
Jovanka terlihat bingung, ia menatap satu persatu dari William yang wajahnya terlihat kesal, lalu Emil yang menunduk malu juga anak-anaknya yang tak mau Emil peluk, sebenarnya apa yang terjadi???
"Mama, Tante Emil bikin kita malu" bisik Davina pelan
"Will, kamu jalan cepet banget, aku sampai khawatir kau menculik anakku" ucap Jovanka melotot tak senang
"Maaf kak, aku jalan bersama dua kurcaci, bagaimana bisa cepat??? kakak saja yang terlalu banyak mengobrol dengan dia" ucap William enggan menyebutkan namanya
"Ah baiklah, maafkan kakak.
Kita harus makan siang dulu sebelum menuruti maunya anak-anak"
"Ah mama, atu mau ice cream" rengek Davina dengan wajah memohon
"Makan siang dulu, atau tida ada ice cream sama sekali" ucap Jovanka tegas membuat ketiga anaknya menunduk pasrah
"Ayo anak-anak, kita makan siang dulu" ajak William.
Namun Daffa dan Daffi masih berdiri di tempatnya tanpa Nita melangkah
"Habis makan siang, kita ke taman bermain, di sana ada mobil balap dan motor balap, juga ada perahu balap, habis itu baru makan ice cream, bagaimana????"
"Mau, mau" ucap ketiganya antusias.
Daffa dan Daffi langsung berlari kearah William, saat William hendak menggandeng tangan si kembar, keduanya tak mau
"Kami bukan anak kecil lagi om" protes keduanya
" Jelas-jelas kalian masih ingusan, tadi saja berbinar di bilang mau main ke arena bermain, sekarang berlagak dewasa. ckckck" gumam William dalam hati
Jovanka lalu menghampiri Emilia yang masih terdiam dengan wajah menunduk
"Loe kenapa??? kata Davina loe bikin malu???? apa maksudnya?" bisik Jovanka sambil menggandeng sahabatnya yang terasa dingin
"Tadi, tadi pas kita mencari si kembar, aku sangat khawatir. aku jadi kepikiran jika pak William menculik mereka, lalu tiba-tiba pria itu muncul dan gue beneran kaget eh keceplosan teriak"
"Emang loe teriak apa???" tanya Jovanka berhenti karena sangat penasaran
"Astaghfirullah, Jo penculiknya disini" ucap Emilia di akhir kalimatnya.
Jovanka melongo, lalu tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, ia lupa jika kini mereka sedang di mall, Emilia dengan gas membekap mulut sahabatnya itu
"Emmmmphhh"
"Loe mau bikin gue tambah malu Jo???? bisik Emilia karena mereka berdua menjadi pusat perhatian
__ADS_1
"Sial loe M, tangan loe bau asem" teriak Jovanka mengelap mulutnya dengan tisu basah yang selalu ia bawa di tasnya
"Salah sendiri loe ketawa kaya cewe stress, jangan sampai mereka semua menuduh kita stress berjamaah" cibir Emil kesal
"Sorry, loe ya, panikan, pantes William keliatan kesel banget" Jovanka masih terkekeh, namun ia segera berhenti tertawa begitu melihat muka cemberut Emil
"Maaf, ayo kita masuk, semua sudah menunggu" ucap Jovanka menarik Emilia yang terlihat canggung terlebih di bawah sorot mata William yang terlihat tak senang
"Will, tolong matamu kondisikan.
Emil tidak sepenuhnya salah, aku yang menduga jika kau menculiknya, dia itu gampang panik dan begitu melihatmu, dia keceplosan karena ingat ucapannya.
Jadi jika kmu mu marah, marahlah padaku" ucap Jovanka membantu Emilia mendapatkan wajahnya kembali.. Emilia sedikit terkejut karena Jovanka berbohong demi dirinya, namun ia tak berani menyela, ia cukup terbantu akan ucapan jovanka
Jovanka menarik Emil duduk di sampingnya, sementara si kecil tidak memperdulikan mereka, ketiganya sudah asik memakan makanan pembuka mereka
"Lupakan, maafkan aku " ucap William lirih tak berniat meminta maaf
"Kau harus tulus mengatakannya Will, aku akan mengira kau orang yang suka menyimpan dendam" ucap Jovanka menatap adik iparnya, sementara ketiga bocah kecil itu berhenti makan dan melihat ke arah om mereka
William tersudut di bawah tatapan semua orang
"Emilia, maafkan aku yang sudah mengatai mu tadi" ucap William tulus
"Aku juga minta maaf pak, aku beneran keceplosan, kadang mulutku ini tak biasa diatur"
"Aku juga mau main mobil balap" timpal Daffi
"Atu, atu mau main tikus-tikus an ( permainan memukul dengan palu tikus yang muncul di papan permainan)"
"Baik sayang, kalian habiskan makan kalian ya" ucap Jovanka yang di balas anggukan kepala ketiga anaknya
Setelah makan sing selesai, Emillia memilih balik ke kantor, ia tak tahu jika Jovanka izin pulang lebih awal karena si kembar minta main ke arena bermain.
Sebenarnya Emillia masih penasaran hubungan antara William dan sahabatnya itu, namun mendengar William memanggilnya kakak, Emillia berfikir tak mungkin jika dua orang yang sedang jatuh cinta memanggil wanitanya kakak, apa Jovanka memiliki hubungan keluarga dengan William, bukankah Jovanka pernah bilang jika ia sebatang kara???
"Ah kepala gue pusing, sebenarnya apa hubungan mereka sih???" gerutu Emillia kesal.
Satu bulan kemudian
William maupun Willy makin sering menghabiskan waktu di kediaman Ratna, mereka melakukanya dengan rapih takut jikalau keberadaan Ratna terancam.
Ratna sebenarnya sudah meminta kedua putranya itu untuk pindah dan tinggal di rumah itu karena masih ada beberapa kamar yang kosong, namun William dan Willy memberi pengertian Ratna, jika mamanya itu harus sedikit bersabar demi keselamatan semua orang.
Ratna hanya bisa pasrah menuruti kemauan putranya, ia tak mau lagi berpisah dengan keduanya.
__ADS_1
Samuel dan keluarga kecilnya juga sudah pindah di kediaman Ratna, menempati rumah disebelah yang dulu di jadikan sanggar lukis oleh Samuel.
setelah di renovasi di beberapa bagian,kini rumah itu terlihat cantik dan nyaman untuk di tempati.
Si kembar juga sangat senang memiliki teman main baru, terutama Daffa dan Daffi yang antusias dengan kedua anak kembar Samuel.
Sudah sejak seminggu lalu Jovanka uring-uringan karena Arjuna meminta dirinya ikut ke sebuah pulau meninjau langsung proyek resort yang mereka tengah garap, Arjuna bersikeras agar Jovanka ikut.
Jovanka sudah berunding dengan papa mertua dan adik iparnya, mereka akan menempatkan orang kepercayaan mereka di sisi jovanka untuk menjamin keamanan Jovanka, Willy juga akan dinkirim oleh Baskoro untuk melindungi nya.
Di samping itu ada pengawal bayangan yang memantau dari jauh, jika mendesak mereka baru menampakan diri, mereka adalah orang yang ahli dalam pengamanan.
Sementara urusan si kembar di serahkan pada Bu Ratna dan Anabel yang mengambil cuti, Jovanka awalnya menolak karena tidak enak hati, Anabel sudah punya dua anak kembar, jika di tambah tiga anaknya, ia akan mengurus lima anak yang tingkahnya banyak, itu sangat merepotkan walaupun di bantu oleh Bu Ratna dan seorang baby sitter sekalipun
Ditambah juga ia merasa tak enak Anabel sampai mengambil cuti demi menjaga anak-anaknya,
Namun saat Emillia mengatakan akan menginap disana DNA membantu menjaga si kembar, Jovanka baru bisa bernafas lega.
Pagi itu Jovanka sudah bersiap ke bandara, Karena hari ini jadwal keberangkatan mereka menuju pulau tersebut
Sejak semalam si kembar memilih tidur dengan mama mereka berdesak berempat dalam satu ranjang.
Dan pagi ini ketiganya menempel seperti benalu pada mama mereka, bahkan maka pun mereka minta di suapi seperti anak kecil pada umunya yang biasanya mereka mandiri bahkan si kembar Daffa Daffi malah bisa di bilang bukan anak kecil pada umunya, mereka dewasa sebelum saatnya.
"Maa, atu bakal kangen mama" rengek Davina dalam pelukan Jovanka
"Nanti setiba disana mama telepon Davina ya"
"Ma jaga diri baik-baik, hati-hati banyak pria hidung belang di luar sana" Daffa memasang wajah sedih
"Mama tidak akan tergoda karena mama sudah punya pria kecil yang tampan seperti kalian, mama mencintai kalian" ucap Jovanka menciumi pipi gembil anak-anaknya
"Ma berhenti mencium ku, aku bukan anak kecil lagi" protes Daffa langsung mengelap pipinya karena melihat bayangan Sasa dan Sisi keluar dari rumah dengan mama dan papanya
"Emil, aku titip anak-anakku ya, jika mereka genit dan nakal, pukul pantat mereka dengan gayung mandi" ucap Jovanka serius
"Tenang, akan ku ingat" goda Emillia yang langsung mendapat sorotan tajam ketiga buah hati Jovanka
"Ibu Jo berangkat dulu ya"
"Iya nak, hati-hati di jalan, jangan lupa.mengabati ibu jika sudah sampai" Jovanka mengangguk sambil mendekap Bu Ratna erat
"Mba ana , Jo titip anak- anak ya mba, maaf merepotkan mba"
" Kita keluarga, jangan sungkan"
__ADS_1
terakhir Jovanka berpamitan pada Samuel dan Emillia lalu ia segera menaiki taksi yang sudah si pesannya menuju bandara