
Daffa, Daffi dan Davina sedang duduk mengelilingi William yang masih pingsan, beberapa saat lalu William pingsan dan membuat anak buah Daffi yang mengangkat William.
Tubuh William yang tinggi besar membuat butuh setidaknya empat orang yang mengangkatnya
Menyusahkan sekali.
"Kak, apa om Will masih hidup???" tanya Davina mencolek-colek lengan om nya
"Dia pingsan de, bukan tutup buku" ucap Daffi
"Kak apa hubungannya dengan tutup buku???, om Will lagi gak belajar" ucap Davina polos
"Seharusnya saat kau mau lahir bisa memberikan sedikit otakmu pada adik kita kak, dia....
apa dia benar-benar kembaran kita??? bagaimana sampai kembaran jenius tapi satu produk gagal" ucap Daffi menepuk keningnya
"Aku adik kalian, mau kalian suka atau tidak" ucap Davina ketus dan berkacak pinggang marah
Ia selalu disudutkan bukan saudari mereka sehingga Davina kali ini tidak mau menangis, tapi membalas marah
"Sepertinya iya, mungkin saat pembagian otak, Davina datang terakhir" ucap Daffa sama kejamnya menatap kasian pad adik bungsunya
"Aku benci kaliaaaan" ucap Davina menangis
"Arrrrghhhhh" William merasa badannya sakit semua, ia membuka matanya dan melirik ke suara anak menangis
"Davina cantik, kenapa kau menangis???
om cuma tak sadarkan diri kok, bukan mati" ucap William tersenyum kecut menyangka Davina sedang menangisinya
Davina yang sedang menangis sontak berhenti dan melihat om nya sudah terbangun
"Om, mereka membully ku, huhuhu" ucap Davina menunjuk Daffa dan Daffi yang berwajah datar.
William mengikuti arah jari davina menunjuk dan terlihat dua manusia imut sedang nyengir, tapi cengiran mereka membuat William takut dan
"Bruuughhhh"
William kembali tumbang tak sadarkan diri
"Ternyata keturunan lemah, ayo Daffi kita main saja.
Om William cocok ditunggui di cengeng Davina" ucap Daffa langsung turun dari kasur
"Mamaaaaaa, kak Daffi dan Daffa tuh maaaa" teriak Davina ikutan turun dan menangis, menghampiri mamanya yang sedang memasak di dapur.
Ia menyiapkan makan malam kilat
"Daffa, Daffi... apa kalian selalu saja membuat adik kalian menangis????
mama akan menghukum kalian nanti ya!!!!"
teriak Ayudia dari arah dapur
"Davina, adik manis, ayo main sama kakak" ucap Daffi langsung berubah manis.
Ia lebih baik mengajak adiknya main atau kena hukuman Ayudia.
Mama nya itu semakin kejam menghukum setelah menikah dengan Arjuna.
Pasalnya kedua orangtuanya itu sama-sama kurang sekilo jika masalah hukuman, mereka berkolaborasi memberikan hukuman ekstrem yang nyeleneh.
Terakhir kali Daffa yang kena, ia sampai tak berani keluar kamar karena Ayudia memakaikan pakaian Davina ke tubuhnya dan anehnya cocok dan Ayudia sampai mengabadikan Daffa dalam pakaian wanita.
Ayudia tak tahu bagaimana Daffa bisa sangat cantik dengan pakaian wanita, terlebih saat Ayudia memakaikan wig berwarna blonde, dia terlihat seperti none Belanda jaman dulu.
Daffi bergidik ngeri melihatnya, ia tak mau jadi keusilan mamanya dengan dalih hukuman
"Cepat Daffi, rayu anak gendut itu, atau kau mau di hukum sepertiku" ucap Daffa menakuti Daffi.
"Aku gak suka kalian" ucap Davina bersedekap dada dan membuang pandangannya ke samping, angkuh!!!
Daffa menghela nafas, ia harus mengeluarkan jurus terakhirnya pada Davina, berkali-kali ia bujuk, namun adiknya itu tetap menolaknya.
Daffi melangkah masuk ke dalam kamarnya, tak lama kemudian ia kembali dengan boneka yang memeluk coklat.
Daffa dan Daffi selalu menyetok itu di kamarnya, guna menyogok Davina
__ADS_1
"Adik kakak yang semok bin bulat eh bin seksi deng
terima lah permintaan maaf kakak" ucap Daffi membuat Daffa mual dan berakting muntah
"Harus ya mengucap gitu??? kau seperti playboy cap ikan teri, apa ku adikku??? memalukan" ucap Daffa mengumpat lalu berjalan dengan santai dengan tangan yang ia masukkan ke dalam celananya, tingkahnya angkuh dan berkarisma.
Ia memilih masuk ke dalam ruang kerja, saat melewati kamar tamu yang William tempati, pintu kamar tersebut terbuka, dan William berpapasan dengan Daffa
"Ka...kkkkaaauuuu" William seperti melihat hantu
"Om jangan lebay, udah cepet ikut aku" ucap Daffa langsung membuat William terdiam, ia dengan ragu mengikuti Daffa.
Aura seorang pemimpin keluar dari tubuh keponakan kecilnya itu, berbalut aura dingin mengintimidasi.
"Apa dia beneran keponakan ku??? atau dia kerasukan??? gumam William dalam hati
"Duduklah om, aku Daffa keponakan om, dan aku sehat normal dan tidak sedang di rasuki apapun" ucap Daffa tersenyum datar
"Bagaimana dia bisa tahu apa yang aku pikirkan??" gumam William menatap Keponakannya dalam diam
" Om gak usah memikirkan bagaimana aku tahu, aku tahu apa yang sedang on pikirkan, karena tidak mungkin menurut om kan???
Aku dan Daffi terlahir dengan bakat super jenius sejak lahir, bahkan kami sudah menyelesaikan pendidikan kami saat usia lima tahun.
Om mungkin pernah mendengar cerita bahwa mama saat mengandung beliau diambang kematian, dan sebuah petir menyambar tubuhnya sehingga ia kembali hidup.
Kami pikir salah satunya karena itu"
"Apa kalian bertiga ... maksud om apa Kalian semua..."
"Davina tidak, ia normal seperti anak seusianya, hanya kami berdua.
Sejauh ini menurut kami seperti itu.
karena kelakuan dan pemikiran Davina normal layaknya usia menjelang tujuh tahun" ucap Daffa menebak maksud om nya
"Syukurlah akan sangat mengerikan jika Davina juga...
Ah tapi terima kasih Daffa, om sangat berterima kasih.
Berkat kamu Emillia selamat"
"Apapun itu, aku berterima kasih" ucap William pada akhirnya
"Om, aku mohon jangan memberitahu mama tentang kami. Jika om saja sampai pingsan beberapa kali, bagaimana reaksi papa dan mama??
kami tak mau mereka jantungan saat mengetahui kami seperti ini" ucap Daffa menatap lurus ke arah William
"Tentu, tentu saja aku akan menutup mata seakan tak terjadi apa-apa.
Tapi Daffa, suatu saat mama dan papa kalian juga akan tahu, om harap kalian tidak membuat mereka shock"
"Tentu om, aku harus menahan diri dan berprilaku sesuai usiaku di depan kedua orangtua ku" ucap Daffa lirih.
"Baiklah kalau begitu om harus pergi, om khawatir dengan Emillia" ucap William malu-malu, kupingnya memerah, sungguh perjaka tua!!!
"Tante Emil di dapur, memasak makan malam kita.
Om bisakah aku meminta padamu???"
"Katakan!!"
"Cintai Tante Emillia dan lindungi dia, karena di dunia ini hanya kita yang ia miliki.
Jika om tidak bisa mencintainya maka katakan padaku, aku akan mencarikan anak buahnya untuk ku jodohkan dengan Tante Emillia" ucap Daffa serius
"Bocah ingusan, aku akui kau memang jenius, tapi kalau Maslah cinta, kau harus menunggu setidaknya dua puluh tahun lagi, dasar aneh.
Siapa yang akan melepaskan Emilia, aku men...."
"Cih dasar perjaka tua, bilang cinta aja malu, sana belajar sama Abege bagaiman caranya menyatakan perasaan" ucap Daffa tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengolok om nya. terbukti dengan wajah William yang merona merah.
"Aku hanya perlu menunggu lima tahun lagi dan aku akan punya banyak pacar" ucap Daffa Sambong
"Kau sama seperti papamu, sombong dan genit, astaga menyeramkan" ucap William langsung bergegas berjalan keluar ruang kerja
"Om, aku nanti butuh bantuan mu.
__ADS_1
ini masalah Deswita" ucap Daffa sontak membuat langkah William terhenti dan ia mengerutkan alisnya
"Deswita??? nenek tirinya???"
"Siapa lagi selain dia?" ucap daffa
"Katakan saja yang kamu perlukan, om akan siap membantu. Om juga tak menyukai wanita itu"
"Terima kasih om, " William mengacungkan jari jempolnya pada Daffa lalu membuka pintu ruang kerja dan keluar.
"Apa yang bisa anak itu lakukan??? kami saja menemukan jalan buntu saat mencari asisten rumah tangga itu" ucap William menghela nafas kesal.
Kecelakaan mamanya juga ada kaitan dengan Deswita.
Ia tak akan melepaskan Deswita, begitu juga kakak sepupunya.
Jika Daffa dan Daffi bisa menemukan saksi kunci itu, maka akan sangat membantu dalam kasus ini.
Selepas kepergian William, Daffa langsung menghubungi Axel, ia langsung memerintahkan Exel menggunakan semua informasi yang ia punya untuk mencari asisten rumah tangga bermana Minah.
saksi kunci sekaligus pelaku.
Daffi tak lama juga masuk dan langsung menghubungi vincen menggunakan kekuatan bawah tanahnya melacak keberadaan asisten rumah tangga tersebut.
Setelah selesai keduanya berjalan menuju ruang makan, mereka tak mau Ayudia marah karena mereka sulit di atur.
Keduanya dengan patuh duduk dan makan.
William sesekali melemparkan pandangan pada kedua ponakannya itu, ia menghela nafas dan menggeleng
"Jadi kapan rencana kalian menikah?" tanya Ayudia to the poin
"Uhuk uhuk uhuk" Emillia sampai tersedak makanannya
Dengan perhatian William menyodorkan minum
"Kak, bisakah kita bahas nanti, kasian Emil" ucap William kesal
"Aku harus menegaskan itu, sebelum kau menggantung adik ku" ucap Ayudia melotot
"Adik??". kerutan di kening William mengulang ucapan Ayudia
"Ya Emillia seperti adikku, sudah kewajiban ku menjaganya" ucap Ayudia
"Emil, kau malang punya kakak sepeti dia, galak, tukang ngomel" ucap William yang lngsung dapat jitakan Arjuna yang tepat duduk di sampingnya
"Dia istriku, kakak ipar mu.
kau menjelek-jelekkan istriku di depan anak-anak kamu, tidak tahu malu" ucap Arjuna kesal
"Aku senang punya kakak Jo, ah Ayudia.
bukankah kami mirip??" ucap Emillia dan Ayudia saling berpelukan
"Ya kalian mirip, bagai pinang di belah Kampak, Ayudia kebagian yang mulus kau bagian yang bongkahan gede" ucap Arjuna lalu terkekeh senang
Sementara Emillia dan Ayudia melotot kesal ke arah Arjuna membuat Arjuna langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya
"Kau body Shiming, bagiku Emillia wanita yang cantik" ucap William membuat Emillia menunduk malu
"Mama dan Tante Emil, mirip, kalian identik" ucap Daffi
"Benar-benar mirip, cerewetnya" ucap Daffa menimpali adiknya. mereka kompakan membully mama dan Tante nya
"Pufffhh hahahaha anak-anak yang pintar" ucap Arjuna lupa jika istri nya masih melotot kearahnya.
Ayudia memandang ketiga pria beda usia itu dengan kesal
"Daffa, Daffi dan kau mas,...
Tunggu saja" ucap ayudia dingin, mereka.bertiga merasa bulu kuduk mereka meremang, ancaman mematikan
"Hahaha sukuriiiiinnnnn.
Kau dan anakmu baru mirip dan identik
sama-sama menyebalkan dan genit" ucap William akhirnya punya kesempatan membalas ketiganya dalam satu waktu.
__ADS_1
"Williaaaaaaaaammmmmm" teriak ketiganya memggeram.kesal
"Huh, lelaki selalu berisik menganggu makan cantik kau saja" ucap Davina memutar bola matanya malas