
Ratna menyambut kedatangan Jovanka dan anak-anaknya, itu kini menjadi rutinitasnya setiap hari
Namun Emil masih diam di tempatnya, wajahnya terkejut, seperti melihat setan, Jovanka yang melihatnya langsung menghampiri Emil
"Ya Tuhan, bukan kah itu Bu Ratih??? apa yang ia lakukan disini?? Bu...bukankah ia...????
"Emil, kau baik-baik saja??" tanya Jovanka namun Emil tak menggubris, matanya masih menatap Bu Ratna tak berkedip.
"Emil, apa kau sehat??? wajahmu pucat" ulang Jovanka, ia menggoyang-goyangkan lengan Emil, membuat Emil tersadar dari lamunannya
"Apa kamu baik-baik saja?? apa kamu sakit???, wajahmu pucat sekali" ucap Jovanka membrondong pertanyaan pada Emil
"A..ku baik, i..iiitu ssssiapa?" tanya Emil tergagap
Jovanka mengerutkan keningnya,, menatap sahabatnya itu
"Itu namanya Bu Ratna, ia yang menjaga anak-anak jika aku bekerja, dan beliau juga pemilik rumah ini" terang Jovanka
"Jjjadi namanya Bu Ratna???" ulang Emil meyakinkan pendengarannya
"Iya Bu Ratna, beliau tinggal seorang diri, itulah mengapa beliau menyewakan sebagian rumahnya.
Anaknya sudah berkeluarga semua dan hanya datang sesekali" ucap Jovanka, Emil terlihat menghembuskan nafasnya, ia mengangguk kecil
"Ayo aku perkenalkan dengan beliau" ucap Jovanka menggandeng tangan Emil yang terasa dingin
"Assalamu'alaikum Bu, perkenalkan ini teman kantor Jo, namanya Emilia" ucap Jovanka memperkenalkan mereka
"Ratna" ucap Bu Ratna mengulurkan tangannya
"Emilia, ibu bisa panggil Emil" ucap Emilia
"Owh baiklah nak Emil, ayo masuk, ibu yakin kalian sudah lapar. Ibu masak bandeng pesmol sama asinan timun SOP ayam serta perkedel" ucap Bu Ratna sambil berjalan menuju ruang makan.
"Ayo, gak usah sungkan. Anggap rumah sendiri" ucap Jovanka menarik Emil menuju ruang makan.
Di ruang makan nampak si kembar sudah duduk dengan tenang, mereka terlihat sangat manis dan patuh menunggu Bu Ratna mengambilkan mereka makan satu persatu
"Mama pelkedel, atu suka" ucap Devina
"Kamu mah pemakan segalanya, liat perutmu buncit seperti anak babi" ejek Daffa membuat wajah Davina merah
"Mama kak Daffa" adu nya pada Jovanka
"Daffa, jangan meledek adiknya.
Davina imut lucu seperti beruang imut" ucap Jovanka menggelitik tubuh mungil Davina
"Beruang juga buncit ternyata mama juga mengatai Davina"ucap Daffi membuat Davina menatap Jovanka dengan wajah sedih
"Hahaha, kakakmu becanda sayang, mana ada mama meledek mu. Bagi mama kamu putri kecil mama yang paling cantik" ucap Jovanka canggung.
Kedua putranya kenapa kini memiliki mulut yang pedas, darimana sifat itu berasal, gerutu Jovanka dalam hati
"Davin cantik seperti boneka Barbie" ucap Emil membantu Jovanka membujuk Davina
"Iya Tante??" tanya Davina bersemangat
__ADS_1
"Tentu saja, kamu gadis kecil tercantik yang pernah Tante temui" ucap Emil mencubit pipi Davina gemas
"Hiperbola" ucap Daffi menggeleng
"Setuju" timpal Daffa sambil menyuap nasi ke mulutnya
"Jangan dipikirkan , mereka memang suka ceplas-ceplos" ucap Jovanka canggung.
Dua putranya membuatnya Jovanka kesal.
Saat makan pandangan mata Emil terus mengarah pad Ratna tak berkedip
"Walau wajah mereka sama, namun ketika tersenyum terlihat perbedaanya, Ya Allah mengapa ada dua orang yang sama persis dengan mama" ucap Emil dalam hati
Setelah selesai makan, Jovanka pamit untuk menidurkan ketiga buah hatinya, sementara Emil membantu Ratna mencuci piring
"Bu Ratna, apa ibu punya kembaran?? maaf jika lancang, tapi wajah ibu...." ucap Emil memberanikan diri karena penasaran
"Kembaran??? sepertinya tidak, kenapa nak?" tanya Bu Ratna lembut
"Ah tidak, wajah ibu seperti wanita yang aku sayangi" ucap Emil tanpa sadar ia menitikkan air mata sedih, membuat Ratna langsung mendekatinya
"Apa dia mamamu??" tebak Ratna membuat Emil yang sedang menundukkan kepalanya menatap Ratna
"Darimana ibu tahu??" tanya Emil bingung
"Seorang anak akan menangis jika terkenang orangtuanya, itu hanya tebakan ibu" ucap Ratna tersenyum
"Iiya , dia mamaku, beliau meninggal karena kanker saat aku masih kecil" ucap Emil lirih
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, semoga Almarhumah di ampuni segala dosanya dan kuburnya di lapangan serta di terima amal ibadahnya semasa hidup"
"Sama-sama, yang tabah dan ikhlas ya.
Kamu bisa menganggap ibu mamamu jika kamu mau.
Kamu juga bisa datang ke sini sesuka yang kamu mau" ucap Ratna tersenyum lebar
"Beneran Bu???" tanya Emil bahagia. Ratna mengangguk sambil tersenyum.
Emil memeluk Ratna erat, kerinduannya pada mamanya membuncah, seakan ia bertemu mamanya kembali. Emil enggan melepaskannya
"Aduh ada acara apa pake peluk-pelukan segala???" tanya Jovanka yang menghampiri mereka
"Ngiri aja weee" cibir Emilia membuat Ratna terkekeh,
"Apa anak-anak sudah tidur siang??" tanya Ratna
"Sudah Bu" ucap Jovanka
"Ibu mau di peluk juga"ucap Jovanka manja
"Eh, sana-sana, udah mak-mak masih aja manja, kalau ku kan masih unyu-unyu ya Bu???"
"Sini ibu peluk juga" ucap Ratna tertawa, ia sangat bahagia memiliki putri angkat sampai dua.
Setidaknya masa tuanya tidak lagi sendiri, sedih memikirkan kapan anaknya datang.
__ADS_1
Setelah sholat mereka kembali ke kantor dengan perasaan gembira, terlebih Emil yang sejak tadi terlihat tersenyum memamerkan giginya yang putih.
"Apa segitu bahagianya kamu main ke rumahku???"
tanya Jovanka penasaran
"Tentu saja, aku sangat bahagia" ucap Emil menyungging senyum
"Kalau begitu akan memasang tarif setiap kau kerumah ku"
"Astaga kamu sungguh matre" teriak Emil cemberut
"Hahaha, becanda, aku senang melihatmu bahagia"
"Terima kasih, itu, Bu Ratna mirip sekali dengan almarhum mamaku" ucap Emil sedih
"Yang sabar ya, doakan mama mu karena doa anak Sholeh yang sampai. jika kamu rindu mamamu, kamu bisa kerumah kapan saja" ucap Jovanka
"Terima kasih Jo" ucap Emil lirih
"Hei kenapa menangis, kau bisa membuat orang salah paham, aku tak mau di kira membully mu"
"Jo, boleh aku memelukmu??" tanya Emil
"Hapus dulu ingus mu atau kau akan mengotori bajuku" ucap Jovanka melotot
"Kau sungguh sahabat yang jahat" ucap Emil malas sengaja menempelkan wajahnya ke blazer yang Jovanka pakai
"Emilia, mengapa kamu jorok sekali" teriak Jovanka berlari, emil mengikutinya dari belakang, mereka seperti anak kecil saja, untuk sudah jam pulang kantor, kalau tidak bisa dipastikan keduanya mendapat hukuman Bu Yeni si diktator wanita yang sok full power.
"Emil menyingkir dariku, kau menjijikan. Bagaimana kau akan punya pacar jika kau sangat menyebalkan” ucap Jovanka berteriak dari dalam bilik kamar mandi, sementara Emil cekikikan di luar pintu toilet
"Aku memang menyebalkan, tapi aku ngangenin" ucap Emil
"Menyebalkan" teriak Jovanka dari dalam toilet.
Setelah drama yang menyebalkan, Jovanka pulang dengan tersungut , ia kesal pada sahabatnya yang jorok itu.
Namun ketika sampai pintu keluar kantornya, seorang pria tampan sudah menantinya sambil bersandar di pintu mobil, gayanya yang santai membuatnya makin terlihat cool.
"Lihat, pangeran mu sudah menunggumu" ucap Emil memonyongkan mulutnya menunjuk ke arah Adrian yang sedang berdiri menunggu Jovanka
"Ah, kenapa dia kesini??" gumam Jovanka terdengar oleh Emil hingga ia mengerutkan alisnya
"Bukan senang malah menggerutu, apa perlu aku yang minta diantar pulang, huh wanita aneh" cibir emil langsung menarik Jovanka mendekati Adrian
"Hai dokter Adrian" sapa Emil
"Hallo , sepertinya. ini hari keberuntunganku, dua bidadari berdiri didepan ku" goda Adrian membuat keduanya merona merah
"Ah aku hanya bidadari pendamping, aku duluan ya, Jo, dokter Adrian, have fun" ucap Emil mengedipkan sebelah matanya, lalu ia berjalan meninggalkan mereka menuju taksi online yang di pesannya
"Sial si Emil, awas ja besok" gerutu Jovanka kesal
"Ayo princess ku" ucap Adrian masih dengan gaya lebay nya. Adrian membukakan pintu penumpang , setelah itu berlari menuju kursi kemudi.
Seorang pria menatap tajam kearah mereka, ia terlihat sangat tidak senang
__ADS_1
"Mengapa aku merasa tidak senang melihat wanita itu dengan pria lain???, menyebalkan" ucap pria itu langsung masuk mobilnya lalu tancap gas meninggalkan parkiran mobil