
Sarah masih terlihat shock, ia duduk lunglai dengan pandangan mata kosong, pakaiannya serta tangannya masih berlumuran darah, darah dari adiknya, Sebastian.
Beberapa waktu lalu Sarah mendapati Sebastian yang tak sadarkan diri dengan tubuh berlumuran darah.
Sebastian nekad mengakhiri hidupnya dengan menyayat pergelangan tangannya sendiri dengan kaca pecahan pigura foto.
Tak jauh dari tempat Tian pingsan ada foto Tian dan Deswita yang sudah menjadi serpihan kecil.
Sebastian pasti sangat terluka. mengetahui kenyataan itu.
"Tiaaannm..." ucap Sarah lirih, di banding Vera, Sarah lebih dekat dengan Tian sehingga ia terlihat paling shock mengetahui keadaan Tian
"Sar, Tian akan baik-baik saja, dia adik kita yang kuat" ucap Vera menguatkan kembarannya
"Sar, yang kuat dan banyak berdoa, kak Ayu sedang mendonorkan darahnya untuk Tian" ucap Willy menenangkan adiknya.
"Tian...
kak, apa Tian akan baik-baik aja???" tanya Sarah menatap Willy
"Tentu, Tian akan baik-baik saja" ucap Willy merasa dadanya sakit.
Sebastian adalah pemuda yang pendiam dan pemalu, namun hubungan mereka bisa dikatakan lancar.
Willy malah kerap datang saat Sebastian sedang latihan musik dengan teman-temannya.
Willy juga yang menghadiahkan gitar listrik akustik untuk adik bungsunya itu, dan ia tak pernah berubah walau saat tahu Tian bukan adik kandungnya, ia tetap menyayangi Sebastian seperti saudaranya sendiri.
Semua keluarga sudah di periksa golongan darahnya, namun hanya Vera yang sama dengan Sebastian.
Arjuna yang pernah memeriksa kecocokan tes DNA adik mereka menjadi bingung.
Bagaimana Vera juga memiliki golongan darah berbeda dengan mereka?? apa ada kesalahan dalam tes tersebut?
namun Arjuna tak mau membahas itu sekarang, yang terpenting adalah keselamatan Sebastian.
Saat mengetahui putranya bunuh diri, Baskoro shock dan mengalami serangan jantung ringan, dan ia di rawat bersebelahan dengan kamar Tian agar mereka bisa dengan mudah mengawasi keduanya.
Empat jam kemudian, dokter keluar dan menyatakan kondisi Sebastian sudah membaik, Baskoro yang memaksa masuk ke kamar Sebastian menangis lirih
ia membelai rambut putra bungsunya dengan penuh kasih sayang, air mata nya menetes di wajah tuanya yang terlihat kaku
Ya Baskoro memang orangtua yang tegas, namun sebenarnya ia sangat menyayangi anak-anaknya, tak terkecuali Sebastian.
Arjuna menyembunyikan fakta bahwa Sebastian bukan putra ayahnya, demi kebaikan semua orang.
"Tian, maafkan papa ya nak, maafkan papa yang tak bisa jadi orangtua yang baik untukmu.
papa mohon jangan seperti ini lagi nak, papa akan mti jika harus kehilangan salah satu dari kalian.
papa menyayangi kamu seperti saudara dan saudariku yang lain." ucap Baskoro terisak
"Pa, papa juga harus istirahat, ingat pesan dokter, papa habis mengalami serangan jantung, papa harus banyak istirahat atau Tian akan sedih melihat kondisi papa" rayu Arjuna
"Tapi papa gak bisa meninggalkan putra kecil papa.
Papa khawatir..."
"Pa, Tian sudah melewati masa kritisnya, ia sekarang sedang istirahat.
papa juga istirahat ya, nanti setelah Tian terbangun, kami kabari papa, Ok?" ucap Ayudia lembut.
Baskoro hanya mengangguk pelan, dan menurut saat Arjuna mendorongnya keluar dari kamar Tian.
Ayudia terlihat pucat, ia lngsung di bawa istirahat ke kamar di sebelah yang merupakan kamar penunggu.
begitu juga Vera, mereka habis donor dua kantong darah masing-masing.
Sementara Sarah di bawa pulang oleh William, ia meminta Sarah menyiapkan pakaian ganti, itu hanya dalih agar Sarah bisa istirahat.
Kini tinggal Willy dan Arjun yang masih terjaga di ruang tunggu, mereka terlihat sangat lelah
"Kak, gue mau ngomong" ucap willy, lalu keduanya keluar dari ruangan tersebut, menjauh.
__ADS_1
Saat semua orang sudah tak ada di ruangan tersebut, perlahan kelopak mata Sebastian terbuka, dari sudut matanya menetes air mata
"Maafkan aku pa, kak
aku sudah membuat kalian khawatir, maafkan aku" gumam lirih Sebastian.
sudut matanya mengalir deras air mata.
ia juga mendengar ucapan Baskoro, hatinya dihinggapi rasa bersalah pada papa nya.
Baskoro memnag tak pernah mengatakan apapun, tapi ia yakin sebenarnya Baskoro selalu mendukungnya melakukan apapun yang ia mau, justru Tian merasa malu dan bersalah karena ia sebagai anak justru tak pernah membantu dan menyenangkan papanya, ia gagal sebagai anak.
"Maafkan Tian, maafkan aku yang bodoh ini dan mengira bahwa aku seorang diri, ternyata kalian sangat menyayangiku, maafkan keegoisan ku" Sebastian menangis lirih.
rasanya sakit di pergelangan tangannya tak sesakit hatinya saat ini.
Sementara di sebuah coffee shop , Willy dan Arjuna nampak sedang duduk sambil, dua gelas kopi hangat berada di depan masing-masing.
"Apa yang mau loe tanya de???" tanya Arjuna membuka
percakapan
"Gue merasa ada yang loe tutupi" ucap willy menatap lurus pada kakaknya
"Apa yang gue tutupi?"
"Tentang Vera dan Tian, mereka..."
"Loe terlalu banyak berfikir" potong Arjuna berusaha menutupi kegugupannya
"Apa loe pikir gue tak tahu kak??? Vera dan Tian bukan adik kita"
"Kau sedang mabok Willy, bagaimana mungkin?" ucapan Arjuna melembut
"Jawab jujur, atau Gue akan cari kebenarannya sendiri" ucap Willy penuh penekanan
"Vera adik kita, tapi Tian bukan anak mama dan papa.
dia anak Deswita entah dengan siapa.
"Tapi golongan darah Vera dan Sarah berbeda"
"Golongan darah tak menjamin, bahkan kembar pun bisa berbeda. Aku sudah melakukan tes DNA mereka.
Berdasarkan informasi bi Atun yang yakin jika Deswita tak memiliki anak kembar, sehingga aku diam-diam mengambil sampe rambut kedua adikku.
mereka cocok dengan papa, tapi tidaka dan hubungannya dengan Deswita, bukankah itu aneh?"
"Sebelum kita membahas itu, kau bilang kau ambil sampel rambut? Vera dan Sarah???" tanya Willy yang di balas anggukan kakaknya
"Apa kau mengambil sampel itu dari sisir di kamar mereka???" tanya Willy membuat Arjuna bingung
"Sebenarnya apa maksud kamu si Will??" ucap Arjuna kesal karena Willy berbelit-belit
"Kakak tahu????, Vera tak pernah menyisir rambutnya, Karena rambutnya model pendek seperti pria. adapun rambut yang berada kamar Vera yang kakak ambil dari sisir Vera, kemungkinan besar adalah rambut Sarah juga, karena Sarah suka kehilangan sisinya dan meminjam Vera!!!
Kau tahu sendiri Sarah pelupa dan selalu menyisir rambutnya di mana-mana" ucapan Willy menjelaskan sebuah Fakta yang bahkan Arjuna tak tahu sama sekali.
Arjuna kini yang terdiam bengong.
"Jangan sembarangan, kau menduga jika..." Willy mengangguk.
Kembar memang tak harus identik, tapi mereka terlalu jauh berbeda. apapun kenyataanya, mereka tetap adikku
"Apa ucapan loe bisa di pertanggung jawabkan Will???" tanya Arjuna masih sedikit tak percaya
"Tentu , menurut feeling gue kak" ucap Willy penuh keyakinan
"Dan mengenai Sarah, kemungkinan itu benar adik kandung kita, apa loe lupa apa yang di bilang Samuel kalau ketika mama keluar rumah, ia sedang mengandung."
Jegeeeeerrrrr
Seperti petir di tengah malam, Arjuna membeku, ia tak percaya, tapi apa yang di katakan oleh Willy masuk akal.
__ADS_1
Hatinya di penuhi perasaan bahagia dan sedih.
"Test DNA dengan sampel kamu dan Sarah, jika sesuai maka tragedi menghilangnya mamamu bisa sedikit menemukan titik terang" ucap Willy yang memang jago menganalisa
"Willy...." Arjuna tak bisa berbicara
suaranya tercekat di tenggorokan.
"Ini hanya dugaan jadi jangan terlalu berharap lebih.
mengenai Vera, aku pikir kau harus melakukan test DNA lagi, jika kau ingin tahu siapa sebenarnya.
Jika tidak, maka lewatkan saja berpura-pura tak terjadi apapun" ucap Willy santai.
Arjuna ingin mengikuti perkataan Willy untuk tak menuntut permasalahan. ini, namun....
sebagai manusia biasa, ia punya rasa ingin tahu juga walau pada akhirnya ia tak akan mengubah kenyataan bahwa mereka tetap adik-adik yang ia sayang.
"Bisakah kau membantuku mendapatkan sampe rambutnya???" tanya Arjuna pada akhirnya
"Tapi rahasiakan ini dari siapapun" ucap Arjuna menambahkan
"Kau bisa mempercayakan itu" ucap Willy
Mereka akhirnya kembali setelah membeli air mineral dan beberapa makanan untuk Vera dan Ayudia.
Ayudia sudah terbangun dan melihat Willy dan Arjuna masih tertidur, sementara Tian sedang bengong menatap jam dinding
"Kamu sudah bangun?? mau minum?" tanya Ayudia lembut
Ayudia menuangkan segelas air untuk adik iparnya, lalu mengambil satu bungkus roti yang semalam mereka beli, menyerahkannya pada Tian
"Aku belum lapar kak" ucap Tian menolak
"Sudah ambil saja, ku bukan tidak lapar, tapi kamu sedang tak ingin makan.
makanlah sedikit saja, kamu butuh makan agar bisa meminum obat" ucap Ayu lembut, Tian menatap roti yang di sodorkan ayudia, lalu mengambilnya, dan ia menitikkan air mata.
Wanita di depannya itu adalah korban kekejaman mamanya, wanita itu hampir meregang nyawa dengan anak dalam kandungannya, beruntung takdir berkata lain, mereka selamat.
Tian merasa sangat bersalah, terlebih membayangkan wajah si kembar Daffa dan Daffi, dadanya sesak.
Anak-anak itu selamat dari percobaan pembunuhan yang di lakukan Deswita.
"Maafkan mamaku kak, bukan berarti aku menentang kalian menyeret mamaku ke penjara.
sebagai anak aku merasa harus meminta maaf atas kesalahan orangtuaku.
Tapi aku tak akan memihak padanya, ini merupakan konsekuensi dari perbuatan jahatnya selama ini"
"Tian, kamu gak perlu meminta maaf, ini bukan kesalahanmu" ucap Ayu merasa sedih untuk adiknya itu.
"Makanlah, saat kau tak sadarkan diri, papa juga shock dan mengalami serangan jantung, beliau di rawat di kamar sebelah.
tahukah kamu, kami sangat menyayangi kamu, jangan berbuat nekad lagi ya?"
Sebastian makin menundukkan kepalanya merasa sangat bersalah
"Maaf kak"
"Maaf terus kaya lebaran aja.
sudah cepat makan rotinya terus minum obat" Sebastian dengan patuh memakan rotinya dengan air mata yang menetes
"Seberat apapun masalahnya, jangan berbuat nekad, bunuh diri paling di benci Allah.
Jik Akau merasa tak kuat makan menangis lah, berteriak lah, atau yang paling manjur kamu wudhu dan sholat, bisikkan keluh kesahnya pada bumi, agar bumi menyampaikan pada penciptamu, Allah S W T"
Tian hanya diam dan mengangguk.
"Anak-anak menangis dan terus menanyakan kabarmu, mereka menyayangi kamu, om nya.
apa kamu bersedia menerima panggilan telepon dari mereka???" tanya ayudia.
__ADS_1
Lagi-lagi Tian mengangguk pelan, anak-anak itu....
Hati Tian di penuhi kegetiran.