(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Pencarian


__ADS_3

Baskoro kembali di larikan ke rumah sakit, a mengalami serangan jantung untuk kedua kalinya, Ayudia terus mengomeli suaminya karena teledor membicarakan hal yang penting di halaman belakang, terlebih sesuatu yangs sensitif menyangkut sebuah perasaan dan status.


Arjuna terus menunduk diam, ia tak membalas atau menyahut Omelan istrinya, ia menyadari semua kesalahannya.


Sementara di tempat lain


Sebastian sedang berdiri di sebuah rumah yang lumayan besar, ya rumah yang Deswita beli dari tunjangan perceraiannya dengan Baskoro.


Saat menekan Bella rumah seorang asisten rumah tangga keluar dan mengenalinya, ia langsung mempersilahkan Sebastian masuk


"Kemana wanita itu" tanya. Sebastian enggan memanggil mama.


panggilan itu tak layak untuk wanita seperti Deswita.


"Anu den , wanita siapa ya?" tanya asisten rumah tangga itu bingung, alih-alih menjawab, Sebastian hanya melirik ke arahnya


"Ah nyonya sedang tidur di kamarnya den" ucap asisten rumah tangga tersebut


Ia merasa merinding melihat sorot kemarahan dan benci di mata anak majikannya itu.


"Jam segini??? bahkan babi yang pemalas pun sudah bangun mencari makan, apa yang dia lakukan belum bangun jam segini???"


"Anu den, nyonya baru pulang jam setengah empat dini hari" ucap nya lirih


"Baik, terima kasih" ucap


"Den, anu den maaf... sebaiknya biar bibi aja yang bangunkan" ucap wanita paruh baya tersebut


"Biar saya saja bi" ucap Tina namun lagi-lagi asisten rumah tangga berusia paruh baya tersebut menghalangi Tian dengan gelisah


"Apa bibi berusaha menutupi sesuatu??? apa yang ada di dalam sana???


"Anu den , maaf jangan menyusahkan bibi, bibi cuma pembantu" ucap wanita paruh baya tersebut


"Aku akan memberi kompensasi jika wanita itu memecat bibi"


"Maaf ...." Tian menjadi tak sabar, ia awalnya menghormati wanita situ, namun ia terus di halang-halangi


Sebastian langsung menendang pintu kamar Deswita sebanyak dua kali lalu terbuka, nampak Deswita yang tertidur tanpa pakaian dan di sebelahnya seorang pria yang tertidur pulas


"Ti...tiannnn" Deswita terkejut bukan main, ia tak pernah menyangka putranya akan datang ke rumahnya sepagi ini, ah sudah siang, ia kelelahan


"Sayang mama bisa jelaskan" suara Deswita bergetar ketakutan, Sebastian akhirnya melihat sisi kelamnya


Sebastian tak menghiraukan mamanya yang menghalanginya, ia mendorong Deswita hingga terjatuh. Dengan wajah penuh amarah, Sebastian menghampiri pria asing yang masih tertidur di ranjang mamanya, seolah tak terganggu dengan suara bising


"Bangun loe b*j*Ng*n , b"*ngs*t" sumpah serapah Sebastian keluar, ia memukuli pria itu membabi buta, pria yang mungkin usianya lebih muda dari mamanya, seperti seumuran Willy.


Sayangnya pria itu masih dalam kondisi mabuk dan kelelahan sehabis pergulatan semalam dengan Deswita, sehingga ia hanya pasrah tak melawan saat Sebastian memukulinya membabi buta, Sebastian seperti kesetanan.


Deswita berusaha melerai, namun tenaga. sebagian yang besar membuatnya terhempas, ia bangkit dan melerai lagi, namun Sebastian terus memukuli pria itu kalap


Hingga akhirnya Deswita terhempas cukup keras dan dan terantuk meja, darah segar mengalir di pelipis nya


"Sayang lepaskan, dia bisa mati" ucap Deswita lirih takut sebastian akan membunuh pria simpanannya dan ia merasa nyeri di pelipisnya


"Kau....


kau ...


Aku merasa malu memiliki mama sepertimu.


mengapa kau melahirkan ku ke dunia?? kau hanya memberiku penderitaan dan rasa malu"Teriak Sebastian meraung sambil menangis


"Maafkan mama nak, kamu tidak dilahirkan untuk menderita, papamu akan memberimu warisannya, papamu akan membagi dua warisannya dengan Arjuna nak"


"Warisan?????" Sebastian tertawa terbahak-bahak di sertai dengan air mata.


Warisan??? apa mamanya gila??? dia bahkan bukan anak Baskoro, bagaimana mamanya bisa berfikiran ia mendapatkan warisan.


"Nak jangan seperti ini sayang, mama takut melihatnya" bulu kuduk Deswita berdiri, ia melihat putra kesayangannya seperti sosok yang asing di matanya.


Ia tak mengenali Sebastian lagi.


"Apa mama gak pernah sedikitpun berfikir tentang aku??? Aku ....


Aku ingin mati ma, aku tak punya siapa-siapa.


Sejak awal aku memang tak ingin warisan papa dan kini aku tak akan pernah mau.


Apa mama pikir aku gak tahu??? aku bahkan bukan anak kandung papa, entah pria sembarang mana yang mama tiduri hingga melahirkan aku.


Aku anak haram yang mama selundupkan untuk menjadi anak papa.


Aku hancur ma...


Mama yang membunuhku secara perlahan


mama yang menghancurkan aku, anakmu sendiri.

__ADS_1


Sekarang kau puas???? kau mau apa lagi.


Berapa banyak lagi yang harus ku tahu tentangmu ma???


Mungkin jika aku tidak tahu keburukan mu, aku hanya menganggap mama gila uang, tapi kau wanita iblis.


aku memiliki mama seorang wanita kejam.


kau bahkan membunuh istri pertama papa, membunuh mama Wiliam, membunuh dokter Anggara papa kak Sam,....


Kau Dajjal berwajah wanita.


Aku muak, aku muak dengan semua!!!!!!!


Aaaaarrrrggghhhhhhhh" Sebastian membanting semua barang yang ada di kamar mamanya, ia bahkan menonjok kaca meja rias Deswita hingga pecah, darah mengucur di sela jari tangannya.


Deswita shock, ia sangat ketakutan dan juga khawatir pada Putra kesayangannya


"Maafkan mama sayang, maafkan mama" ucap Deswita meraung memohon


"Jika kau merasa bersalah, terima hukumannya dengan ikhlas , serahkan dirimu pada yang berwajib" ucap sebagian lalu pergi tanpa menoleh ke belakang


"Sebastian, Tiaaannm, tidak, tidak jangan tinggalkan mama, mama tidak bisa hidup tanpamu nam, maafkan mama.... Tiaaaaannnnnnnn" teriak Deswita.


Namun Tian sudah menulikan pendengarannya, ia terus berjalan keluar dari rumah Deswita.


Di luar hujan deras, seharian terus berjalan tanpa arah, ia sudah tak memiliki tujuan hidup.


Dulu Sebastian hanya berfikir jika mamanya licik dan ingin menguasai harta suaminya, namun setelah semua terungkap betapa mengerikan mamanya, sebastian tak punya tujuan hidup lagi, ia hanya anak haram, anak yang tak jelas asal usulnya.


Sebastian menangis dalam derasnya air hujan waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam, ia terus berjalan tak tentu arah, ia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah, hingga akhirnya ia tergeletak tak sadarkan diri.


Seorang wanita menemukanya dan meminta beberapa.ormag membantunya membawa Sebastian ke dalam rumah, mereka lalu memanggil dokter dan membersihkan serta menjahit tangan Tian.


mengganti pakaian Tian dengan yang kering.


Sementara di kediaman Angelo.


Ayudia terus menangis memikirkan nasib Sebastian, ia menyayangi adik-adik suaminya seperti adiknya sendiri.


"Sudah dong sayang, kasian si Dede kalo kamu nangis terus, kami juga masih mencari Tian"


"Ini semua karena kamu gak berpikiran panjang"ucap Ayudia terus menyalahkan Arjuna membuat kepala Arjuna serasa mau pecah.


Davina yang melihat mamanya terus menangis segera masuk kamar, ia meminta anak buahnya bergerak mencari Sebastian.


tak lupa juga Davina mengirim foto Sebastian.


Davina melihat Ayudia yang masih menangis, mungkin juga karena pengaruh hormonnya yang membuat ia lebih sensitif.


Davina memasukkan obat berbentuk tablet , obat itu mudah larut dalam air, sehingga. hanya lima detik obat itu sudah berbaur dengan air.


tidak berwarna, tidak berbau, sehingga tak akan ada yang curiga jika ayudia meminum obat penenang.


Davina sudah memperkirakan dosisnya aman dengan kondisi mamanya yang sedang hamil muda


"Mama, mama minum dulu airnya" ucap Davina menyodorkan segelas air putih pada mamanya


"Terima kasih sayang" ucap ayudia menyeka air matanya, Ayudia segera meneguk air putih tersebut, ia sangat kehausan karena menangis lama.


lima menit kemudian, Ayudia terlihat mengerjapkan matanya


"Pa, biar aku jaga mama, mama mengantuk" ucap Davina mengusir Arjuna.


Arjuna hanya mengerutkan dahinya lalu berjalan keluar.


Papanya terlihat kusut.


Sudah enam jam sejak Sebastian pergi, belum seorangpun yang bisa menemukan keberadaanya.


Di tambah Baskoro harus terkena serangan jantung ke dua kalinya, semuanya menjadi kacau


Davina menutupi tubuh mamanya yang kelelahan dengan selimut, ia turun dari ranjang dan berjalan menuju kamarnya


Tak berbeda dengan Davina, kedua kakaknya juga sedang sibuk mencari keberadaan Sebastian, mereka juga mengerjakan anak buahnya mencari Sebastian di setiap sudut kota, namun hasilnya masih nihil.


Keesokan harinya


Ayudia sudah terbangun sejak subuh, semalam ia merasa tidur dengan pulas sehingga mood nya lebih baik, hanya kepalanya yang terasa berat, mungkin karena terlalu banyak menangis.


semua orang sedang makan di ruang makan, tak ada pembicaraan yang terlontar, wajah mereka semua terlihat lesu dan lelah karena semalaman tak tidur


Pagi ini setelah sarapan, Davina langsung menuju kamarnya untuk memantau informasi terbaru, dan bertepatan dengan Agatha yang menelponnya.


Seperti biasa, Davina akan mengaktifkan fitur wajah dewasanya dan duduk dengan santai di depan meja rias


"Pagi bos, kami menemukan jejak om Bos, ternyata dia di tolong seorang gadis panti, kini pria tersebut masih berada di sana" ucap Agatha melaporkan


"Terima kasih Agatha, beritahu semua yang terlibat, aku akan memberikan bonus untuk kerja keras kalian" ucap Davina yang di balas anggukan Agatha

__ADS_1


"Bos, mau tanya"


"Satu pertanyaan sejuta"ucap Davina cuek


"ASTAGA BOSSSSS, anda sudah kaya, masih saja materialistis"


Davina menaikan sebelah alisnya melirik Agatha sekilas


"Be..becanda bos" ucap Agatha kecut


"Mau tanya apa?"


"Kalau suruh bayar mending saya Telen aja sendiri" ucap Agatha memajukan bibirnya kesal


Davina melirik lagi dan Agatha gelagapan


"Iya ,iya, om bos masih muda sekali, mana tampan lagi.."


"Agatha Anastasya apa kamu sedang membuang waktuku"


"Mana saya berani, saya kan cuma pengagum cowok ganteng, kaya bos enggak aja" gerutu Agatha lirih


Davina melotot pada anak buahnya


"Temui aku di tempat biasa, kita ke lokasi" ucap Davina lalu mengaktifkan gas tidur, dalam gas itu ia bubuhkan pelupa ingatan dalam dosis yang sangat sedikit sehingga aman, namun kamar tidur mamanya tidak, Davina tak mau berdampak buruk pada bayi dalam kandungan mamanya.


sebelum pergi Davina juga mengaktifkan robot mini nya yang akan menjawab jika ada orang yang memanggilnya.


dan mengaktifkan hapus CCTV pada jam dimana Davina keluar.


Setelah keluar dari gerbang, sebuah mobil sport berwarna merah sudah menunggunya, seorang pria menyerahkan kunci sambil menunduk hormat.


Davina langsung naik ke dalam mobil dan melaju membelah kemacetan Jakarta.


Ia hanya berhenti di sebuah cafe, seorang wanita cantik melenggak-lenggok keluar dari dalam cafe, pakaiannya yang kontras dengan kulit putih susunya membuatnya menjadi pusat perhatian.


Di tambah wajahnya yang cantik dengan rambut pirang dan mata hijau, terlihat sangat mencolok.


Namun begitu Davina keluar dari mobil, semua mata lebih berdecak kagum pada Davina.


Davina hanya memakai kaus putih di padu dengan legging dari kulit berwarna hitam dan jaket hitam di padu dengan sepatu boot se betis, di hidungnya yang mancung bertengger kacamata .


begitu ia membuka kaca matanya, ia memancarkan aura lebih dominan dari Agatha, aura sombong, dan elegan dengan sorot mata tajam.


"Bos, kita mau ke dalam atau..."


"Bawa mobil, kita langsung," ucap Davina melemparkan kunci ke arah Agatha, ia segera berjalan menuju kursi penumpang di samping supir.


Agatha berdecak kecil, namun ia segera bergegas sebelum Davina bersuara lagi.


Satu jam kemudian mereka sudah berada di sebuah rumah tua dengan halaman yang amat luas, di depan pintu masuk terdapat plang nama sebuah yayasan yatim piatu.


Davina langsung berjalan mendahului Agatha, ia melihat seorang anak kecil yang sedang bermain dan menghampirinya


"Adik cantik, boleh Tante tahu di mana ruangan kepala yayasan??" tanya Davina dengan suara lembut


Agatha Sampai tersedak Saliva nya sendiri, karena untuk pertama kalinya, ia mendengar bosnya berbicara lembut, Davina hanya melirik ke arah Agatha dengan acuh, Lalu berjalan mengikuti anak kecil tadi


Sebuah ruangan di ketuk, lalu muncullah seorang wanita tua dengan kacamata tebal tersenyum


"Siang Bu, perkenalkan saya Davina, dan ini sahabat saya Agatha" ucap Davina memperkenalkan diri


"Siang, Sumiati, silahkan masuk" ucap perempuan itu memperkenalkan diri


Sebuah ruangan sederhana dengan bangku ukiran Jepara yang sudah usang menghiasi ruangan kepala yayasan tersebut


"Maaf ada keperluan apa adik-adik ke yayasan kami, ada yang bisa ibu bantu?" tanya Bu Sumiati


"Begini Bu, kami sedang mencari orang," ucap Agatha


"Saya mencari om saya, beliau pergi dari rumah karena Masalah keluarga kami, sudah semalaman om saya tidak pulang, kami semua khawatir dan yang terpenting, kakek saya sedang di rumah sakit kritis "


"Ibu ikut berduka ya nak. Tapi di sini panti asuhan, isinya hanya ada anak-anak dan balita" ucap Bu Sumiati


"Bu saya percaya om saya berada disini.


mungkin ibu berfikir jika om saya sudah tua, tapi usia kami sama" ucap Davina membuka galery dan menyerahkan ponselnya pada Bu Sumiati


"Sebenarnya pria itu semalam pingsan di depan pintu panti, ia terluka di tangannya, ada pecahan beling di sana.


Kami sudah memanggil dokter dan menjahit lukanya,


dia meminta kami tidak memberitahu keberadaanya, maafkan ibu" ucap Sumiati serba salah


"Boleh saya menemuinya Bu, saya perlu bicara empat mata dengannya"


"Itu..."


"Please Bu" ucap Davina mengatupkan kedua tangannya memohon. Sumiati terlihat mempertimbangkan permintaan Davina, ia tak tega karena sebagai orangtua ,ia pasti juga akan sedih jika anaknya pergi.

__ADS_1


"silahkan ikuti saya, "


__ADS_2