(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Baskoro masih menunggu jawaban William, sementara William terlihat kikuk fans Erna salah, apakah ini saatnya ia mempertemukan mamanya dengan papanya??? entahlah, masih banyak yang mengganjal di hatinya, dan ia belum siap mengatakannya.


"Nenek yang mengasuh mereka pa" ucap William kemudian


"Jangan memakai sembarang pengasuh apalagi sudah tua, lihat cucuku ada tiga, apa kau mau membuat wanita itu mati kelelahan???"


"Papaaaaaa" William kesal papanya mengutuk mama kandungnya


"Kenapa? ada yang salah?? Will, anak-anak sebesar ini sedang aktif-aktifnya seperti katak yang melompat kesana kemari, bagaimana kamu bisa memberikan pengawasan cucuku pada seorang manula???"


"Aku bukan katak kek, kalau kami katak, kakek adalah kakek katak" ucap Daffi mencibir


"Bukan begitu sayang, kakek hanya memberi perumpamaan"


"Tapi atu gak melompat kek" tambah Davina yang sejak tadi diam


"Ah baiklah seperti kangguru"


"Kakek pikir kami punya kantung di depan badan kami??? Daffi masih protes


"Mungkin jika kita kangguru, kakek????...." Daffa tidak meneruskan ucapannya, ia sengaja menggantung kalimatnya


"Tirex" teriak Davina kencang, alih-alih marah Baskoro malah tertawa kencang.


Anjani yang melihat cucu keponakannya begitu pintar membalikkan ucapan Baskoro dalam hati puas, karena kakaknya ini memang seperti tirex galak dan kasar


"Ya Ampun cucu nenek pinter banget, sesuai sama sifat kakek mu" ucap Anjani yang sudah kembali dengan menggendong Mauren


"Ren-ren, sini" ajak Davina menepuk sofa di sebelahnya, namun ia menggeleng


"Jangan nangis ya, nanti cepat tua sepelti kakek" ucap Davina cadel


"Hahaha, Davina sayang, nenek sayang kamu" ucap Anjani makin senang


"Sepertinya kau senang sekali adikku sayang" ucap Baskoro penuh penekanan


"Om, ayo kita pulang, Daffi, Davina pamit sama kakek dan nenek" perintah Daffa, kedua adiknya langsung bangkit mengikuti Daffa.

__ADS_1


"Sebentar lagi, kakek masih kangen" ucap Baskoro sedih memeluk ketiga cucunya


"Kami rindu mama kami kek, lain kali kami akan main lagi"


"Bagaimana jika kakek ikut kalian pulang???" usul Baskoro


"Kami mau tidur siang, kalau ada kakek berisik" ucap Daffi langsung berjalan ke arah Anjani, sementara Anjani menahan tawanya, ia memeluk si kembar , rasanya kebahagiaan yang sudah lama sirna kini kembali menampakkan warnanya.


"Hati-hati di jalan ya, lain kali kami akan main kerumah kalian"


"Iya nek, nenek jaga kesehatan ya, kami pamit" ucap Daffa yang seperti ketua Genk menjawab ucapan Anjani dan Baskoro dengan lugas dan terkesan tua, seperti bukan anak taman kanak-kanak tapi anak sekolah menengah pertama.


Daffa langsung menggandeng saudaranya, Davina di tengah dan Daffi Menggenggam tangan Davina begitu pula Daffa, mereka bergandengan tangan, mungkin ini adalah dari apa yang jovanka ajarkan pada anak-anaknya jika di tempat umum harus bergandengan tangan agar tidak tersesat,


"Kak, aku juga mau pulang, aku lelang mencari Mauren seharian"


"Baik, hati-hati di jalan"


"Mauren sayang, jangan kabur lagi ya, biar nenek gak khawatir"


"Baik kek, Mauren pamit, Assalamu'alaikum"


kini tinggla ia sendirian di ruangannya, memandang bekas minum dan beberapa Chiki milik si kembar, hatinya merasa ada yang hilang.


"Aku harus mengirim orang juga untuk menjaga cucuku, jangan sampai Deswita tahu jika menantuku masih hidup, terlebih ia memiliki anak dari Arjuna, bisa-bisa Deswita akan melenyapkan mereka demi ambisinya yang gila. Surat cerai sudah di tangan, tinggal menyampaikannya pada wanita itu" gumam Baskoro,, ia meraih ponselnya dan terlihat menghubungi seseorang.


Sementara William sudah berada di lobby, ia melihat Emil yang menghampirinya


"Anak-anak" ucap Emil tak bisa menutupi rasa leganya


"Maaf Tante sudah membuat Tante khawatir" ucap Daffa untuk pertama kalinya bersikap lembut pada Emil


"Kalian sudah baik-baik saja sudah cukup, ayo kita pulang, Tante akan masakan steam boat dengan banyak daging dan bakso" ucap Emil langsung menggandeng Davina, mereka menaiki mobil William pulang ke rumah.


Willy dan Ratna sudah menanti kedatangan mereka, begitu turun dari mobil, si kembar langsung berlari ke arah Ratna, Ratna yang awalnya khawatir dan kesal hanya bisa menangis lega


"Nenek maafkan kami" ucap ketiganya menundukkan kepala

__ADS_1


"Sudah-sudah lain kali jangan begitu lagi, kabur dari sekolah itu tidak baik. Kalian membuat Emha orang cemas dan kelelahan mencari kalian, besok saat masuk sekolah, kalian harus meminta maaf pada Miss Dewi, beliau sampai pingsan tahu kalian berempat hilang" ucap Ratna mengelus puncak kepala si kembar bergantian.


"Iya nek"


"Sekarang kalian mandi dan ganti baju, nenek akan siapkan makanan untuk kalian, pasti kalian lapar kan???"


Si kembar dengan patuh masuk ke kamar mereka masing-masing dan langsung mandi,


"Bu, aku janji akan buatkan mereka steam boat, bagaimana kalau kit anakan steam boat saja, kebetulan bahannya sudah aku siapkan di kulkas" ucap Emil


"Baiklah nak, ibu sudah tidak ada tenaga lagi" Ryana mendesah sambil memijit kakinya sendiri


"Ma, lebih baik mam istirahat, biar Emilia yang memasak dengan saya" ucap Anabel yang baru saja tiba


"Baiklah, baiklah, mama serahkan pada kalian" ucap RNA melangkah masuk ke dalam kamarnya, sementara Willy, William dan Samuel terlihat sedang membicarakan sesuatu, mereka membahas tentang keberadaan si kembar yang sudah terekspos hanya tunggu waktu saja Deswita akan tahu, pasalnya kemiripan wajah Daffi dan Daffa dengan Arjuna sangat mirip mendekati delapan puluh persen.


Mereka memikirkan rencana untuk kedepannya dan tentang keberadaan Ratna yang hanya hitungan waktu saj Adi ketahui oleh Baskoro, mereka harus memikirkan hal yang terburuk sekalipun.


Pada akhirnya, Samuel memutuskan akan memasang beberapa kamera CCTV di beberapa sudut rumah dan beberapa yabg tersembunyi.


juga di dalam rumah, mengantisipasi lebih baik dari pada kecolongan.


Setelah satu jam kemudian akhirnya Arjuna sampai di depan rumah, Willy dan William mau tak mau bersembunyi di dalam, namun bodohnya mereka mobil mereka bertengger manis di halaman membuat Arjuna curiga


"Apa adik-adikku dirumah mu??"


"Itu aku tak tahu, aku km baru pulang" ucap Jovanka berusaha berbicara datar


"Lalu mobil itu???"


"Ah mungkin Emillia meminta bantuan mereka mencari anak-anakku" kilah Jovanka


"Aku sepertinya harus melihat apa yang mereka lakukan di sini" ucap Arjuna ingin masuk ke dalam rumah


"Bos, aku lelah, dan butuh istirahat.


Aku akan meminta mereka segera pulang begitu aku lihat" ucap Jovanka beralasan

__ADS_1


"Baiklah, semoga lekas sembuh" ucap Arjuna masih berdiri di depan gerbang rumah, Jovanka lalu masuk dan menutup gerbang rumah yang hanya sebatas dada orang dewasa itu, meyakinkan jika suaminya itu tak masuk saya ini, ia tak mau memikirkan yang lain, dalam pikirannya hanya satu, keselamatan si kembar, masalah kebenaran keberadaan merek, saat ini Jovanka belum siap.


Pada waktunya nanti juga semua akan terbuka, namun tidka saat ini, tubuh dan pikirannya sudah lelah,


__ADS_2