
Willy terbangun karena suara bising keponakanya, ia semalam baru pulang jam dua belas malam setelah menghabiskan malam minggu dengan kekasihnya.
berbeda dengan William, Willy memiliki banyak kekasih.
Ia menikmati hidupnya sebagai seorang bujangan.
sementara William menghabiskan waktu sebagai Petapa yang anti wanita, sehingga setelah mendengar cerita dari putra bungsu dan Baskoro, mau tak mau Ratna merasa prihatin dan takut jikalau William memilih melajang selamanya.
Namun saat melihat Emillia, William bereaksi, ia memang tak suka namun terkadang ia melihat William tersenyum kala Emillia marah-marah karena kesal dengan William, Ratna menafsirkan itu cinta yang tidak William sadari.
"Astaga bocil, bocil masih pagi udah kaya di pasar malam, berisik tau" ucap Willy yang masih menguap berjalan mendekati si kembar yang sedang memakan bakso
"Ih om matahari udah tinggi masih ngigau, ini udah jam sebelas siang om" ucap Davina
"Tau nih om Willy, kata mama kalau bangun siang rezeki sama jodoh di patok ayak, emang om mau apa gak punya jodoh???" ucap Daffi menaikan sebalah alisnya ucapannya layaknya anak besar memarahi Willy
"Anak kecil sok tahu" ucap Willy gemas mengusap-usap kasar rambut keponakannya
"Anak gede tahu apa????" tanya Daffa ikutan komen
"Anak gede ya tahu segalanya lah, belum tentu yang anak kecil tahu, anak gede tahu" ucap Daffa tak mau kalah
"Jeeee kepedean, apa coba contohnya???", tantang Willy yang meremehkan di kembar
"Bagaimana kalau bahasa, om pake bahasa asing 4 aja.
anak kecil seperti kami bisa lebih dari enam bahasa asing" ucap Daffi menyeringai lebar
Willy lupa jika keponakan yang satu itu menguasai setidaknya delapan bahasa asing, sedang ia cuma tiga bahasa, bahasa Indonesia, Jawa dan Inggris.
Willy menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil nyengir kuda
"Kau kalah bro" ucap Arjuna menepuk punggung saudaranya.
Karena ia jika di hadapkan bahasa asing saja kalah telak dari putra keduanya
"Itu kan kamu, kalau Daffa belum tentu" ucap Willy masih belum menyerah
"Kalau aku bisa om mau kasih apa???" tanya Daffa menantang
"Apapun yang kau mau" ucap Willy pede, tanpa ia ketahui bahwa kedua keponakannya itu bisa dengan lancar berbahasa asing.
"Baiklah, kau harus memanggil aku om, jika aku bisa" ucap Daffa menahan tawa
"Kak???" Daffi merasa Daffa keterlaluan, jelas sekali om nya itu akan kalah
Daffa hanya mengedipkan sebelah matanya
" Baik" ucap Willy tanpa pikir panjang.
Daffa mulai dari bahasa Inggris, Mandarin, China, Jepang, Korea, Spanyol, Rusia.
semua orang melongo.
masalahnya Daffa melibatkan Daffi, mereka bercakap-cakap dengan berganti-ganti bahasa
Willy langsung terduduk lemas, ia mengira jika Daffi saja yang bisa, ternyata Daffa menjebaknya
"Sial, betapa mengerikan keponakan ku ini" ucap Willy dalam hati
" Jadi om ku sayang, apa hukumannya??? goda Daffa tersenyum penuh kemenangan
"Om Daffa" panggil Willy
"Aku gak dengar, ya kan Daffi???" ucap Daffa sengaja pura-pura tak dengar
"Om Daffa " teriak Willy dengan wajah memerah
"Hahaha iya keponakan tua ku" ucap Daffa menepuk punggung om nya, semua orang tertawa melihatnya
"Jadi om percaya kan, apa yang anak kecil ketahui itu bisa saja orang dewasa tidak tahu" ucap Daffa menyunggingkan senyum
"Kalian menyebalkan" ucap Willy yang di balas tawa Arjuna, ia bangga kedua putranya sangat luar biasa
"Papa, apa papa sudah belajar bahasa Mandarin?" tanya Daffi menaikan sebelah alisnya
"Ah itu, ya papa belajar, belajar.
tapi nak ingatan papa sudah berkurang, jadi...."
"Kalau ingatan papa sudah berkurang, biar aku yang ajari" ucap Daffi menyeringai.
Ia tahu jika Arjuna hanya memberikan alasan, padahal ia tak mempelajarinya
"Astaga anakku sendiri menyiksaku" gumam Arjuna dalam hati
"Papa ingat, satu jam lalu ada anak kucing yang menjilat papa" ucap Arjuna melirik pada kedua putranya.
ia harus memanfaatkan itu untuk membungkam kedua putranya, salah sendiri kecil-kecil sudah bisa menindas orangtuanya.
__ADS_1
"Kucing dari mana mas??? kenapa kamu kasih masuk, aku alergi bulu" ucap Ayudia pada suaminya
"Owh itu, kucing tetangga, kucing kepala hitam" ucap Arjuna menahan tawa, sementara kedua putranya melotot tak suka mereka di samakan kucing.
"Kakak ipar, anakmu membully ku" adu Willy memasang wajah melas
"Kau lebih besar dari si kembar, apa kau bisa kalah dari mereka???? jangan bercanda.
cepat cuci muka dan gosok gigi lalu makan bakso mu.
tadi kakakmu beli bakso.
kau memberi contoh buruk pada keponakanmu jam segini baru bangun" cerocos Ayudia membuat telinga Willy rasanya bengkak
"Iya, iya," ucap Willy berjalan lalu berhenti sejenak di depan Arjuna
"Kak, apa kakak ipar selalu cerewet begitu??? aku menduga kau masuk ikatan suami-suami takut istri hahaha" ucap Willy menggoda kakak sepupunya sebelum berjalan ke kamarnya
Arjuna nampak tak suka melihat Willy tertawa
"Ternyata benar, hahaha aku turut berduka untukmu kak" ucap Willy meledek Arjuna
"Benar apanya??? apa kau tak sadar? mulutmu bau spitank menguap, cepat gosok gigi Mahendra Willy" teriak Arjuna menutup hidungnya
"Hahahaha" si kembar tertawa sampai guling-guling, begitu juga Ayudia tak kuasa tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi malu Willy.
Emillia menutup mulutnya menahan tawa
"Kau menyebalkan kak, pantas ketiga anakmu seperti iblis kecil" ucap Willy langsung berjalan ke kamarnya dengan wajah merona merah
"Sayang, kau jahat sekali" ucap Ayudia menghapus air matanya
"Aku bicara kenyataan, apa anak itu makan bangkai, bau sekali mulutnya" ucap Arjuna yang langsung membungkam mulutnya sendiri karena melihat ayudia melotot
Setengah jam kemudian Willy sudah mandi dan berganti pakaian, ia lngsung memakan bakso nya, Ayudia sengaja memanaskan kembali bakso jatah untuk adik iparnya itu.
Anak-anak terlihat sedang bermain PlayStation dengan Emillia, sementara Arjuna menyesuaikan pekerjaannya di ruang kerja. di meja makan hanya tinggal Ayudia dan Willy
"Kak, kemana mama??? apa ke pasar lagi sendirian???"
"Mama di kamar, tiduran"
Willy langsung menghentikan makannya dan berdiri
"Mau kemana kamu, habiskan dulu makan mu"
"Pasti mama gak enak badan, aku mau lihat" ucap Willy yang langsung di tekan bahunya sehingga terduduk kembali
Ayudia lalu menceritakan semuanya, Willy hanya mengangguk dan sekali-kali memegang dagunya berfikir.
"Aku akan membantu mama, aku juga khawatir pada mamaku itu. di lain sisi aku juga suka pada Emil, dia gadis yang ceria.
Akan buruk jika kak William di jodohkan dengan gadis yang kalem, kerupuk ketemu air ya meletoy" ucap Willy memberi perumpamaan aneh
"Apa sih kamu gak jelas, cepet makan baksonya, William sedang dalam perjalanan"
"Siap kakak ipar ku yang cantik" ucap Willy
Setengah jam kemudian William sampai, kebetulan Willy habis memakan baksonya dan matanya memerah hingga menangis
"Willy, apa mama baik-baik saja???" tanya William melihat adiknya menitikkan air mata
Willy tak menjawab, ia menggeleng dan mengibaskan tangannya berkali-kali membuat William salah paham dan ia bergegas menuju kamar Ratna, mamanya
"Huaaah sial kepedesan, kenapa tuh orang langsung kabur, padahal gue kepedesan.
Gak sopan nanya tapi di tinggal pergi sebelum di jawab" gerutu Willy meminum lagi es teh manisnya.
"Om william mengira Kakak nangis karena keadaan nenek.
om ngaca sana, muka om merah, mata merah berair kaya sedih gitu" ucap Daffa menggelengkan kepalanya
"Serius bocil???"
"Om aku punya nama ya, jangan lupa om kalah taruhan" ancam Daffa
"Iya nih bocil, bocil aja.
om belum tahu aja bocil jaman sekarang bisa bayar om-om" ucap Daffi sombong
"Cil, cil bergaya hahahhaa" ucap Willy mengacak-acak rambut kedua ponakannya
"Ish om berantakan, kasih paham dia Daffi, dasar botu, botu"
"Apa tuh Botu???tanya Willy memiringkan kepalanya
"Bocah Tua hahahaha" keduanya kompak menertawai Willy
"Kalian ya masih kecil aja bergaya"
__ADS_1
"Om kalau kami kasih paham jangan shock ya, kami takut om shock serangan jantung dan lewat" ucap Daffa melirik adiknya
"Gak apa kak, sekali-kali bocah tua nakal harus tahu, ingat om resiko om tanggung sendiri ya???"ucap Daffi tersenyum licik.
"Siapa takut, lagi bocah ****** kaya Kalian punya rahasia apa sih?" ejek Willy
"Ok, ikut kami ke kamar" ucap Daffi dan Daffa
Willy dengan patuh mengekor keponakanya tersebut
Setelah mengunci pintu kamar, Daffa membuka laptopnya, lalu membuka laporan keuangan, di sana tertulis twoD corp
"Trus??? " tanya Willy masih meremehkan
"Apa aku harus juga kak???" tanya Daffi mau pamer juga
"Tentu, separuh separuh biar om Willy gak muntah" ucap Daffa yang di balas tawa renyah Daffi
"Dasar bocah edan" ucap Willy menggelengkan kepala
"Daffi langsung memasang kacamata khususnya, ia langsung menghubungi asisten ya, mereka bercakap-cakap memakai bahasa Mandarin, setelah itu memakai bahasa Inggris, lalu menyerahkan kacamata itu pada Willy , memintanya memakainya.
betapa terkejutnya ia melihat beberapa orang sedang duduk di sebuah ruangan dan memandang ke arahnya.
Vincen lalu memperkenalkan diri nya pada Willy dengan bahasa Inggrisnya yang fasih.
Bola mata Willy membulat sempurna saat vincen dengan lugas mengatakan jika Daffi adalah pemilik perusahaan. willy mengenali pemuda itu, ia masuk dalam sebuah majalah bisnis sebagai pengusaha muda berbakat di bidang real estate dan pariwisata.
Willy melongo , kini gantian Daffa melakukan video call dengan Axel, bola mata Willy kembali membulat sempurna.
sama halnya dengan vincen, pemuda di depannya itu terkenal sebagai pengusaha muda sukses di bidang teknologi,
Bruuughhhh
Willy pingsan tak sadarkan diri
"Kak, apa kita terlalu membuatnya terkejut???" tanya Daffi yang di balas Daffa dengan mengangkat bahunya tak perduli.
Mereka lalu membuatkan Willy teh hangat lalu mengoleskan minyak angin.
Tadinya Daffa ingin meletakkan kaus kaki Daffi , namun Daffi merebutnya dan menyembunyikannya
"Kau terlalu kejam dengan om Willy"
"Siapa suruh manggil aku bocil terus" ucap Daffa santai
sepuluh menit kemudian, Willy sadar, melihat dua iblis kecil yang imut itu menyeringai, Willy kembali pingsan
"Ah Cemen sekali " ucap keduanya serentak.
Hingga ketiga kali Willy sadar namun kembali pingsan membuat keduanya sepakat mengabaikan saja, om nya tak tertolong!!!!
Keduanya malah sibuk membahas tentang latar belakang Emillia, dan Jimmy Chou.
namun akhirnya mereka menetapkan target mereka pada mama tiri papa mereka, wanita yang hampir membunuh mama mereka.
Sebagai anak, Daffa dan Daffi berkewajiban membantu kedua orangtua mereka membalas dendam.
Willy sudah sadar dari pingsannya dan beringsut duduk di pojokan tempat tidur, ia menatap ngeri pada kedua ponakannya, terlebih mendengar pembicaraan mereka beberapa saat lalu, mereka tidak seperti anak kecil.
"Siiii...siapa kalian sebenarnya???" tanya Willy tergagap
Daffa maju tiba-tiba dan mengigit tangan Willy
"Awwwwww, apa kau kurang daging???"
"Ya kami kurang daging dan akan memakanmu hidup-hidup" ucap Daffa kesal, sementara Daffi tertawa kencang
"Kak kau makin menakuti om Willy.
om kami ponakanmu, hanya saja sebuah insiden saat kami dalam kandungan, membuat otak kami diatas rata-rata. kami terlahir super jenius" ucap Daffi menjelaskan
"Benarkah???"tanya Willy terkejut
"Tentu saja, lalu menurut om apa kamu kerasukan, dasar aneh. Cepat sini om, kamu lagi membahas masalah Tante Emillia, kita harus menahannya agar tak pergi, kakak tirinya itu bajingan, ia masuk dalam daftar hitam perdagangan anak dan wanita."
"Apa kau bilang??? serius???"
"Tentu saja, baca sendiri data yang di kirim vincen padaku"ucap Daffi menyodorkan laptopnya
"Bagaimana kalian bisa dapat informasi ini???"
"Ah om, kami gak mau bahas dulu, pelan-pelan nanti om akan tahu, kami khawatir jantung om loncat hahaha"
"Dasar bocah aneh" cibir willy
"Om yang aneh lah, ya kan Daffi"
"Yoi" ucap Daffi mereka berdua beradu telapak tangan.
__ADS_1
Willy tersenyum, mereka benar ponakannya.