
Setelah sedikit drama menjadi objek bully an anak-anak Jovanka, akhirnya mereka berhenti di sebuah mall yang letaknya tak jauh dari sekolah anak-anak, ketiganya langsung melupakan Emilia dan bersorak senang
"Huh, anak-anak tetap saja anak-anak, mereka akan kegirangan jika di bawa ke mall" gumam Emilia menggelengkan kepalanya
" Jo, kenapa kita kesini???" tanya Emil bingung, coz tujuan ia menjemput anak-anak adalah ingin melihat ketiga anak Jovanka, sekaligus merindukan masakan Bu Ratna.
Namun ia malah di bawa ke sebuah mall, sementara perutnya sudah berdendang ria karena sejak tadi sudah membayangkan masakan Bu Ratna
"Maaf Emil, gue lupa bilang kalau Habis pulang sekolah kami sudah janji mengajak mereka makan ice cream" ucap Jovanka dengan muka bersalah
"Ah Jo, kota belum makan siang" ucap Emilia setengah berbisik
"Ayo turun, kita makan siang dulu" ucap Jovanka, sementara William sedang membantu ketiga keponakanya turun dari mobil karena mobil yang ia bawa hari ini agak tinggi
"Om, atu mau di gendong" ucap Davina mengulurkan ke dua tangannya pada William, William tanpa ragu langsung mengangkat keponakan kecilnya itu
Jovanka hanya bisa tersenyum canggung, dulu saat Adrian dekat dengan mereka, perlakuan Davina juga sama. manja dan selalu ingin di perhatikan.
Jovanka jadi menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa memberikan kasih sayang seorang papa pada anak-anaknya, walau ia sudah berusaha menjadi single parent yang terbaik, namun tetap saja si bungsu merindukan figur seorang ayah yang tidak ia dapatkan dari mamanya.
Emil turun dari mobil dengan enggan, ia menyeret Jovanka menjauh lalu berbisik pelan
" kenapa William terlihat seperti calon papa anak-anak???? Jo, apa kalian ada hubungan spesial???" tanya Emil pemasaran
"Kami memang ada hubungan spesial" ucap Jovanka dengan mimik serius, ia ingin mengerjai Emilia yang terlihat tertarik dengan William.
Kapan lagi mengerjai si usil satu ini
"Ah Jo, karena kamu punya hubungan spesial dengannya, aku yang akan mengalah, tapi jika wanita itu orang lain, akan ku kejar sebelum batu nisan melambai" ucapnya sambil menatap William yang berjalan masuk ke dalam mall tanpa menunggu kedua wanita yang terlihat asik bergosip
"Ih dasar wanita, dimana saja hobby nya bergosip, lebih baik aku ajak anak-anak masuk dari pada menunggu mereka, seperti keong siput saja" gerutu William melempar pandangan ke arah Jovanka dan Emil yang seakan tahu jika dirinya sedang menjadi bahan per gunjingan kedua wanita itu
" Sadis amat perumpamaan ya?"
"Yee, kalau janur kuning melengkung aja masih bisa ada yang mau menikung Jo, ya loe tau cewe jaman sekarang ga perduli udah punya istri masih aja Pepet laki orang" ucap Emilia yang berusaha mensejajarkan langkah dengan Jovanka
"Jangan bilang loe termasuk juga?? inget Emilia dosa u know D O S A" ucap Jovanka mengeja menekankan kalimat nya dengan mengeja nya
"Is amit-amit, gue gak lah, gue masih punya otak buat mikir, cinta tanpa logika namanya B O D O H" balas Emillia menekankan kata-katanya
"Nah itu loe lempeng, gue kira otak loe masih bengkok" goda Jovanka tanpa menoleh pada sahabatnya, ia tak mau ketinggalan jejak William yang sudah berada jauh di depan mereka.
Jovanka berdecak Kesal karena Banyak orang melihat kagum pada William yang mungkin mereka sangka papa muda yang memiliki tiga anak kembar.
Tak rela si kembar dianggap anak William, bisa berabe kalau suatu saat papa kandung mereka melihat kejadian ini, ya walaupun bukan salah Jovanka juga
__ADS_1
"Sial loe Jo, loe pikir gue cewek ekstrem apa??? gue itu cewek lugu yang pernah jadi korban kebiadaban pria"
ucap Emilia getir membuat Jovanka berhenti dan tubuh Emil menabrak Jovanka dengan telak karena ia menunduk dan menghapus air matanya
"Sorry gue gak maksud begitu" ucap Jovanka merasa bersalah
"It's ok, gue aja lagi melankolis, loe gak salah apa-apa"
"Pria itu pasti akan menyesal sudah mengkhianati loe , gue akan pastikan itu" ucap Jovanka berapi-api
"Thanks Jo, loe.emang sahabat terbaik gue, loe seperti kakak buat gue" ucap Emilia terharu
"Tapi gue gak mau jadi kakak loe" goda Jovanka terkekeh namun tawanya terhenti karena ia sudah tak melihat lagi keberadaan William serta anak-anaknya
"Loe jahat Jo" Rajuk Emilia
"Mil, William dan anak-anak gue kemana???" tanya Jovanka menoleh ke arah Emilia
"Wah kemana mereka???? gue gak liat tadi kan, gegara loe ngerem mendadak" gerutu Emilia
"Gue gak lagi mau becanda, kemana mereka???"
"Apa Pak William mau menculik si kembar??? ah walau gue suka sama pak William, tapi gue gak akan terima dia.nyulik anak-anak gue" ucap Emilia juga histeris berjalan kesana kemari mencari Si kembar
"Jadi kamu suka sama saya??" ucap William yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Emillia
"Astaghfirullah, jooo, penculiknya disini" teriak Emilia keceplosan karena terkejut,. pikirannya blank
Sementara orang-orang yang mendengar teriakan Emil langsung menghampiri Emil, dan seorang pria malah memegang tangan William karena salah paham atas ucapan Emilia.
Jovanka yang jaraknya cukup jauh tidak mendengar ucapan Emil, bahkan ia tak melihat apa yang terjadi di belakangnya.
Jovanka sibuk celingak-celinguk mencari keberadaan putranya
"Apa-apaan ini??? lepaskan" bentak William tak senang tangannya di cekal seseorang
"Anda penculik, wanita itu yang mengatakannya" ucap pria bertubuh besar itu, lebih besar dari William
" Siapa yang bilang???, dia??
emang ada apa tampang Kaya saya pencuri???" ucap William sewot
"Iya juga ya" ucap pria bertubuh besar itu
"Eh mas, tampang mah bisa menipu.
__ADS_1
Jaman sekarang penipu itu mukanya cakep-cakep dan terlihat kaya, ya kan Bu ibu" timpal seorang ibu-ibu yang ikut berkerumun di dekat Emil dan William
"Saya beneran bukan pencuri, dia , wanita itu gila!!!" umpat William emosi diatas ubun-ubun, seumur hidup ia tak pernah di permalukan oleh wanita seperti ini.
Namun gadis kecil ini bisa-bisanya mempermalukannya seperti ini.
"Enak aja gue gila" protes Emil berkacak pinggang karena tersinggung sampai lupa untuk meluruskan kesalahpahaman akibat ulahnya
"Lepasin, beneran dia wanita gila, Emilia apa kamu mau saya pecat???" ancam William kesal
Emilia yang sudah mendapat kembali kesadarannya langsung ketakutan
"Maaf ibu-ibu, bapak-bapak, Om, Tante, dia memang pencuri, tapi pencuri hati saya" ucap Emilia tak menemukan alasan tepat untuk menjelaskan kesalahpahaman tersebut sambil nyengir kuda
Pria yang mencekal William langsung melepaskan pegangan tangannya dan menggeleng pelan,
"Mba, mba, kalau cinta Pepet terus jangan buat ulah seperti ini" gerutu pria tersebut lalu memilih pergi
"Cewek aneh, jangan-jangan bener kata pria itu, dia gila" ucap anak abege yang ikut melihat kerumunan
"Bisa jadi obsesi tak tersampaikan, liat aja cowok itu ganteng banget, mungkin karena di tolak dia jadi stres" timpal temannya
"Bisa jadi, " tambah temannya yang lain
Emilia ingin memprotes , namun ia tak kuasa karena sangat malu
Emillia hanya bisa menunduk.
"Daffi, Davina, ingat jangan pernah mengajak Tante kaleng rombeng itu ikut ke mall lagi dengan kita" ucap Daffa memperingati adik-adiknya
"kita pura-pura gak kenal saja kak" ucap Daffi menimpali kakaknya, sementara Davina tak berkomentar karena bingung
"Ma, maafkan saya pak.
Itu, itu...."
"Lain kali, ancaman saya tidak main-main" ucap William dingin
"Ah anak-anak" panggil Emilia menyadari keberadaan ketiga bocah imut nan menggemaskan, siapa lagi kalau bukan Daffa, Daffi dan Davina
"Bencana datang" ucap Daffa dan Daffi bersamaan menepuk kening mereka serentak
"Mama" panggi Davina melihat Jovanka datang, seakan mendapat pertolongan, Daffa, Daffi dan Davina langsung berlari melewati Emillia menuju mama mereka
Emillia terpukul, anak kecil saja menolaknya, bagaimana pria itu, hancur hatinya....
__ADS_1