(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Pertemuan Dua Saudara Kembar


__ADS_3

Air mata Ratna jatuh di punggung tangan Ratih, membuat Ratih terbangun dan mengerjapkan mata beberapa kali.


Ratih merasa nyeri di dadanya, namun suara lembut seseorang yang menangis di sebelahnya membuatnya terjaga dari alam bawah sadarnya.


Suara familiar yang selalu datang dalam setiap mimpinya, suara yang membuatnya penasaran siapakah sosok wanita yang sering melambai padanya dan memanggil namanya untuk kembali? Siapakah wanita itu, setiap melihat wanita itu di dalam mimpinya, hati Ratih menghangat.


Siluet wanita itu mirip dengannya, sehingga Saya Ratih terjaga dari mimpinya ia hanya menghela nafas dan mengira itu semua bunga tidur.


Dan Kini saat ia terhanyut dalam buaya di antara sadar dan tidak, ia mendengar suara itu, dan merasa tangannya basah dan hangat, siapa yang menangis???


Mengapa mendengar wanita itu menangis hatinya terasa sakit.


Ratih memejamkan matanya erat lalu membuka matanya kembali, di depannya duduk sambil menunduk sosok wanita paruh baya yang mirip, bahkan sangat mirip dengannya.


yang membedakan adalah rambut wanita itu sudah banyak yang putih


"Siapa kamu?" ucap Ratih lirih membuat Ratna terkejut


"Kak, kau sudah siuman??? ya Allah Alhamdulillah akhirnya saudari ku sudah bangun" ucap Ratna antusias.


Ia tak mengindahkan pertanyaan Ratih, ia justru berlari keluar untuk memanggil suster.


Tak lama seorang dokter datang, ia langsung memeriksa kondisi Ratih


Setelah beberapa saat akhirnya dokter tersebut keluar dari ruangan dan mendekati Davina yang sudah kembali lagi


"Nona Kepala, nenek anda kini sudah melewati masa kritisnya, kondisinya sudah sangat stabil.


Tapi saya harus memperingatkan pada anda jangan membuat pasien terkejut atau terllau sedih, itu akan mempengaruhi kesehatannya" ucap Dokter Gibran menjelaskan


"Baik dokter, makasih ya"


"Sama-sama, kami permisi" ucap dokter Gibran melangkah pergi.


"Nenek Ratna silahkan masuk duluan. Aku tahu nenek sangat merindukan kakak nenek.


Tapi seperti perkataan dokter, jangan memberitahu sesuatu yang bisa mengejutkannya" ucap Davina lembut.


Ratna lalu mengangguk dan masuk, ia tersenyum lembut pada saudarinya, lalu duduk di sisi tempat tidur Ratih


"Kamu siapa?" tanya Ratih untuk kedua kalinya


"Aku saudari kembarnya, aku terlahir lima menit setelahnya, yang artinya aku adik mu"


"Kembar, adik??"


Ratna mengangguk pelan


"Jadi aku punya adik kembar dan..


Kau sellau datang di mimpiku, memanggilku pulang" ucap Ratih sudah berlinangan air mata, hatinya bahagia


"Aku akan selalu memanggilmu di manapun kau berada, karena kita kembar, jiwa kita satu.


Jangan bersedih, akhirnya kau kembali kak.

__ADS_1


Arjuna sangat merindukanmu, dia anakmu dengan Baskoro.


Serta kau punya anak perempuan cantik"


"Arjuna??


dia beneran putraku?" tanya Ratih lirih


"Tentu saja, lihat


pria tampan dengan hidung mancung itu putramu, Arjuna. Di sebelahnya adalah putrimu Sarah.


Dan dua pria dengan mata sipit itu dan sama tampannya dengan anakmu adalah anakku, Mahesa dan Mahendra, di sebelahnya lagi Samuel, putra dari dokter Anggara"


"Anggara... ah... Angg....." Ratih merasa kepalanya mulai sakit, seorang pria tampan dengan pakaian dokter berkelebat di dalam ingatannya.Ratih mengenal pria itu.


Pria itu cinta pertama Ratih.


"Lalu ketiga anak kembar itu adalah cucumu, dua laki-laki dan satu perempuan.


Lihat apakah kau bisa ingat wajah kedua anak laki-laki itu seperti Arjuna kita saat kecil" ucap Ratna menunjuk Daffa dan Daffi. Tanpa sadar Ratih mengangguk


"Mereka sangat tampan seperti papa mereka"gumam Ratih membuah Ratna tersenyum.


Ia yakin perhatian saudarinya akan mengingat memori nya.


"Putriku, Sania?? dimana dia??" tanya Ratih walau merasa sakit dengan kenyataan, namun di hatinya Sania tetap putrinya.


"Kau ingin bertemu Sania?? Kau mendidik gadis itu dengan baik. Dia gadis yang sopan dan lembut.


"Gimana ma??" tanya Ayudia penasaran


"Sabar, beliau masih butuh adaptasi.


Mama kaan panggil kalian untuk bergantian menemui Ratih" ucap Ratna lalu berjalan mendekati Sania


"Nak, mamamu ingin bertemu denganmu"


"Tapi , tapi Tante..."


"Panggil mama Ratna saja, kau putri kakakku, jadi kau putriku juga" ucap Ratna lembut


"Tapi aku bukan putri kandung mama Ratih" ucap Sania di sertai Isak tangis


"Sebagian anak dilahirkan dari rahim orangtua mereka, namun sebagian lagi terlahir dari hati.


Keduanya sama-sama memiliki tempat di hati orangtua mereka. Mamamu sangat menyayangimu dan kenyataan itu tak akan berubah, terlepas kamu anak kandungnya atau bukan, baginya kau tetap putri kecilnya. Ayo, jangan but beliau menunggu" ucap Ratna menggandeng tangan Sania.


Sania menoleh ke arah Davina yang tersenyum dan mengangguk.


Sania mengikuti Ratna masuk ke dalam ruangan perawatan Ratih.


Sania hanya berdiri menatap wanita yang sangat ia sayangi, ia tak berani mendekat


"Sayang kemari lah, mama kangen kamu.

__ADS_1


Biar mama melihat wajahmu" ucap Ratih memanggil Sania mendekat


"Aku akan meninggalkan kalian, jika perlu sesuatu panggil aku" ucap Ratna


"Adik, terima kasih" Ratna mengangguk dan meninggalkan ibu dan anak itu berbicara.


Sania terlihat memeluk Ratih erat seakan takut kehilangan


"Kau ingin membuat mama sesak nafas ya anak nakal??"


"Maafin Sania ma"


"Kenapa harus minta maaf? mama merasa sikapmu berbeda pada mama? apa karena mama bukan mama kandungmu?"


"Bukan ma, Sania selalu sayang mama, bagi Sania mama adalah mama Sania, mama kan...." Sania terisak ia tak sanggup meneruskan kalimatnya


"Dengar sayang, bagi mama kamu selamanya anak mama. Mama tak perduli apakah darah di dalam tubuhmu bukan darah daging mama, tapi hati mama, pikiran mama, kamu anak mama dan akan selalu menjadi anak mama, sini peluk mama"


"Mamaaaaa..." Sania menangis dalam pelukan Ratih.


Walau Ratih merasa sakit menerima kenyataan ini, tapi putrinya tak bersalah. Dia tetap mencintai Sania dan akan selalu menganggap Sania putri kandungnya.


Setelah itu semua bergantian satu persatu masuk ke dalam ruang perawatan. Ratih juga sangat senang mengetahui bahwa ia masih memiliki anak lagi pria dan wanita.


Saat melihat jelas wajah Sarah, ia melihat kemiripan yang identik dengan Sania, dua anak yang terlahir dari dua wanita yang berbeda, namun gen papa mereka kuat mengalir dalam diri kedua putrinya tersebut.


Ratih tak mempersoalkan itu semua, bahkan ia juga menganggap Sebastian dan Vera anak nya juga walau dari wanita lain suaminya.


Ratih sebenarnya masih bingung, bagaimana ia sampai bisa berujung dengan Aditya, namun sepanjang pernikahannya dengan Aditya, tak pernah sekalipun pria itu menyakitinya, justru Aditya berperan sebagai suami dan papa yang baik untuk mereka.


Keesokan harinya Sania yang habis menyuapi makan Ratih mendengar kegaduhan di luar, ia melihat papanya kembali dengan anak buahnya dan dua orang petugas kepolisian salah seorang anak buah papanya ia ketahui adalah pengacara nya.


"Ma...."


"Biarkan papamu masuk" ucap Ratih santai


"Tapi ma..." Sania ragu, Hanya ada mereka berdua yang di rawat di lantai ini.


Dan keluarga besar Ratih belum ada yang datang, mengingat hari masih terlalu pagi, tapi Aditya sudah datang membuat keributan.


"Biarkan dia masuk, percuma menghindar, tak menyelesaikan masalah" ucap Ratih tersenyum.


"Jika mama yakin, baiklah" ucap Sania .


Ia berjalan sambil menekan panggilan telepon ke Davina


"Hallo, dia datang lagi dengan petugas polisi" ucap Sania lirih


"Baik, aku sedang on the way ke sana. Jangan khawatir"


Maaf kemarin author tidak update di karenakan kondisi badan tidak memungkinkan, semoga dua chapter hari ini bisa mengobati kekecewaan kalian semua ya.


Happy reading


pooh

__ADS_1


__ADS_2