
Arjuna memilih pulang ke kediaman orangtuanya, Karena ia sekalian mengantar Vera dan Sarah yang menjenguk sore itu.
Arjuna sengaja menyuruh Deni supir keluarga mereka pulang terlebih dahulu karena ia memang sengaja akan mengantar adik kembarnya, sudah sangat lama mereka tak menghabiskan waktu bertiga, bukan hanya dengan Vera seperti yang biasa mereka lakukan.
Lagi pula ia rindu dengan Sebastian, adik bungsunya,sudah lama juga ia tak pernah bermain game dengan adik bungsunya tersebut,.
Sebastian atau yang akrab di panggil Tian, adik tiri dari pernikahan kedua Baskoro dengan Deswita
Sesampainya di rumah, mereka di sambut oleh seorang asisten rumah tangga yang sudah bekerja di keluarga Baskoro sejak Arjuna kecil .
Bik Atun, wanita paruh baya yang sabar dan penyayang yang juga pengasuhnya semasa ia kecil.
"Ya Allah den Arjuna apa kabarnya?? gimana kabar tuan??? apa sudah baik?" tanya bi Atun memberondong Arjuna dengan pertanyaan
"Alhamdulillah papa sudah baikan, dan Arjun juga baik bik, bibi apa kabarnya?" ucap Arjuna merangkul wanita paruh baya tersebut
"Alhamdulillah bibi baik den.
Ayo masuk, bibi buatkan juice Kesukaan den Arjuna ya?"
" Boleh bik, Makasih ya bi"
"Beres den" ucap bi Atun mengacungkan jari jempolnya
"Tian Kemana BI?"
"Ah den Tian mah paling juga lagi berenang jam segini, kalau gak ada ya di studio nya.
semenjak tuan gak di rumah, nyonya juga jarang di rumah. malah terkadang nyonya gak pulang"adu BI Atun
"Apa mama Deswita tak mengatakan kemana???
"Maaf den, saya gak tahu karena nyonya gak bilang" ucap bi Atun lirih melirik ke arah si kembar Sarah dan Vera yang menunduk sedih.
Arjuna lalu menghampiri keduanya dan mengelus kepala adiknya tersebut
"Vera, Sarah, kalian ganti pakaian dulu sana, kakak mau ke kamar Tian" Vera dan Sarah hanya mengangguk dan berjalan malas menuju kamar mereka masing-masing.
Arjun lalu berjalan menuju kamar Tian.
Arjuna sudah berdiri di depan kamar Sebastian,
baru saja Arjuna ingin mengetuk pintu kamar adiknya, lamat-lamat ia mendengar Sebastian sedang menelpon seseorang
"Ma, aku tak perduli harta papa. aku hanya ingin hidup damai"
"Please ma, jangan menyakiti saudaraku ma, setiap kau menyakiti saudariku apa kau pikir kau tam sakit??
jika tak ingat kau wanita yang melahirkan ku, sudah ku ...
Ma, please hentikan kelakuanmu selagi masih ada waktu.
aku tak mau kau seret dalam kegilaan mu. atau aku berhenti mengakui mama sebagai mamaku, demi Tuhan ma hentikan!!!!
Aku malu punya mama seperti mu!!!" ucap Sebastian lirih
"Aku memilih durhaka ma, aku tak mau melakukan yang mama minta, aku hanya ingin hidup sebagai musisi, aku tak butuh Harta banyak.
Ma...
ma....
aaaaaarrrrrrggggghhhh.....!!!!!!"
__ADS_1
Braaaakkk
Sebastian membanting ponselnya hingga hancur berkeping-keping
ia menjambak rambutnya dan mulai menangis
"Maaaa... kenapa hatimu kelam??? mengapa kau jahat sekali...." ucap Sebastian lirih.
Arjuna mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar adiknya, hatinya sangat terpukul mendengar ucapan Sebastian, tapi ia juga bersyukur Sebastian tak mengikuti sifat mamanya
"Ya Allah, mengapa wanita itu juga merusak anaknya sendiri??? ibu macam apa dia??? wanita itu tak pantas disebut ibu!!!!.
Arjuna duduk di anak tangga, ia menutup wajahnya dengan telapak tangan, membayangkan betapa hancur hati adiknya kini.
"Den, Kenapa den Arjun disini???” Tanya bi Atun yang melihat majikanya duduk lemas di anak tangga
"Bi, mengapa berat sekali cobaan yang menimpa keluarga ini??? hatiku sakit melihat adik-adikku menderita" ucap Arjuna dengan suara bergetar.
Bi Atun ikut duduk di anak tangga, ia ikut prihatin dengan kondisi keluarga majikannya itu, ia juga ikut merasakan apa yang Arjuna rasakan.
"Semua musibah dan kemalangan di keluarga ini bersumber dari satu orang, bibi sudah lelah melihat semua ini"
"Maksud bibi?, apa bibi tahu sesuatu?????" tanya Arjuna menatap wanita yang sudah merawatnya sejak kecil
"Bibi tahu semuanya, bibi diam karena seseorang mengancam anak bibi, sekarang dia sudah pergi dengan tenang dan bibi tak punya beban lagi, setidaknya inilah saat bibi menebus semua kesalahan bibi" bi Atun menghapus air mata yang menetes di pipinya
"Maaf bi, aku turut berduka.
Tapi bisakah bibi katakan semua yang bibi tahu???" ucap Arjuna memohon
"Pasti den"
"tolong ikut saya ke ruang kerja Bi, bibi jelaskan semuanya di sana. mari bi" ucap Arjuna berjalan di ikuti bi Atun.
Di dalam ruang kerja Bi Atun menceritakan semua yang ia ketahui, ternyata semuanya....
Arjuna mengepalkan tangannya erat, emosinya sudah tak tertahankan.
"Apa bibi mencurigai jika Sarah dan Vera bukan anak wanita itu????"
"Bibi sangat yakin karena bibi di rumah sakit.
bibi pernah ikut mengantar wanita gila itu periksa dan kandungannya bukan anak kembar.
tapi saat di ruangan persalinan mengapa jadi kembar? di tambah harusnya anak wanita itu prematur, namun bayi-bayi kembar itu cukup umur, itu yang bibi ketahui.
Mengenai kecelakaan mama den Arjuna, bibi tidak begitu tahu, namun ada seorang security yang tak sengaja melihat seorang pria teman dari wanita itu yang mendekati mobil dokter Anggara.
security itu bernama Pak Anton, beliau merasa bahwa kejadian itu tidak mungkin hanya kebetulan belakang, namun sehari setelah kecelakaan, ia mengganti beberapa pekerja di rumah, salah satu nya adalah pak Anton.
semoga beliau masih hidup bibi ada alamatnya di kampung"ucap bi Atun
Arjuna langsung memegang tangan bi Atun.
"Ya Allah terima kasih bi, Arjun akaan mencari alamatnya, semoga nasih berpihak pada kita"
"Main den, semoga masalah ini lekas selesai"
"Amin bik"
"Oh ya bi, aku mau menanyakan lagi sama bibi.
Apakah bibi tahu sesuatu tentang hilangnya Ayudia, istri Arjuna?"
__ADS_1
"Minah, minah lah yang membawa makanan itu ke kamar, menurut si Eneng bubur itu di racun" ucap Bi Atun dengan mimik sulit
"Eneng siapa maksud bibi?"
"Neng Vera den" ucap bi Atun berbisik
"Mengenai ini aku sudah tahu semua bi, Vera sudah mengatakan semuanya dan ia bersedia menjadi saksi.
aku hanya mencari saksi lain yang bisa menguatkan
"Minah den, dia orangnya"
"Apa bibi tahu rumah bik minah????" Atun menggeleng pelan
"Dia memilih keluar setelah kejadian itu, ia setiap malam menangis ketakutan den, jadi dia memutuskan keluar kerja, Minah meninggalkan rumah saat malam hari dan hanya meninggalkan surat untuk memberitahu bibi, pesannya bibi harus menutupi jika dirinya pergi dan jangan memberitahukan alamat kampungnya.
Tapi rupanya Minar kabur tidak ke kampungnya.
Bibi sudah pernah mencari ke kampung, namun menurut tetangganya, Minah hanya datang pas pemakaman orangtuanya, setelah itu ia pergi dari kampung itu.
Ibu Minah di temukan gantung diri, banyak warga yang tak percaya, namun tak punya bukti.
Setelah Minah pergi, menurut tetangganya beberapa pria datang lagi mencarinya, namun mereka mencurigakan karena mengacak-acak rumah Minah setelah itu pergi"
"Mereka pasti mencari keberadaan Minah untuk....." bi Atun mengangguk mengerti maksud icon Arjuna
"Membungkam Minah dan bisa jadi kematian ibu Minah bukan murni bunuh diri.
Arjuna merasa ini ...
Bagaimana Deswita bisa menyewa beberapa preman, apa latar belakang wanita itu sampai punya koneksi dunia hitam.
"Ini, bukan sebuah rencana yang bisa di jalankan sendiri.
Aku menduga wanita itu mempunya antek-antek di belakangnya atau dia punya seorang yang kuat, yang punya motif sama dengan dirinya.
Tapi siapa orang itu???
yang jelas Deswita dan orang itu sama-sama berbahaya"
"Bibi juga berfikir begitu den. Aden gak usah merasa bersalah jika menyeret wanita. itu ke penjara. wanita itu biang malapetaka.
Wanita itu sejak awal sudah memiliki niat jahat, kebaikannya hanya palsu, jadi den Arjuna jangan pernah merasa iba atau kasian padanya.
Terlepas dari si kembar dan Tian, bibi yakin jika den Arjuna menghukum ibu merek atas kejahatan-kejahatan yang mama mereka lakukan, mereka bertiga tak akan menyalahkan den Arjuna atau membenci den Arjuna."
"Apa bibi yakin itu??? kadang melihat adik-adikku, aku ragu melangkah BI.
Tapi setelah tahu kesalahan wanita itu fatal, aku merasa tak berdaya.
Di satu sisi aku ingin menghukumnya, di lain sisi ia khawatir dengan adik-adikku, bagaimanapun Deswita adalah mama mereka"
"Mereka tak akan menyalahkan den Arjuna, percaya sama bibi.
Bibi lebih mengenal merek. Memang Deswita adalah ibu mereka, tapi Deswita arak pernah berprilaku seperti seorang ibu" Arjuna mengangguk membenarkan ucapan bi Atun.
"Sebentar" ucap bi Atun,
Bi Atun keluar dari ruang kerja, sepuluh menit kemudian ia membawa beberapa barang.
Ini semua bukti kejahatan wanita itu" ucap bi Atun menyerahkan beberapa map usang, ponsel mangkuk dan alamat pak Anton"
"Bi ini???”
__ADS_1