
Taksi yang membawa Jovanka akhirnya sampai juga di bandara, supir taksi membantu Jovanka mengeluarkan travel bag berukuran kecil dari bagasi taksi nya, setelah mengucapkan terima kasih, Jovanka langsung menarik travel bag nya , terlihat di kejauhan Willy melambaikan tangannya pada Jovanka, di sampingnya ada seorang gadis cantik yang tersenyum ramah menyambut kedatangan Jovanka
"Kak Jo, " panggil Willy
"Sudah dari tadi??"
"Baru sepuluh menit, aku senagaja berangkat lebih awal kak. Oh ya ini Susan, orang kita yang akan mendampingi di sana" ucap Willy mengecilkan suaranya diujung kalimatnya
"Hai salam kenal Susan"
"Salam kenal Bu Jovanka" ucapnya sopan.
Jovanka sudah tahu sebelumnya jika Baskoro akan menepatkan karyawan terpercayanya di dekat Jovanka
"Kakak gak usah khawatir Susan orang papa langsung, dia bisa melindungi kakak dan bisa diandalkan"
"Mohon bantuannya ya Susan" ucap Jovanka ramah
"Siap bu, tinggal katakan saja ibu perlu apa , insha Allah saya siap membantu"
"Itu, panggil saya Jagan pakai ibu, hehe saya agak risih"
Jovanka memang tidak begitu suka di panggil ibu oleh bawahannya, ia merasa lebih enak di panggil mba agar lebih akrab saja
"Baik mba Jovanka" ucap Susan canggung setelah mendapat anggukan persetujuan Willy
"Itu si bos sudah sampai dengan beberapa staf, ayo kita sapa" ajak Willy menghampiri rombongan Arjuna
Setelah lalu bersama-sama masuk ke dalam bandara
Dua jam kemudian mereka sampai di sebuah pulau yang masih asri, Jovanka menghirup udara yang sejuk itu. mereka langsung menuju Hotel yang sudah di persiapkan, setelah meletakkan semua barang-barang, mereka akan makan siang dulu lalu bersiap menuju tempat dimana resort itu akan di bangun.
Setelah makan siang selesai, mereka semua bersiap ke lokasi, team di bagi menjadi beberapa kelompok dan semua Willy yang atur
"Willy, Jovanka ikut dalam mobilku" ucap Arjuna begitu semua team sudah di dalam mobil
"Maaf bos, Bu Jovanka ikut team saya dan Faisal serta Susan"
"Apa kau mau melawan ku Willy???" tanya Arjuna tak senang, entah mengapa ia tak suka Jovanka terlihat akrab dengan Faisal, manager keuangan di perusahannya, Faisal merupakan anak dari sahabat papanya, ia menggantikan papanya yang sudah mengabdi lama di perusahan mereka
"Bukan begitu bos, Jovanka kan tugasnya mencatat semua yang kurang dan bos minta dia menuangkan idenya" ucap Willy berusaha sekuat tenaga memisahkan Jovanka dari kakak nya
""Kau pindah dengan Rendy,"
__ADS_1
"Kak kau gak bisa begitu dong, ini gak feat" protes Willy kesal hingga ia memanggil Arjun kakak
"Kita sedang kerja, disini kau bawahan ku" ucap Arjun tersenyum penuh kemenangan
"Sial, dasar pria licik, lebih baik aku depak Faisal biar dia dengan Rendy,. daripada aku yang harus pindah team, bisa-bisa papa menggantung ku.
menuruti Arjuna papa akan murka, menuruti papa Arjun bisa membuatku sengsara di kantor, buah simalakama.
Papa sama anaknya sama-sama kejam" gerutu Willy menatap kesal pada Arjuna
"Faisal, kamu pindah ke team pak Rendy karena CEO kita mau ikut team ini" ucap Willy menekankan jabatan Arjuna membuat Arjuna mendelik tak senang
"Ah baik pak" ucap Faisal terlihat pasrah, ia ingin protes tak bisa karena yang memintanya CEO dari perusahaanya bekerja
"Silahkan anda masuk pak" ucap Willy tersenyum manis lalu membukakan pintu mobil di samping supir
semua orang yang berada di mobil memandang ke arah Arjuna dengan terpaksa ia masuk kedalam mobil dengan muka di tekuk, niatnya ia ingin duduk di samping Jovanka dan Willy tahu benar maksud kakaknya itu, ia tak mau memberi celah pada kakaknya untuk dekat dengan Jovanka, ia khawatir Jovanka akan teledor dan membuka jadi dirinya tanpa ia sadari, dan itu belum saatnya.
Terakhir Willy naik dan tersenyum penuh arti, Jovanka yang sejak tadi menahan nafas baru bisa bernafas lega setelah Willy naik dan duduk di sampingnya menggantikan Faisal yang beberapa saat lalu duduk dengannya.
"Willy, thanks" ucap Jovanka berbisik"
William tak berani menjawab, ia hanya tersenyum dan memberikan jari jempol dengan tangan di bawah, Jovanka hanya mengangguk dan tersenyum kecil
Arjuna juga sangat sibuk, ia yang awalnya ngotot satu team dengan Jovanka akhirnya malah sibuk mondar mandir melihat dan mengecek semua pekerjaan pembangunan resort.
Tak terasa waktu sudah sore, mereka semua langsung kembali ke hotel makan dan makan malam lalu kembali ke kamar,
Jovanka baru ingat jika ia melupakan janjinya mengabari ketiga anaknya, ia segera mengambil ponselnya untuk menelpon mereka.
Ia melihat banyaknya pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari si kembar dan Bu Ratna, Jovanka sudah membuat mereka kecewa.
"Assalamu'alaikum Bu maaf tadi Jo lupa kabari ibu, bagaimana anak-anak Bu??"
"Wa'Alaikum salam, ya gak apa-apa nak, itu anak-anak terus merengek Karen kamu belum menghubungi mereka
"Nenek apa itu mama???? tanya Daffa di ujung telepon
"Atu mau mama, mamaaaa" teriak Davina langsung merebut ponsel Bu Ratna
"Hallo sayangnya mama" ucap Jovanka begitu melihat ketiga anaknya yang berebut menerima video call darinya
"*Mama, mengapa mama lupa mengabari kami, tahu kah mama jika kami sangat khawatir denganmu" ucap Daffa dengan muka sedih
__ADS_1
"Maafkan mama ya anak-anak, mama tadi sampai langsung ke lokasi resort, dan baru pulang beberapa waktu lalu" ucap Jovanka menyesal
"Ma, apakah di sana dekat laut??? apa lautnya indah???" tanya Daffi penasaran
"Sangat indah dengan pasir putih, apa kalian mau suatu saat kita ke pantai???"
"Mau, mau" jawab mereka serentak
"Ma, mama halus Cali papa dulu baru kita ke pantai" ucap Davina membuat kedua saudaranya menoleh padanya
"Kenapa harus mencari papa dulu???, dasar aneh" cibir Daffi pada adiknya
"Atu mau di Gendong papa di atas punggung kaya si Lala " ucap Davina menunduk dengan wajah hendak menangis.
Jovanka terkejut mendengar permintaan putrinya, ada rasa perih terasa melihat kesedihan di mata Davina.
Hanya Davina yang sering meluapkan kesedihannya karena tak memiliki papa, sementara Daffa dan Daffi lebih pandai menyembunyikan perasaan mereka rapat-rapat, walau Jovanka yakin keduanya juga merindukan kasih sayang seorang papa.
Kini setelah tahu jika suami sahnya yang juga sekaligus papanya anak-anak bisa membuat Jovanka sedikit lega, namun juga khawatir jikalau suatu saat rahasia keberadaan Si kembar membuat pria itu menolak mengakui mereka anaknya.
Sejauh ini ia tahu jika suaminya belum menikah lagi sejak ia menghilang dari rumah, namun pernikahan mereka bukan berdasarkan cinta, entah alasan apa yang Arjuna pegang sampai membuatnya hingga detik ini belum mencari pengganti dirinya, satu hal yang Jovanka yakini, pertama karena ia memang tipe penyendiri dan tidak suka ikatan dan kedua dia tidak normal!!!!
"Lala???" tanya Jovanka lirih seakan bertanya pada dirinya sendiri
"Lala teman sekolah kami ma, dia kemarin pergi dengan papanya, mungkin memamerkan foto liburan mereka" terang Daffi. sementra daffa seperti seorang kakak yang dewasa memeluk adiknya dan mengelus kepalanya dengan lembut
"Ah baiklah, mama janji akan membawa kalian dengan papa kalian"
"Atu mau papa sendiri" ucap Davina dengan mata memohon. awalnya Jovanka akan meminta Adrian menemaninya liburan, namun entah apa yang sedang di pikirkan Davina dan dari mana pikirannya hingga sampai meminta papa kandungnya yang ikut, apa???...
"Daffa, Daffi, apa kalian mempengaruhi adik kalian ???"
"Enggak ma, kami gak melakukan itu" sangkal Daffi
"Aku juga gak ma, tapi ...."
Daffa teringat ucapan Daffi tadi pagi yang sedang membahas papa kandung mereka.
"Itu ....mungkin Davina mendengar percakapan kami" ucap Daffa lirih karena takut melihat mata tajam Jovanka
"Percakapan??? percakapan apa? cecar Jovanka
"Itu, itu.....ma.ma..Mama pergi dengan papa kandung kami...."
__ADS_1
"Apaaaaa??????” Jovanka sangat terkejut hingga bola matanya seakan hendak keluar, bagaimana bisa mereka tahu??? darimana mereka mengetahui jika ia pergi dengan Arjuna*?