segera bawa adikmu ke mobil" ucap Baskoro lalu berjalan meninggalkan ruang rawat Vera diikuti Arjuna yang membopong tubuh Sarah.
Setelah sampai di mobil, Arjuna mendudukkan adiknya di kursi penumpang, memasangkan sabuk pengaman
"Terima kasih nak, papa pulang dulu"
"Gak perlu sungkan pa, sudah kewajiban Arjuna"
setelah meletakkan adiknya di kursi penumpang Arjuna pamit dan kembali ke ruang rawat inap dimana Vera terbaring
Kini jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dini hari, mata Arjuna pun sudah berat, ia memilih tidur di sofa dimana Sarah sebelumnya tidur di sana, tak lama kemudian ia pun pulas tertidur.
Sementara di kediaman Baskoro
Baskoro menepuk pelan pipi putrinya, hingga akhirnya Sarah membuka matanya perlahan dan menguap
__ADS_1
"Loh kok Sarah di depan rumah kita pa???" tanya nya bingung
"Ayo turun, tadi kakakmu yang mengangkat mu naik mobil, papa gak bisa angkat kamu karena kamu sudah seperti dua karung beras" ucap bAskoro membuat Sarah memanyunkan mulutnya tak terima
"Papaaaa, Sarah gak seberat itu" sungutnya lalu turun dari mobil, ia langsung masuk meninggalkan papanya yang terkekeh melihat kelakuan Sarah, di banding Vera, Sarah masih terlihat seperti anak kecil walau ia sudah kuliah.
"Papa berjanji nak, kalian akan hidup penuh cinta dan tak akan ada lagi kekerasan dalam keluarga kita, juga maafkan papa, PPA tidak ingin mama kalian tinggal di rumah kita lagi" ucap Baskoro lirih, ia langsung turun dari mobil dan berjalan masuk menyusul putrinya yang sudah lebih dulu masuk
"Pa, Sarah lupa, kak Vera gimana keadaanya??" tanya Sarah kembali menghampiri papanya
"Kakakmu sudah di beri obat, beberapa hari mungkin sudah bisa pulang, sudah kamu istirahat, jg kesehatan agar besok bisa menjenguk kakakmu lagi" ucap Baskoro yang di balas anggukan kec Sarah
"MET malam pa, papa juga istirahat ya” ucap Sarah mengecup pipi Baskoro dan pergi menuju kamarnya
"Pa, gimana keadaan kak Vera??? tanya Bastian ynng ternyata sudah menunggu kedatangan papanya
"Kakakmu sudah di rawat, sudah tidak apa-apa, kamu belum tidur nak?" tanya Baskoro
"Tian gak bisa tidur pa, itu...." Bastian terlihat ragu meneruskan ucapannya, ia mengedarkan pandangannya kearah kamar papa dan mamanya.
Bastian tahu kesalahannya mamanya, namun ia selama ini diam dan berusaha melindungi Vera jika mamanya sidah main tangan, Bastian rela menerima tamparan dan tendangan mamanya, menjadi tameng saat Vera kena marah mamanya.
Beberapa waktu lalu, ketika Bastian baru saja masuk ke dalam rumah, mamanya terlihat marah besar, membanting vas bunga dan apa saja di depannya, kini semua sudah kembali rapih setelah emosi mamanya reda, ia masuk kedalam kamarnya.
"Maafkan Tian pa, Tian gak bisa memenuhi harapan app untuk menjadi pelindung bagi saudari-saudari Tian"
"Sayang, itu bukan salahmu, papa tahu kamu selalu melindungi Vera dan Sarah.
Sekarang kamu istirahat, besok ikut papa jenguk Vera"
"Baik pa, Papa juga istirahat" ucap Sebastian mencium punggung tangan papanya dan masuk ke dalam kamarnya.
Baskoro melihat sekeliling, beberapa keramik dan vas bunga tak ada lagi di tempatnya, sepertinya Deswita mengamuk ketika ia pergi tadi.
Baskoro memilih menuju ruang kerja, disana terdapat sofa bed, ia malam ini terllau lelah, dan muak melihat istrinya tersebut.
__ADS_1
Jika di paksakan kembali ke kamar mereka, bisa di pastikan Baskoro tidak bisa mengendalikan emosinya lagi.