(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Rencana Membungkam Jimmy


__ADS_3

Sania sudah menunggu mondar mandir di depan kamar Sebastian sejak satu jam lalu, ia terlalu antusias ingin bertemu dengan Jimmy Chou.


Sania sangat bersyukur memiliki papa kandung seperti Baskoro, namun ia tak bisa begitu


saja menyingkirkan rasa sayangnya pada Jimmy Chou, karena selama lebih dari dua puluh tahun ia dan Jimmy hidup sebagai anak dan ayah, kedekatan dan keterikatan diantara keduanya sudah dalam karena sudah terjalin dalam.


Rasa sayang Sania pada Baksoro berbeda dengan rasa sayangnya pada Jimmy Chou, keduanya memiliki tempat dan porsi yang sama dalam hatinya.


Vera yang melihat Sania sejak tadi mondar mandir akhirnya gerah juga dan mendekati saudarinya itu


"Loe ngapain kaya gosokan mondar mandir aja,pusing gue liatnya, mending sini loe duduk dan tunggu Tian bangun.


Denger gak tuh kebo masih mendengkur" ucap Vera yang memang bicaranya asal nyablak


"Hehee iya juga ya" ucap Sania nyengir kuda


Sania yang tak tahu jika Vera bukan anak Baksoro sedikit bertanya dalam hati, mengapa saudari nya itu berbeda sekali dengan Sarah, padahal mereka kembar.


Orang akan mengira jika Sarah dan dirinya kembar karena kemiripan wajah dan rambut, namun hidung Sania lebih mancung dengan bibir sedikit penuh dan sexy, sementara Sarah memiliki bibir imut dan tipis.


"Ver, kamu mau gak ikut perawatan sama Sarah besok???"


"Kesalin??? enggak, enggak deh.


Gue paling gak suka rambut gue di cemek-cemek" ucap Vera


"apa tuh cemek-cemek???" tanya Sania bingung


"Ah kodok, jangan pake bagasi planet kalo loe ngomong ma Sania, mana dia know, loe doang sama bangsa loe yang ngerti" ucap Sarah yang entah sejak kapan datang dan ikut nimbrung obrolan mereka


"Lah loe ngerti, berati loe berasal dari planet Yangs Ama kaya gue" ucap Vera tertawa merasa Sarah terjebak omonagannya sendiri. Sementara Sarah menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"By the way loe mau kemana sih???


Mau nge date ma Tian ya???" tanya Vera menaik turunkan alisnya


"Bocah sableng, kita kan saudara, ngedat ngedate ga jelas loe" ucap Sarah membuat Vera menepuk dahinya sendiri


"Ya Allah maaf hamba khilaf" ucap Vera seraya mengangkat kedua tangannya


Sania hanya tertawa melihat kelakuan abnormal saudari-saudarinya, rupanya begini memiliki keluarga dan banyak saudara. Sania terus bersyukur dalam hati. Ia berdoa semoga saja mereka akan tetap seperti ini, walau mereka dari orangtua yang berbeda.


"Nia, loe kudu jaga jarak, Vera agak-agak, gue ngeri loe ketularan sikap anehnya" ucap Sarah sambil menyilang kan jarinya di keningnya


"Loe pikir gue virus apa? sekate-kate"


"Kate juga pendek" seloroh Sarah sambil tertawa


"Ayam kali" ucap Sania membuat ketiganya tertawa terbahak-bahak


"Ya Allah ada tiga Kunti berisik banget sih di depan kamar gue? gak ada tempat gitu buat ghibah??" tegur Tian yang terbangun karena kegaduhan yang di buat ketiga saudarinya


"Enak aja , mana ada Kunti secantik kita bertiga ya kan SAR???


"Kita? gue sama Sania, kalau loe....


Gue bingung cantik apa ganteng" ucap Sarah tertawa terkekeh


"Sial loe, onderdil gue masih original tahu.


Dan kulit gue masih perawan gak kaya loe dah terkontaminasi zat kimia" cibir Vera


"Tapi... apa yang Sarah omongin ada benarnya sih.

__ADS_1


ver, loe laki paa cewe???" tanya Tian ikut menggoda Vera


"Tian bau, gue beri loe" ucap Vera langsung menerjang Tian, Sebastian langsung berlari ke arah kamarnya, ia tak mau jadi samsak Vera, karena Vera jago taekondo.


"Keluar loe chicken" teriak Vera berapi-api


"Mending kita menyingkir Sania, bar bar nya vera keluar" ucap Sarah memepringati saudarinya


"Loe bikin nama baik gue rusak SAR.


Jangan dengar dia Nia, gue itu baik, penyabar dan lemah lembut aslinya" ucap Vera meloto pada Sarah


"Oh begitu, jadi dulunya gak kaya gini???" tanya Sania polos membuat tawa Sarah pecah, begitu juga Tuan yang membuat pintunya ,mengintip dari pintu yang di buka dikit


"Dulunya lebih parah, ahahhaha" teriak Tian lalu kembali menutup pintu kamarnya


"Sebastian loe bosan hidup" teriak Vera kencang, lupa jika papanya sedang duduk di ruang keluarga


"Verawati, turun!!!!!!" teriak Baskoro membuat Vera langsung ciut


"Ah loe kan, gue jadi kena panggil papa" ucap Vera cemberut.


Ia pasti akan di nasihati dari a sampai z mengenai perilaku sebagai perempuan.


Vera sudah apal apa yang akan papanya katakan, bahkan ingat di luar kepala.


Ah nasib....


"Semangat sis" ucap Sania di balas anggukan Sarah


"Doakan agar kupingku gak bengkak kena omelan papa" ucap Vera dengan wajah sedih.


"Tenang kami akan mengobati kupingku jika bengkak nanti" ucap Sania lagi, gadis ini terlalu polos.


Dengan langkah gontai Vera menuruni anak tangga mendekati papanya.


"Kenapa Vera sepertinya pasrah gitu??" tanya Sania penasaran apa yang akan apa mereka lakukan apa Vera


"liat aja nanti setelah setengah jam kemudian" ucap Sarah tersenyum penuh arti.


Sarah dan Sania melihat dari kejauhan Baskoro yang sedang berbicara dengan Vera yang menundukkan kepala.


Setelah setengah jam kemudian Baksoro memanggil Sarah dan Sania mendekat


"Kita mau apa di panggil papa?? apa papa mau menceramahi kita juga???" tanya Sania penasaran


"Enggak, tapi bakal ada keseruan sebentar lagi, ikuti aja" ucap Sarah tersenyum penuh arti


Tahu-tahu Sebastian sudah keluar dari kamarnya dan sudah mandi, tercium aroma sabun mandi


Ia merangkul kedua saudaranya yang hendak turun dari lantai satu


"Udah dimulai???" tanya Sebastian pada Sarah


"Iya, ayo kita ke papa" ajak Sarah tertawa


"Mulai??? mulai apa?" tanya Sania bingung


"Kau akan lihat, pokoknya seru" ucap Sebastian mengedipkan sebelah matanya pada Sania, Sania ingin bertanya lagi, namun mereka sudah di depan Baskoro


"Sarah, kamu dan Sania tahu tugas kalian kan?? seperti biasa. Dan Tian kamu papa kasih tugas mengawasi, pastikan hukuman Vera di jalankan selama sebulan" ucap Baksoro tegas


Vera terkejut dan menatap papanya dengan wajah memprotes

__ADS_1


"Pa... ini gak adil"


"Dua bulan" ucap Baskoro


"Papaaaaa...." Vera sangat kesal kali ini


"Tiga bulan, apa masih kurang?????" Vera merasa sangat dongkol.


Bagaimana bisa papanya begitu kejam, apa dia sudah tidak menyayanginya lagi???.


Vera yang marah langsung bangkit dan berjalan ke kamarnya


"Pa, apa gak bisa kurang hukuman Vera?" tanya Sania merasa kasian


"Ah Sania gak tahu apa- apa pa, kami akan lakukan." ucap Sarah langsung menyeret saudarinya ke kamar nya


"Sarah, aku lagi bantu Vera biar ga berat hukumannya"


"Kamu malah nambahin hukuman buat dia, papa gak suka di bantah. itu konsekuensi dari melanggar aturan.


Lagian kamu tahu gak hukuman apa yang papa kasih ke Vera??? itu hukuman asik buat kita tahu" ucap Sarah tersenyum lebar


"Mana ada hukuman asik? aneh aja kamu tuh"


"Kok aneh??? kita itu cuma di suruh buat Vera jadi cewek. Dari wajahnya sampai pakaiannya harus seperti wanita, bahkan cara Vera bicara.


Bukannya itu positif ya??? Aku sebagai saudarinya sedikit khawatir melihat Vera seperti anak laki, dia tak pernah dekat dengan pria"


Sania hanya menutup mulutnya tanpa bersuara.


Rupanya Baksoro tak sekejam yang ia pikirkan.


Baskoro memberikan hukuman mendidik pada anak-anaknya, ya walau menurut Vera menyiksa, tapi itu semua demi kebaikannya sendiri.


"bagaimana???"


"Ayo kita buat sadari kita itu cantik" ucap Sania mengedipkan sebelah matanya pada Sarah


"Setuju" ucap Sarah, mereka lalu tos tanda sejalan.


Menjelang sore hari, Sania dan Sebastian pergi mengunjungi Jimmy Chou di rumah sakit, namun begitu sampai rumah sakit, tepatnya mendekati kamar rawat Jimmy, mereka melihat kosong, dengan panik Tian menanyai suster yang sedang berjaga.


Rupanya Jimmy Chou di pindahkan ke ruangan khusus VVIP atas permintaan pemilik rumah alit yang tak lain adalah Davina.


Sebastian bingung apa yang terjadi, mengapa Jimmy harus di pindahkan ke ruangan itu, padahal ruangan ini tidak ada masalah dalam pelayanan.


Di perjalanan menuju ruangan perawatan yang baru, Jimmy heran melihat beberapa dokter yang terlihat keluar dari sana, dan suster yang berjalan cepat


"Sus, suster ada apa??? kenapa sepertinya ada sesuatu yang terjadi???" tanya Tian


"Ada penyerangan , ah maaf saya harus buru-buru" ucpa suster tersebut.


"Papa Tian" ucap Sania panik, mereka lalu bergegas menuju ruangan yang di maksud dan terlihat Davina sedang berbincang dengan seorang dokter


"Om, maaf aku belum sempat mengabarkan.


Papamu mendapat serangan lagi, kali ini lambungnya kena tusuk dan kami harus mengangkat satu ginjalnya.


Operasi nya sudah selesai, namun beliau kekurangan banyak darah, kami..."


"Pakai darahku, tolong selamatkan papaku" ucap Sebastian cepat


"Aku juga tolong periksa" ucap Sania yang tak tahu bahwa golongan darahnya dan Jimmy berbeda.

__ADS_1


__ADS_2