(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Ini gak mungkin.....


Mustahil" pekik Davina membuat Agatha penasaran dan mendekatinya dengan alis bertaut


"Ada apa bos??? apa ada yang gak beres???" tanya Agatha penasaran


"Agatha, Agatha...." Davina tak bisa berkata apa-apa, ia terkejut, sangat terkejut


"Aku Disni bos," ucap Agatha memeluk bos nya.


Agatha meraih kertas di tangan Davina dan membacanya, alisnya lebih berkerut lagi.


Pantas saja Davina terlihat shock, pasalnya sejak awal Davina menduga jika Sania adalah tantenya, namun dalam test DNA ini Sania tak memiliki keterkaitan dengan Jimmy maupun Ratih, lalu siapa sebenarnya Sania???


"Aku akan menyelidiki secepatnya" ucap Agatha yang mengerti jalan pikiran Davina tanpa ia berkata.


Agatha memang bisa di andalkan malau sikapnya kadang tak masuk akal dan nyeleneh, namun ia orang yang memiliki dedikasi dan loyal tinggi.


Setelah tenang Agatha meminta Willy datang menemani Davina, mungkin Sania akan datang karena Sania perduli dengan keadaan Sandy dan yang lebih penting adalah Sandy membawa sesuatu yang tidak boleh j ketahui oleh siapapun, terutama Aditya, papanya.


Sementara di tempat lain


Sania terlihat gelisah, ia terus memandang jam di pergelangan tangannya sambil sesekali menyuapi mamanya yang masih terlihat lemah.


Ratih baru merasa baikan tadi pagi setelah dua hari penuh tertidur, tepatnya di beri obat tidur


hanya terjaga sebentar lalu tertidur lagi.


Besok kakak angkatnya akan datang, pria sukses dan tampan yang awalnya merupakan dokter yang hebat, namun ia beralih profesi menjadi pengusaha.


Satu tahun belakangan, ia sibuk menjadi pengusaha muda atas permintaan papanya yang merupakan teman Aditya.


Sania pagi ini di beritahu bahwa anak teman papanya itu yang akan merawat Sania, sehingga Sania akan di bawa pulang hari ini juga.


Aditya sudah mengurus berkas kepulangan Ratih, setelah selesai semua, mereka membawa Ratih pulang.


Sudah menjelang malam Sandy belum juga kembali, namun papanya sore itu kembali dengan wajah muram dan menatap Sania sinis, entah apa yang terjadi pria paruh baya itu masuk ke dalam ruang kerja dan membanting barang-barang di sana.


Sania ketakutan dan gemetar, ia menduga papanya tahu apa yang ia lakukan, melakukan DNA pada orangtua sendiri??? siapa yang tidak akan marah???


Beruntung kamar mamanya di pasang kedap udara beberapa waktu lalu, entah apa maksud dan tujuan papanya, namun Sania bersyukur mamanya tak harus mendengar kemarahan papa nya di ruang kerja.


Sania benar-benar ketakutan, ia seperti tak mengenali papanya, pria yang biasa bertutur kata lembut dan perhatian. Apa pria itu masih papa yang sama???


Mungkin ini kah sifat asli pria tersebut???, namun bagaimanapun ia papanya, Sania harus menghormatinya dan Sania merasa sangat bersalah sudah mencurigai papanya.


Sania memegang pintu hendak membuka handle pintu saat ia mendengar Aditya sedang menelpon seseorang


"Sialan, rumah itu sudah penuh polisi, dan sandy hilang.


Apa kalian masih becus bekerja???? yang lebih membuatku marah tes DNA itu juga raib.


Sania mulai curiga aku bukan papanya, jika ia tahu kebenarannya itu akan berdampak buruk untuk Ratih" ucap Aditya lalu melempar sesuatu.


"Cari bukti, di sekitar pengadilan.

__ADS_1


Saat ini aku tak mau Ratih bertemu keluarganya, jika itu terjadi tamat riwayat" ucap Aditya


"Sial, sial" Aditya mengumpat penuh kemarahan


Sementara di balik pintu Sania mengigit bibirnya, ia baru saja mendengar sesuatu yang tak seharusnya ia dengar.


Semua yang Davina katakan adalah benar.


Sania mendengar sendiri dari mulut pria itu.


Sania menghapus air matanya, ia langsung bergegas ke kamar mamanya, memeluk Ratih erat sambil menangis.


Ia takut, kecewa dan hancur.


Kebahagiaan yang ia rasakan ternyata hanya di permukaan karena semua palsu.


Siapa orangtua kandungnya??


apa Ratih juga bukan mamanya?? tapi wajah mereka terlihat ada kemiripan.


Namun Sania tersentak dan teringat sesuatu.


Saat ia mengalami kecelakaan akibat di tabrak, mamanya tak mendonorkan darah, bukan tak mau, tapi tak bisa karena golongan darah mereka berbeda, apa artinya semua itu????


"Kenapa kau menggangu mamamu yang sedang istirahat?" tanya Aditya dengan suara dingin


Sania merasa tubuhnya menggigil ketakutan, namun ia berusaha kuat.


"Aku hanya khawatir dengan mama pa.


"Mama mu akan baik-baik saja.


kembali ke kamarku.


Besok kau kuliah lah seperti biasa, Jonson yang akan mengantarmu. Sandy mulia hari ini berhenti bekerja, ia membawa kabur uang papa" ucap Aditya santai lalu berjalan menuju kamar mandi.


Sania melongo, jelas-jelas papanya mengurung Sandy di sebuah rumah, dan rumah itu di amankan polisi.


Sania berharap Sandy akan baik-baik saja.


Sania merasa bersalah karena melibatkan pemuda tampan itu.


"Baik pa, Sania pamit ke kamar" ucap Sania lalu keluar dari kamar mamanya


"Anak setan, menyesal aku membesarkan mu.


Kau bahkan bukan putrinya.


Kalau ku tahu saat bayi sudah ku bunuh.


Namun aku mentolerir itu semua karena kekasih hatiku" ucap Aditya menatap Ratih yang terlihat tenang dalam tidurnya.


Keesokan harinya Sania berangkat kuliah seperti biasa, ia tak tenang memikirkan Sandy yang pergi tanpa pesan.


Tepatnya pasti terjadi sesuatu pada Sandy.

__ADS_1


ponsel Sandy juga sejak menghilang tak bisa di hubungi, Sania frustasi.


Ia harus mencari cara untuk bisa mencari keberadaan Sandy, walau resikonya adalah nyawanya sendiri.


Sania meminta bantuan sahabatnya Jihan melalui pesan singkat,karena tak mungkin ia berbicara sementara para pengawal papanya menempel padanya. ia harus mengelabuhi orang-orang papanya.


Jihan memiliki rencana, ia mengajak Sania kerumahnya dan di sana Sania akan keluar atas aturan Jihan.


Karena status sosial Jihan yang kuat, ia juga memiliki pengawal, sehingga pengawal Aditya tak bisa mendekat.


Mereka hanya Adi perbolehkan menunggu di luar rumah.


Jihan langsung mendandani Sania, ia di make over menjadi wanita paruh baya dengan gigi hitam, entah dari mana Jihan memiliki keahlian itu.


Mungkin karena ia sangat suka film anime Jepang sehingga ia sering cosplay. Tampilan Sania berubah seratus delapan puluh derajat namun ia harus menghindari tatapan penjaganya agar tidak ketahuan.


Jihan meminta supir sekaligus bodyguard kepercayaannya mengantar Sania, mereka melewati pengawal Aditya tanpa kesusahan.


Tujuan pertama Sani adlah rumah sakit ia melakukan test DNA.


Namun suster mengkonfirmasi bhw hasil tes sudah di ambil oleh pria bernama Sandy yang tak lain dalam pengawal pribadinya.


Tepat saat ia tiba di dalam mobil, ponselnya berbunyi, panggilan telepon dari Sandy.


Tanpa berfikir panjang Sania mengangkatnya


"Sania, bersikaplah seperti bisa. aku Davina, apa kau di awasi???" tanya Davina di ujung telepon


"Bagaimana ponsel Sandy ada denganmu, apa yang kau lakukan pada pengawal ku???" bentak Sania dengan mata berkaca-kaca


"Sandy berada di rumah sakit, kondisinya memprihatinkan. Papamu ah maksudku pria biadap itu menyiksanya hingga ia mengalami beberapa luka serius.


Jika terlambat sedikit saja Sandy mungkin tidak akan pernah bisa berjalan lagi seumur hidupnya" ucap Davina menghela nafas


"Gak mungkin...." Sania merasakan dadanya sakit, ia tak percaya papanya tega melakukan itu


"Datanglah ke rumah sakit ku,


Sandy terus menanyai mu"


"Baik, baik" ucap Sania , setelah Davina memberitahu nomor kamar di mana Sandy di rawat, Sania langsung menuju rumah sakit.


tak butuh waktu lama ia sudah sampai di rumah sakit yang di maksud Davina. Sania berjalan menuju ruangan di mana Sandy di rawat, terlihat pintu depan kamar di jaga oleh dua pengawal yang kedua nya wanita.


Sania belum pernah melihat pengawal wanita yang begitu keren seperti mereka, namun terlihat sigap.


"Permisi, saya Sania" Sania lirih


ucap


"Silahkan masuk nona, bos menunggu di dalam" ucap salah seorang membukakan pintu dengan sopan.


Begitu pintu di buka, sampai Sania melihat di dalam ruangan ada Davina dan seorang wanita cantik lainnya Dan Sandy yang sedang berbaring dengan kaki dan tangan di perban, bahkan terlihat bahunya juga di perban


wajah Sandy pun biru lebam.

__ADS_1


"Sandy lihat wanitaku sudah datang, kami permisi dulu" ucap Davina mengedipkan mata ke Agatha, mereka berdua meninggalkan ruangan tersebut.


__ADS_2