(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Daffi


__ADS_3

Di dalam kamar terdengar suara Bu Ratna dan pria itu menangis, Jovanka dan William memilih duduk menanti kedua orang itu selesai dengan urusan mereka, walau dalam hati William maupun Jovanka ada banyak pertanyaan, mereka lebih memilih diam dan memendam sendiri dalam hati masing-masing.


Seharian ini ia sudah sangat lelah baik pikiran maupun badan, terlalu banyak kejutan yang ia terima dalam satu hari, dan banyak pertanyaan yang belum terjawab, terutama siapa Ratna sebenarnya, lalu siapa Ayah anak-anak Ayudia, siapa pria yang tadi datang dan kini berada di kmr Ratna, semuanya membuat William memejamkan matanya, berkutat dengan pikirannya sendiri


"Will, kamu mau minum??, kopi, teh atau es sirup???" tawar Jovanka


"Juice boleh???" tanya William tak tahu diri, minuman yang ia pinta tak ada dari tawaran Jovanka


"Juice adanya kayanya mangga, sama alpukat"


"Alpukat aja, terima kasih" ucap William sambil sibuk memainkan ponselnya


"Maaa, atu juga mau" teriak Davina yang mendengar pembicaraan William dan mamanya


"Davina mu juice apa sayang?" tanya Jovanka lembut, William melihat interaksi mam dan anaknya itu, hatinya terenyuh.


Ia teringat mama angkatnya yang menyayangi mereka tanpa membedakan walaupun ia dan Willy bukan nak kandungnya


William sangat merindukan mama angkatnya itu, tak terasa ia terbawa emosi dan menitikkan air mata


"Cengeng" cap suara seorang anak kecil, William melonjak kaget, rupanya putra sulung Jovanka yang bernama Daffa sudah duduk di sampingnya, begitu juga putra kedua Jovanka duduk bersila sambil bersedekap dada,


"Sejak kapan setan kecil ini berada di dekatku???? apa aku yang terlalu fokus sehingga tak menyadari kedatangannya???" gumam William menatap Daffa kesal


"Siapa yang cengeng???" tanya Jovanka menatap William dan kedua putranya bergantian


"Ma, om tadi Daffi liat nangis, Kata mama kalau laki-laki pantang nangis, karena laki-laki kuat.


Apa om itu lemah dan cengeng ma???" tanya Daffi polos


Ingin rasanya Wiliam menggali tanah dan bersembunyi, ia sangat malu ternyata kedua putra Ayudia melihat ia menangis, dan yang lebih memalukan, putranya itu sampai mengatakan apa yang di lihat nya pada mama mereka, menyebalkan


"Itu, itu....." William tersenyum canggung, bingung harus mengatakan apa


"Sayang, terkadang pria juga bisa menangis, bukan karena pria itu lemah, namun karena ia sangat merindukan mamanya misalkan, melihat orang yang di sayangi tersakiti, jadi laki-laki memang harus kuat, namun ia juga punya sisi sensitifnya juga, namanya juga manusia. Sampai disini apakah putra ibu yang tampan ini mengerti???" tanya Jovanka dengan sabar menjelaskan

__ADS_1


Kedua putranya mengangguk bersamaan, entah mengerti atau pura-pura mengeri, yang jelas William tak tahu dan tak mau tahu.


Tiba-tiba ponsel William berbunyi, seseorang berbicara padanya, William yang tak mendengar karena ributnya anak-anak Ayudia yang berteriak-teriak memilih me speaker ponselnya.


Rupanya dari asisten kliennya yang berkebangsaan Jepang, William agak kesal pada asisten kliennya itu, karena bahasa Inggris pria itu buruk sehingga komunikasi mereka kadang terhambat


Daffi yang mendengar William berbahasa Jepang terbata-bata, membuat Daffi penasaran, ia duduk di samping William, namun William membelakanginya


William menggaruk kepalanya yang tak gatal karena tidak mengerti ucapan pria di ujung telepon sana


"om, om, si om itu nanya apa bisa melakukan meeting di tempat yang suasananya seperti kampung halamannya" ucap Daffi mencolek William


"Hei anak kecil, apa kamu bisa bahasa jepang???" tanya William tak percaya


"Om gak percaya????, sini hape om, aku yang ngomong" ucap Daffi, William menaikan sebelah alisnya, ia ragu sungguh tak percaya, anak kecil di depannya masih taman kanak-kanak, masih terlalu hijau.


Namun sorot mata Daffi tak ada keraguan sedikit pun


Dengan ragu ia memberikan ponselnya pada Daffi dan di luar dugaannya bocah enam tahun itu berceloteh dengan lancar menggunakan bahasa Jepang, ia melirik kearah William sambil tertawa, entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas di akhir percakapan asisten klien nya tersebut mengucapkan terima kasih dalam bahasa Jepang lalu mengakhiri panggilan teleponnya tanpa memberikannya pada William


"Bayar dulu" ucap Daffi mengulurkan tangan kecilnya


"Astaga kenapa kamu kecil-kecil matre " gerutu William mau tak mau mengambil uang dalam dompetnya, ia memberikan selembar uang seratus ribu, namun Daffi masih mengulurkan tangannya


"Anak kecil, apa kau tahu berapa nilai uang yang ku berikan tadi???" tanya William mengejek, mengira bocah di sampingnya itu tak tahu nilai uang


"Om, aku anak jaman now, itu seratus ribu, bayaran translator tiga ratus ribu" ucap Daffi santai , namun William justru terkejut sampai tersendak air liurnya sendiri


"Ya Ampun anak siap kamu???" gerutu William namun tetap memberikan uangnya pada Daffi dengan tak rela


Daffi langsung merebut dan mengipas-kipas uang tersebut di depan muka William, menggodanya


"Cepat katakan apa yang mister Kanaka katakan???


"Tadi kan aku udah bilang kalau mister Kanaka menyampaikan pesan atasannya kalau ia ingin meeting selanjutnya di adakan di sebuah tempat seperti kampung halamannya.

__ADS_1


Susana dan makanannya, seperti restoran khas Jepang yang ada autentik makanan Jepang, dan..."


"Dan apaaaaa????" ucap William tak sabaran


"Om suruh belajar bahasa Jepang sama aku, besok mister Hinata meminta om mengajakku, karena dia ingin mengenalku" ucap Daffi tersenyum bangga


"Jangan membual kamu" sangkal William


"Terserah, aku juga gak maksa" ucap Daffi lalu turun dari sofa dan menghampiri kakaknya, memberikan Daffa selembar uang lalu ke arah Davina memberikan selembar uang, sedang dia sendiri masih memiliki selembar uang


"Om William memberikan kita uang untuk jajan" ucap Daffi melihat kedua saudara nya bingung


"Terima kasih om Will" ucap mereka serempak


"Ternyata bocah itu benar-benar licik, tapi juga bijaksana, ia tidak serakah menguasai uangnya, rupanya ia meminta tiga lembar untuk ia bagikan pada saudaranya, didikan yang bagus, saling menyayangi saudara" gumam William yang awalnya kesal, tersenyum lebar, teringat ia, Arjuna dan Willy sering berbagi apapun bersama


"Anak-anak, uang dari mana itu??" tanya Jovanka yang baru selesai memasak makan malam untuk mereka semua


"Dari om Will ma, atu mau di tabung" ucap Davina langsung berjalan menuju kamarnya, tak lama ia kembali dengan celengan berbentuk rumah kecil, melipatnya lalu memasukkan uang tersebut kedalam celengan


"Thanks Will, jangan memanjakan anakku, mereka tidak ku biasakan memegang uang, walau sejak kecil mereka sudah mengenal nominal uang yang tertera, Aku selalu menekankan mereka untuk hemat" ucap Jovanka


"Gak apa, sekali-kali" ucap William canggung karena Daffa menatapnya tajam, seolah berkata,


"awas jangan beritahu mamaku"


"Baiklah, apa pria itu belum keluar dari kamar Bu Ratna???" tanya Jovanka setengah berbisik


"Belum, sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu" ucap William lirih


"William bisakah kamu memanggilku Jovanka saja, aku takut kamu kelepasan bicara di depan orang lain"


"Baiklah , aku mengerti"


"Jovanka...." panggil seorang pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun, yang beberapa waktu lalu langsung menerobos ke kamar Bu Ratna

__ADS_1


"Ya???” jawab Jovanka menaikkan alisnya sebelah


__ADS_2