(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Pingsan


__ADS_3

Sesampainya di sebuah taman kanak-kanak, Jovanka langsung keluar dari mobil meminta William menunggunya sebentar, tak lama ia kembali dengan tiga orang anak, satu wanita yang sedang dalam gendongannya, sementra dua pria kecik berjalan beriringan di sisi kanan dan kirinya


"Ya Tuhan....." Ucap william tanpa sadar karena terkejut


"Ma, kita naik mobil ini???" tanya Daffi ketika Jovanka membukakan pintu mobil untuk anak-anaknya


"Iya sayang, kita pulang diantar om William, ayo beri salam pada om William" ucap Jovanka lembut kepada ketiga anaknya


"Assalamu'alaikum om, salam kenal" ucap ketiganya lirih karena William menatap mereka sambil membelalak matanya, Davina mengira jika William memelototinya.


padahal William lebih terkejut lagi setelah melihat wajah ketiga anak Jovanka, kedua putra Jovanka mengingatkannya pada seseorang yang amat ia kenal, tidak mungkin itu putra dari dia......


"Ma, atu takut, omnya melotot" ucap Davina bersembunyi di dada Jovanka


"Will tolong kondisikan matamu, kamu membuat anak-anakku takut" ucap Jovanka membuat William tersadar, ia terbatuk-batuk pelan mengusir rasa terkejut dan canggungnya, ia menjadi sangat penasaran tentang Jovanka atau Ayudia kakak iparnya itu, William tak sabar mencari tahu pada Jovanka, namun ia urungkan karena ini bukan saat yang tepat melihat tatapan permusuhan dari salah seorang putra Jovanka


"Hallo anak-anak, kenalkan nama om William" ucap William menyodorkan tangannya


"Ma, pria ini terlihat mesum dan tidak bisa di percaya" ucap Daffa membuat William tersendak air liur nya sendiri,


"Daffa, tidak baik menilai orang dari luarnya, om William ini keluarga kita" ucap Jovanka dengan berat hati


"Jadi dia om nya Davina ma???" tanya si bungsu menatap mamanya meminta penjelasan


"Iya sayang, dia om nya Davina" ucap Jovanka membuat Davina memberanikan diri menyambut tangan William


"Davina" ucapnya lalu buru-buru menarik tangannya dan kembali memeluk Jovanka


"Daffi" ucap Daffi singkat lalu langsung masuk dan duduk manis, sementra Daffa seolah mengibarkan bendera perah pada William, mengingatkan William tentang seseorang yang sifat dan wajahnya sama persis


"Astaga Daffa, cepat balas perkenalan om William, tidak sopan pada orang tua, mama tidak mengajarkan seperti itu


"Daffa, om jangan macam-macam pada mamaku, aku menuruti mama bukan berati menerima kehadiran om" bisik Daffa lirih tanpa Jovanka dengar, karena Jovanka sedang membuka pintu depan untuk dia dan Davina duduk


Tanpa sadar William mengangguk, ia melihat dari kaca spion tatapan membunuh Daffa putra dari adik iparnya itu


"Ya Tuhan , bagaimana anak sekecil itu memiliki sifat iblis seperti Arjun dan lagi, wajah mereka mengapa sangat mirip???

__ADS_1


Apa sebelum pergi Arjuna sudah melakukannya dnegan Ayu??? aku bisa gila memikirkan ini.


Ayudia kau harus menjawab semua pertanyaan ku" gumam William dalam hati


"Will, William, kok malah bengong, ayo cepat sebelum jam makan siang berakhir, aku yakin kamu juga belum makan siang kan???" ucap Jovanka membuat William sadar dari lamunannya dan tersenyum bodoh.


Ia langsung menyalahkan mobilnya dan meninggalkan sekolahan tersebut menuju rumah sewaan Jovanka dengan arahannya.


Hanya menempuh perjalanan lima belas menit mereka sudah sampai di depan rumah sewaan Jovanka,


terlihat Bu Ratna turun menyambut kedatangan Jovanka


"ayo kita makan siang dulu, ini rumah yang aku sewa" ucap Jovanka sementara ketiga buah hatinya sudah berlari mendekati Ratna, mereka berebutan untuk bersalaman dengan Ratna dan langsung masuk ke dalam rumah sambil berlari kecil, sementara Daffa hanya berjalan santai, ia tak tenang membiarkan mamanya bersama pria yang baru mereka kenal.


"Aku tak mau merepotkan" tolak William walau sebenarnya lambungnya sudah bernyanyi Karena lapar


"Ayolah, masakan ibu enak, bahkan bos mu saja ketagihan" ucap Jovanka


William akhirnya turun, ia langsung mengikuti langkah Jovanka, terlihat ketiga anak Jovanka sudah melepas pakaian merek, lalu cuci tangan, mereka dengan tertib masuk ke kamar dan mengganti pakaian mereka.


Ratna yang sedang membereskan kekacauan anak-anak langsung mendongak menatap Jovanka dan tamunya


"Mmmmmmaaamaaaaa????" ucap William terkejut, lalu bruk, tubuh besar William menghantam pintu, ia hilang kesadaran.


Jovanka beruntung menarik tubuh pria itu sebelum menghantam lantai


"Ya Allah kenapa adik ipar mu nak???" tanya Ratna panik


"Gak tahu Bu, tolong bantu aku singkirkan bantal-bantal di sofa itu, aku akan membaringkannya,


Dengan susah payah Jovanka dan Ratna setengah menyerat William lalu ia menidurkannya di sofa panjang di ruangan itu, sementara Bu Ratna sibuk membawakan minyak angin dan membuatkan teh hangat untuk William


"Apa kita perlu memanggil dokter nak??" tanya Bu Ratna panik


"Enggak usah Bu, dia cuma sedikit terkejut" ucap Jovanka yang di balas anggukan kecil Ratna.


"Sebenarnya apa yang kau lihat Will?? aku mendengar mu memanggil Bu Ratna mama.

__ADS_1


Apa Bu Ratna mama mu??? bagaimana mungkin?" gumam Jovanka sibuk dengan pikiran nya sendiri


Sementara Bu Ratna sedang di ruang makan membantu si kembar makan


"Ma, apa dia mati??? kenapa dia tidak bangun-bangun, menyusahkan" gerutu Daffa tak senang


"Sayang tidak baik berkata seperti itu, mama tidak suka dan tidak mengajarimu bersikap tak sopan" ucap Jovanka memperingati putra sulungnya


"Mama juga belum lama mengenal pria ini, apa mama begitu saja percaya padanya?? mama bilang jika pria ini adiknya papa, selama ini mama menutupi papa dari kami, aku tak bisa percaya begitu saja, tugasku melindungi mama" ucap Daffa bertingkah dewasa, tak sesuai dengan usianya yang masih seujung kuku, ia tumbuh dewasa lebih cepat karena keadaan


"Sayang, dia beneran adik nya papamu, kamu harus menyayangi dan menghormatinya, mama sangat bangga padamu karena kamu tumbuh pintar dan bisa diandalkan, namun mama yang seharusnya melindungi kalian karena kalian masih kecil" ucap Jovanka lembut, mengelus puncak kepala putra sulungnya


"Aduh" rintih William yang terbangun dan merasa sakit di kepala belakangnya akibat terbentur


"Akhirnya dia bangun juga ma" ucap Daffa


"Dimana aku??" gumam William mengerjapkan matanya dan meringis kesakitan


"Ma, apa dia amnesia???" tebal Daffa membuat Jovanka melotot pada putranya yang biasa pendiam namun entah mengapa berubah cerewet sekali


"Nak, makanlah lebih dahulu, ada yang perlu mama bicarakan dengan om mu" ucap Jovanka yang di balas anggukan kecil Daffa, anaknya langsung bergabung dengan dua saudaranya.


Terlihat mereka berbisik dan menatap ke arah Jovanka dan William, entah apa yang Daffa katakan


"William, apa kau baik-baik saja???" tanya Jovanka


"Ayu, apa yang terjadi,.kemana wanita tua itu, dimana dia?? tanya william berusaha bangkit


"Duduklah kau baru saja pingsan, sebenarnya apa yang terjadi???? kau tahu badanmu seperti kuda Nil susah kami mengangkat mu, kamu berat sekali" gerutu Jovanka


"Jadi karena itu kau menyeret ku??" tanya William yang melihat sepatunya masih tergeletak di depan pintu, sedang satunya masih setia di kakinya


"Eh itu, hehehe" ucap Jovanka menggaruk kepalanya yang tak gatal dan nyengir


"Salah sendiri pingsan gak pake bilang-bilang" gerutu Jovanka tanpa rasa bersalah, William melihat celana hitamnya kotor karena terseret


"Astaga wanita ini, bagaimana orang pingsan bisa bilang-bilang lebih dulu" gumam William menepuk keningnya sambil menggeleng

__ADS_1


__ADS_2