
Baskoro sehabis menerima telepon William menjadi kesal, kali ini ia berjanji dalam hati akan memaksa William untuk menikah dengan wanita yang ia pilihkan, Baskoro akan memastikan William tidak bisa menolak lagi.
Seorang sekertaris mengetuk pintu ruangannya
"Ya Sania???"
"Diluar ada Bu Yenny, Emilia dan empat orang anak kecil, salah satunya non Mauren, Bu Anjani meminta mereka menunggu di dalam ruangan anda"
"Baik, persilahkan masuk" ucap Baskoro lirih tanpa semangat, bisa-bisanya ia di susahkan oleh adiknya di usianya yang sudah senja, adiknya tak ada bosannya mengganggu hidupnya.
Walau bagaimanapun, Baskoro sangat menyayangi adik semata wayangnya ini, hanya tinggal mereka berdua bersaudara, dan melihat Anjani hanya hidup sebatang kara setelah kepergian putri dan anak menantunya membuat hatinya sedih, beruntung si kecil Mauren bisa terselamatkan dalam insiden berdarah itu, sungguh kejadian yang memilukan.
"oh ya Sania tolong buatkan saya teh chamomile, sepertinya saya akan sakit kepala sebentar lagi"
ucap Baskoro yang di balas anggukan Sania
"Kenapa kamu belum keluar juga???" tanya Baskoro yang melihat sekretarisnya masih berdiri di tempatnya
"Anu pa, itu, apa pak Arjuna memiliki anak, maksud saya....
ah permisi pak" ucap Sania bingung berkata apa takut menyinggung Baskoro, ia masih mencintai pekerjaannya
"Ya Tuhan, mengapa semua orang hari ini membuatku pening, sepertinya aku harus berlibur setelah ini" gumam Baskoro lalu duduk di kursi kebesarannya, ia memilih membelakangi pintu masuk, mengatur emosinya sebelum para tamu tak di undang masuk ke dalam ruangannya
"Kakeeeekkk" teriak Mauren langsung berlari ke arah Baskoro, Baskoro yang sedang emosi pun langsung melunak begitu mendengar suara cucunya yang manja dan menggemaskan
Baskoro langsung menggendong dan menciumi pipi Mauren yang gembil
"Apa cucu kakek sehat??? sepertinya cucu kakek sudah besar sampai kakek gak kuat mengangkatnya
__ADS_1
"Dia bukan besar tapi gemuk,tumbuhnya ke samping" ucap suara seorang anak kecil laki-laki menyela obrolan kakek dan cucu nya itu
"Daffa, menyebalkan" gerutu Mauren membuang wajahnya ke arah lain, sementara Baskoro diam membeku menatap anak kecil yang berada di depannya, seorang anak kecil yang memiliki paras seperti anaknya , hanya anak ini versi mini dari Arjuna.
"Siapa anak kecil ini??? aku seperti melihat anakku sewaktu kecil, mengapa ia memiliki wajah sangat mirip dengan Arjuna??? apa dia anak Arjuna???? apa Arjuna mencari wanita lain di luaran dan wanita itu hamil???? astaga, bocah tengik itu, aku harus menghukumnya jika ia melakukan itu, aku memang sangat menginginkan cucu, tapi bukan dari sembarangan wanita, " gerutu Baskoro berkutat dnegan pikirannya sendiri
"Om, kami di minta sama Bu Anjani menunggu beliau di sini" ucap Yenny menyadarkan Baskoro yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ah masuk-masuk, silahkan duduk" ucap Baskoro dengan pandangan mata yang tak beralih terus memandangi Daffa
"Bukankah Sania bilang empat anak kecil??? aku baru saja membayangkan kebisingan yang terjadi, namun ini hanya ada dua anak kecil"gumam Baskoro berusaha terlihat biasa-biasa saja walau sebenarnya dalam hatinya ia gelisah dan bertanya-tanya, William harus menjelaskan semuanya, siapa anak ini???.
"Ayo silahkan di minum" ucap Sania meletakkan beberapa gelas dan soft drink untuk anak-anak, Baskoro melihat ada empat, apa sekertaris ya bermaksud memberi mereka masing-masing dua??? sepertinya Sania perlu di tegur setelah ini, batin Baskoro dalam hati, suasana canggung, Yenny maupun Emillia tak tahu harus berbicara apa.
"Assalamu'alaikum" ucap seseorang yang tak lain adalah Anjani dan William, William memilih berjalan di belakang Anjani, tak menatap kearah Baskoro karena ia tahu kini papanya sedang menatapnya dengan pandangan tajam, seakan ingin memakannya
hidup-hidup
"Anak manis, bagaimana kamu bisa kabur saat sekolah, itu bukan hal yang baik, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu, nenek dan kakek akan sangat sedih" ucap Baskoro berbicara sangat lembut pada Mauren, sementara Mauren hanya bisa menunduk merasa bersalah lalu tak lama terdengar isak kecil, ia menangis
"Hei kenapa menangis??? kakek sedang tidak memarahi mu, berhenti ya ank manis, jangan menangis" ucap Baskoro panik
"Dasar jahat, lepaskan Ren-ren" ucap seorang gadis kecil berlari dan memukul Baskoro dengan marah
Davina berlari begitu mendengar Mauren menangis
"Lepaskan temanku kakek tua" ucap Davina lantang, sementra Daffa menepuk jidatnya, dalam hal ini IQ nya yang diatas anak rata-rata sudah bisa menyimpulkan siapa pria yang sedang dipukuli oleh adik bungsunya, siapa wanita yang selama ini mereka kenal sebagai Oma dari Mauren ternyata Oma nya juga dari kakeknya, kenapa semuanya begitu rumit dan kebetulan sekali, seperti sebuah rencana Tuhan yang sudah di siapkan untuk kehidupan mereka setelah mereka pindah dari kota
Baskoro yang sedang menenangkan Mauren terkejut melihat seorang gadis kecil lain yang terlihat marah, tapi wajahnya sangat cantik seperti boneka Barbie hidup dengan bulu mata lentik dan bola mata berwarna biru safir, indah dan sempurna
__ADS_1
"Gadis kecil kamu siapa???"tanya Baskoro lembut
"Lepasin teman atu" ucapnya berkacak pinggang
"Davinaaaa, kenapa kau meninggalkan kakak??? awas saja kalau kau minta ke toilet lagi aku tidka akan mau mengantarmu" teriak Daffi yang berlari mengejar Davina, ia terlihat mengatur nafasnya yang tersengal-sengal
Baskoro yang melihat kedatangan Daffi terlihat bingung, ia melihat anak laki-laki kecil itu masih duduk manis di tempatnya, lalu.....????
"Kembar, mereka kembaaaarrr" pekik Baskoro dalam hati tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya
"Ah Yenny, besok temui saya di ruangan saya, kita harus membahas masalah kesalahanmu dalam membuat kontrak tanpa sepengetahuan orangtua mereka, sekarang kamu bisa kembali keruangan mu"
Terlihat wajah tak suka namun Yenny Tetang berusaha tersenyum dan mengangguk, ia meninggalkan ruangan itu dengan tak senang, ia belum mendapatkan semua yang bisa dia laporkan pada tantenya.
"Sial, aku seperti mengendus sesuatu yang janggal, ekspresi om seperti menahan sesuatu.
William sialan, kalau saja gue lama sedikit di sana, gue bisa dapat info lebih banyak, sayangnya anak angkat sialan itu selalu aja menggagalkan rencana gue" gerutu Yenny kesal
setelah kepergian Yenny, William dan Emillia bisa bernafas lega, ia memandangi ketiga anak kembar tersebut
"Tante bawel, tolong kakek ini menyiksa ren-ren" adu Davina pada Emilia, Emillia dengan wajah kaku menggaruk kepalanya yang tak gatal
"Anak manis, kakek sedang tidak menyakiti temanmu, Mauren hanya sedang merenungi kesalahannya, ya kan sayang???" tanya Baskoro pada cucu nya
"Iya, huhuhu, maafkan Mauren kek, nek, Mauren janji nggak nakal lagi" ucap Mauren masih terisak
"Davina, cepat minta maaf sama kakek" ucap Daffa yang sejak dari tadi memilih diam
"Kakek?????" tanya Daffi dan Davina serentak
__ADS_1
"Hei, walaupun aku sudah tua, aku baru punya satu cucu" ucap Baskoro tak senang di panggil kakek oleh anak orang lain
"Itu karena anda memang kakek kami, huh apa anda tidak melihat jika wajah kami seperti anak anda???" ucap Daffa santai membuat bola mata semua orang membulat, Anak kecil ini.....