
Sebastian menatap langit malam dari beranda kamarnya, pikirannya melayang jauh.
Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul dua dini hati, namun sejak beberapa waktu lalu ia tidak bisa memejamkan mata dan mengistirahatkan pikiranku.
Pikirannya mengembara entah kemana.
Setelah lelah berguling ke kanan dan ke kiri namun tidak bisa tidur, akhirnya Sebastian memilih keluar dari kamarnya dan berdiri di balkon.
Suasana sudah sepi, semua orang sudah terbuai dalam mimpi, namun tidak dengan Sebastian.
Jangankan mengantuk,.matanya saja seakan terang benderang tak menunjukkan tanda-tanda mengantuk.
Siang tadi merupakan sidang pertama papa kandungnya, namun Sebastian memilih untuk tidak hadir. Sebastian malah memilih untuk mengunjungi Deswita bersama Sania adiknya satu ibu lain bapak.
Sebastian memang tak ingin menghadiri sidang itu karena ia tak mau bertemu pria itu, ia sangat membenci Jimmy Chou.
Namun hatinya menjadi gelisah setelah mendengar perkataan Sania dan juga penuturan Davina mengenai proses sidang Jimmy Chou siang tadi.
Sidang itu berjalan sangat lancar. Semua orang terkejut dengan pernyataan Jimmy Chou.
Pasalnya saat pemeriksaan berlangsung, Jimmy Chou terus menyangkal keterlibatannya, bahkan ia tak mengakui kesalahannya sama sekali, sehingga banyak orang yang menduga jika sidang siang tadi berjalan ulet, tapi nyatanya pria itu justru mengakui semuanya.
Di luar prediksi setiap orang.
Bahkan Jimmy chou bersikap kooperatif dalam sidang tersebut.
Akibatnya sebuah fakta mencengangkan terungkap.
Hal tersebut sangat mengejutkan semua orang, tak terkecuali Davina.
Davina merasa ini semua seperti menarik benang kusut, namun saat benang itu berhasil di ambil maka akan terjadi kekacauan dalam negeri.
Karena apa yang terjadi saling terkait satu dengan yang lainnya.
Beberapa nama yang tidak pernah terduga meluncur menjadi tersangka dalam dugaan pencucian uang dan produksi narkotika.
Davina sungguh tak menyangka.
Fokusnya selama ini adalah hanya tentang Jimmy, ia tak pernah menggali lebih dalam tentang hal ini, karena keluarga mereka hanya memiliki urusan dengan Jimmy Chou.
namun di luar dugaan Jimmy hanya bidak catur seorang penguasa lain yang memiliki otoritas lebih luas, siapa yang menyangka???
Siang itu ruang sidang menjadi gempar saat Jimmy Chou menyebutkan beberapa nama yang di kalangan liat di kenal sebagai pejabat tinggi di pemerintahan, ada juga diplomat dan seorang menteri.
Akhirnya hakin memutuskan menunda putusan hukuman Jimmy Chou sambil menunggu bukti dan menggali informasi lebih jauh.
Hakim ketua sadar jika permasalahan ini menjadi sangat rumit, ia tak mau gegabah.
Davina segera menelpon Sebastian, walau ia tak menyukai Jimmy dan membenci pria paruh baya itu, ia tak bisa begitu saja tak memperdulikannya karena walau bagaimanapun Jimmy Chou adalah papa kandung dari Sebastian.
Davina menyusupkan orang masuk ke dalam penjara, ia harus melindungi pria itu, walau Davina membenci itu, tapi ia yakin nyawa Jimmy Chou kini dalam bahaya.
__ADS_1
Tak ada yang tidak mungkin terjadi, bahkan di lingkungan dengan penjagaan terketat pun musibah bisa datang dengan mudah.
Selama uang yang berkuasa, bahkan jabatan dan tanggung jawab urusan nomor dua.
Sebastian mengucapkan terima kasih pada Davina, ia tahu keponakanya itu memandang dirinya sehingga ia mau melindungi Jimmy Chou di tahanan, namun Sebastian jadi merasa tak enak hati.
Pasti tindakan Davina tidak di runding kan dengan pihak keluarga, keluarga besar mereka sangat membenci Jimmy Chou sampai ke tulang sumsum.
Mengenai kenyataan Sebastian putra Jimmy Chou hanya Davina yang tahu, selain itu di keluarga besar Baskoro tak ada satupun yang tahu.
Sebastian kembali menghela nafas, ia memijit pelipisnya yang berdenyut, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Sebastian membencinya, tapi kenyataan ia papa kandungnya sebagai anak ada rasa bersalah jika ia hanya diam saja saat nyawa Jimmy terancam.
jika memang papanya harus di adili, maka ia harus di adili secara adil, walau toh mungkin saja hukuman yang adil itu salah hukuman mati, tapi itu konsekuensi dari semua dosa-dosanya.
Memang papanya jahat, tapi di dalam darahnya mengalir darah Jimmy Chou, kenyataan itu tidak bisa ia pungkiri.
Perkataan Sania terus terngiang-ngiang di telinga Sebastian.
Apa yang Sania katakan memang benar.
Sania tumbuh jadi gadis yang baik, ceria dan cerdas.
itu tak lepas dari peran Jimmy sebagai papanya, walau bukan papa kandungnya.
Sania terlihat sangat mengagumi seorang Jimmy yang di luaran terkenal jahat, licik, kejam, namun pada keluarganya ia seorang papa yang bertanggung jawab dan mengayomi.
Sania sangat menghormati dan mengagumi Jimmy Chou, terlihat dari ucapan Sania yang penuh kekaguman dan berbinar-binar saat membicarakan Jimmy Chou.
"Sania??? kamu belum tidur???" tanya Tian sama terkejutnya
"Ih kamu ya udah tidur lah, Nia kebangun dan gak bisa tidur lagi, pas buka pintu balkon kaget ada Tian"
"Sana balik tidur lagi" ucap Tian pada saudarinya
"Enggak bisa tidur" ucap Sania dengan wajah sedih
"Nanti wajah kamu ada kantung matanya dan jadi jelek loh, siapa cowok yang mau sama cewe yang punya mata panda" goda Tian membuat Sania cekikikan
"Enak aja, ada kak Shandy weeeekkk, emangnya kamu tuh yang jomblo ngenes.
Aku mu buat coklat hangat mau ga???" tawar Sania pada saudara satu ibunya itu
"Uhmm, oke lah, ayo aku temenin ke dapur" ucap Sebastian bangkit.
keduanya keluar kamar dan menuju ke dapur, Sania membuat dua gelas coklat panas untuk dirinya dan juga Tian.
Keduanya malah Sik berbincang-bincang di selingi tawa renyah keduanya.
Untuk sementara pikiran kusut Sebastian hilang.
Ia sangat menyukai saudarinya itu.
__ADS_1
Sania gadis yang sangat enak diajak bicara, ia berwawasan luas dan humoris, walau sedikit pendiam.
Namun jika sudah mengenal lebih jauh, Sania sangat banyak bicara
"Kaliaaannn, lagi ngapain malam-malam begini???" tanya Vera membuat keduanya terkejut dan menoleh
"Hai ver, sini " ajak Sebastian pada saudarinya, tepatnya sepupunya, karena Vera pada kenyataanya adalah anak tantenya, hanya saja Vera tak tahu itu semua.
Pihak keluarga memilih menutupi identitas asli Vera demi mental Vera yang memang sudah tertekan sejak lama
"Tian, apa kau siang tadi menjenguk mama???" tanya Vera hati-hati
"Iya kenapa?" tanya Tian
"Apa mama baik-baik saja??? maksudku, apa beliau sehat di sana??" tanya Vera dengan suara bergetar.
Ada kesedihan mendalam dalam suatu Vera
"Mama Deswita baik-baik saja, lain kali kita jenguk bareng ya" ucap Sania tersenyum lebar
"Ah tidak, aku.."
"Kamu pasti khawatir kan??? lebih baik kamu bisa melihat sendiri keadaan mama.
Mungkin dua hari lagi kami akan ke sana. Kamu ikut ya?" tanya Sania pengertian
"Kamu takut mama tidak mau bertemu denganmu??" tanya Tian yang mengerti kekhawatiran Vera.
Tian tahu bahwa Vera sangat menyayangi mamanya, hanya saja Deswita membenci Vera, tapi itu dulu.
Saat pertama Sebastian mengunjungi mamanya, Sebastian sudah menyampaikan pada mamanya untuk belajar menerima Vera karena Vera sangat menyayangi Deswita. Namun di luar dugaan Tian, Deswita menangis tersedu-sedu karena mengingat ia menjadi mama yang buruk untuk Vera, padahal anak itu hanya ingin Deswita menyayanginya. Ia jadi membayangkan jika saja putrinya Sania di perlakukan begitu, betapa hancurnya ia.
Deswita menyesali semuanya dan sangat merasa bersalah pada Vera, ia ingin meminta maaf pada Vera secara langsung. Sebenarnya ia menyayangi anak itu, namun tak kala mengingat Karen, ia menjadi marah dan emosinya tak stabil, di tambah tekanan dalam pernikahannya, ia mengalami depresi dan malangnya Vera menjadi objek pelampiasannya.
"Mama.ingin menemuinya, ia merindukanmu juga" ucap Tian tersenyum.
Vera melongo tak percaya mendengar perkataan adik bungsunya, air matanya menetes
"Itu gak mungkin" ucap Vera lirih
"Itu benar, kita saudari dan anak-anak mama, tentu mama merindukan kita. mama ingin menemuinya dan meminta maaf" ucap Sania yang tahu duduk permasalahannya.
Tiba-tiba Vera menangis, membuat Sania dan Sebastian bingung
"Ver, Vera kamu kenapa???" Tya Sania khawatir
namun Sebastian menggeleng menandakan Sania untuk diam. Sebagian memahami luapan emosi Vera. Gadis tomboy itu sangat bahagia. Tak pernah sekalipun Sebastian melihat Vera menangis dan ini untuk yang pertama kalinya ia melihat Vera menangis. Bahkan.ver tak menangis saat dulu mamanya memukulinya atau menghardiknya, Tian merasa kasian pada saudarinya itu
"Ma, anak yang kau sia-siakan begitu menyayangimu.
lihat lah ma, orang bilang darah lebih kental dari air, tapi tidak selama nya begitu.
__ADS_1
contohnya kami, kami menyayangi orangtua yang tidak ada pertalian darah dengan kami, karena kami percaya, hubung keluarga itu tidak selamanya harus berkaitan dengan darah. karena kasih sayang yang lahir dari hati itu lebih kuat!!!" gumam Sebastian dalam hati