(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Saksi Kunci


__ADS_3

Setelah skandalnya menyebar di sosial media, Jimmy sudah meminta anak buahnya menghapus berita tersebut dari laman media sosial manapun, namun tetap saja berita itu masih ada yang membagikan lagi di media sosial.


Sungguh media sosial sangat menyeramkan.


Jimmy juga harus mendapatkan semprotan pedas dari sesama rekan dalam fraksinya, belum lagi pemecatan dari dewan fraksi tempatnya bernaung.


Jimmy Chou merasa ubun-ubun nya mendidih.


ia sudah banyak berkorban waktu, tenaga dan uang.


bahkan menyokong kegiatan partai dari koceknya pribadi demi menaikan pamornya dan mendapat dukungan penuh fraksinya.


Namun saat ia tercoreng mereka secepat kilas membalikkan badan dan membuangnya.


Jimmy tak terima.


Yang paling menyebalkan adalah ia mau math dan balas dendam namun hingga kini pelaku yang membuatnya kocar-kacir belum juga terungkap.


Anak buahnya hanya mengetahui jika itu perbuatan dari the devil angel. Jimmy merasa harus membalas mereka, demi harga dirinya dan demi kepuasan batinnya sebelum ia diperkarakan secara hukum


Jimmy sudah mempersiapkan team pengacaranya.


Karena maslaah ini ia memutuskan hanya mengirim satu pengacara untuk adiknya, sisanya ia tarik untuk menyelesaikan kasusnya.


Ia memang menyayangi Karen, namun jika ia jatuh siapa yang akan menyokongnya kalau bukan dirinya sendiri.


Jika Karen lepas dari jerat hukum, ia tak yakin Karen akan membantunya, mengingat Karen adalah manusia paling egois yang ia kenal, ya tidak berbeda dengan dirinya, namun Karen tidak pernah memikirkan orang lain selain dirinya sendiri


Dan Baskoro hanya pengecualian.


Mungkin adiknya tulus mencintai Baskoro namun menurut Jimmy itu hanya sebuah obsesi belaka.


Namun kepanikan Jimmy sedikit bisa teratasi, pasalnya beberapa bukti bisa ia hapus tepat waktu, hany saja tanpa ia sadari, bukti lain menanti . Bukti yang seperti bom Atom yang akan memporak-porandakan hidupnya.


Walau Davina sedikit kesal ia kalah cepat lagi sehingga beberapa bukti lenyap, namun Davina memegang kartu as Jimmy.


Sidang kedua Sumiatun alias Karen di gelar.


Wajah Karen terlihat muram, ia sangat kesal pada kakaknya yang menarik beberapa pengacara yang mendampinginya.


Kini ia hanya punya satu orang pengacara dan pengacara itu terlihat masih hijau. Karen takut pengacara itu justru akan membuatnya mendekam lebih lama di penjara.


Sumiatun mengedarkan pandanganya ke segara arah, ia tak mendapati sosok Baskoro di sana, Sumiatun amat kecewa. Dua puluh tahun ia mengabdikan hidupnya untuk pria itu, namun pria itu tak pernah benar-benar membuka hatinya untuknya.


Satu hal yang membuat Karen khawatir adalah tanggapan Vera padanya saat Vera tahu jika ia adalah mama kandungnya.


Awalnya Sumiatun membuatkan Deswita merawat Vera karena ia tak mau dan hanya ingin berfokus pada Baskoro.


Tapi seiring waktu melihat putrinya di perlakukan kejam oleh Deswita ia berang.


Ada sesuatu di dalam hatinya yang menggerakkannya untuk melindungi Vera.


Mungkin itulah yang di namakan naluri seorang ibu.


Dengan bertambahnya waktu Karen makin menyayangi Vera, sayangnya ia tak akan bisa mengungkap jati dirinya pada Vera, tak bisa mengatakan dengan lugas hubungan darah mereka.


Dengan berjalanya waktu ,Karen menyesali keputusannya membuatkan Deswita merawat anaknya ia sungguh menyesal.


Sidang di mulai.


sidang awal adalah pembacaan tuntutan, dan sidang kedua adalah sanggahan lalu pemanggilan saksi.

__ADS_1


Karen merasa diatas angin, sidang kali ini ia juga terlihat tak bersalah, namun satu yang ia tak ketahui adalah.


Davina berhasil menyelamatkan wanita yang pernah berhubungan dengan Karen. Wanita itu adalah pembantu di kediaman Karen sesungguhnya.


Karen tega membunuhnya demi menutupi kejahatannya, sayangnya saat meregang nyawa, Davina dan team dokter berhasil menyelamatkannya.


Kini kondisinya sudah stabil dan bisa menjadi saksi walau masih dalam perawatan dokter dan di dorong dengan kursi roda.


Davina sengaja menyimpan wanita itu sebagai rencana urgent.


Saat team penuntut memanggil saksi, karena dengan cuek sibuk dengan kuku-kuku jari tangannya tanpa berminat melihat saksi yang akan melawannya, namun betapa mengejutkan saat ia mendengar suara seseorang yang familiar. Deswita!!!


Karen panik dan menatap penuh kebencian pada Deswita. Namun ia tak pernah menduga jika Deswita datang sebagai saksi di pihak Baskoro.


Karen tak pernah memprediksikan ini, ia hanya berfikir jika Deswita akan takut dengan kakaknya.


Jika pada kasus sebelumnya ia buka suara jika Karen lah yang membunuh Ratih, Karen belum membalas dendam atas kelancangan mulut wanita simpanan kakaknya itu.


Namun kini ia menjadi saksi???


Karen ingin Deswita lenyap dari dunia ini!!!!


Deswita mulai di cecar banyak pertanyaan yang di jawab Deswita dengan lugas.


Beberapa kali pengacara Karen membantah peryataan Deswita, namun pihak hakim keberatan ,sehingga pernyataan Deswita di catat sebagai bukti.


Bukti yang memberatkan Karen.


Karen frustasi, ia tak pernah merasa begitu tak berdaya saat ini


posisi Karen sangat tidak menguntungkan bahkan dirugikan oleh pernyataan Deswita.


Di tambah sepertinya hakim ketua dan hakim anggota menganggap pernyataan Deswita adalah sebuah fakta penting


walau Deswita di penuhi ketakutan karena itu sama saja mendaftarkan kematiannya, ia tak gentar selama Sebastian bahagia dan bisa memaafkannya.


Sebastian langsung keluar dari ruang sidang saat begitu Deswita di giring kembali masuk ke sel tahannya.


Sebastian merasa penting harus mengucapkan terim kasih dan menunjukan perasaanya pada mamanya.


Bagaimanapun mamanya kini butuh seseorang yang berarti untuk menyemangatinya agar bisa melewati masa hukuman nya dengan semangat.


"Pa, pak tunggu" panggil Sebastian membuat petugas lapas menghentikan langkahnya, begitu pula Deswita


"Mau apa anda, kami harus segera membawa tahanan ini masuk kembali ke sel nya" ucap petugas lapas terlihat tak suka.


"Pa, aku mohon beri aku lima menit berbicara mamaku.


Aku harus pergi keluar negeri besok, please pak" ucap Sebastian dengan wajah penuh harap.


Sementara Deswita hanya menangis.


Putranya tak pernah mengatakan jika ia ingin kembali ke luar negeri secepat ini.


Deswita masih sangat merindukan Sebastian putra kesayangannya.


"Baiklah, lima menit tidak lebih" ucap petugas situ karena merasa kasihan.


"Ma, Tian bangga sama mama.


Mama sehat-sehat sellau ya? Tian mau pamit sama mama, Tian mau meneruskan perjalanan Tian.

__ADS_1


Sebulan lagi Tian kembali dan akan belajar menjadi seorang pengusaha seperti keinginan mama.


Tapi izinkan Tian selama sebulan ini menjadi diri tian sendiri. Melakukan semua yang Tian mau, agar tidak ada penyesalan lagi nanti.


Setelah itu Tian akan bekerja keras untuk membahagiakan mama" Deswita hanya memeluk anaknya dengan mengalungkan tangannya di kepala putranya, karena tangan Deswita terborgol.


Kesedihan yang paling besar adalah tidak bisa memeluk anak sendiri walau ingin.


Deswita bertekad dalam hati bahwa ia akan belajar menjadi mama yang benar, agar Tian tak lagi kecewa dan malu padanya.


Petugas lapas yang melihat itu berbaik hati membukakan borgol di tangan Deswita.


Ia percaya wanita itu tidak akan kabur karena terlihat ia sangat menyayangi putranya.


Deswita tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih, ia memeluk dan menciumi wajah anaknya seakan tak akan pernah bertemu Sebastian lagi.


Lima menit sudah berlalu namun petugas itu hanya diam, petugas itu juga memiliki seorang ibu, ia mengerti bagaiman perasaan pemuda itu, selama sidang wanita itu sudah menunjukkan kelakuan yang baik.


Sepuluh menit kemudian petugas itu baru mendatangi Deswita, memborgol kembali tangan Deswita dan membawanya ke mobil tahanan.


Deswita terus menengok kebelakang untuk melihat putranya. Ditangannya ada sebuah foto terbaru yang Davina ambil saat di bandara dan mencetaknya, memberikan pada Sebastian untuk ia berikan pada mamanya.


Deswita berusaha tersenyum walau hatinya menangis harus kembali jauh dari putranya, tapi ia harus ikhlas menebus semua kesalahannya di balik jeruji besi.


Davina dan Sebastian menuju rumah sakit jiwa dimana Baskoro di rawat. Baskoro yang biasanya tak pernah merespon siapapun yang datang begitu Sebastian datang ia merespon dan menangis tersedu-sedu sambil memeluk Tian.


Sebastian tak bisa membendung emosinya, kedua pria beda generasi itu menangis sambil berpelukan.


Sebastian bersimpuh di kaki Baskoro meminta pengampunan untuk mamanya.


Sebastian tahu ini telat, namun ia harus melakukanya.


Ditambah hari ini mamanya menjadi saksi menentang Sumiatun atau Karen, Sebastian khawatir papanya itu akan membenci dirinya karena Tian lah yang memaksa Deswita bersaksi.


Baskoro tidak mempersalahkan itu, semuanya seperti ini karena dirinya sehingga ia tak mau lagi menyalahkan siapapun.


Baskoro juga meminta Sebastian pulang dan tinggal bersamanya, ia merasa hanya Bastian yang bisa menghiburnya, sementara para saudara Tian mereka terlalu sibuk dan terlihat membenci Baskoro kini.


Sebastian mengutarakan rencananya, ia juga meminta papanya sendiri yang mendidiknya menjadi pengusaha jika ia kembali nanti, Baskoro merasa tersentuh masih di hargai oleh Sebastian.


Sehingga akhirnya Baskoro merelakan putra bungsunya melakukan apapun yang ia mau selama satu bulan, setelah atu bulan Sebastian akan kembali berkumpul bersamanya.


Keesokan harinya Sebastian kembali terbang ke luar negeri, ajaibnya sejak melihat Sebastian kesehatan Baskoro berangsur membaik.


Ia memang menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi, namun dengan terus merasa bersalah dan tak berbuat apapun membuatnya makin tersiksa.


Baskoro harus bangkit dan memperbaiki semuanya.


Sidang ketiga di gelar, Baskoro diminta sebagai saksi oleh pihak pengadilan, awalnya Arjuna menduga Baskoro menolak, namun di luar dugaan Baskoro mau, dan ia sendiri datang diantar oleh Willy.


Di akhir sidang Deswita membawa asisten rumah tangga yang bertugas mengantar racun yang karena minta.


Karen sangat shock, ia sudah mendapatkan laporan dari anak buahnya bahwa wanita itu sudah di bunuh dan jasadnya di buang ke sungai.


Dengan dia saksi penutup maka selesailah persidangan yang di akhiri keputusan hakim.


"Saudari Sumiatun alias Karen Chou terbukti bersalah karena mengambil nyawa seseorang secara terencana dan tampak tak merasa bersalah, maka pihak pengadilan akan menjatuhkan hukuman....


"Tidak, tidak Bu hakim.


Adik ipar saya tak bersalah, ....." teriak seorang wanita memaksa masuk ke dalam ruang pengadilan.

__ADS_1


Semua mata tertuju padanya dan membelalak mata mereka


__ADS_2