(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Bunuh Diri


__ADS_3

Mereka sua.makan tanpa suara, bik Atun juga sudah mempersiapkan tempat makan yang berisi bubur ayam untuk Vera yang akan ia titipkan pada Baskoro


Deswita hanya diam, selera makanya menguap karena perkataan suaminya, sebenarnya ia ingin sekali menyemprot kedua anaknya, namun posisinya kini tidak baik, suaminya masih sangat marah padanya, Deswita sebaik mungkin menghindari pertengkaran dan bersikap lunak di depan suaminya


Setelah selesai makna Sarah ada Bastian pergi meninggalkan meja makan, mereka akan bersiap karena akan ikut mengunjungi Vera di rumah sakit


Deswita menerka-nerka apa yang ada di dalam pikiran semuanya, karena Baskoro belum juga menegurnya prihal Vera, ia berharap suaminya itu sudah melupakannya bahkan memaafkannya, bagaimanapun ia adalah ibu dari anak-anaknya serta wanita yang sudah merawat putra sulungnya dengan sepenuh hati.


Selama ini ia selalu memakai kelemahan Baskoro, yaitu utang merawat dan mendidik Arjuna,


Deswita tahu kelemahan suaminya adalah putra sulungnya, oleh karena itu bertahun-tahun Deswita berusaha mengambil hati Arjuna agar posisinya sebagai nyonya rumah aman.


"Bik, tolong siapkan juga bubur Untuk Arjuna, ia pasti lapar dan kelelahan mengunggu Vera semalaman


juga siapkan teh hangat untuknya"


"Siap tuan, sudah saya siapkan semua, saya juga bawakan kue yang tadi saya buat untuk cemilan di sana" ucap bi Atun


"Terima kasih banyak bik Atun" ucpa Baskoro sambil tersenyum


Walau Baskoro kaya raya, namun tak pernah sedikitpun ia angkuh dan semena-mena, ia selalu mengucapkan "Tolong" setiap meminta bantuan pembantu ataupun karyawannya dan tak lupa mengucapkan terima kasih setiap kali ia menerima sesuatu, ia sosok yang dermawan, bijaksana dan baik hati.


Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan nyonya Deswita yang arogan, ketus dan suka menghina bahkan tak segan-segan mencaci siapapun yang berbuat salah.


Kelaikannya membuat para pembantu senior yang sudah bekerja di keluarga Baskoro mau tak mau membandingkan dirinya dengan nyonya rumah terdahulu, Nyonya Ratih, yang sifatnya lemah lembut, sopan dan baik hati.


"Saya mau bicara" ucap Baskoro langsung bangkit menuju ruang kerja


Deswita menatap suaminya, hatinya merasa gelisah.


Suaminya tak lagi memanggil dirinya mama atau memanggil nama kecilnya, ia seakan enggan menyebut nama dirinya


"Ya Tuhan, apa yg akan mas Bas katakan ya??? kenapa perasaanku gak enak gini??? ini semua gara-gara anak sialan itu, jika tahu begini lebih baik aku singkirkan anak itu bersama wanita rendahan itu" gumam Deswita dalam hati


Ia sampai hati mempunyai pikiran untuk menyingkirkan putrinya sendiri, darah dagingnya, yang ia kandung selama sembilan bulan, seolah nyawa anaknya itu tak bernilai buatnya, sungguh miris


Deswita dengan berat mengikuti Baskoro masuk ke dalam ruang kerja, perasaanya makin tak enak ketika melihat air muka suaminya, sepertinya badai akan segera datang


"Pa, apa yang mau papa katakan???" tanya Deswita lirih


"Mari, kita akhiri" ucap Baskoro dengan suara bergetar

__ADS_1


semalam ia tak tidur mempertimbangkan semuanya, hingga keputusannya ia tak mau egois membiarkan Deswita disisinya tanpa cinta.


Mungkin perilaku Deswita adalah refleksi dari pikirannya yang kalut dan tertekan karena berumah tangga dengannya, mungkin juga Deswita depresi, itu semua pemikiran yang Baskoro simpulkan.


Namun tanpa Baskoro tahu, sedikit banyak memang ia mempengaruhi sikap Deswita namun pada dasarnya Deswita memang orang yang sulit di duga, terlalu banyak rahasia yang Deswita simpan di belakang suaminya


"Aa..apa maksud papa???"tanya Deswita shock, ia tahu maksud suaminya, namun pikirannya menolak tahu


"Selama ini aku tak pernah bisa memberikan hatiku padamu, maafkan aku sudah mengecewakanmu dan bersikap tak adil padamu, maafkan ku belum bisa jadi suami terbaik untukmu, jadi, mari kita berpisah"


"Enggak pa, jangan, mama gak mau pisah sama papa, mama cinta sama papa" ucap Deswita menangis lalu berusaha memeluk Baskoro,


Baskoro hanya diam, tak menolak maupun tak membalas pelukan Deswita


"Saya gak pernah bisa mencintaimu, lebih baik kita berpisah, kamu masih bisa menemukan pria yang bisa mencintaimu"


"Gak mas, aku mohon maafkan aku mas.


Aku akan menjadi istri dan mama yg baik untuk anak-anak, beri aku kesempatan mas" Isak Deswita


"Wita, aku selama ini diam, karena aku sadar aku bukan suami yang baik, aku membiarkanmu melakukan apapun yang kamu mau, menuruti semua permintaanmu yang terkadang sulit di mengerti, aku tak banyak bicara hanya menuruti.


Namun sikapmu sungguh keterlaluan Wita, aku sungguh amat kecewa padamu.


Aku tak mengerti dimana jalan pikiranmu, Mereka bukan anak kecil lagi dimana kamu harus menjatuhkan tangan, semakin kamu keras pada anakmu, semakin ia menjauh darimu.


Tidakkah kau berfikir bagaimana kelak kamu tua, mereka tidak kan perduli padamu, mereka membenci mu karena kamu memperlakukan mereka buruk"


"Mas, Vera sudah keterlaluan, mas saja yang tak pernah perduli pada anak-anak, aku lelah mas lelah" ucap Deswita menangis


"Jika lelah maka ayo kita pisah.


aku akan tetap membiayai hidupmu walau kita berpisah"


"Bu...bukan begitu mas, aku gak akan pernah bercerai darimu, kamu jangan pernah bermimpi itu mas" ucap Deswita langsung keluar dari ruang kerja sambil membanting pintu.


Baskoro hanya menghela nafas, keputusannya sudah bulat, setuju atau tidak, ia akan menceriakan Deswita demi kebaikan semua


Tok tok tok


"Pa, kita jadi jenguk kak Vera hari ini???" tanya Sarah hati-hati

__ADS_1


"Jadi sayang, beritahu Tian bersiap, mama sebentar lagi akan menyusul kalian.


Oh ya ajak bik Atun, sepertinya ia mengkhawatirkan kakakmu, biar pekerjaan rumah di urus yang lain"


"Baik pa" ucap Sarah lirih, namun ia masih berdiri di tempatnya membuat Baskoro bingung


"Ada apa lagi nak???"


"Itu pa, mama mengamuk di kamarnya, Sarah takut terjadi sesuatu pada mama" ucap Sarah dengan suara bergetar


"Papa akan memeriksa mamamu, kalian bersiap saja" ucpa Baskoro tersenyum lembut.


Sarah mengangguk dan meninggalkan ruang kerjanya terlihat Baskoro menghela nafas pelan


Baskoro menaiki tangga menuju kamar utama, dimana biasanya Baskoro dan istrinya tidur


"Aku benci kamu mas, benci


kamu mau membuang ku setelah semua pengorbananku??? aku ga terimaaaa


Aaaaaaaaaaaa aku benci" teriak Deswita melempar apapun yang ada di dekatnya hingga menghasilkan bunyi nyaring serta pecahan benda terdengar keras


Baskoro membuka pintu kamarnya, terlihat sangat berantakan seperti terkena badai, dan badai itu adalah Deswita


Deswita terlihat menangis di sudut tempat tidur, ia sudah tidak berteriak ataupun memaki, hanya menangis lirih


"Apa kau sudah puas melampiaskan kekesalan mu pada semua benda tak bersalah ini???" tanya Baskoro tajam


"Kamu pria tak punya hati, aku benci perasaan ini,


pengorbananku selama ini tak bernilai" ucapnya tersenyum masam


"Jika saja kau bisa bersikap selayaknya seorang ibu dan tidak menyakiti Vera, aku tak akan se marah ini" ucap Baskoro


"Haha"ucap Deswita tertawa lirih dan ia terdiam


"Kenapa kau tertawa, apa perkataan ku ada yang lucu??" tanya Baskoro namun Deswita hanya diam, tubuhnya yang bersandar pada tepi rajang miring


Baskoro berjalan menuju pintu keluar, namun langkahnya terhenti, terdiam sejenak


Ia kenal perangai Deswita, wanita itu tak akan melepaskan Baskoro begitu saja, bahkan jika ia terpojok ia akan berdebat sampai posisi nya aman, namun kini ia terdiam, apa dia sudah lelah???

__ADS_1


Baskoro dengan ragu menghampiri Deswita


"Astaghfirullah Wita???? teriak Baskoro yang melihat genangan darah di dekat tubuh istrinya, ia melihat Deswita menyayat pergelangan tangannya dengan pecahan kaca meja rias


__ADS_2