
Jimmy merasa sangat sedih, ia sangat ingin bertemu dengan Sebastian, putra yang tak pernah ia tahu.
Jimmy berharap dapat bertemu lagi walau hanya memandang putranya dari jarak jauh.
Jimmy merasa malu karena tak pernah ada untuk Sebastian, ia tak melihat bagaimana sebastian tumbuh besar, Jimmy tak ada dalam proses tumbuh kembang putranya.
Jimmy bahkan tak pernah mengeluarkan sepeser uang pun untuk Sebastian. Apa Jimmy masih pantas di panggil papa???
Satu-satunya yang ada dalam diri Sebastian adalah darah yang mengalir pada Sebastian adalah darah dagingnya.
Jimmy merasa sangat hancur tak berdaya, menyesal, penyesalan yang teramat dalam yang bahkan jika ia tebus dengan nyawanya tak akan pernah cukup.
Jimmy masih ingat apa pesan putranya terakhir kali ia berkunjung.
Sebastian ingin ia menyadari semua kesalahannya dan bertaubat.
"Apa aku harus mengakui semuanya sekarang???
Apa setelah mengakui kesalahanku, putraku mau mengakui ku???
Ya Tuhan, apa bedanya aku dengan keledai???
Aku bertaubat bukan karena keinginanku, tapi berharap putraku akan melihat dan memaafkan ku, bagaimana jika ia tak memaafkan ku????
Usiaku tak lama lagi.
Aku harus bertaubat dan mengakui semua kesalahanku sebelum ajal ku tiba, bukan karena Sebastian.
Aku ingin bertaubat, Ku serahkan semua pada Allah, setidaknya aku sudah berusaha memperbaiki diri.
Sisanya. ku serahkan pada Allah" gumam Jimmy Chou dalam hati.
Proses pengadilan berjalan dengan lancar, tak seperti perkiraan semua orang.
karena sejak awal interogasi, Jimmy Chou sulit sekali bekerja sama, ia licin seperti belut.
Entah ada angin apa yang membuat Jimmy berubah.
Semua orang jadi penasaran, mereka hanya bisa menyimpulkan bahwa Jimmy mungkin sudah putus asa dan tak memiliki jalan lagi, ia putus asa.
Hanya Davina yang tersenyum sinis, ia tahu jika Sebastian sudah menemui pria itu.
Mungkin kini Jimmy menyadari kesalahannya, semoga saja. Namun tetap saja proses hukum tetap berjalan. karena kesalahan Jimmy terlalu besar dan sulit untuk di maafkan. terlebih Jimmy berkecimpung di narkotika, merusak generasi muda .
Sidang hari ini di tutup dengan perasaan puas dari seluruh peserta sidang, terutama keluarga Baskoro, namun putusan sidang baru akan di di bacakan beberapa Minggu lagi.
Sementara di tempat lain.
Sebastian mengajak Sania untuk menemui mama mereka di lapas tahanan khusus wanita.
Sania sudah merenungkan masak-masak, kenyataan bahwa ia putri Deswita tak bisa di ubah dan di pungkiri.
Bagaimanapun ia ingin menolak, darah Deswita mengalir dalam tubuhnya.
Sania membawa sweater rajut buatannya untuk Deswita, mamanya.
Ia memang gemar merajut, keahliannya di peroleh dari Ratih yang memang sangat kreatif dalam membuat kerajinan.
Sania tak tahu apa yang harus ia berikan pada Deswita, ia hanya berfikir mungkin sweater buatan tangannya lebih bermanfaat untuk mama nya.
Sebelum ia pergi, Sania meminta izin terlebih dahulu pada Ratih, untuk mengormati wanita yang sudah merawatnya sejak kecil.
Sania terlihat gugup, Sebastian yang melihat adiknya nervous memegang tangan Sania dan tersenyum
"Santai saja, mama orang yang baik" ucap Sebastian tersenyum membuat Sania sedikit lega.
"Aku takut mama gak suka sama hadiahku " ucap Sania mengigit jari tangannya
Sania membawa sweater dan juga cookies buatannya
__ADS_1
Sania sengaja membuta cookies untuk Deswita agar mamanya terhibur dan semangat menjalani hukumannya.
"Mama pasti suka, apapun itu.
Bahkan jika kau tidak membawa apapun mama akan sangat bahagia melihat kedatangan anak-anaknya" ucap Sebastian lembut.
Sania sangat bersyukur memiliki saudara seperti Tian, walau Tian usianya lebih muda darinya, ja terlihat seperti kakak yang sangat pengertian dan baik hati.
Ia memang berkhayal memiliki saudara laki-laki dan semuanya kini menjadi kenyataan.
Sania sangat bahagia
"Tian kau membuatku lega" ucap Sania manja.
Sebastian tersenyum, ia sangat bahagia setelah tahu memiliki Saudari kandung beda papa, Sebastian menyayangi Sania yang terlihat seperti adik baginya, terutama Sania sangat manja padanya.
Seorang wanita paruh baya tersenyum lebar menatap kedua anak muda di depan sana.
"Assalamu'alaikum ma" sapa Sebastian langsung mencium punggung tangan Deswita
"Wa'alaikum salam nak"
"Assalamu'alaikum ..ma" ucap Sania lirih ia mengikuti Sebastian mencium punggung tangan Deswita. Mata tua Deswita berbinar senang
Deswita reflek mengelus puncak kepala putrinya dan menangis sesenggukan.
Putri yang selama ini hilang kini telah kembali lagi.
Deswita tahu jika kedua putrinya itu bukan putri kandungnya.
Ia hanya tahu putrinya meninggal, samar-sama ia bisa mendengar itu.
mengenai Vera dan Sarah, ia tahu Vera anak Karen, karena saat Vera kecil ia pernah di rawat, deswita tak bisa mendonorkan darah untuk Vera dan tanpa di duga Karen memiliki golongan darah yang sama.
gerak gerik Karen juga sangat mencurigakan sehingga alasan itulah Deswita membenci Vera.
Karen memanfaatkanya agar Vera memiliki identitas.
Deswita tak Sudi.
"Ma, jangan menangis ma" ucap Sania sedih. Ia memeluk Deswita dan berusaha menenangkan Deswita
"Maafkan mama nak, mama.gak tahu kamu masih hidup. Mama....."
"Ma, kita lupakan semua masa lalu.
Mama harus ikhlas karena semua sudah suratan takdir.
Sania gak pernah menyalahkan mama"
"Tetap saja mama merasa bersalah tak bisa mendampingiku tumbuh besar"
"Mama masih punya kesempatan kok.
Sania dan kak Tian akan menunggu mama"
"Sayang.... terima kasih" ucap Deswita menitikkan air mata haru dan bahagia.
"Ma ini untuk mama" ucap Sania menyerahkan paper bag yang ia bawa
"Itu sweater buatan Nia dan juga cookies buatan nya juga. Mama pasti bangga, Nia gadis yang luar biasa" ucap Sebastian memuji Sania
Sebastian bahkan memanggil nama kecil Sania menjadi Nia.
"Tian...." ucap Sania malu
"Ya Allah, mama bangga padamu nak.
Ratih wanita yang hebat, mama berhutang banyak padanya, semoga Allah memberi mama usia panjang agar bisa mengucapkan sendiri rasa terima kasih mama yang tak terhingga.
__ADS_1
Mama berhutang banyak pada Ratih"
"Nanti Sania sampaikan ma, mama Ratih juga titip salam pada mama"
"Mama merasa malu pada Ratih nak, mama banyak salah padanya" ucap Deswita lirih.
"Mama Ratih tidak pernah menyalahkan mama Deswita kok. Justru mama Ratih yang terus meminta Sania untuk menjenguk mama.
Di masa mendatang, Sania mau mama Ratih dan mama Deswita bisa bergandengan tangan. Sania punya dua mama. itu luar biasa" ucap Sania polos.
Tian memandang mamanya yang terlihat sangat bahagia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ma, cobain sweater nya, muat ga??" ucap Sebastian berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ia tak mau Deswita larut dalam kesedihan.
Deswita lalu memakai sweater buatan putrinya dan tersenyum senang, wajahnya terlihat berseri-seri.
"Mama cantik sekali" ucap keduanya berbarengan membuat semuanya tertawa.
Sania tak menyangka jika mamanya memang sangat cantik, walau memakai pakaian tahanan dan jilbab instan, tak mengurangi kecantikan Deswita.
Sebastian juga memberikan jilbab instan dan beberapa pakaian gamis yang ia beli. Sebastian terus mengikuti perkembangan Deswita di balik bui.
Ia juga membawa obat batuk, karena terakhir kali ia menelpon, Deswita batuk.
Tubuh deswita pun terlihat lebih kurus dengan wajah lebih tirus dari terakhir kali mereka bertemu.
Setelah jam kunjungan selesai, mereka berpisah dengan perasan terpaksa.
Sania pun bertekad ia akan mengunjungi Deswita lagi nanti
Setelah keluar dari lapas, mereka langsung menuju rumah, Sebastian terlihat lebih banyak berdiam setelah menerima telepon dari seseorang.
Ia juga hanya mengatakan beberapa patah kata.
Wajahnya yang awalnya ceria kini terlihat sendu dan terlihat tertekan.
"Tian, apa kau baik-baik saja???" tanya Sania khawatir.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja, hanya..."
"Apa karena papa kandung mu??" tanya sania dengan wajah polos, ia langsung menundukkan kepalanya, wajahnya juga terlihat sedih.
"Apa kau sedih karena pria itu???" tanya Sebastian membuat Sania menoleh dan mengangguk pelan.
"Aku menyayangi papa Jimmy, beliau yang membesarkan ku dengan penuh kasih sayang, terlepas ia di luar sana jahat, kejam, licik.
Namun di rumah ia papa yang baik dan penyayang"
ucap Sania lirih
Sebagian tersenyum kecut, ia tak pernah merasakan kasih sayang Jimmy Chou.
namun ia mendapatkan kasih sayang Baskoro, seperti pertukaran kasih sayang.
"Apa kau mau menemui pria itu???" tanya sebagian tiba-tiba membuat tubuh Sania menegang.
Ia sangat ingin menemui Jimmy, ia merindukan ria yang selama dua puluh tahun lebih menjadi papanya.
"Apa kau sudah menemui nya???" tanya Sania balik bertanya
"Sudah" ucap Sebastian singkat...
suasana kembali sunyi...
"Tian, ini sedikit nasihat dariku.
Seburuk apapun papa Jimmy, dia papa kandungmu.
__ADS_1
Nia hanya tahu papa Jimmy papa yang baik"