(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Rahasia Emillia


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Emillia sudah datang ke kediaman Ratna, ia di beritahu Ratna jika Ayudia menginap di rumah Bu Ratna.


Tak lupa Emillia membawa buah dan beberapa cemilan untuk si kembar, ia merindukan mereka dan merasa berat harus berpisah dengan ketiga anak yang selalu membuatnya tertawa.


Sementara semalam William tidak kembali ke rumah Ratna, padahal sejak ia tahu Ratna adalah mamanya yang hilang, ia dan Willy memutuskan tinggal bersama mama mereka, namun entah mengapa semalam ia tidak pulang membuat Ratna kesal sekaligus kecewa pada putranya itu


Tak terkecuali Ayu, mereka sudah merencanakan sesuatu untuk William, tapi pria itu malah tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.


Daffa dan Daffi yang mencuri dengar tentang Emillia ikut terkejut dan langsung mencari informasi mengapa Tante kaleng rombeng ya akan tinggal di luar negeri.


Walau Daffa tak menyukai Emillia karena kerap kali membuat genderang telinganya seakan mau pecah dengan suara cemprengnya, namun jauh di lubuk hatinya ia juga merasa sedih.


"Kak, ini ...


kenapa orang-orang di sekitar mama selalu berkaitan dengan mama" ucap Daffi menghela nafas setelah mendapat email dari anak buahnya


"Maksud kamu??? aku tak punya waktu tebak-tebakan Daffi"


"Kau itu selalu saja gak sabaran kak, siapa juga yang memintamu tebak-tebakan" ucap Daffi kesal


"Baiklah, maafkan aku.


Cepat katakan apa yang anak buahnya katakan" ucap Daffa pada akhirnya


Daffi langsung menyodorkan laptopnya ke arah Daffa, terlihat Daffa mengerutkan keningnya tanda berfikir keras


"Ini semacam konspirasi, ternyata Tante Emil nasibnya malang" ucap Daffa lirih


"Apa ku sudah mulai kasian padanya kak??


kau selalu memusuhinya, berbeda dengan aku dan Davina.


Kami suka Tante cerewet itu ya walau kadang pusing juga sih, tapi dia baik"


"Yayaya, apa katamu saja.


cari informasi, dimana sebelumnya Tante Emil di rawat dan siapa saja yang menjenguk nya atau dokter dan perawatnya siapa, gali informasi itu secepatnya" perintah Daffa serius


"Mengapa harus aku semua, anak anak buah ku juga banyak pekerjaan kak!!!" ucap Daffi kesal


"Kau, ah sudahlah, kau akan telepon Exel mencari tahu sendiri. kau cari informasi siapa kakak kandung Emillia itu, aku punya firasat buruk mengenai itu"


"Nah kalau begitu kan adik, siap bos" ucap Daffi dengan sikap hormat membuta bola mata Daffi memutar malas.


Sedang asiknya mereka berunding, tiba-tiba pintu kamar mereka di ketuk dan masuklah Ayudia diikuti sosok yang beberapa menit lalu mereka bicarakan


"Anak-anak, lihat siapa yang datang??' ucap Ayudia masuk ke dalam kamar


"Tante kaleng rombeng??" ucap keduanya


"Anak nakal, bisakah kalian memanggil nama dengan baik, kalian membuat mama kesal" sementara Emil justru malah tertawa senang


"Anak-anakku, apa kalian merindukan Tante???" tanya Emil hendak memeluk Daffa, namun pria kecil itu menghindar dan akhirnya hanya Daffi yang berhasil Emillia peluk


"Enggak" ucap keduanya serentak.


Daffa merasa kasian pada adiknya, ia melihat emill.mencubitnpipi Daffi kanan dan kiri, menciumnya dengan gemas hingga membuat Daffi terlihat tersiksa.


belum lagi Emillia memeluknya dan aroma parfum Emillia yang kuat membuat Daffi hendak pingsan


"Tante, tidak adakah parfum yang Tante punya mengapa Tante selalu memakai minyak nyong-nyong" ucap Daffi lemas


"Hahaha, anak manis kamu sangat menggemaskan.


Tante pake parfum mahal loh.


kenap kamu gak suka ya??" tanya Emil yang memang menyukai parfum dengan aroma strong, sementara mama mereka sellau memakai parfum lembut kadang beraroma buah segar


"Baiklah, baiklah, maafkan Tante ya sayang

__ADS_1


oh ya Tante bawa sesuatu untuk kalian, ayo, Ayo keluar" ajak Emillia pada kedua putra Ayudia.


Saat sudah melihat Emil keluar Ayudia memelototi kedua putranya


"Berprilaku lah yang baik dan sopan pada Tante Emil.


ini mungkin merupakan hari terakhir kalian bertemu dengannya, awas saja kalau nakal, mama kreeeekkk" Ayudia menaruh jari telunjuknya di leher dan membentuk garis lurus yang artinya tamatlah kalian berdua


Daffa Adan Daffi tanpa sadar memegangi leher mereka, menelan Saliva mereka dengan sulit, sementara wajah mereka pucat.


"Kak, apa benar dia mama kita???" tanya Daffi ketakutan


"Aku khawatir kita anak tiri, dia begitu kejam"ucap Daffi menambahkan


"Dasar adik bodoh, bagaimana kamu bisa berfikir begitu??? Wajah kita saja sangat mirip dengan pria mesum itu" ucap Daffa menggeleng pelan


"Apa mama kita berbeda tapi satu papa" tanya Daffi lagi


"Kau terlalu banyak menonton sinetron di ikan terbang. sudah cepat kita keluar


"Kalau begitu kak, aku menyimpulkan bahwa mama kita memang kejam, seperti nenek lampir" ucap Daffi menundukkan kepalanya lemas


"Kalau itu aku sependapat, ayo kita keluar belum nenek lampir itu merebus kita hidup-hidup" ucap Daffa juga menundukkan kepalanya, keduanya berjalan dengan malas sambil menundukkan kepala mereka lemas


"Daffa, daffiiii cepaaaaaattt" teriak Ayudia membuat keduanya sontak terkejut dan lari tunggang langgang, hingga bertabrakan dan keduanya jatuh membuat Emillia tertawa terpingkal-pingkal begitu juga Davina dan Ratna yang tertawa, sementara Ayudia memasang wajah kesal


"Apa yang kalian lakukan??? seperti anak domba saja tak tahu arah" ucap Ayudia menggeleng pelan


"Kami memang anak domba yang akan di korbankan mama"


"Apa kamu bilang???"


"Ah aku bilang semalam mimpi anak domba, ya kan kak???" tanya Daffi meminta bantuan kakaknya


"Iya ma, kami mimpi domba" ucap Daffa nyengir kuda, bagaimana adiknya itu bisa punya ide bodoh, walaupun kembar gak mungkin juga kan mereka juga kembaran mimpi yang sama, Daffa ingin sekali menjitak kepala adiknya itu, walau mereka sama-sama jenius, terkadang Daffi berubah jadi anak autis jika terdesak.


"Aneh, mimpi bisa samaan" ucap Ayudia lirih


"Tante, punya kakak kenapa lebih besar dari punyaku???" protes Davina melirik cake yang di potongkan Emillia


"Anak gadis makan sedikit-sedikit biar kelihatan elegan " bisik Emillia yang di balas anggukan Davina, membuat Daffa dan Daffi penasaran mengapa si tukang makan itu langsung bungkam saat Emil membisikinya, apa yang Emil bisikkan??


Emil meletakkan cake di depan si kembar, juga dua sendok kecil untuk mereka makan


"Kalian berbohong mimpi domba kan?? mama kalian tak akan mengorbankan domba kecil seperti kalian, hahaha imutnya kesayangan Tante" ucap Emil setengah berbisik.


Daffa dan Daffi melongo tak menyangka Emil tahu, dan Emillia melindunginya


ada perasaan hangat menyelimuti hati keduanya, ternyata Tante nya itu menyayangi mereka


"Sepertinya aku harus membantu Tante Emil" ucap Daffa lirih


"Aku setuju"


Setelah memakan cake nya, mereka di beli ice cream cake, awalnya Ayudia protes karena terlalu banyak kalori dan lemak yang anak-anaknya makan, terutama si bungsu Davina, namun mengingat Emillia akan segera pergi Ayudia hanya bisa diam.


Setelah kenyang mereka memilih bermain, sementara para orangtua asik berbincang-bincang


Daffa dan Daffi langsung bergegas menghubungi asisten pribadi masing-masing dan meminta mereka memberikan informasi secepatnya, mereka hanya memberi waktu satu jam


Terdengar nada mengumpat di ujung telepon saat Axel mendengar perintah Daffa, namun saat Daffa mengucapkan tolong, Axel langsung bergerak.


Jarang sekali anak kecil itu memohon padanya.


dalam satu jam Axel sudah memberikan informasi yang di minta Daffa, sementara Daffi juga sudah menerima pesan vincen dan langsung memberikannya pada Daffi.


"Seperti dugaan mu kak, aku jadi sangsi kau cenayang???"


"insting seorang predator, puas???" ucap Daffa membuat Daffi kesal

__ADS_1


"Waooo tatut" godanya pada Daffa


"Berhenti becanda, apa kau mau Tante bawel mu itu celaka???"


"Kau juga tak mau bukan, let's go kita pikirkan rencananya" ucap Daffi semangat


Flash back on


Emillia yang kala itu berusia tiga tahun, terus merengek mencari mamanya, mama Emillia meninggal karena kanker otak stadium akhir.


Emillia yang masih terlalu kecil tak mengerti jika mamanya sudah pergi untuk selamanya, dia terus menangis dan merajuk.


terkadang ia tidur meringkuk karena kelelahan habis menangis, hingga suatu ketika papanya datang membawa seorang wanita cantik dengan perban di kepalanya. wanita tersebut merupakan pasien di rumah sakit tempat ia bekerja.


Papa Emilia berprofesi sebagai dokter.


Papa Emillia menjalankan praktek di sebuah rumah sakit kecil, ia merasa kasian pada wanita itu yang kehilangan ingatannya, beruntung ia menemukan identitas di saku celananya bernama Ratih.


Saat pertama kali di bawa, wanita itu ketakutan hingga tubuhnya bergetar, Namun setelah di rawat dua Minggu, ia sudah membaik dan sudah bisa berkomunikasi, sepertinya Ratih menderita kekerasan atau mungkin korban penyekapan. entahlah yang jelas di tangan dan kaki wanita itu terdapat bekas seperti ikatan.


Karena tidak tahu harus kemana terpaksa papa Emillia membawa ia pulang, Emillia yang tidak tahu akan wajah mamanya sangat antusias, ia langsung memeluk wanita itu, dan ternyata keduanya langsung akrab.


Tiga tahun berlalu dan papa Emillia belum juga mengetahui latar belakang Ratih.


Ratih meminta papa Emillia untuk tidak memberitahu siapapun siapa dia, karena ia khawatir seseorang akan datang dan menyekapnya lagi.


Ratih hanya ingat jika ia di sekap di sebuah rumah dan pernah melahirkan, itulah sebabnya ia langsung menyayangi Emillia seperti putrinya, hanya saja alasan mengapa ia di sekap, Ratih tak tahu pasti.


Saat ia terbangun, ia berada di sebuah ruangan, Ratih berjalan keluar dari rumah sakit tanpa tujuan, hingga akhirnya ia pingsan di depan sebuah rumah sakit kecil di pinggir kota dan papa Emillia lah yang menolongnya.


sementara Emillia semakin dekat dan memanggil Ratih mama, Emillia sangat menyayangi Ratih dan menganggap Ratih mama kandungnya, karena ia tak pernah tahu wajah asli mamanya.


Ratih tak pernah menyangkal ia membiarkan saja kekeliruan itu berjalan, karena ia tak mau membuat anak kecil itu terluka.


Ratih sangat menyayangi Emillia kecil.


hingga pada suatu ketika Emillia terus merengek minta diajak ke wahana bermain, membuat Ratih tak tega dan membawanya tanpa memberitahu papa Emillia.


Namun tiba-tiba Ratih menghilang, Emillia yang panik meminta tolong pada petugas keamanan, namun tidak berhasil menemukan Ratih. Emillia berlari ke jalanan dan akhirnya terjadi kecelakaan itu.


Dua Minggu setelah kecelakaan, Emillia sadar dari komanya. Emillia mengalami depresi, ia tak mau makan atau minum, sebagian memori Emillia terhapus, ia hanya mengenal wanita itu sebagai mamanya dan meninggal karena kanker otak, tumpang tindih dengan memori masa lalunya.


padahal mama kandungnya yang kanker otak, namun dalam ingatan Emillia, Ratih adalah mama kandungnya.


Rasa kehilangan yang teramat membuat Emillia hidup dalam pikirannya.


Empat tahun berlalu, Emillia kembali menjalankan aktivitasnya, ia bersekolah dan berprilaku normal seperti biasa saja sehingga papanya mengira Emillia sudah sembuh dari traumanya.


Papa Emillia lalu menikah dengan seorang janda beranak satu.


Beruntungnya wanita yang di nikahi papanya memperlakukan Emillia seperti putrinya sendiri


saat Emillia menginjak perguruan tinggi, mama tirinya meninggal dunia karena sakit, dan disusul papanya, sehingga Emillia sendirian.


sementara kakak tirinya sudah sejak sekolah menengah pertama di pindahkan keluar negeri tinggal dengan mantan suami mama tirinya, hal itu tak terlepas dari kejadian memalukan yang hampir merenggut kehormatan Emillia, demi menjaga perasaan suami dan anak tirinya, mama tiri Emillia mengirim anaknya tinggal dengan papa kandungnya.


Flash Back Off


"Kita harus menahan Tante Emillia pergi, aku khawatir Kaka tirinya itu memanfaatkannya"


"Aku setuju.


satu hal yang bisa membuat Tante Emil tetap disini adalah dengan membuka kebenarannya"


"Aku setuju, tapi apa kita perlu ..."


"Om William?? tak usah mama dan nenek sudah memiliki rencananya sendiri.


Tapi aku penasaran dengan wanita yang di tolong oleh papanya Tante Emillia."ucap Daffa santai

__ADS_1


"Aku juga penasaran apa kau mencurigai seseorang??"


"Mungkin dia......"


__ADS_2