
"Tante, apa kau mau menolong kami atau tidak???" ucap Daffa mulai kesal karena wanita itu malah sibuk selfie-selfie sendiri, kadang memeluk mereka erat, membuat Daffa jengah
"Uhm kemana kalian pergi??? oh ya, nama Tante Adinda kalian siapa?"ucap adinda mengulurkan tangannya berkenalan
”Da... mpphhmmm" ucap davin karena di bekap Daffa
"Maaf tidak baik berkenalan dengan orang asing" ucap Daffa langsung membekap mulut Davina yang lancar berbicara tanpa tahu kapan berhenti
"Anak manis, Tante akan membantumu mencari mamamu, tak ada salahnya kan tante nanya nama kamu.
Kalau gak kenal maka gak tahu.
Tante bukan orang jahat, nih lihat KTP Tante" ucap Adinda gemas pada pria kecil yang nampak dominan dari yang lainnya, Adinda bangga dengan bagaimana mama mereka mendidik mereka, waspada dengan orang asing, namun Adinda juga menyayangkan mengapa mama mereka membiarkan anak-anaknya berkeliaran tanpa pengawasan
"Aku daffa, dia adikku Daffi dan ini Davina adik bungsuku" ucap daffa mengenalkan semua orang
"Lalu si cantik ini siapa???" tanya melihat satu anak yang tidak di sebutkan namanya oleh Daffa
"Mauren ,pacar Daffa" ucap Mauren membuat Daffa melotot kesal
"Dasar gila" gumam Daffa membuat Adinda tertawa kecil melihat interaksi anak-anak ini
"Baik, kalian mau kemana???"
"Ini" ucap Daffa menyerahkan sebuah kartu nama yang ia ambil di buku telepon di rumah, kartu nama yang sengaja Jovanka tinggalkan untuk Bu Ratna jika ia tak bisa di hubungi di ponselnya
"Ini perusahaan tempat Tante bekerja" pekik Adinda terkejut, ia tak pernah tahu jika karyawan di perusahaannya memiliki anak kembar, tiga lagi.
Karena Adinda karyawan lama, sudah pasti ia hampir mengenal semua staf disana
"Beneran Tan???" tanya Daffa dan Daffi bersamaan
"Iya, ayo anak-anak Tante anter" ucap Adinda menggiring keempat bocah itu menuju mobilnya, ia terkekeh sendiri karena merasa seperti guru taman kanak-kanak
Hanya butuh setengah jam mereka sudah sampai di sebuah gedung menjulang tinggi
Terlihat Mauren menaikan alisnya sebelah
"Daffa, apa kau yakin ini perusahaan tempat mamamu kerja???"
"Tante apa benar ini perusahaan di kartu nama itu???" tanya Daffa balik bertanya pada Adinda
"Iya betul Kenap sayang????, Tante kan kerja disini"
"Ini kantor kakek ku" ucap Mauren sombong
__ADS_1
"Jika ini kantor kakek mu, ini juga bisa jadi kantor papa kami" cibir Daffi asal
"Sudah-sudah ayo Tante bantu tanya resepsionis" ucap Adinda menggandeng tangan Daffa, namun Daffa menghindar
"Maaf Tante kata mama gak boleh sembarangan menggandeng wanita" ucap Daffa berusaha menjelaskan takut Adinda tersinggung
"Hahaha pria kecil, benar di larang main gandeng wanita, tapi kau masih kecil, jadi biar Tante gandeng agar kalian tidak tersesat" ucap Adinda dengan gemas mencubit pipi Daffa membuat Daffa tak suka, ia paling benci di perlakukan seperti anak kecil, walau pada kenyataanya dia memang masih kecil.
"Pagi mba Dinda, siapa nih?? anak kamu ya?"goda seorang rekan kerja Adinda
"Sembarangan, tapi kalau anaknya cakep dan tampan gini siapa yang mau nolak coba" ucap Adinda membayangkan punya anak kembar tiga
"Din, siapa Nih???? Masya Allah mereka kembar???? lucunyaaaa" teriak teriak Kayla senang
"Ya Allah imutnya mereka, Tapi mba lihat deh wajah anak lelaki kecil ini, kok kaya si bos ya??? ucap Airin memperhatikan Daffa dan Daffi
"Eh iya juga ya, kaya duplikatnya, tapi versi mini" ucap Adinda baru menyadarinya
"Asal jangan sifatnya aja yang sama kaya bos kita itu,, tampan tapi dingin" ucap Kayla menambahkan
"Psstttt, bosan kerja si Kayla" ucap Airin meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya
"Adinda, apa kau kerja ke kantor bawa anak atau kau sedang studi tour anak TK?" suara seseorang yang tak asing bagi mereka bertiga, seseorang yang mereka benci, siap lagi kalau si sok cantik dan berkuasa, Yenny.
"Mampus deh si macam datang Din, gue cabut duluan" ucap Kayla dan Airin langsung ambil langkah seribu sebelum kena daripada si perawan tua yang cerewetnya amit-amit
"Anu, ini apa???gak jelas, awas kamu kerja main-main saya adukan atasan biar rasa kamu di pecat"Ancam Yenny
"Tuh kan mulai jurusnya, mentang-mentang dia keponakan si bos, hobby nya memamerkan kekuasaan, gak sama divisinya gak sama divisi Lin, sok Yes banget, pantes gak kawin-kawin" umpat Adinda dalam hati
"Siapa di Tan??? kaya nenek lampir kejam" " Ucap Daffa setengah berbisik pada Adinda
"Siapa nenek lampir???" tanya Yeni marah karena ucapan Daffa terdengar olehnya.
Daffa langsung diam, memasang wah datar tanpa takut menatap wanita setengah tua itu
"Itu ibu salah dengar, anak ini bilang cuma mampir, iya mampir" ucap adinda nyengir kuda
"Ku pikir saya tuli????" bentak Yeni marah
Tiba-tiba seorang karyawan divisi promosi dan pemasaran datang dengan tergopoh-gopoh
"Bu, Bu Yeni gawat, syuting kita terancam gagal, padahal ini sudah yang kesekian kalinya model tidak bisa datang karena berbagai alasan, date line seminggu lagi, kita gak punya cukup waktu lagi kalau bukan hari ini" ucap seorang karyawan
"Kenapa hal begini penting batu kamu laporkan ke saya, dasar gak becus. cepat hubungi segera atau kita cari penggantinya"
__ADS_1
"Model itu masuk rumah sakit hari ini, kita juga agak sempat cari lagi modelnya, susah tidak sempat, kita di kejar deadline" ucap karyawan tersebut panik membuat Yenny mendengus kesal.
Bola mata karyawan itu lngsung berbinar cerah begitu melihat objek yang bisa menyelamatkan mereka
"Itu, pakai anak-anak itu, " ucap karyawan itu tiba-tiba terlintas ide begitu melihat empat bocah imut dan menggemaskan disana
"Tidak bisa, mereka kesini mau mencari mama mereka" ucap Adinda tak setuju
"Kenapa mencari disini??? apa kau pikir disini penitipan anak???”
"Aku akan membawa mereka pergi" ucap Adinda tak mau bermasalah, karena jika mereka menjadi bintang iklan, itu harus dengan persetujuan orangtua mereka, dan saya ini mereka saja sedang mencari mama mereka, adinda tak mu di tuduh macam-macam karena dia yang membawa mereka, maka anak-anak menjadi tanggung jawab Adinda
"Apa mama kalian bekerja disini???"tanya Yenny tiba-tiba menyeringai lebar, ketiga anak itu langsung membalas dengan anggukan
"Tante jahat" bisik Mauren pada Davina
"Ren-ren kenal?" tanya Davina di balas anggukan Mauren, pantas saja sejak kedatangan Yenny, Mauren memilih memakai topinya dan menunduk bersembunyi di belakang Davina
"Anak-anak, Tante akan membawa kalian mecari mama kalian, tapi sebelumnya bisa bantu Tante???" tanya Yenny berusaha lembut
"Bantu apa???" tanya Daffi menaikan sebelah alisnya
"Jadilah model untuk produk anak-anak yang akan segera launching,"
" bayarannya?" tanya Daffa langsung membuat Yeni tercengang, mengapa anak kecil ini bertanya blak-blakan
"Kak, kita tidak bisa menerimanya, takut mama marah" bisik Daffi memperingati kakaknya
"Tenang saja begitu mama melihat uangnya, dia akan memaafkan kita, apa kau lupa mama pernah bilang suka uang???" tanya Daffa membuat Daffi berfikir sejenak lalu mengangguk lesu
Padahal kenyataannya bukan seperti itu maksud Jovanka kala itu, waktu anak nya merengek meminta Jovanka tidak bekerja, Jovanka mengatakan mereka butuh uang, dan mereka bertanya mengapa Jovanka giat bekerja, ia berseloroh bahwa ia suka uang, dan jadilah si kembar berfikir mama mereka matre.
"Sepuluh juta" ucap Yeni mengucapkan sebuah nominal
"Itu terlalu murah Tante, aku mau Tante buatkan surat perjanjian kerjasamanya diatas materai, dan jika Tante memakai kami bertiga, masing-masing dua puluh lima juta" ucap Daffa membuat Yenny melongok dan tertawa terbahak-bahak, bagaimana bocah sekecil itu bisa sangat perhitungan dan pintar
"Sebentar, wajah anak ini mengapa mengingatkanku pada Arjuna???? dan ada dua Arjuna kecil???? apa mereka kembar?? 1,2,3,4???? apa kembar empat???" gumam Yenny dalam hati
"kalau gak mau gak masalah Tante, kami mau mencari mama kami lagi" ucap Daffa menarik ulur umpan agar Yenny menariknya
"Bagaimana jika enam puluh juta, aku hanya pakai tiga model saja, oke??? ayo kita ke tempat syuting" ajak Yenny langsung berjalan, namun si kembar tidak bergeming dari tempatnya
"Surat kontrak dulu, baru kerja, kami anak kecil yang takut di tipu" ucap Daffa dan di Angulo kembarannya
"Astaga, darimana sifat seperti ini di usia masih hijau.
__ADS_1
Cepat buatkan surat kontrak, aku mau sepuluh menit sudah ada di sini"ucap Yenny pada karyawan divisinya