
Setelah selesai pembahasan hati itu, Samuel dan Willy kembali ke kantor, kini tinggal Ayudia dan Emillia serta Arjuna.
"Sayang, aku tunggu di dalam mobil ya, Emil, aku duluan" ucap Arjuna yang di balas anggukan Emil.
setelah Arjuna pergi Ayudia menatap sahabatnya penuh selidik
"Kamu pergi bukan karena William kan????" selidik Ayudia menatap lekat wajah Emil
"Mana mungkin, aku tak sepicik itu,
ya walau salah satu alasanku pergi karena aku sudah menyerah berjuang.
Tiga tahun mencoba mendekatinya namun gagal, bahkan dia bersikap ramah pun tidak, ya setidaknya dia bisa lega karena wanita yang terus mengganggunya gak ada lagi, hahaha
kau tahu Jo, cinta tidak bisa di paksakan, dan aku tak mau menua hanya demi satu cinta.
namun ada alasan lain aku belum bisa mengatakan sekarang , sorry" ucap Emil mencoba tersenyum
"Aku tak tahu harus berkata apa, benar kata kamu, cinta tidak bisa di paksakan. dan kau tidak cocok untuk anak sialan itu, kau cantik, cerdas dan pemberani.
Biar dia menyesal mengabaikan wanita sempurna sepertimu" ucap Ayudia ikut kesal dengan sikap William
"Jika kau berkata seperti itu di depan si kembar, mereka akan memprotes mu Jo.
aku Tante cerewet dan kaleng rombeng hahaha
aku mencintai anak-anakmu, seperti anakku sendiri" ucap Emillia tertawa hambar
"Kau akan selalu menjadi ibu kedua mereka, mereka juga menyayangimu, percayalah, hanya saja anak-anak itu, entahlah bagaimana perilaku mereka.
mereka berbicara asal bunyi, aku harap kau memaklumi dan memaafkan mereka.
tapi aku yakin mereka menyayangimu, karena mereka sudah menanyakan mu beberapa waktu lalu karena tiba-tiba kau menghilang, aku khawatir" ucpa ayudia memegang tangan sahabatnya itu
"Aku tidak akan pernah marah pad anak-anak mu Jo, mereka menggemaskan.
ku pikir kau lupa jika gen asal bunyi itu berasal dari apa mereka yang menyebalkan" ucap Emillia terkekeh
"Astaga benar, gen buruk yang di turunkan kepada anak-anakku" Dengus Ayudia membuat Emilia tertawa terkekeh
Sementara di parkiran Arjuna terlihat sangat bosan.
istri dan sahabatnya itu belum juga muncul, padahal ia sudah di parkiran selama setengah jam lebih
"Hachimmm, hachimmmm"
Arjuna bersin-bersin
"Apa mereka sedang mengunjungi??? dasar wanita suka sekali bergosip" gerutu Arjuna mengusap hidungnya yang gatal.
Setelah berpelukan lama, akhirnya Ayudia dan Emilia berpisah, Emillia terlihat pucat dan sedih, namun ia masih menyembunyikan alasan ia pindah.
pasti sesuatu terjadi, sehingga ia harus mengambil keputusan berat.
Ayudia sangat tahu jika Emillia sangat mencintai William, bahkan ia kuat menerima ucapan sinis William.
"Sayang, sayang.
Kamu kenapa sih bengong aja" tanya Arjuna menatap istrinya
"Kita balik kantor apa mau pulang??" tanya Arjuna yang sudah menepikan kendaraannya
"Kita pulang mas, aku sudah gak mood balik kantor"
"Kamu mikirin Emillia ya??
maaf tadi aku mengancam Emillia kan kau tahu sendiri aku di kantor seperti apa"
"Aku merasa kasian ada Emil mas.
adikmu itu sok kegantengan banget sih.
owh ya dia normal kan mas suka cewe???" cerocos Ayudia pada suaminya.
Arjuna hanya tertawa tanpa mau menjawab, tapi kali ini ia setuju pada perkataan istrinya.
William akan menyesal melepaskan Emillia
walau gadis itu cerewet seperti Kaleng rombeng, tapi ia cukup manis, ya walau di bandingkan dengan Ayudia tetap cantikan istrinya
__ADS_1
"Kamu kenapa senyam senyum, kamu gak stres kan??? atau kamu lagi mikir mesum ya mas???"
"Otakmu mesum, ayo cepat kita pulang.
kita lebih baik mesum berjamaah" ucap Arjuna menaik turunkan alisnya
"Dasar suami gila" ucap Ayudia sewot walau dalam hatinya tertawa.
"Mas, mas, aku nginap kerumah ibu aja, belok mas belok" teriak Ayudia tiba-tiba membuat Arjuna langsung berhenti mendadak
"Sayang, kalau apa-apa jangan bikin kaget dan mendadak, untung di belakang kita gak ada kendaraan ,bisa kecelakaan kita"
"Maaf mas, Hanya saja aku kangen ibu" ucap Ayudia lirih
"Kangen atau..., ya sudah lah.
aku drop kamu di rumah ibu, habis itu aku jemput anak-anak ya?"
"Iy suamiku sayang" ucap Ayudia tiba-tiba mencium pipi suaminya
"Yank kau gak adil, sebelah lagi ngiri"
"Huh dasar mesum" ucap Ayudia membuang pandangannya karena malu
"Mesum kan kau pancing yank, lagi pula udah sah
bagaimana kalau kita pulang dulu, trus buat adik untuk si kembar ya, ya"
"Massss, aku turun di sini nih" ancam Ayudia membuat Arjuna mengangkat tangannya menyerah.
Ayudia menggeleng frustasi, bagaimana tingkat ke mesum suaminya kian hari kian bertambah?
Akhirnya setelah drama yang menyebalkan, mereka sampai di kediaman Ratna, Ratna yang melihat ke kedatangan Ayudia langsung menyambut kedatangan wanita yang sudah ia anggap anaknya sendiri itu
"Ya Allah syang, kenapa gak kasih kabar ibu kalau mau datang??? ibu kan bisa masakan makanan kesukaan kamu" ucap Ratna memeluk Ayudia
"Ibu bisa memasakkan nya besok, ayu mau nginap di sini sama.anak-anak.
mas Arjuna akan menjemput mereka
"Alhamdulillah, rumah ibu jadi rame lagi, sejak Samuel mengungsikan si kembar Sasa dan Sisi serta istrinya. ibu kesepian" ucap Ratna sedih
"Oh iya kah? sudah seminggu lalu sayang, ayo masuk biar ibu buatkan minum" ucap Ratna menggandeng tangan Ayudia
"Jadi tadi kamu diantar sama suamimu?"
"Iya, tadi kami habis ketemuan, sama Williams , Samuel dan Willy juga Bu, membahas langkah kedepannya" Ratna hanya mengangguk angguk mendengarkan Ayudia bercerita sambil membuatkan minuman untuk Ayudia.
Ayudia tak mampu menyembunyikan perasaanya saat ini, ia merasa bimbang dan sedih saat mendengar Emillia akan menetap di luar negeri mungkin selamanya.
bagaimana Emillia memutuskan itu? padahal ia baru bertemu lagi dengan kakaknya, ya walaupun kakaknya adalah keluarganya satu-satunya, tetap saja mereka sudah lama tak bertemu, itu seperti pertemuan dua orang asing yang sedarah, Ayudia jadi takut jika Emillia memutuskan semuanya karena emosi sesaat.
Ratna menghela nafas beberapa kali setelah mendengar cerita ayudia, ia sepemikiran dengan Ayudia dan menyesali keputusan Emillia walau sepenuhnya itu hak Emilia, hanya saja ia menyayangkan hal tersebut.
Ratna juga jadi jengkel dengan putranya, apa kurangnya Emillia, bahkan wanita itu sampai belajar memasak dengannya demi membuat William tertarik padanya, namun anaknya itu malah menyinggungnya beberapa kali.
Emillia juga kerap datang dan menemani Ratna saat ia tak bekerja atau membawakan sesuatu untuk Ratna, Emillia gadis ceria dan cerewet yang Ratna kenal, alangkah sayangnya jika ia tak menjadi menantunya.
Walau sedikit cerewet tapi Emillia wanita yang lembut dan pengertian, terlebih lagi ia gigih dalam mengejar William
Ratna yakin jika suatu saat mereka menikah dan mendapatkan ujian dalam rumah tangga, Emil adalah sosok yang tepat untuk mendampingi putranya yang keras kepala dan tertutup itu.
"Ibu setuju denganmu nak, ibu merasa khawatir dan kasian pada Emilia.
Gadis yatim piatu itu pasti merasa sendirian.
ibu sudah terlanjur sayang pada Emil.
anak ibu saja yang bodoh, atau..."
"Atau mungkin dia gay Bu" ucap Ayudia spontan
"Hus, amit-amit jabang baby" ucap Ratna membuat Ayudia terkekeh geli
"Atau dia belum menyadarinya, tapi sebenarnya ia suka juga. karena sikap lelaki kan selalu mementingkan egonya"
"Bu, bagaimana kalau kita sedikit membantu membuka mata dan pikiran Will??" ucap Ayudia membuat Ratna menoleh dan menunggu kalimat selanjutnya
Ayudia langsung mendekati kuping Ratna ingin membisikkan sesuatu, rencana yang akan membuat William mengutarakan perasaanya
__ADS_1
"Xixixxi geli Ayu" ucap Ratna tertawa geli
"Ih ibu lebay, belum juga ayu ngomong"
"Oh belum ya?" ucap Ratna tertawa. keduanya lalu merencanakan sesuatu yang merupakan rencana terakhir sebelum Emillia pergi.
jika rencana itu gagal, artinya Ayudia dan Ratna akan kehilangan Emil selamanya.
Dua jam kemudian dua buah mobil memasuki pelataran rumah Ratna, satunya adalah mobil Arjuna yang membawa si kembar dan beberapa travel bag, berisi pakaian mereka, sementara satunya lagi adalah mobil Jack dan dua pengawal lainya.
Davina berjalan sambil menyeret travel bag mini miliknya, Arjuna tak tahu apa isinya, yang jelas anak gadisnya itu tak mau papanya membantu membawakan ya, sangat aneh.
Baru sampai depan pintu, mereka di sambut oleh bai masakan yang menggoda perut membuat mereka merasa kelaparan karen aromanya
"Assalamu'alaikum, nenek, mama" panggil ketiganya mendorong pintu rumah
"Wa'Alaikum salam, cucu-cucu nenek, nenek kangen"
"Kami juga kangen nek" ucap ketiganya
"Dan kapel" ucap Davina mengelus perutnya
"kau habis memakan satu bungkus cookies dan 1 kantong Snack sekarang lapar??? apa perut mu gak ada porosnya Davina??
"Maklum kak, dia kan perutnya banyak gembelnya" ucap Daffi lalu keduanya tertawa terbahak-bahak
"Huh dasar menyebalkan, memangnya kalian makan di simpan di tembolok??? kalian tuh yang cacingan makannya kurus" jawab Davina membuang muka dan langsung menyeret koper mininya menuju kamar yang biasa ia tempati
"Davina sayang, kamu mau minum apa?? jangan marah, saudaramu hanya menggodaku, biar nanti nenek jewer mereka" ucap Ratna tersenyum lembut
"Aku mau juice wortel nek karena aku sedang diet" ucap Davina tersenyum malu
"Diet??? hahahaha kak kau dengar??? adik kita yang semok bin montok bin gembrot diet????
diet apa makan sebakul" ejek Daffi dan kembali kedua kakaknya itu tertawa
"Kalian, ayo-ayo bantu nenek siapkan minuman, menggoda adik kalian aja kerjaannya" ucap Ratna menjewer kuping Daffa dan Daffi
"Sukuuuuuur" ucap Davina langsung menutup kamarnya dengan senyum puas
Setelah melihat pintu kamar tertutup, Ratna melepaskan jeweran di kuping kedua bocah lelaki tampan itu
"Nek kupingku panjang nih, bagaimana kalau kupingku persis dengan peri" tanya Daffi mengelus kupingnya padahal Ratna hanya berakting menjewer dan keduanya anak lelaki itu langsung berakting kesakitan, mereka raja drama .
"Hiperbola, ayo nek kita buat minuman" ajak Daffa langsung menggandeng Ratna
"Kak, tunggu, nenek tunggu" ucap Daffi langsung mengekor Daffa dan Ratna menuju dapur.
Di dapur terlihat Ayudia sedang memasak sesuatu
aroma masakan yang keluar membuat keduanya menelan Saliva nya
"Ma, aku lapar" ucap Daffa yang langsung membuat Daffi menoleh
"Perasan beberapa waktu lalu kau mencibir Davina, tapi kau samanya"
"Apa kau bisa menolak masakan mama dan nenek???
bahkan masakan restoran pun kalah" ucap Daffi
membayangkan memakan udang yang sedang di masak Ayudia
"Anak mama, mengapa bicaramu manis sekali seperti madu, darimana kalian belajar itu???"
"Mamaaaaa"
"Mama??" tanya Ayudia bingung
"Iya dari mama lah kami pintar memuji, buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya ya kan nek???" Ratna tersenyum dan mengangguk
"Kapan mama memuji seseorang??" tanya Ayudia bingung
"Mas, kamu suami yang paling tampan dan baik hati, makasih ya mas, aku makin cinta sama kamu.
aku bangga punya kamu suamiku tercinta" ucap keduanya meniru ucapan Ayudia saat ia mendapat hadiah kalung yang ia impikan dari suaminya
"Kaliaaaaannnnn, kalian menguping di kamar mama???" tanya Ayudia dengan wajah merona merah
"Nenek tolong kamiiiiii!!!" teriak keduanya langsung berlari menuju belakang Ratna, bersembunyi meminta pertolongan
__ADS_1
Ratna hanya tertawa terkekeh melihat kelakuan mereka, sungguh ini merupakan momen paling bahagia dalam hidupnya.