
Seminggu sudah berlalu,Vera juga sudah kembali ke apartemen Arjuna, sementara Deswita hari ini baru di perkenankan pulang ke rumah.
Baskoro selama Deswita di rawat tidak membahas apapun mengenai rencananya bercerai dengan Deswita.
Walau Deswita sudah nekad bunuh diri, namun Baskoro tak akan begitu saja melupakan apa yang sudah terjadi, baginya memaafkan dan melupakan dua hal berbeda.
Memaafkan karena ada andil dirinya dari kesalahan yang di lakukan Deswita, semua tindakan Deswita merupakan reflek dari ketidakmampuannya sebagai suami, tidak berguna nya ia sebagai pemimpin sekaligus suami bagi Deswita, jadi Baskoro masih bisa memaafkan tapi tidak akan bisa melupakan apa yang terjadi.
Tanpa Deswita ketahui, Baskoro sudah mengurus perceraian mereka, rencananya melepaskan Deswita tidak berubah walaupun wanita itu sampai masuk ke rumah sakit karena percobaan bunuh dirinya.
Pagi itu setelah Arjuna mendapat kabar dari pengacaranya jika Baskoro sudah mengurus berkas perceraiannya dengan mama tirinya, Arjuna langsung menemui Baskoro yang saat itu masih di rumah
Arjuna tak tahu harus bagaimana, namun melihat sikap Vera, Arjuna takut jika perceraian kedua orangtuanya berpengaruh besar pada Vera, Arjuna takut Vera down dan mengira jika perpisahan kedua orangtuanya karenanya.
Ia harus berbicara dengan Baskoro empat mata.
bukan sebagai anak, tapi sebagai kakak dari Vera.
Sementara di kediaman Baskoro
Asisten rumah tangga yang menerima telepon dari Arjuna menyampaikan pada tuan besar mereka, jika putra sulungnya akan datang pagi ini.
Baskoro hanya mengangguk saat Asisten tersebut memberitahunya, ia hanya menatap foto keluarga yang berada di ruang kerjanya, lalu mengambil sebuah foto usang dari brankas rahasianya, foto yang hampir setiap ia memasuki ruang kerja nya ia pandangi lama.
"Harusnya aku membatasi diri, menjauhkan diriku dari Deswita, wanita itu juga yang menghancurkan hidupku
sehingga aku kehilangan dirimu” ucap Baskoro mengelus foto usang itu lalu kembali meletakkannya di brankasnya begitu mendengar suara ketukan pintu
"Tuan, Den Arjuna sudah datang" ucap asisten rumah tangga dari balik pintu ruang kerja
"Tunggu sebentar , saya akan keluar sebentar lagi" ucap Baskoro tanpa membuka pintu ruang kerjanya,
Ruang kerja Baskoro memang di lengkapi dengan remote control untuk membuka dan menutup pintu, sehingga ia hanya perlu menekan tombol untuk melakukan itu semua.
Asisten rumah tangga mendekati Arjuna dan menyampaikan pesan Baskoro
"Den Arjun di minta sama tuan tunggu sebentar, beliau akan menemui den Arjuna segera" ucap asisten rumah tangga itu hormat
"Apa papa mengunci pintunya BI??
__ADS_1
"Iya den, terkadang seperti itu" ucap Asisten rumahtangga di rumah orangtuanya itu.
mereka hanya akan mengetuk pintu ruang kerja dan jika ada sautan masuk berati pintu tidak dikunci, namun jika hanya mengatakan apa yang ingin Baskoro katakan, pintu tetap di kunci dari dalam.
Semua sudah menjadi kebiasaan Baskoro, dan semua asisten rumah tangga tahu kebiasaan itu, hanya saja Arjuna yang sudah sejak kuliah pisah rumah terkejut dnegan kebiasaan papanya, itu seolah papanya sedang menyembunyikan sesuatu di dalam sana yang tidak ia ketahui.
"Sebenarnya apa yang papa lakukan di dalma sana??? apa yang ia sembunyikan ???” gumam Arjuna lirih
"Kamu sudah datang nak??? gak berangkat ke kantor??" tanya Baskoro lalu duduk di samping Arjuna
"Sehabis dari sini Arjun ke kantor pa"
"Ayo sarapan dulu, sudah lama kita tidak sarapan bersama" ajak Baskoro bangkit, ia berjalan menuju ruang makan tanpa menunggu jawaban Arjuna.
Arjuna dengan patuh mengikuti papa nya menuju ruang makan, mereka makan dengan hikmad, tak ada suara perbincangan yang terjadi seperti biasa.
Bik Atun merasakan atmosfer ruangan itu menjadi pengap karena dua orang di depannya yang makan tanpa suara.
Setelah makan Baskoro bangkit, Arjuna lngsung menyudahi makannya
"Pa, Arjuna perlu bicara" ucap Arjuna dengan wajah serius
Sementara bik Atun memegang tangan Arjuna dengan wajah khawatir
"Tenang bik, tak akan terjadi sesuatu apapun, tolong antar air putih dan obat papa saja ke ruang kerja, terima kasih Bik"
"Baik den" jawab bik Atun sambil menatap punggung anak majikannya yang berjalan menjauh
"Ya Allah, semoga keluarga ini selalu dalam lindungan Allah dan semuanya bisa terungkap perlahan-lahan" gumam bik Atun lirih
Arjuna memasuki ruang kerja, di sana Baskoro sudah menunggunya duduk di sofa sambil merokok, Seperti dugaannya papanya kini tertekan, sudah lama sekali Baskoro tidak merokok, jika saat ini ia kembali pada kebiasaan lamanya, bisa di pastikan saat ini ia sedang stress karena masalah yang datang silih berganti.
"Duduklah nak" ucap Baskoro
Arjuna dengan patuh duduk di depan papanya,
"Pa, apa benar papa akan menceraikan mama Deswita???"
"Darimana kamu tahu???" alih-alih menjawab pertanyaan anaknya Baskoro malah balik bertanya, ia memicingkan matanya menatap putranya
__ADS_1
"Darimana Arjun tahu itu gak penting pa, kenapa???” tanya Arjuna merasa sedikit keberatan
"Kenapa??? kenapa apanya nak???
kenapa papa menceraikan wanita itu maksudmu???"
Arjuna menghela nafas mendengar ucapan papanya
"Nak, wanita itu memang tak seharusnya ada dalam kehidupan papa, ini semua karena Oma mu yang memaksa papa.
Hingga detik ini papa tidak pernah mencintainya”
"Pa, kalian sudah punya anak tiga dari hasil pernikahan kalian, mengapa papa bisa berkata semudah itu???
Wanita itu juga yang sudah merawat Arjuna setelah kepergian mama" ucap Arjuna lirih
Ada rasa benci dan kecewa di hati Arjun, namun di saat bersamaan ia merindukan ibu kandungnya
"Apa kau yakin dia melakukan itu semua karena menyayangimu??? masihkah kau berfikir demikian???
come on nak, dia melakukan itu agar hati papa luluh dan bisa menerimanya, kamu jangan naif" cibir Baskoro
"Kalaupun demikian, dia punya anak dengan papa, apa papa tidak memikirkan bagaimana Vera,Sarah dan Tian jika papa bercerai dengan mama???”
"Mereka tak membutuhkan ibu yang egois, mengapa papa bisa berkata dia sayang padamu karena perduli dengan dirinya sendiri, jika ia memang ibu yang baik, ia akan menyayangi anak-anaknya bukan malah memukul, mencaci maki adik-adikmu.
Kamu pikir papa gak tahu kelakuan mamamu di belakang papa???
Walau papa sudah tua dan tidak bekerja lagi, papa tidak bodoh nak.
Awalnya papa berfikir jika Deswita stress dan tertekan hidup dengan papa, semua yang ia lakukan karena ingin menarik perhatian papa, namun walau papa salah, sikapnya sudah tidak bisa di tolerir lagi"
Baskoro bangkit dan menyalahkan proyektor, ternyata itu adalah rekaman CCTV di rumah ini,
"Apa maksudnya ini pa???” tanya Arjuna tak mengerti
"Lihatlah sendiri, dan mengenai hilangnya istrimu tujuh tahun lalu, apakah kau tidak merasa ada yang janggal???? istrimu hilang tapi wanita itu mengatakan dia pergi bersama kekasihnya, sedangkan Adhi ayah Ayudia meyakinkan papa jika putrinya tak pernah dekat dengan siapapun, Ayudia anak yang penurut"ucap Baskoro
"Maksud papa???” tanya Arjuna penasaran
__ADS_1
"Ayudia.......