
Arjuna sudah selesai mandi dan berganti pakaian yang sudah diambilkan oleh William saat ia pulang tadi, sementra kedua adiknya sudah diantar pulang Willy.
kini ia bersiap ke kamar Vera setelah Meliah William sudah datang.
mungkin dua hari lagi Vera akan di perbolehkan pulang, ia akan membahas masalah ini setelah mama tirinya stabil kondisinya, saat ini Arjuna akan menyimpan rencananya.
Dari Sarah ia tahu jika sebelum kejadian papanya sangat marah pada Deswita dan sepertinya keputusan final sudah di berikan, keputusan yang mampu menggiring mama tirinya untuk bunuh diri, cerai!!!!!
Arjuna sangat yakin papanya itu mengatakan itu di lihat dari putus asa ya Deswita, ntah lah Arjuna tak tahu harus bersikap bagaimana, di lain pihak ia sangat marah dan benci pada wanita yang sudah membesarkannya itu, namun di lain sisi ia juga segan mengingat wanita itu adalah pengganti mamanya yang merawatnya dengan penuh kasih sayang, walau Arjuna tau tak ada ketulusan dalam tindakannya, namun Deswita tidak pernah sekalipun berbuat tak baik padanya, tidak seperti perlakuannya pada adik-adiknya, seolah ia memang anak kandungnya sementara si kembar Sarah dan Vera adalah anak tiri.
Sikap Deswita juga berbeda pada Sebastian, ia menyayangi putra bungsunya, bahkan memanjakannya!!!!
bukankah seorang ibu seharusnya bisa menyayangi anak-anaknya sama rata tidak membeda-bedakan jenis kelamin mereka???
Bukanlah seorang ibu harusnya lemah lembut dan melindungi anak-anaknya???
bukankah seorang ibu bisa berkata lemah lembut dan penuh kasih pada anak-anaknya, bukan suka mencaci, memaki dan main tangan.
Tegas bukan berarti kasar.
Arjuna tak habis pikir dengan jalan pikiran mama tirinya itu, ia tak punya hak menegur karena ia cuma anak tiri,serba salah.
yang jelas satu hal, ia tak akan membiarkan Vera tinggal dengan mama dan papa nya.
Jika sarah Arjuna tak khawatir, karena Sarah berbeda dengan Vera, Sarah cenderung penurut sehingga Deswita jarang marah pada anak itu.
Sesampainya di kamar rawat Vera, terlihat Vera masih belum tidur, ia sedang asik bermain ponselnya
"Kok belum tidur de???"
"Belum ngantuk kak, kata Sarah dan Tian mama masuk rumah sakit kak, bagaimana kondisinya???" tanya Vera khawatir, matanya berkaca-kaca
"ah mama, jika saja kau tahu betapa Vera sangat menyayangimu, berbanding terbalik dengan yang terlihat sangat membenci Vera.
Bagaimanapun sikap Deswita pada Vera, anak itu seperti tak menaruh sedikitpun benci pada wanita yang telah membuatnya seperti ini, wanita yang tak lain adalah mama kandungnya sendiri.
"Mama sudah baikan, kamu tak perlu khawatir, besok sebelum pulang kota kesana menjenguknya" ucap Arjuna yang di balas anggukan pelan Vera
"Apa besok kita sudah bisa pulang kak??"
"Dua hari lagi, tapi kalau kamu mau pulang besok, biar kakak tanyakan dokternya"
"Kak, aku mau lihat mama dari jauh saja" ucap Vera membuat Arjuna menaikan alisnya sebelah
"Kenapa???"
"Itu, Sarah dan Tian bilang kalau mama dan papa bertengkar karena membahas tentang aku, aku merasa bersalah pada mama.
__ADS_1
Mama pasti makin membenciku kak"lirih Vera
Hari Arjuna mencelos melihat kepedihan adik nya itu, Arjuna langsung memeluk adiknya itu
"Kita akan menjenguknya saat mama tidur, jadi kamu bisa melihatnya dari dekat" ucap Arjuna mengelus puncak kepala adik beda ibunya itu
"Beneran kak, tapi bagaimana kita tahu mama sedang tidur???" tanya Vera muram
"Ya Ampun, apa pukulan mama membuatmu amnesia??? kan sellau ada William atau Willy yang bergantian menjaga di sana" ucap Arjuna mencibir adiknya
"Hehehe Iya ya" ucap Vera nyengir kuda
"Kak, aku laper" ucap Vera mengerucutkan mulutnya
"Pesan lah, nanti kakak bayar” ucap Arjuna
"Pizza kakak mau???" tanya Vera memandang kakaknya
"Astaga Vera, apa tak ada makanan lain??? bisa bengkak kamu lama-lama ” ejek Arjuna menggelengkan kepala nya
"Ih orang maunya piza, lagi pula buat apa aku latihan taekwondo jika gak kurus" ucap Vera bangga
Arjuna hampir lupa jika adiknya itu atlet taekwondo dan sudah sabuk hitam, jika saja Vera mau, dia bisa menjatuhkan Deswita begitu saja, namun ia tak melakukannya karena sadar itu mama kandungnya
"Cepet ih mau gak kak??" teriak Vera karena Arjuna mau berjalan menuju ke toilet
"Aish rempong pesanan kakak" gerutu Vera
"Sama garlic bread de" teriak Arjuna dari dalam toilet
"Huh dasar jomblo, labil mau pesan makanan aja" ucap Vera menggerutu
Setelah memesan delivery , Vera memandang lama ponselnya, air matanya menetes
"Mama...” ucap Vera
begitu mendengar suara pintu toilet terbuka,, Vera buru-buru menghapus air matanya, ia tak mau menambah pikiran Arjuna
"Bengong lagi, setelah pulang dari rumah sakit, Vera tinggal sama kakak aja. Kalau Vera mau"
"Apa gak menyusahkan kakak???"
"tentu saja gak, kakak seneng kalau ada teman di rumah"
"Asal kakak gak nyuruh aku masak aja" ucap Vera
"Memang kau harus membayar sewa tinggalnya"
__ADS_1
ucap Arjuna menggoda adiknya
"Kakak, kamu eksploitasi anak kecil" teriak Vera kesal
"Kau bersih-bersih saja kamarmu sendiri, masa iya kakak kejam sama adik kakak yang tomboy ini" ucap Arjuna mengacak-acak rambut Vera yang di potong pendek
"Kakak berantakan, nyebelin banget" teriak Vera membenarkan rambutnya
"Sekali-kali biarkan rambutmu panjang, walau kamu suka kepraktisan, kamu juga harus belajar menjadi wanita"
"Ih kakak bawel bener, lebih baik kakak tuh cari kekasih terus nikah, terus punya anak" ucap Vera lalu ia terdiam seolah berfikir sesuatu
"Jika saja saat itu aku....... ya Allah ampuni kami" ucap Vera lirih
"Anak kecil tau apa" ucap Arjuna gemas mengacak-acak rambut adiknya itu
terdengar teriakan Vera, mereka lupa jika kini sedang berada di rumah sakit
Tok Tok tok
Seorang perawat membuka pintu kamar rawat , terlihat wajahnya yang tak senang menatap kedua adik kakak itu
"Maaf mas, mba, sudah malam dan ini rumah sakit" ucap perawat
"Maaf sus" ucap Arjuna sementara Vera memilih menunduk menahan tawa
"Semua gara-gara kakak" ucap Vera sambil mencubit lengan kakaknya
"Aduh KDRT , adukan kak Seto nih” ucap Arjuna meringis kesakitan
"Lebay ih kakak"
Drttttt Drttttt Drtttt
Ponsel Vera bergetar, sebuah panggilan masuk dari nomer asing
Vera langsung mengangkat ponselnya dan berbicara dengan seseorang di ujung telepon, tak lama kemudian ia menutup panggilannya
"Kak, kurirnya di lobby" ucap Vera
"Terima????"
"Astaga ya kakak yang ke bawah, masa aku yang harus ambil pesanannya, nanti di kira penjaga aku mau kabur lagi" gerutu Vera kesal.
Arjuna hanya terkekeh karena berhasil mengerjai adiknya
"Iy bawel" ucap Arjuna bangkit lalu berjalan keluar, Vera tersenyum lebar, ia sangat beruntung di sayang oleh kakaknya itu, walau mereka beda ibu, namun Arjuna tak pernah mempermasalahkannya
__ADS_1
"Maafkan aku kak, aku belum bisa mengatakan semuanya, aku bingung diantara dua orang yang aku sayangi, aku tak mau kalian saling membenci " ucap Vera lirih