(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Willy II


__ADS_3

"Cepat, gue gak punya banyak waktu, jangan biarkan beliau menunggu loe" ucap William mulai kesal.


Tak lama seorang pelayan cafe menghampiri, William meminta kunci mobil Willy dan mengatakan sesuatu yang di balas anggukan hormat pelayan tersebut, lalu William melajukan kendaraanya meninggalkan cafe tersebut.


"Siapa sebenarnya yang ingin bertemu sama gue kak??? apa jangan-jangan loe mau memberitahukan bahwa loe sudah punya anak istri??? ah enggak mungkin, atau mungkin mau memperkenalkan calon kakak ipar??? rasanya tampang loe gak meyakinkan untuk di lirik wanita, atau gue curiga...."


Pletaaak


Sebuah jitakan keras mendarat sempurna di kepala Willy,


"Aduh, kak gak lucu, kepala gue aset gue.


enggak lucu kan kalau gue jadi geger otak terus gila


Kakak mau punya Ade gila???" gerutu Willy mengelus kepalanya yang terasa berdenyut.


sudah lama sekali ia tak menerima jitakan William, sehingga ia tak menduga William akan menjitak


nya


"Kau sudah gila, jadi kalau gila parah itu gak aneh.


lagian kebanyakan nonton sinetron loe kaya mak-mak aja, jadi halu sendiri.


Orang yang akan kita temui bukan seperti yang ada di otak dangkal loe.


memang ada anak-anak dan mamanya tapi mereka bukan anak dan istri gue.


mending loe diem duduk manis daripada bikin kepala gue pusing denger ocehan loe"


"Ah kalau bujang tua gini nih, sensi bawaannya" gerutu Willy lirih


"Apa loe bilang????"


"Apa sih kak, gue gak bilang apa-apa, udah fokus noh sama jalanan, karena loe nyuruh gue diem mending gue makan harta Karun tadi" ucap Willy membuka box berisi aneka croissant yang di pesannya


"Gila loe pesan banyak banyak banget, buat siapa?"


"Ya gue lah, dah ih ganggu aja" ucap Willy langsung sibuk makan, William menggelengkan kepalanya pelan.


ia teringat ketika mereka kecil, Willy bercita-cita jika ia punya uang banyak, ia akan membeli makanan yang enak-enak, dan terkadang William kecil karena sayangnya, ia rela tak jajan untuk membelikan Willy kue kesukaannya, croissant dengan lapis coklat diatasnya bertabur almond.


Namun Willy tahu kakaknya harus menahan keinginan jajan demi membelikannya makanan tersebut, sehingga ia memberikan sepotong nya untuk William, mereka makan bersama sambil tertawa.


"Kak nih" sodor Willy membuat William terdiam sejenak, adiknya selalu ingat dirinya setiap ia makan, namun sifat bawel dan jahilnya tetap hingga kini.


"Sabar ya de, kakak akan membawa kamu menemui mama, seseorang yang belum pernah kau kenal sejak kecil.


sesosok yang kau minta yang tak pernah bisa kakak beri, kini beliau kembali untuk kita" gumam William mengelus kepala Willy dan mengambil croissant yang di sodorkan adiknya


"Kak berhenti mengelus kepalaku, aku sudah besar.


kau merusak rambutku yang rapih.


Bagaimana jika pacarku melihat kelakuanku, aku malu" protes Willy cemberut


"Bagi kakak kamu tetap adik kecil kakak, kalau malu ya tutup tuh muka" ucap William terkekeh

__ADS_1


"Memalukan" gerutu Willy tanpa bisa berkata apa-apa lagi


Tak terasa mobil mereka sudah memasuki sebuah perumahan , hingga berhenti di sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luas dan asri.


William turun dan membuka gerbang rumah. kembali masuk dan langsung memarkirkan kendaraanya di halaman rumah tersebut


"Kak, loe ngajak kita kesini bukan but ngelamar anak orang kan??? bisa kualat loe kak gak kasih tahu papa"


"Loe mau turun apa enggak??? banyak tanya nanti juga loe liat sendiri" ucap William kesal meninggalkan adiknya turun


dengan ragu Willy turun dan mengekor kakaknya


"Tunggu kak"


"Barangnya turunin, masa gue yang harus bawa tuh barang????"


"Cih, mentang-mentang lebih tua, selalu menganiaya yang lebih kecil" ucap willy sebal


"Siapa yang suka menganiaya kamu nak??? tanya seorang wanita paruh baya


"Itu kak William, nyiksa adek nya terus" saut Willy, namun ia langsung melotot terkejut


"Astaghfirullah, ibu ngagetin saya aja" ucap Willy memegangi dadanya, karena ia tak melihat kedatangan wanita itu, ia sibuk mengomel sambil mengambil barang-barang yang tadi ia beli di cafe


"Nek, om nya lucu" ucap Davina


sementara Ratna hanya menatap intens dengan air mata yang menetes di pipinya


"Loh Bu, ibu jangan nangis dong, saya gak bentak ibu juga, maaf ya Bu"


"Mama, mama , om itu buat nenek nangis" Adu Davina sambil berlari kecil masuk ke dalam rumah


"Willy...!!!!! teriak William yang keluar dengan seorang wanita cantik, sangat cantik malah


"Waaa. ternyata kak William sedang dekat dengan janda cantik, aku duga itu tadi anak wanita itu" gumam Willy lirih, ia melupakan keberadaan Ratna yang masih menatapnya intens


"Mama, apa mama baik-baik saja???" tanya William lembut sambil memapah Ratna yang terdiam mematung


"Wah, wah apa-apaan ini, belum nikah sama tuh janda kak William sudah. manggil mama si perempuan itu dengan panggilan mama, sepertinya kak William serius dengan wanita itu?" gumam Willy dalam hati


"Willy, cepat ikut" teriak William membuat lamunan Willy Buyar. ia mengikuti kakaknya masuk ke dalam rumah


"Will,, apa itu adikmu???" tanya Ratna tak berkedip menatap Willy


walau William maupun Willy memiliki wajah berbeda, namun keduanya memiliki alis serta kulit putih bersih dan ketampanan yang di wariskan dari suami Ratna


"Iya Bu, itu Willy" jawab William


"Willy, cium tangan mama"perintah William, Willy yang bingung hanya menuruti kakaknya, ia mencium tangan Bu Ratna


namun Bu Ratna menangis dan memeluk Willy erat


"Anakku, anak kecilku, maafkan mama" ucap Ratna menangis pilu


"Tunggu, tunggu, siapa anda??? mama saya gak ada, dia gak pernah menginginkan kami ada di dunia ini, dia membuang kami" ucap Willy melepas pelukan Ratna


"Enggak sayang, mama tidak membuang mu, mama terpaksa demi masa depan kalian"

__ADS_1


"Masa depan seperti apa yang anda maksud??? masa depan tanpa orangtua??? masa depan yang di hina dan di ejek karena kami di buang di panti??? itu yang anda maksud.


masa depan karena kami berdua tak punya mama saat semua orang datang dengan mama kandung mereka, kami....


Jangan pernah mengaku anda mama saya, bagi kami mama hanya satu, mama Ratih. kamu siapa??? Berani mengaku.


walau wajah kalian hampir mirip, mama Ratih lebih cantik dan berhati Mulia"


Plaaaakkkk


sebuah tamparan mendarat di pipi Willy, membuat Willy melotot tak percaya, ada kebencian dan kecewa yang terlihat di sorot matanya


"Jadi, jadi ini yang kakak mau kenalkan sama aku?? aku gak butuh dia kak, apa karena kakak sangat ingin punya mama sampai mau menerima dia??? dia sudah menelantarkan kita kak, dia gak layak kakak panggil mama" teriak Willy emosi


"Cepat minta maaf pada mama, kamu anak durhaka" teriak William ingin menampar adiknya, namun Ratna menghalanginya


"Will, dia adikmu nak"


"Dengar kak, aku kecewa kakak lebih memilih dia, apa kakak lupa bagaimana kita merindukan kasih sayang orangtua??? bagaimana setiap malam kita berdoa agar suatu saat Tuhan mengirimkan mereka untuk menemui kita, sekali saja ya sekali tapi doa kita tak pernah terwujud.


Kini, kini dia datang saat kita sudah bisa berdiri sendiri di kaki kita, mengaku mama kita, aku gak butuh kak"


"Willy cukup kakak bilang, kamu salah menilai mama.


Mama juga sama sakitnya seperti kita Karena harus melepaskan kita karena keadaan"


"Tak ada seorang ibu yang tega meninggalkan anak balitanya di sebuah tempat yang namanya panti, tapi dia tega"ucap Willy lirih lalu keluar dari rumah


Jovanka hanya diam menatap kepergian adik William tanpa bisa mengatakan apapun.


"William tolong tenangkan ibu, aku akan coba bicara pada adikmu", ucap Jovanka menyusul Willy keluar rumah


Mobil mereka masih terparkir rapih, namun halaman rumah tak ada seorangpun.


Jovanka langsung mengendari motornya keluar rumah, akan lebih praktis mengejar Willy dengan kendaraan


Terlihat William berjalan keluar perumahan.


Jovanka mengklason nya namun Willy tetap tak menghiraukannya


"Willy, beri aku sepuluh menit menjelaskan, setelah itu kami bisa pergi.


please, sepuluh menit cukup untuk menjelaskan semuanya"


"Siapa kamu???, sepertinya kita pernah bertemu???" tanya Willy menatap lekat wajah Jovanka


"Aku Jovanka, karyawan di perusahaan mu"


"Jovanka??? ah Jovanka???? kau??? bagaimana mungkin?"


"Mungkin saja, aku tak memakai kacamata tebal yang biasa ku pakai dan tanpa riasan make up yang ku buat untuk menutupi wajah asliku, apa kamu penasaran????" tanya Jovanka memancing Willy.


"Baiklah hanya sepuluh menit dan satu lagi, aku ingin penjelasan bagaimana kau bisa mengelabuhi kami" ucap Willy lalu naik ke motor Jovanka.


Jovanka sengaja tidak membawa Willy kerumah, ia membelokkan motornya ke taman


"Ini bukan arah kerumah mu,"

__ADS_1


"Memang bukan, kita ke taman saja, biar bisa leluasa berbicara" ucap Jovanka


__ADS_2