
Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, Ayudia di perbolehkan untuk pulang, Jacky dengan setia menunggu di halaman parkir mobil, ia terlihat sedang serius mengetik sesuatu di ponselnya, hingga saat Ayudia mendekat, ia langsung mematikan ponselnya dan langsung memasukkannya ke saku celananya.
"Apa sudah selesai?" tanya Jacky sudah tidak formil lagi.
Ayudia jengah jika Jacky masih memperlakukan nya seperti seorang nona besar, walau pada kenyataannya memang demikian.
Ayudia mengancam Jacky, jika ia masih kaku, Ayudia akan meminta kakeknya untuk mengganti orang yang mengawalnya
Jacky tak mau itu terjadi, karena jika ia di ganti, nama baiknya dan kinerjanya buruk karena tak mampu menjaga Ayudia.
Ayudia hanya meminta Jacky bersikap seperti teman, karena ia merasa risih jika terlalu di hormati, ia hanya ingin orang di sisinya memandang ia sebagai Ayudia bukan sebagai seorang cucu konglomerat, itu sangat tidak nyaman. Ayudia sudah biasa hidup sederhana, terlalu banyak hal mengejutkan dalam hidupnya, ia hanya ingin hidup sederhana, kekayaan yang ia miliki bukan berarti ia harus berubah menjadi orang lain.
Namun bagaimanapun Angelo keberatan, karena ia cucu satu-satunya, pewaris yang sah yang akan mewarisi semua harta kekayaannya, dia juga anak tunggal sehingga otomatis semua harta yang Adhi dan Angelo menjadi miliknya, walau Adhi tidak sekaya Angelo, namun bisa di pastikan jika kekayaan papanya tak akan habis di makan tujuh turunan.
Awalnya Jacky menolak, namun begitu Ayudia mengatakan jika di depan kakeknya Jacky akan bersikap biasa baru Jacky setuju, walau hati nuraninya sebagai seorang bodyguard menolak, namun ia bisa apa? daripada reputasinya rusak gara-gara cucu bos besarnya itu menolak ia kawal
"Sudah. ayo kembali ke kantor"
"Baik nona" ucap Jacky sopan
"Jack????"
"Baik " ucapnya canggung, Ayudia hanya bisa mengulum senyum.
Jacky membukakan pintu untuk Ayudia, lalu mobil melaju meninggalkan halaman kepolisian.
sepanjang jalan Jacky terus melirik Ayudia yang duduk di kursi penumpang, ia sedikit mengerutkan alisnya tanda memikirkan sesuatu
"Kalau mau bertanya, bertanya saja Jack" ucap Ayudia yang menangkap kelakuan Jacky
"Kelihatan ya?" tanyanya menggaruk kepala
"Iya lah, sejak tadi kamu mencuri lihat ke arahku"
"Maaf, saya cuma penasaran" ucap Jacky nyengir
"Penasaran?? tentang?"
"Saya melihat kakak anda, ah mantan kakak tiri anda keluar dari kantor polisi, kemudian selang sepuluh menit kemudian, mantan ibu tiri anda keluar sambil mulutnya terus memaki, apa..."
"Ya mereka bertemu saya di dalam Jack, saya bisa melindungi diri saya sendiri , terlebih itu di tempat umum, kantor polisi lagi, mereka tidak cukup gila untuk menyakiti saya"ucap Ayudia tersenyum
"Saya tak yakin kadar kegilaan mereka tidak cukup membuat mereka nekad.
seseorang jika sudah terdesak akan melakukan apapun, terkadang logika mati!!!" ucap Jack tersenyum pahit
"Aku akan ingat itu, terima kasih sudah memperingati ku"
"Nona, maksud saya Ayudia, sudah kewajiban saya menjaga anda, karena saya bodyguard anda" ucap Jacky frustasi Ayudia menganggap santai
"Hahaha, kau perlu banyak rekreasi agar tak selalu tegang Jack, nikmati hidupmu juga walau kau berprofesi sebagai pengawal, kau bukan robot.
aku akan mengandalkan kamu kedepannya.
__ADS_1
tapi aku memang tak suka di kekang atau hidup terlalu kaku, begini lah aku.
Aku menghargai dan senang kau selalu melindungi ku, kakak tampan" goda Ayudia membuat wajah tampan Jacky bersemu merah
"Anda tak pernah serius" gerutu Jacky memilih menutup mulutnya, walau di hatinya ia sangat senang.
Ayudia tertawa terkekeh berhasil mengerjai Jacky, pria ini memang terlalu kaku.
wajahnya selalu tegas tanpa senyum padahal pemuda bule ini sangat tampan.
sayang sekali hanya sebagai tangan kanan kakeknya, jika saja ia bekerja di kantor, sudah pasti ia akan menduduki posisi penting.
Ayudia tahu dari Khadijah, walau Jacky orang bodyguard , ia telah menyelesaikan pendidikan di akademi dengan nilai sangat memuaskan.
Mungkin jika kondisi sudah stabil, Ayudia akan memintanya bekerja di perusahaannya, bukan sebagai bodyguard lagi, Jacky juga perlu kehidupan normal.
Sejak mengetahui masa lalu Jacky dari khadijah, hati Ayudia tersentuh.
kakeknya lah yang membawa Jacky dan membesarkannya, Jacky adalah korban kekerasan dalam rumah tangga yang di lakukan pamannya.
Jacky kecil selalu di siksa dan di paksa bekerja di jalan oleh pamannya, sementara kedua orangtuanya sudah meninggal, harta kekayaan kedua orangtua Jacky sudah habis di pakai pamannya untuk judi dan mabuk-mabukkan, dan yang paling mengenaskan adalah kedua orangtuanya meninggal karena ulah pamannya.
Ayudia mengerti mengapa sebelumnya Jacky mengatakan "Saya tak yakin kadar kegilaan mereka tidak cukup membuat mereka nekad.
seseorang jika sudah terdesak akan melakukan apapun, terkadang logika mati!!!" karena kejahatan yg pernah ia alami di depan matanya dan tak kenal saudara.
"Jack, masuklah ke dalam ruangan ku..
Ayudia sudah duduk di kursi kerjanya, sementara Jack hanya berdiri di didepan meja kerjanya
"Jack duduklah di sofa itu, aku akan meminta bantuan mu mengecek"
"Saya bisa dengan berdiri"
"Apa bokongku bisulan?" tanya Ayudia menaikkan alisnya sebelah
"Tentu saja tidak nona, sembarangan"
"Jadi duduklah dengan patuh, atau..."
"Baik, terserah anda" ucapnya pasrah sambil berjalan kearah sofa.
Ayudia tersenyum lebar melihat Jack patuh.
Ia lalu mengambil laporan keuangan yang baru di perbaiki, ia perlu orang menggantikan Aurel yang tinggal menunggu hari di keluarkan secara tidak terhormat.
membayangkan kedua anak dan ibu itu masuk bui, ayudia tersenyum dan sedih pada saat bersamaan, mengapa mereka tega berbuat itu hanya untuk harta?, tapi sudahlah, manusia menentukan jalan hidup mereka sendiri, mau hitam atau putih, mereka lah yang memilih.
Jika mau kaya maka berusaha sendiri jangan melakukan jalan pintas.
Ayudia menghampiri Jacky, terlihat pemuda itu sedang duduk gelisah dengan punggung tegang, Ayudia jadi tertawa dalam hati, kelakuan itu seperti putra-putranya yang sedang ia hukum merenung.
"Santai saja gak usah tegang" ucap Ayudia tertawa kecil
__ADS_1
"Mamaaaa, mama , mamaaaa" teriak tiga bocah kecil masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh Khadijah di belakangnya, rupanya Khadijah menjemput si kembar pulang sekolah tadi.
"Assalamu'alaikum mama, om" ucap ketiganya, mereka mencium punggung tangan Ayudia dan berhenti di depan Jack sambil mengerutkan alisnya
"Wa'Alaikum salam sayang-sayang nya mama"
" Om, apa kamu sedang di hukum mama merenung???" tanya Daffi dengan bahasa Portugal
Jacky sedikit terkejut cicit majikanya bisa begitu bagus berbicara bahasa negaranya, namun ia ingat jika Daffi memiliki IQ diatas rata-rata mungkin saja ia cepat belajar bahasa dari kakek buyutnya.
"Tidak aku hanya sedang bersantai" jawab Jacky menggaruk kepalanya yang tak gatal
"Daffi, apa yang kalian bicarakan??? bersikaplah seperti anak kecil pada umumnya" ucap Ayudia kesal, ia merasa anaknya itu terlalu pintar dan ia sendiri tak bisa
"Ma, apa kau sedang menghukum Jack?" tanya Daffa menuduh Ayudia
"Mama tak boleh menghukum om ganteng" teriak Davina
Fix, semua jadi salah paham karena gestur tubuh Jack yang kaku saat duduk.
"Astaga anak-anak, Jack sudah dewasa, dia bukan anak mama juga, buat apa mama menghukumnya????" ucap Ayudia
"Mengapa Jack duduk di sana?" tanya Khadijah makin memperkeruh
"Ma,.dia duduk di sana karena ku pinta"
"Mama menghukumnya nek" ucap Daffa membuat Davina mau menangis, tanpa Ayudia sadari ia mengedip kearah Daffi
"Jangan hukum om ganteng mama" ucap Davina dengan mata memerah
"Daffa jangan kau bertingkah seperti kau juga tahu apa yang adikmu dan Jack bicarakan" ucap Ayudia pusing karena anaknya menuduhnya
"Jack, ikutin permainan kami atau aku akan minta kakek menggantimu, kau tahu? kakek buyut dan nenek buyut sangat mudah di bujuk" ucap Daffa tersenyum anak sulung Ayudia tersebut berbicara dalam bahasa Portugal juga.
Jack merinding sendiri di buatnya, Cicit bos nya lebih menyeramkan, ia bahkan bisa tersenyum saat mengancam
"Apa kau bisa bahasa Portugal juga???tanya Ayudia rasanya mau pingsan karena frustasi
"Tentu saja, kami bisa, apa mama pikir Davina tidak bisa???"
"Om tampan tunggu aku besar ya" ucap Davina dengan bahas Portugal, membuat Jack menelan Saliva nya sulit, gadis kecil ini, apa yang ia pikirkan, sekecil ini....
"Sepertinya hanya kau yang tak bisa sayang, apa perlu mama panggilkan guru les untuk mengajarimu bahasa Portugal???"
"Mama, jangan memojokkan ku di depan anak-anakku" bisik Ayudia memelas
Khadijah yang tau cucunya sengaja mengerjai mamanya hanya bisa mendukung, ia sangat senang melihat ekspresi Ayudia yang tak berdaya
Mereka berlima malah sengaja berbicara Portugal sementara Ayudia pura-pura sibuk memeriksa berkas di meja kerjanya, namun lama kelamaan ia jadi merasa asing, ia jengkel sendiri.
Angelo sudah memanggilkan guru bahasa Portugal untuknya, tapi ia menolak,kini ia baru menyesal dan bertekad akan belajar agar bisa.
Tapi darimana kedua anaknya bisa bahasa Portugal, apa......???????
__ADS_1