
"Jo...??" Arjuna tak sabar ingin mendengar penjelasan Jovanka, namun Jovanka mengarahkan jari telunjuk ke depan mulutnya, tanda Arjuna harus menutup mulutnya saat ini
"Aa..aaaku ......
Aku melihat mama memasukan sesuatu ke dalam bubur sebelum pembantu membawanya ke kamar kak Ayu, aku menegur mama, tapi mama marah dan memukulku, mengurungku di kamar.
Malam di serta hujan deras pak Parno membopong tubuh kak Ayu yang tak bergerak.
Aku...., aku sangat ketakutan kak.
Aku berteriak-teriak meminta mama membukakan pintu, hingga akhirnya ku lihat mobil itu keluar dari rumah kita.
Aku tak Berani mengatakan yang sebenarnya pada kak Arjun karena mama mengancam ku.
maafkan aku kak.
Aku adik yang tak tahu diri, maaf kan aku" ucap Vera mulai menangis lagi
Arjuna merasa nyawanya melayang, ia tak percaya jika mamanya, ah mama tirinya yang terlihat lembut ternyata seorang psikopat, Arjuna merasa bulu kuduknya meremang.
Terbayang betapa baik dan lembutnya ia, sungguh tak ada yang menyangka sifat buruknya di balik penampilannya.
Arjuna lalu menghampiri Vera dan memeluknya
"Sudah, sudah jangan menangis, kakak tidak akan memarahi mu, kakak..." Arjuna tak bisa berkata apa-apa.
otaknya buntu!!
Ia memang kecewa, namun melihat penderitaan Vera, rasa kecewanya terkikis.
Arjuna baru saja tahu jika Jovanka adalah Ayudia, namun ia belum tahu kenyataan di balik menghilangnya istri nya itu.
Arjuna menduga jika William dan Willy tahu semua, karena terlihat sekali bahwa mereka sangat melindungi Ayudia.
Mungkin termasuk papanya yang mengetahui ini semua.
Arjuna jadi teringat saat di resort yang sedang di bangun, di mana Sandra mendampingi Ayudia, bahkan semuanya seperti sudah diatur.
ternyata semua demi keselamatan Ayudia, bisa jadi jika Deswita tahu Ayudia masih hidup, ia akan berusaha melenyapkan Ayudia.
Satu-satunya alasan kenapa Vera tidak di bereskan oleh Deswita adalah karena Vera anaknya, tapi benarkah Deswita mama mereka??? bahkan sejak Arjuna tinggal satu rumah, ia tak pernah sekalipun peduli pada si kembar Vera dan Sarah.
Sepertinya ada yang tak beres, Arjuna merasa harus memecahkan teka teki ini.
"Kamu pulihkan diri dulu, sudah jangan menangis.
kakak perlu bicara dengan kak Ayu sebentar" ucap Arjuna mengelus puncak kepala Vera.
Kebetulan Sarah mengetuk pintu kamar, Arjuna meminta Sarah menjaga Vera dan memastikan ia tetap berada di ruangan itu.
Arjuna membawa Ayudia menuju sebuah Cafe yang berada dalam rumah sakit itu, keduanya nampak canggung.
walau status mereka masih suami istri dia tas kertas, namun ini pertama kalinya mereka bertatapan secara langsung
"Itu, aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya padamu.
__ADS_1
Aku tahu kesalahanku tidak termaafkan, aku ..."
"Tak ada yang perlu di maafkan," sela Ayudia memang sudah mengikhlaskan semua nya, namun itu bukan berarti ia tidaka akan membalas dendam pada orang yang telah menyakitinya
"Perlu. Semuanya terjadi karena aku" ucap Arjuna lirih.
Ia meminum kopinya dengan perlahan.
Pikirannya melayang ke masa tujuh tahun lalu, dimana ia memilih keluar negeri untuk bisnis, padahal ia hanya menenangkan diri di villanya yang berada di luar negeri.
Bahkan ia tak ingat wajah istrinya, karena ia tak menatap langsung wajah Ayudia bahkan saat Baskoro menyodorkan foto Ayudia, Arjuna langsung menahan dengan tangannya dan mengatakan tidak perlu.
Semua terjadi karena keegoisannya.
Harusnya ia juga memikirkan bagaimana perasaan Ayudia yang di jodohkan secara paksa, tapi....
Jika saja ia tak pergi dan meninggalkan istrinya di kediaman orangtuanya, hal itu tak akan terjadi, namun nasi sudah menjadi bubur.
percuma menyesali masa lalu, kini ia harus memikirkan masa depan keluarga kecilnya, terutama ketiga anaknya. Arjuna sadar jika mereka saat ini dalam bahaya.
"Berhentilah bekerja, mulai saat ini aku yang akan memenuhi kebutuhan kalian" ucap Arjuna tegas, menatap manik biru Jovanka yang terlihat mempesona
"Aku tak butuh di kasihani.
Aku akan tetap bekerja" ucap Ayudia
"Jovanka, ah maksudku Ayudia, kau istriku!!!" ucap Arjuna sedikit keras
"Kau jangan lupa, setahuku, wanita yang sudah tidak di nafkahi lahir dan batin, apa masih bisa dianggap suami istri????" sindir Ayudia
"Aku akan menikahi mu lagi secara agama" ucap Arjuna penuh keyakinan membuat Ayudia terkejut, namun hanya beberapa saat
Namun diantara kita tak bisa bersatu, kau tidak mencintaiku, begitu juga aku" ucap Ayudia datar sambil meminum kopinya dengan santai
"Kamu mungkin belum mencintaiku Ayu, tapi aku mulai mencintaimu. aku akan membuatmu juga jatuh cinta padaku" gumam Arjuna menatap lekat wajah Ayudia
"Ayudia, please.
bisakah kau singkirkan ego mu sedikit saja???
bisakah kau pikirkan bagaimana perasaan anak-anak???
bisakah kau melihat kebahagiaan mereka??
Aku akan melindungi kalian, menyayangi kalian
Bisakah kita tak membicarakan perasaan kita, demi anak-anak?? , pleaseeee
Jika kamu ingin aku tak melanggar privasi mu, aku akan mematuhi. Tapi demi anak-anak, bisakah kita menjadi keluarga??? keluarga yang utuh
Mereka masih sangat kecil, mereka juga butuh keluarga yang utuh.
Kau tak akan pernah merasakan bagaimana di bully karena tak memiliki orangtua utuh, bagaimana merasakan kerinduan tanpa bisa memiliki.
Cukup...., cukup aku.
__ADS_1
Aku tak mau anak-anakku tumbuh tanpa keluarga lengkapnya. Beri aku kesempatan untuk menebus waktu yang terlewati,
Beri aku waktu menunjukkan pada kalian bahwa aku bisa menjaga , menyayangi kalian.
pleaseeee" ucap Arjuna langsung bangkit dan bersimpuh
"Astaghfirullah mau apa pria menyebalkan ini??? dan lihat bagaimana semua mata memandang kesini, dasar gila!!" maki Ayudia dalam hati
"Mas, mas jangan begitu, malu mas orang-orang melihat kesini" ucap Ayudia panik berusaha membangunkan Arjuna
"Aku tak akan bangun sebelum kau mengatakan iya"
"Iya, iya ok aku kalah" ucap Ayudia merasa terpojok
"Aku kan mencobanya mas, tapi jangan paksakan aku bisa menjadi istri yang baik untukmu.
Aku lakukan semua hanya untuk anak-anak.
Aku tahu bagaimana rasanya tak memiliki keluarga lengkap, aku juga tak ingin anak-anak kita merasakan apa yang pernah kita rasakan" ucap Ayudia lirih, matanya berkaca-kaca.
"Maaf, aku tak bermaksud..."
"It's ok mas, kamu benar.
Jika kamu tidak mengatakannya, mungkin aku akan egois" ucap Jovanka mengusap wajahnya
"Satu lagi, jangan berharap lebih padaku, terutama perasaan. Jujur aku tidak memiliki perasaan apapun padamu" ucap Ayudia lugas
"Aku akan membuatkan perjanjian pra nikah jika kau mau"sela Arjuna cepat, entah mengapa istrinya ini yang baru ia ketahui beberapa waktu lalu sudah menggoreskan luka tak terlihat di hatinya.
semakin membuat Arjuna bertekad akan membuat Ayudia tergila-gila padanya
"Tentu" ucap Ayudia singkat dengan senyum sumringah
"Mulai besok berhentilah bekerja, aku tak mu anak-anakku terlantar karena kau menghabiskan waktumu di kantor" ucap Arjuna tiba-tiba
"Apa??? kau gak bisa seenaknya begitu mas.
Aku punya karier ku sendiri, karier yang ku rintis dari bawah.
Aku akan tetap bekerja sebagai Jovanka.
Dan satu lagi,menghabiskan waktu di tempat kerja??
apa kau lupa??? atau perlu ku ingatkan.
Kau yang memberiku pekerjaan ekstra di banding divisi yang lain, kau yang memintaku bekerja di luar wewenang ku.
Kau, ya kau.
bos yang menyebalkan dan arogan.
Kau memang bos, tapi di rumah kau hanya suami, jangan bawa otoritas di rumah, atau aku dan anak-anak akan pergi" Ancam Ayudia kesal.
Baru beberapa saat lalu mereka aku, kini Arjuna kembali memercikkan api permusuhan.
__ADS_1
Ayudia sangat menyukai pekerjaannya dan ketiga anaknya sudah mandiri sejak kecil, jadi tak ada alasan jika harus berhenti bekerja.
"Apa, Arjuna malu jika orang tahu dia istrinya?? toh Ayudia tak akan membuka jati dirinya karena ia akan tetap memakai nama tengah nya sebagai identitas resminya.