
Davina di bawa masuk ke dalam rumah tersebut, kondisi di dalam lebih menyedihkan dari yang mereka duga, banyak ember-ember berisi air keruh yang mungkin di pakai untuk menampung air hujan semalam karena genting yang bocor, juga dinding yang berlumut dan cat nya terkelupas.
Panti ini terlihat sangat mengenaskan.
Bau lembab langsung menyerang Indra penciuman Davina dan Agatha, mereka jadi merasa malu, pakaian mereka terlihat mencolok, seolah keadaan panti itu menertawakan mereka berdua.
Agatha dan Davina merasa malu, saat mereka masuk ke dalam rumah, mereka bisa berpakaian mewah, hidup senang, sementara orang disini semua serba kekurangan. mereka sungguh berasa di tampar oleh kenyataan.
"Bos" ucap Agatha lirih
Davina hanya diam membuat Agatha langsung menelan kata-katanya
Agatha bisa melihat wajah sedih Davina melihat keadaan rumah ini, di tambah saat melihat anak-anak kecil yang berpakaian kurang layak karena sobek dan usang memperhatikan mereka, seolah mereka orang Asing yang berasal dari dunia lain.
Hingga mereka berhenti di sebuah kamar yang pintunya saja sudah rusak dan keropos, terdapat lubang dimana-mana
"Kau harus makan sekalipun kau tak ingin makan, di luar sana banyak orang yang kesusahan" suara seorang wanita terdengar dari dalam kamar
beberapa saat kemudian seorang wanita muda keluar dengan membawa nampan berisi piring, mungkin makanan yang tak di makan Tian tadi pagi.
"Rena, wanita ini adalah keponakan pria itu, apa dia masih tak mau makan???" Tanya Sumiati yang di balas gelengan lemah Rena.
"Dia hanya diam tanpa berkata apapun, seperti mayat hidup saja tanpa ekspresi, pandangan matanya kosong.
permisi" ucap Rena lalu meninggalkan mereka
Bu Sumiati sudah melihat banyak orang di kehidupannya, ia paham jika pria di dalam sana mungkin sedang terguncang mentalnya.
Davina menganggukkan kepalanya saat Bu Sumiati mempersilahkan ia masuk.
Saat memasuki kamar tersebut, Davina melihat Sebastian yang duduk bersandar dengan pandangan kosong, sesekali air mata keluar dari sudut matanya
"Om Tian, aku datang menjenguk mu" ucap Davina duduk di samping Sebastian yang hanya diam saja
"Aku Davina om, keponakan kecilmu" ucap Davina.
Sebastian menoleh sebentar, ia hanya melihat seorang gadis yang sangat cantik, sangat mirip dengan kakak iparnya lalu ia kembali tak perduli
Davina langsung duduk di samping sebastian
"Kita hidup di dunia ini memiliki peran kita masing-masing. Aku adalah salah satu dari ketiga anak yang secara tak terduga bisa kembali hidup,
Sebuah keajaiban alam menghidupkan kami kembali, aku dan kedua saudaraku Daffa dan Daffi serta mama Ayudia"
Sebastian menoleh kembali kali ini alisnya berkerut, wanita di depannya ini berceloteh seakan ia Davina, padahal Davina masih kecil.
"Setiap kejadian pasti ada hikmah yang terpendam, sepahit apapun itu. Banyak orang berjuang hidup tapi banyak orang yang tak bersyukur dan berpikir akan mengakhiri hidup mereka.
Mereka tak berpikir bahwa, setelah mati mereka akan menjalani babak baru dimana kebaikan dan keburukan akan di pertanggung jawabkan" ucap Davina
Sebastian menghela nafas kesal, ia menatap nyalang pada Davina yang dianggapnya orang asing
__ADS_1
"Kau tak tahu apapun masalahku,Diammmmm!!!!"Teriak Sebastian menutup telinganya
"Kau egois om, kau tahu mengapa aku sampai mencarinya??? kakek Baskoro masuk rumah sakit, beliau belum sadarkan diri sampai detik ini karena serangan jantung"
"Dia bukan papaku" teriak Sebastian pilu
"Sekalipun dia bukan papamu, dia sangat menyayangimu, dia mencintaimu sepenuh hatinya. dan sebelum beliau tak sadarkan diri karena serangan jantung, beliau meminta kami semua mencari mu.
Sekalipun dia bukan papa kandungmu,. dia memperlakukanmu sangat baik.
sekalipun dia bukan papamu, dia tak pernah menganggap mu orang lain dan memperlakukan kamu dengan kasih sayang, menuruti semua yang kau mau.
Sekalipun kau bukan om ku, aku menyayangimu seperti keluargaku sendiri.
begitupun Daffa dan Daffi.
Juga mama yang terus menangis dan memarahi papa yang menyebabkan mu pergi.
om, Kami semua menyayangimu, terlepas kau bertalian darah atau tidak dengan kami, kami sayang dan perduli padamu" ucap Davina lirih.
"Aku tak mengenalmu, bagaimana kau bisa berucap sembarangan"
Davina tersenyum lebar lalu ia mengambil pil di tasnya dan meminumnya, dalam hitungan ke sepuluh ia kembali berubah ke wujudnya semula
"Daa... Davina, kau....."
"Sudah ku katakan aku Davina , om saja gak percaya.
"Bagaimana.... bagaimana bisa kamu" Sebastian shock bukan main. Gadis cantik nan sexy di sampingnya lalu berubah menjadi gadis kecil dengan pipi tembam
"kakek Baskoro kritis, kalau kau merasa perduli dengannya kembali dan temui beliau.
Setelah itu jika kau ingin pergi dan menghilang itu terserah om.
Satu hal yang om harus ketahui adalah, yang kami tahu om adalah keluarga kami, tak perduli om berasal dari darah yang sama atau tidak.
Bukankah sebuah ikatan tak harus melulu karena status arah, tapi karena lahir dari dalam hati.
tolong rahasiakan apa yang om lihat, aku terpaksa memakai obat ku untuk menemuinya.
Jika om ingin berbincang banyak denganku, aku akan sellau punya waktu untuk om, terutama aku melamar posisi vokalis dalam group band mini om dimana kakakku yang payah ikut" ucap Davina mengedipkan belah matanya, gadis kecil ini.....
Davina kembali meminum obatnya, ia kembali ke wujud gadis dewasanya dan memegang bahu Sebastian
"Tolong pikirkan apa yang aku katakan, sesakit apapun kenyataanya, om tidak akan bisa lari dari kenyataan.
Apa yang harus terjadi, maka akan terjadi, siapa yang menebar maka ia yang akan menuai.aku pamit dulu"
"Oh ya, kakek Baskoro di rawat di rumah sakit P.
putuskan lah sebelum semua terlambat.
__ADS_1
keputusan ada di tangan om" Davina menepuk punggung om nya beberapa kali dan bangkit, ia langsung keluar dari kamar pengap itu.
Bu Sumiati dan Agatha menghampiri Davina.
"Bu, bisa kita bicara di kantor ibu?" tanya Davina yang di balas anggukan Bu Sumiati
Beberapa saat kemudian
"Ya Allah nak, kamu gak sedang bercanda sama ibu kan???" pekik Bu Sumiati tak percaya
"Enggak Bu, saya beneran mau membantu.
Agatha sebenarnya adalah orang saya, dia yang kan mengurus semua nya, jika ibu keberatan pindah pantinya, saya akan merenovasi total semuanya, dan sementara ibu dan adik-adik bisa tinggal di rumah yang saya miliki.
saya juga akan menjadi donatur tetap di panti ini."
"Ya Allah, Alhamdulillah, Allahuakbar, terima kasih nak,.
semoga Allah selalu melindunginya dan memberi kelancaran rezeki mu" ucap Bu sumiati menangis.
"Ini kartu nama saya, ibu bisa datang ke kantor besok, biar Agatha yang mengurus semuanya" ucap Davina lembut
"Terima kasih nak, terima kasih"
"Enggak perlu berterima kasih Bu, ini merupakan rezeki dan hal semua penghuni panti dan sebagai ucapan karena sudah menolong om saya, saya juga akan membelikan mobil untuk operasional panti" ucap Davina membuat wanita tua itu menangis haru dan bahagia.
Setelah itu mereka meninggalkan panti dengan hati sulit diungkapkan.
"Kenapa kamu melirik ke saya?? apa kamu terkejut dan gak menyangka aku berbuat itu???"
"bukan begitu bos" sangkal Agatha walau di hatinya terkejut karena bos nya bisa menebak apa yang ia pikirkan.
"Aku juga manusia yang pantas perasaan.
Aku hanya memberi mereka hak yang seharusnya mereka miliki.
Karena di dalam hartaku ada hak mereka" ucap Davina acuh.
"Om Willy, aku mu bertemu di cafe X sekarang penting.
jangan bawa siapapun" ketik Davina mengirim pesan pada om nya.
diantara semua orang di keluarganya, Willy yang sangat bisa di percaya. Davina memutuskan akan membuka jati dirinya pada Willy, toh dengan adanya bantuan dari keluarganya, ia kedepannya akan mudah bergerak.
Setelah Tiga puluh menit menunggu di private room, Davina akhirnya melihat Willy yang datang, namun pria itu menghentikan langkahnya karena di dalam private room itu, ia tak menemukan keponakannya, hanya ada dua orang wanita cantik dan sexy
Namun salah satunya sangat mirip dengan kakak iparnya, ayudia, Hanya saja wanita di depannya ini memiliki rambut berwarna coklat
"Maaf saya salah ruangan sepertinya" ucap Willy sopan
"Om Willy masuklah, kamu gak salah ruangan" ucap Davina membuat Willy tersentak dan menoleh, wanita cantik itu mengenal namanya.
__ADS_1