
"Ah terserah padamu, bagaimana? apa kau sudah tahu dimana Ayu tinggal???"
"Sudah pa, dan ..."
"Dan....?????” tanya Baskoro menaikkan alisnya sebelah
William terlihat merenung sebentar, ia menimbang apakah harus memberi tahu papanya, atau menyembunyikan ya.
namun jika ia tak mengatakan yang sebenarnya dan papanya tahu, bukankah ia akan di nilai buruk oleh papanya????
bukanlah lebih baik mendapat satu lagi pendukung untuk melindungi Ayu dan anak-anaknya???
tapi...
Bagaimanapun ia harus meminta pendapat Ayudia, itu lebih bijaksana.
"Will, ditanya orangtua malah ngelamun, dan apa sih???" tanya Baskoro tak sabaran
"Dan aku sampai makan malam di rumahnya pa"ucap William membayangkan ketiga keponakannya dan tersenyum
"Astaga , papa kira apa, sudah awas, papa mau tidur" ucap Baskoro bangkit menuju kamar tamu
"Pa, papa, kenapa papa gak pulang???
"Apa kau berani mengusir papa???" tanya Baskoro tajam
"Enggak pa, tapi heran aja tumben papa tidur di apartemen William
"Kamu sedang tidak menyembunyikan sesuatu kan??? lagi pula apa salahnya menginap di rumah anak bujang nya yang gak laku-laku ini" sindir Baskoro yang di balas dengusan kesal William.
Sementara Baskoro terkekeh masuk ke kamar tamu.
"Bikin pusing aja, apa nanti alasanku kalau mau pergi, sial besok weekend. ga mungkin kan aku bilang kencan??? papa gak akan percaya!!!" pekik William dalam hati sambil mengacak-acak rambutnya, ia masuk kedalam kamarnya dan tidur
Keesokan harinya
William termenung di dapur sambil memasak nasi goreng untuk sarapan mereka, sementara Baskoro belum bangun dari tidurnya.
Tidak biasanya papanya itu bangun siang, setelah sarapan selesai, William langsung menuju kamar Baskoro, mengetuk pintunya pelan
"Masuk"
terdengar suara papanya dari dalam
"Pa, sarapan sudah siap" ucap William hanya menengok ke dalam kamar tanpa niat masuk
"Sebentar papa mandi dulu" ucap Baskoro lalu bangkit dan keluar kamar, karena kamar mandi di apartemen ini berada di luar kamar.
Setengah jam kemudian Baskoro bergabung dengan putranya, mereka sarapan pagi dengan tenang tanpa ada percakapan.
"Terima kasih Will, papa pamit.
__ADS_1
Semalam tidur papa pulas sekali, next time papa numpang nginap lagi ya?"
"Kalau lin kali ada tarif nya pa,
murah aja kok, 1 juta semalam" ucap William nyengir kuda
"Anak durhaka, orangtua numpang nginep di dikomersilkan, kualat" ucap Baskoro kes, namun William tertawa terkekeh melihat reaksi Baskoro
"Ya elah pa, becanda kali, papa kaku banget.
Lagian kenapa sih tumben banget papa pakai acara nginep segala di rumah Will, emang kenapa di rumah???" tanya William penasaran dengan apa yang terjadi di rumah mereka
"Papa harus membiasakan wanita itu jauh dari papa, dia menolak papa ceraikan dan selalu datang malam-malam naik ke ranjang papa" Dengus Baskoro yang sudah pisah ranjang sejak kejadian yang menimpa Vera tempo hari
"Lah bukanya enak di temani mama Deswita pa??? daripada sendirian dingin ya kan???" goda William
"Enak gundul mu itu, justru papa merinding"
"Merinding enak pa???"
"Susah ngomong sama bocah kentir (gila) kaya kamu, sudah papa mau pulang" ucap Baskoro sewot
"Kok buru-buru banget pa kan belum Will usir" William makin senang mengusili papanya
"William, sudah bosan jadi anak papa ya???"
"Ampun pa, salam buat mama Deswita ya pa"
"Pa, maaf pa, lagian papa sensi banget sih, ampun pa" ucap William gugup
"Cih, mau di kenalkan wanita saja takut sekali, papa ragu kamu normal" ucap Baskoro lalu meninggalkan anaknya
"Pa, jangan di jodohkan, ini bukan jaman Siti Nurbaya, William gak mau" ucap William mendengus kesal, ia selalu kalah berdebat jika papa nya langsung membahas wanita.
Bukan William trauma atau apa, namun ia berjanji sebelum masalah keluarganya selesai, ia belum mau memikirkan wanita, bagaimana jika ia punya istri nanti dan ia masih harus fokus dengan keluarganya, bisa-bisa istrinya dia abaikan dan itu tidak adil untuk istrinya.
"Paaa...." panggil William, Baskoro hanya mengangkat bahunya cuek lalu keluar dari pintu apartemen
"Ah sial, ini gara-gara aku mau mengusili papa, kena getahnya deh, sial" runtuk William sambil membereskan meja makan mini nya dan mulai mencuci piring bekas mereka makan
Tiba-tiba William mendengar pintu apartment terbuka
"Tuh kan balik lagi" teriak William tanpa menoleh
"Kenapa loe, pagi-pagi dah stres, emang siapa balik lagi???" tanya suara yang tak asing lagi, siapa lagi kalau bukan Willy adik kandungnya yang seperti teman baginya
"Ngapain loe pagi-pagi kesini???"
"Yeee, ditanya balik nanya, koplak" ucap Willy langsung loncat ke sofa dan meraih toples Snack di depannya
"Will, loe kemana kemarin sih, susah banget di hubungin, gue ke ruangan loe, tapi gak ada" ucap Willy sambil mengunyah makanannya
__ADS_1
"Kepo aja loe, kenapa tumben nyari, loe mau kasih gue uang???"
"Dih najis, dimana-mana kakak yang kasih adiknya bukan kebalikan" cibir Willy membuat William menghentikan kegiatannya
"Ya elah, sekali-kali kasih yang tua an juga ga dosa kali"
"Ngarep" cibir Willy membuat William terkekeh
"Kenapa loe nyari gue emangnya???" tanya William penasaran, ia memang sengaja mematikan ponselnya saat berada di rumah Ayudia, agar tidak ada yang mengganggu, dan ia hanya menyalahkan ponsel pribadi yang hanya papanya tahu.
Sementara Willy dan Arjuna tak mengetahui itu.
"Arjuna cari loe, gak tahu apa.yang mau di bahas.
eh ngomong-ngomong emang siapa yang dari sini??? loe cuci gelas dua, piring dua, apa pacar loe ya???” tebak Willy antusias
"Ngeres apa loe, papa yang kesini" ucap William
"Ngapain pagi-pagi papa udah ke apartemen loe?"
"Nginep"
"Nginep???" tanya Willy meyakinkan
"iya, loe belum budeg kan??"
"Loe mah sama adek kaga ada sayang nya, nyesel banget punya kakak kaya loe" Dengus Willy
namun William hanya mengangkat bahunya cuek
"Papa nginep disini karena ingin tenang, beberapa hari ini berat buat papa dan ia gak bisa tidur tenang, paling juga nanti malam ke apartemen loe atau Arjuna"
"Ah gak mau gue, kaya anak kecil aja gue ngerasa di awasi papa"protes Willy
"Kualat loe orangtua mau nginep gak di kasih"
"Pokoknya gak, nanti gue suruh papa nginep ke apartemen Arjun aja" protes Willy
"Berani loe di coret dari kartu keluarga????"
"Engggak" ucap Willy nyengir kuda
"Lagian papa lagi galau, sekali-kali dengerin curhatan papa gak ada salahnya kan Willy? papa dan banyak berjasa dalam hidup kita" ucap William mengingatkan adiknya.
Willy hanya bisa mengangguk lemah.
"Arjun cuma nanya, apa beneran papa menggugat cerai mama??? "
"Sudah selesai prosesnya, mereka sudah cerai, dan akte cerainya sudah keluar, hanya papa tunggu waktu yang tepat"
"Akhirnya papa lepas dari cakaran buaya betina itu" ucap Willy lega
__ADS_1
"Bukan buaya, tapi ular berbisa" ucap William yang di anggukan saudaranya, mereka berdua sangat membenci Deswita, karena Deswita mereka jadi tidak merasakan hangatnya keluarga lagi, saat mereka baru merasakan bahagianya hidup dalam sebuah keluarga.