(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Mimpi buruk


__ADS_3

Jadi berapa anak pak William??? tanya Jovanka polos.


Wiliam tersendak air liurnya sendiri mendapat pertanyaan Jovanka


"Ya Tuhan apa wajahku terlalu boros hingga Bu Jovanka berfikir aku sudah punya anak?" gerutu William dalam hati


"Ah itu, saya masih sendiri Bu" ucap William menggaruk kepalanya yang gatal dengan sikap salah tingkah yang terlihat lucu bagi Jovanka


"Oh maaf"


"Kalau bu Jovanka?” tanya William balik


"Tiga" ucap Jovanka tersenyum lebar


ciiiiiittttttttt


"Astaghfirullah...."pekik Jovanka terkejut


tanpa sadar William mengerem mobilnya karena terkejut, wanita yang masih terlihat sangat belia ini ternyata sudah punya anak tiga lagi.


beruntung lalu lintas masih lenggang karena belum jam pulang kantor, jika tidak bisa di pastikan akan terjadi tabrakan beruntun karena William mengerem mendadak


"Ma..maaf Bu, saya gak sengaja" ucap William mengelus dadanya, ia juga sama terkejutnya dengan Jovanka


"Pelan-pelan saja, saya masih ingin hidup, kasian anak-anak saya sendirian kalau saya gak ada"ucap Jovanka serius


"Maafkan saya Bu, tadi kurang fokus" ucap William beralibi


"Gak apa-apa, ayo kita lanjutkan perjalanannya " ucap Jovanka walau ia masih merasa terkejut


"Suami ibu kerja dimana???" tanya William setelah mereka kembali melajukan kendaraannya


Jovanka terdiam cukup lama, ia sedih memilih kalimat yang tepat untuk mengatakannya, namun William malah beranggapan jika dirinya terlalu ingin tahu masalah pribadi Jovanka sehingga akhirnya William tak enak hati dan meminta maaf


"Maaf Bu, saya suka kepo hehehe, maaf ya Bu"


"Enggak apa-apa kok pak, saya single parent" ucap Jovanka tersenyum canggung, cepat atau lambat semua orang juga akan tahu statusnya, buat apa ia tutupi, toh ia tak pernah menyusahkan orang, tak meminta uang dari orang dan tidak berbuat yang melanggar norma


Jovanka hidup mandiri membiayai hidupnya dan anak-anaknya dengan jerih payahnya sendiri.


"Maaf Bu, saya bener tak bermaksud tahu masalah pribadi orang,...."


Santai aja pak, saya gak merasa itu rahasia " senyum lebar menghiasi wajah Jovanka lalu keduanya terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing hingga tanpa terasa mobil yang mereka kendarai masuk ke dalam parkiran sebuah rumah sakit besar, ternama di kota ini

__ADS_1


Jovanka dan William lngsung melangkah masuk ke dalam rumah sakit, di lobby Willy sudah menanti kakaknya datang, namun di tempat kerja mereka seperti dua orang asing, tak terlihat seperti adik kakak, hanya rekan kerja. setelah berbasa-basi mereka langsung menuju ruangan dimana Deswita dirawat


Sementra Jovanka langsung di bawa untuk di periksa setelah itu jika cocok ia langsung transfusi darah.


Willian nampak cemas menunggu di luar, ia menanti kabar suster tersebut apakah Jovanka cocok atau tidak, sementra Arjuna yang baru keluar dari toilet langsung di hampiri Willy


"Kak, alhamdulilah William dapat orang yang golongan darahnya sama sama mama " ucap Willy melapor


"Benarkah??, Dimana dia???" tanya Arjuna antusias


"Sedang di periksa, sepertinya cocok karena sudah dua puluh menit belum keluar" ucap Willy


"Ah baiklah ayo kita lihat" ajak Arjuna, ia berpapasan dengan Baskoro yang baru saja mengantar Sarah dan Tian ke ruangan Vera


"Mau kemana nak??? bagaimana mamamu?" tanya Baskoro


"Ini pa, William berhasil menemukan orang yang mau donor dan alhamdulillahnya golongan darahnya sama, Arjun mau kesana lihat"


"Alhamdulillah, nak, beri orang itu balasan Yang sesuai, papa sangat berterima kasih padanya" ucap Baskoro


"Iya pa, pasti, papa mau ikut?" tanya Arjuna


"Ah gak usah, takut dokter mencari keluarga pasien papa gak di sana malah repot, kamu aja”


Sementara di ruang donor


William sedang menunggu di luar ruangan, akhirnya ia bisa sedikit bernafas lega karena Jovanka sudah menyelamatkannya, bisa di bayangkan jika ia tak menemukan satu orangpun yang mau donor kan darahnya di saat perusahaan mereka merupakan perusahaan besar dengan banyak karyawan.


Sebenarnya ia juga berharap Deswita meninggal, tapi Arjuna tak akan membiarkan itu terjadi.


William yang melihat kedatangan Arjuna langsung bangkit menghampiri Arjuna


"Bagaimana???"


"Sah" ucap William tak sadar


"Pala loe sah, bos nanya gimana yang donor" ucap Willy


"Ah itu maksudnya beres bos, cocok.


sekarang Bu Jovanka lagi donor di dalam" ucap William nyengir kuda


"Alhamdulillah cocok,. apa??? siapa yang donor???" tanya Arjuna yang meyakinkan pendengarannya tak salah

__ADS_1


"Bu Jovanka bos, itu manager perencanaan yang baru bos" ucap William menambahkan


"Apakah dia??" tanya Arjuna masih tak percaya


"Kenapa sih loe bro?" tanya William dan Willy bersamaan karena mereka lelah memanggil kakaknya bos


"Gak apa-apa, sudah berapa lama dia di dalam?" tanya Arjuna


"Dua puluh lima menitan, tapi donor darahnya baru sepuluh menit lalu karena harus di periksa dulu riwayat penyakit dan kondisinya


"Ah baiklah, Willy tolong belikan air mineral dan makanan untuk Bu Jovanka nanti, dan William kamu kembali ke ruangan mama bersama papa, aku takut papa butuh bantuan dan tak ada seorangpun menemaninya


"Siap kak" jawab keduanya lalu langsung jalan memenuhi tugas masing-masing


Setelah kepergian kedua anak buahnya sekaligus adik angkatnya, Arjuna terlihat senyum tipis terukir di bibir Arjuna


"Sepertinya kami seperti jodoh selalu di pertemukan di saat tak terduga" gumam Arjuna tersenyum penuh arti


Satu jam sudah Jovanka di dalam sana, ia sebenarnya takut jarum suntik sehingga ia memilih memejamkan matanya dan akhirnya ia tertidur


Entah mengapa di mimpinya ia melihat kejadian masa lalunya, seperti ia flash back melihat dirinya di masa lalu, tangannya mengepal kencang menahan emosi, ia kini kembali teringat betapa sakit hatinya ia pada semua orang-orang yang pernah menyakitinya, ia ingin membalas dendam, namun kini ia masih belum bisa, ia takut justru mereka akan menyakiti anak-anaknya, terlebih wanita itu, wanita ular yang menguasai kediaman keluarga Baskoro.


"Wanita itu harus merasakan apa yang pernah ia alami, ia tak akan membunuhnya, Jovanka bertekad akan membuat wanita itu bahkan berfikir untuk mati namun tak bisa"


Bulir keringat membasahi wajah cantiknya yang sedikit pucat, ia terlihat gelisah dan mengigau membuat suster yang berjaga membangunkannya


"Bu, Bu Jovanka" panggilnya pelan


Jovanka terbangun dan mendapati ruangan putih bersih lalu matanya terpaku pada seorang wanita berpakaian seorang perawat


"Suster, apa saya sudah selesai???" tanya Jovanka menatap ngeri ke tangannya


Kepalanya berputar melihat darah yang keluar dari selang yang terhubung ke kantong darah


"Bu Jovanka, ibu baik-baik saja??" tanya perawat itu melihat wajah Jovanka makin pucat


"Saya punya phobia darah juga sus, bisa itu di tutupi? soalnya saya bisa pingsan liat darah" ucap Jovanka lirih


Perawat tersebut tersenyum dan mengangguk, ia juga membawakan teh hangat untuk Jovanka.


"Lima menit lagi selesai, sabar ya Bu" ucap perawat itu yang di balas anggukan lemah Jovanka


Jovanka merenung, mengapa setelah tiga tahun tidak bermimpi buruk tentang masa lalunya di saat ini ia justru bermimpi lagi??? apa ia harus mengabarkan pada Adrian dan menemui psikiater yang membantunya selama ini???

__ADS_1


"Tunggu saja, aku akan membalas kalian satu persatu, ibu dan adik tiri ku serta mertuaku, aku akan memastikan kalian menerima ganjaran yang setimpal" gumam Jovanka dalam hati


__ADS_2