
Aurel kembali ke ruangannya dengan wajah pucat pasi, bagaimana tidak? baru sehari Ayudia kembali ke perusahaan ia sudah membuat banyak perubahan dan langsung melakukan audit menyeluruh, ini benar-benar gawat!!!!!
Aurel langsung menelepon mamanya untuk memberitahu pria tersebut, kini mereka sedang kesulitan karena Adhi sudah memblokir semua kartu credits mereka, ditambah mamanya akan bercerai dengan Adhi, semuanya jadi semakin suram.
Dengan siapa Aurel akan meminta uang untuk menutupi semua uang yang ia gelapkan?
Sementara harapannya adalah Adhi, namun papa tirinya itu sudah sangat membenci dirinya dan mamanya, tak mungkin Adhi mau mengeluarkan uang demi dirinya.
Terdengar teriakan makian di ujung telepon dari mamanya, Aurel tak bisa berkata apa-apa, ia yang biasanya membalas ucapan mamanya kini hanya diam mendengarkan semua Omelan Lia
"Apa yang kamu lakukan Aurel, astaga kamu mau masuk bui???? mama gak habis pikir ya sama kamu.
Kita hidup serba kecukupan setelah mama menikah dengan papa tiri muitu, lalu buat apa kamu mengambil uang perusahaan????, sekarang kamu tahu sendiri mama akan di ceraikan, dari mana mama punya uang hah?? lain kali pakai otak dungu mu itu untuk berfikir sebelum bertindak.
Dengar, mama gak mau kamu seret dalam masalah kamu"
klik, Tut Tut Tut Tut
Panggilan di putuskan Lia
Aurel menatap kecut ponselnya, harapannya adalah mamanya membantunya, namun di luar dugaan Lia lepas tangan, apa dia beneran anaknya??? bukankah uang itu mereka nikmati bersama??? mengapa saat Aurel yang notabene nya adalah putri satu-satunya tidak ia pedulikan???
Aurel menjadi sangsi, apakah ia benar anak Lia???
jika benar mengapa wanita itu tidak berusaha membantunya??? apa artinya dirinya bagi Lia?
apa ia tak pernah mencintai anaknya????
Aurel merasa makin tertekan dengan keadaan, di satu sisi ia sedang berada di jurang kehancuran, jika dia tak menutupi uangnya, ia akan masuk hotel prodeo dan nama baiknya hancur, ia tak memiliki muka dan masa depan lagi, siapa yang mau dengannya jika ia bekas narapidana??? siapa yang mau memperkerjakan ya jika ia seorang pencuri???
"Ma, kau bisa kejam pada anakmu sendiri, sebenarnya apa yang cintai??? aku putrimu ma...." jerit hati Aurel.
Aurel menangis frustasi.
Saat jam makan siang, Aurel pulang ke rumah, ia melihat Lia sedang memakai kutek di tangannya, terlihat tenang dan biasa, tak ada nada kepanikan di wajahnya mendengar musibah yang sebentar lagi menimpa Aurel.
Aurel kini paham, ia tak pernah benar-benar di cintai sebagai anak. Lia mencintai dirinya sendiri.
"Oh kamu pulang??? jangan meminta apapun dari mama, karena mama gak akan mau membantu.
urus saja masalahmu saat ini mama sedang pusing.
Nih sekedar membantu menambah uang yang harus kau ganti" ucap Lia melemparkan amplop coklat ke arah Aurel, melihat bentuknya, Aurel memprediksi jika Lia memberinya uang sekitar dua atau tiga juta, padahal jika Lia mau, ia bisa menjual berlian yang di berikan Adhi padanya, atau perhiasan yang ia beli dengan kredit card namun Lia tak melakukan itu, ia menyayangi barang-barangnya melebihi anaknya. Aurel sangat sakit hati. Dengan berat hati Aurel mengambil uang tersebut walau hatinya menangis, mama kandungnya tega mengabaikannya saat ia butuh bantuan.
"Terima kasih....ma..ma" ucap Aurel menekan kalimatnya
"Jangan meminta uang lagi pada mama, karena mama tak akan membantumu, mama tidak punya uang , sebentar lagi papa tiri mu akan menceraikan mama, kita harus hemat" ucap Lia.
Aurel tak memperdulikan ucapan Lia, ia terus berjalan meninggalkan mamanya. air mata menetes di pipinya
"Karena kau yang meninggalkanku duluan, jangan salahkan aku jika suatu saat kau kesusahan, aku tak memandang status kita sebagai ibu dan anak lagi mama." ucap Aurel lirih memasuki kamarnya dan mengambil buku tabungannya serta perhiasan yang ia beli. Aurel bergegas keluar tanpa pamitan pada Lia yang menatapnya heran
__ADS_1
"Aurellia, dimana sopan santun pada mama??? mengapa kau keluar tanpa pamit pada mama???
Aurel berhenti!!!!! mama bilang berhenti!!!! Dasar anak sialan" teriak Lia marah, namun Aurel tak menggubris, i sudah terlanjur sakit hati dan menganggap Lia bukan siapa-siapanya lagi.
Aurel melajukan kendaraanya menuju bank, menguras semua tabungannya, lalu setelah itu menuju ke toko perhiasan, ia kemudian mengembalikan uang perusahaan yang pernah ia ambil selama tiga tahun belakangan, semuanya hingga kini tabungannya hanya menyisakan beberapa juta saja, yang penting ia selamat.
Aurel baru memesan makan siangnya, ia makan di pinggir jalan di sebuah rumah makan sederhana, ia harus hemat karena sekarang ia harus berdiri di kakinya sendiri. Mama yang ia harapkan tak pernah ada.
Aurel jadi kembali teringat masa kecilnya dulu.
Lia sesungguhnya memang tak pernah menyayanginya. Aurel kecil biasa mencuci dan membersihkan rumah bahkan sudah diajarkan memasak sejak kecil, sementara Lia enak-enakan duduk sambil menonton televisi.
Sikap Lia berubah padanya tak kala mengenal Adhi, pria tampan yang merupakan suami sahabat semasa kuliahnya. Lia jatuh cinta sejak pertama melihatnya dan takdir mempertemukan kembali mereka.
Lia bekerja pada perusahaan Adhi atas permintaan Eldrea.
Lia dan Eldrea semakin akrab, namun Lia melihat wanita yang sering mengikuti Eldrea juga tinggal di sana, Lia menyimpulkan jika wanita itu adalah pembantu Eldrea, karena Lia tahu Eldrea wanita yang baik hati, mungkin saja wanita itu di sekolahkan oleh Eldrea.
Hingga akhirnya Eldrea melahirkan dan meninggal, Lia berusaha melakukan berbagai cara agar ia terlihat keibuan dan menarik simpati Adhi.
"Neng mau makan apa?" tanya seorang pemuda memakai peci dan Koko di depannya, jika saja pikiran Aurel sedang tidak kacau, ia pasti akan berkomentar karena melihat penampilan pemuda di depannya ini.
Bukan seperti pelayan warung makan, seperti seorang santri yang mau ke masjid, namun Aurel tak perduli, ia menatap pemuda itu yang terlihat malu langsung memutuskan pandangannya.
"Ada apa aja mas?"
"Ada pecel ayam, ayam bakar, bakso, mie ayam.. so.."
"Bakso aja satu pedes banget gak pake mie" ucap Aurel memotong ucapan pemuda tersebut
"Es teh manis, cepet ya mas"
"Baik, di tunggu ya pesanannya" ucap pemuda itu ramah lalu meninggalkannya.
terlihat seorang perempuan yang Aurel taksir berusia belasan langsung membuatkan pesanan Aurel, Aurel melihat sekilas, di jaman sekarang masih ada pemuda santun seperti pria itu, langka!!! itulah ucap Aurel dalam hati.
kedua orang tersebut terlihat bahagia tak walau hanya berjualan, tak seperti dirinya yang...
Ya sudahlah masing-masing orang punya jalan hidup mereka sendiri-sendiri.
pesanan datang, wanita mung berhijab itu meletakkan bakso dan es teh manis di depan Aurel
"Mangga teh baksonya" ucapnya sopan, Aurel melirik, ternyata usia anak itu mungkin sekitar dua belas tahun, anak sekolah menengah pertama, terlihat dari wajahnya yang masih lugu dan suaranya yang masih imut.
Aurel segera memakan baksonya dengan cepat hingga dering ponsel mengejutkannya
"Baik, baik pa, saya akan segera kembali" ucap Aurel panik, ia lupa jika sudah melewati jam makan siang, waktu menunjukkan pukul dua siang.
"Mas, berapa??" tanya Aurel pada pemuda tadi
"dua puluh lima teh" ucap pemuda tersebut.
__ADS_1
Aurel mengeluarkan uang satu lembar seratus ribu dan langsung pergi, di luar warung makan terlihat perempuan tadi duduk di bawah pohon sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan serius
"Dek, dek sini
Ini buat kamu jajan" ucap Aurel langsung melangkah masuk kedalam mobil sebelum anak perempuan itu menyahut
"Teteh, hatur nuhun, semoga Allah melimpahkan rezeki dan kesehatan buat teteh" ucap anak perempuan itu berteriak.
Aurel menyunggingkan senyum, untuk pertama kali dalam hidupnya ada orang yang mendoakannya, betapa indahnya.
selama ini ia hidup untuk dirinya sendiri, namun entah mengapa melihat anak perempuan itu ingatannya melayang dua puluh tahun lalu saat ia masih kecil.
mungkin saja anak itu sedang kesusahan uang hingga harus membantu kakaknya berjualan, pikir Aurel.
Aurel memacu kendaraanya secepat mungkin menuju kantor, ia tak mau Ayudia tahu jika ia datang terlambat setelah jam makan siang
Namun garapannya sia-sia, Ayudia terlihat sedang akan memasuki lift khusus direksi saat ia menuju lift karyawan
"Dari mana kamu??? gak lihat sekarang jam berapa???" tanya Khadijah
"Maaf Bu, tadi ada maslah sedikit" ucap Aurel menunduk
"Ya sudah kembali ke ruangannya" ucap Ayudia menarik Khadijah masuk. Ayudia tak tega melihat banyaknya peluh di kening kakak tirinya, sepertinya Aurel habis melakukan sesuatu untuk menyelamatkan dirinya, siapa yang tahu, besok akan terjawab semua.
"Aurel sampai di ruangannya, beberapa anak buahnya mengerutkan alisnya melihat keadaan Aurel yang berantakan, rambutnya sedikit acak-acakan karena ia berlari, peluh juga membasahi wajah dan pakaiannya basah kuyup oleh keringat, ia selalu terlihat anggun setiap harinya, namun baru dua hari Ayudia menjabat, ia sudah kalang kabut.
Aurel meneguk habis air putih di mejanya sambil mengatur nafas, ia melihat beberapa berkas yang ada di meja kerjanya.
Seorang bawahan mengetuk pintu dan masuk
"Bu, itu adalah laporan keuangan bulan ini, serta perencanaan biaya untuk proyek kita di Bali, Bu Ayu minta besok laporan serta rincian biaya sudah ada di meja beliau" ucap karyawan tersebut lalu pamit
"Astaga, gue pengen mati aja rasanya.
Ayudia nyiksa gue" gumam Aurel lirih.
Ia tak akan menyerah, ia mencintai pekerjaannya dan yang terpenting adalah ia kini sendiri!!!.
Haallloooo semuanya....
sehat terus ya buat kita semua
author seneng banget melihat antusias kalian membaca karya author yang pemula ini.
Maaf author gak bisa balas satu persatu coment kalian, pokoknya author bersyukur dan mengucapkan terima kasih pada kalian semua.
Untuk semua reader yang sudah like dan meninggalkan coment nya dan untuk yang belum kasih like, semoga kalian menyempatkan diri memberikan jejak like pada karya author.
Sekali lagi terima kasih, sukses selalu untuk kalian semua.
Semoga kebaikan kalian di balas Allah SWT berlipat ganda.
__ADS_1
Amiinnnnn ya Robbal'alamin
Pooh