
Ayudia sudah menata menu makan malam mereka diatas meja makan, sementara baskoro dan ketiga anaknya sedang berada di ruang kerja, mungkin membahas gugatan untuk mama tiri mereka, entahlah.
Yang jelas masalah ini sangat sensitif mengingat Si kembar Vera dan Sarah serta Tian menyayangi mama mereka, walau pada kenyataanya Sebastian bukan anak Baskoro.
Sebastian tidak tahu apa-apa, ia sedang asik bermain dengan kedua bocah kembar yang membuat hatinya bahagia, ia sudah lupa entah kapan ia bisa merasakan tertawa bahagia seperti ini.
Hidupnya selama ini tertekan antara keinginan dirinya dan keinginan mamanya, Deswita selalu mengontrolnya seakan ia adalah boneka hidup berjalan.
"Om, nanti kalau aku sama kak Daffa datang lagi, om ajari kami ya???"
"Siap bos kecil" ucap Tian mengacak-acak rambut kedua keponakannya.
"Om, kapan-kapan kerumah juga dong, kita kan saudara harus saling silaturahmi"ucap Daffa mendongak menatap om nya
"Iya om, kata Miss Dewi guru kami, silaturahmi memperpanjang usia" tambah Daffi
"Iya om akan mampir deh kalau gak sibuk ya"
"Ok om" ucap keduanya mengacungkan jempol mereka
Sementara Davina sudah keluar dari kamar Vera, ia baru bisa bernafas lega,
Davina lebih menyukai kamar Sarah yang bersih dan wangi, serta rapih dan terkesan sangat feminim.
Namun saat memasuki kamar Vera, Davina seakan Diajak kesebuah kamar yang menjadi setting film horor.
berbagai poster tertempel di dinding kamar Vera, semuanya aliran underground, serta ada topeng-topeng yang biasa di pakai oleh peran antagonis dalam film trailer membuat Davina merinding dan susah bernafas.
kamar itu berantakan dan pengap, jauh dari kesan jika itu kamar wanita
Sarah cekikikan melihat keponakannya menghela nafas begitu mereka keluar dari kamar Vera, Sarah berfikir jika hanya dia saja yang tidak suka berlama-lama di sana, nyatanya Davina juga, mereka sehati.
"Kita punya selera yang sama gadis kecil, kamar Vera menyeramkan" bisik Sarah yang di angguki Davina
"So, apa next time kamu mau ikut Tante ke salon.
Kita perawatan bersama, bagaimana????"tanya Sarah pada keponakan kecilnya
"Aku harus tanya mama dulu Tante "
"Loe mau ngajak bocah kecil ke salon???
salon mana? baby spa?" tanya Vera meledek Sarah
"Loe kan gak pernah tahu.
makannya sekali-kali loe ikut gue ke salon.
kita harus perduli sama diri kita sendiri, kalau bukan kita siapa lagi" ucap Sarah
"Loe aja, gue gak nyaman di pegang-pegang orang" tolak Vera bergidik
"Norak dasar" ucap Sarah yang membuat Davina tertawa
"Bukan norak, tapi eh haha" tawa Davina
"Eh anak kecil menertawai orang gede" ucap Vera menghampiri Davina dan mulai menggelitiknya
Davina berlari sambil cekikikan, ia sudah memakai topinya dan terlihat sangat imut di mata Vera
"Mama, mama tolong aku" teriak Davina ke arah dapur. ia yakin mamanya ada di sana sedang membantu asisten rumah tangga mempersiapkan makan malam mereka
"Sayang kenapa kamu lari-lari, dari mana topi itu???" tanya Ayudia yang langsung mengangkat putrinya yang menyodorkan tangan minta di gendong
"Tante Vera yang memberikannya"
"Kamu seperti iblis kecil yang imut, sebentar kamu pose di sana, mama mau foto" ucap Ayudia malah meminta anaknya berpose, Ayudia langsung meraih ponselnya, jadilah Davina model dadakan untuk mamanya.
Anehnya gaya Davina tak terlihat canggung, ia terlihat sangat profesional seperti foto model cilik, bergaya dengan anggun tapi imut.
"Ya Tuhan, cantiknya mama kamu menggemaskan" ucap Ayudia tak bisa menahan bahagianya.
Begitu pula Sarah ikut-ikutan latah mengabadikan pose Keponakannya dalam ponselnya.
__ADS_1
"Kak, Davina menggemaskan" ucap Sarah ikut menoel pipi berlemak Davina
"Benar-benar imut ya" ucap Vera yang sejak tadi hanya memperhatikan
"Imut sekali, seperti anak sapi, perutnya bulat" ucap Daffa yang tahu-tahu sudah berdiri di dapur
"Ih siapa bilang, Davina cantik kok" protes Sarah tak terima
"Dia tuh syirik Tan, biasalah gak ada yang muji mereka" ucap Davina mengibaskan rambutnya
"Sayang, sini, kalian dapat topi dari Tante Vera.
Sini, sini cepat pakai, mama mau foto kalian" ucap Ayudia antusias
Daffi dan Daffa menatap ngeri topi tersebut, mereka ingin menolak, namun Ayudia memberi tatapan tajam pada kedua putranya
"Terimakasih Tante Vera" ucap keduanya menatap ngeri topi tersebut
"Masama ganteng" balas Vera mengelus puncak kepala Daffa dan Daffi
”Itu baru cocok, little devil" ucap Davina membuat kedua kakaknya mendengus kesal
"Dan ini dari Tante" ucap Sarah memberikan dua tas berbentuk monyet dan koala
Daffa dan Daffi melotot kesal
mereka sudah memakai topi aneh dan kini mereka juga di beri tas anak TK, bagaimana keduanya tak kesal.
sedang Davina di beri tas cantik seperti orang dewasa ke pesta
"Tante, i Lope u.
itu cocok dengan kedua kakakku" terima Davina sambil mengirim Sarah kiss jauh.
Davina tertawa sambil memegangi perutnya .
"Lope u too ponakan aunty cantik" balas Sarah mengirim kiss jauh juga
"Astaga Sarah terima kasih, aku memang sejak dulu ingin memberikan tas ini pada mereka, ayo anak-anak pake dan berpose" ucap Ayudia tak perduli wajah memelas kedua putranya.
William dan Willy tak mau ketinggalan mengabadikan Daffa, Daffi dan Davina.
jika Willy di minta papa nya karena mereka sangat imut, Baskoro akan menyimpan foto cucunya tersebut, namun beda dengan motif tersembunyi William, ia menyunggingkan senyum licik
"Rasakan iblis kecil" ucap William dalam hati
"Ayu, kirimkan foto cucu-cucu kakek, ya Allah, mengapa mereka seimut ini, dan topi itu cocok sekali dengan mereka." teriak Baskoro lalu menghampiri ketiga cucunya dan memeluknya, menciumi mereka dengan gemas
"Kakek, kumis mu ....!!! teriak mereka bertiga karena Baskoro lupa mencukur kumisnya.
Semua orang tertawa bahagia, kecuali dia pria kecil yang tertindas.
Acara makan malam sukses, Arjuna dan keluarga kecilnya menginap di kediaman Baskoro.
Vera dan Sarah memilih masuk ke dalam kamar mereka, begitu juga Bastian yang tidak begitu suka berbincang-bincang.
Akhirnya Baskoro memutuskan membahas tentang gugatan pada mantan istrinya.
Arjuna merasa sedikit khawatir dengan adik bungsunya, pasalnya diantara ketiga adiknya, Bastian yang paling dekat dengan mama tirinya.
walau Bastian sudah mengatakan tak apa-apa, namun Arjuna tahu jika adiknya tersebut pasti terluka
"Deswita sudah terlalu banyak membuat dosa.
pertama ia membunuh ibu kandung Arjuna, istri pertamaku, lalu percobaan pembunuhan Ayudia "
"Juga percobaan pembunuhan mama Ratna pa" tambah Ayudia
"Oh iya, begitu banyak dosa yang ia lakukan, namun makin hari tak menunjukkan penyesalan" ucap Baskoro
Tanpa mereka ketahui, Sebastian yang memutuskan akan bergabung dengan saudara-saudaranya mendekati ruang keluarga dan mendengar ucapan Baskoro, ia mengepalkan tangannya, hatinya hancur.
malu, kesal, marah meliputi dirinya
__ADS_1
"Tian kamu lagi apa??" tanya Vera yang melihat Sebastian hanya berdiri di balik pilar rumah
Sebastian langsung berjalan pergi tanpa menjawab pertanyaan Vera,
"Tiaaannm, sebastiaaan, kakak nanya kamu kenapa??" tanya Vera berlari mengejar adik bungsunya, namun Sebastian yang memiliki postur tubuh tinggi lebih cepat langkahnya, ia langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya
semua orang yang berada di ruang keluarga mendengar suara Vera, melihat Vera berlari mengejar Sebastian
"Apa Tian mendengar pembicaraan mereka???
melihat dari arah perginya, mereka langsung tegang
Arjuna langsung berlari mengikuti Vera, ia sangat khawatir dengan kondisi kejiwaan adiknya mendengar pembicaraan mereka tentang mama kandungnya.
"Vera ada apa???" tanya Arjuna yang sudah bisa menebak sikap Tian, namun ia ingin memastikan
"Tian tadi hanya berdiri di dekat ruang keluarga, ia seperti menahan sesuatu, tangannya mengepal kencang dan waktu ku tegur ia malah lari kak,
dan sepertinya Tian menangis" ucap Vera khawatir
Seperti dugaan Arjuna, Tian telah mendengar semuanya
"Sebastian, Tian, ini kakak" panggil Arjuna, namun tak ada sautan dari dalam kamar
"Sebastian, buka nak, ini papa" teriak Baskoro tetap tak ada jawaban.
Semua orang berwajah tegang, mereka tahu jika Sebastian terluka oleh kenyataan bahwa mereka akan memasukkan mama kandungnya ke penjara.
"Sebastian, dengar nak.
ini semua juga berat untuk papa, Tapi mamamu sudah melakukan kesalahan yang fatal nak.
Banyak orang yang terluka karena mamamu.
Maafkan papa" ucpa Baskoro lirih
"Biarkan Tian menenangkan dirinya dulu, " ucap ayudia menggandeng tangan Vera yang terlihat bingung dan khawatir
"Apa Tian mendengar tentang....???"
Ayudia mengangguk, Vera menutup mulutnya, air matanya menetes.
Salah satu alasan ia dulu membungkam mulutnya karena Tian.
satu persatu meninggalkan tempat tersebut, kini hanya Sebastian yang berada di kamarnya sambil menangis,
Ia langsung melempar apa saja yang ada di dekatnya.
Ia marah, benci tapi tak berdaya.
"Ya ,Allah, mengapa aku di laporkan dari rahim seorang wanita yang kejam seperti dia????
Mengapaaaaaa....
Mengapa kamu kejam sekali ma??
apa salah mereka sampai kau membunuh mereka????" teriak Sebastian murka.
Ia membanting foto mamanya ke lantai hancur hingga berkeping-keping.
"Aku benci hidupku......
Aku benci punya mama kamu ma" Sebastian meraung.
Sarah yang mendengar amukan saudaranya menangis, tak tahu apa yang terjadi karena ia sedang mandi saat semua orang berada di depan kamar Sebastian.
Setelah satu jam kemudian, tak terdengar suara apapun, Sarah makin ketakutan, ia takut Sebastian berbuat sesuatu yang buruk.
Beruntung ia pernah menduplikat kunci kamar Sebastian, dengan perlahan ia membuka kamar seharian dan berteriak histeris
"Aaaaaaaaa....
Tiaaaaaaaaaaannnnnnnn.....
__ADS_1
Tolooooong, papaaaa, kak Arjun"