(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Malu-Malu


__ADS_3

Setelah mengantar si kembar, Jovanka dan William langsung menuju kantor.


Jovanka meminta William menurunkannya di halte mobil yang posisinya idak begitu jauh dari kantor mereka, Jovanka tidak mau orang menaruh curiga padanya jika i memiliki hubungan dengan William, di samping itu saat ini ia masih menyembunyikan jati diri jg sehingga akan lebih baik jika tidak terlihat menonjol.


Jovanka langsung berjalan menuju gedung kantornya setelah melihat mobil William menjauh, perlu waktu sepuluh menit sampai di ruangannya.


Ia langsung menyalahkan laptopnya dan memeriksa laporan perencanaan.


Setelah sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba terlihat sesuatu di otaknya


"Astaghfirullah, kenapa gue jadi pikun gini ya??? ini semua karena gue dapat beberapa kejadian yang mengejutkan secara beruntun, Kalau big bos suami gue, berati....


arrgghh, gue berarti donor darah buat mertua jahat itu??? Ah sudah lah, semoga darah yang gue sumbangkan, bisa membuat sifat jahat yang sudah mendarah daging di tubuhnya luntur" gumam Jovanka lirih


Tok Tok Tok


"Bu, maaf ada tamu" ucap Airin karyawan magang di divisinya


Jovanka menatap keluar ruangannya yang hanya berbatasan dengan kaca


"Baik, makasih Airin"


"Kalau tidak ada yang di perlukan lagi saya mau permisi makan siang Bu"


"Ok Airin, kamu bisa istirahat, terima kasih" ucap Jovanka


Emilia langsung membuka pintu ruang kerja Jovanka dan langsung menghempaskan bokokng nya di kursi yang berada di depan Jovanka


"Ayo cepetan, sebentar lagi anak-anak gue mau pulang sekolah" ucap Emil menatap Jovanka sekilas lalu beralih ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya


"Hallo, sejak kapan mereka anak-anak loe??? apa loe tahu gimana rasanya melahirkan?"


"Ah Jo, loe mah, sekali-kali biarkan gue menghayal punya anak kembar tiga kek, gak asik banget" gerutu Emil membuat Jovanka tertawa melihat kelakuan sahabatnya ini


"Kalau pengen punya. anak buat sendiri sama cowokmu, daripada anak orang kamu akui"


"Buat??? amit-amit jabang baby, eh Jeung, loe mengajarkan sohib loe yang polos ini menuju kesesatan??? bisa mama gue nangis di atas sana liat anaknya durjana, amit-amit" ucap Emil mengetuk keningnya lalu mengetuk meja di depannya


Jovanka justru tertawa terkekeh melihat kelakuan sahabat nya ini yang tergolong unik


"Sorry, sorry cuma becanda"


"Becanda loe gak lucu Jo, ya kali gue bikin anak, lah gue aja belum punya gacoan"


"Hah, lah cowok loe kemarin kemana???" tanya Jovanka dengan muka serius

__ADS_1


"Sumpah nih orang baru satu Minggu kita gak ketemu udah amnesia, kan cowok gue itu udah gue loakin dapat beras sekilo doang" ucap Emil sewot


"Hahaha barang bekas kali" tawa Jovanka menggema


"Lah benar, mantan kan masa lalu, masa lalu kan usang berarti barang lama, barang lama gak terpakai lagi buang pada tempatnya"


"Aish pintarnya adikku ini" ucap Jovanka langsung mencubit pipi Emil gemas


"Jooo, ahhh, kendor nih pipi" protesnya kesal langsung bangkit mengikuti Jovanka yang sudah berjalan keluar dari kantornya


"Mau kemana???


"Jemput si kembar lah, kok loe jadi pikun gitu???"


"Ah iya, kenapa gue jadi oon ya nanya ma loe Jo???" gumam Emil lirih sambil menaiki lift mengikuti Jovanka


"Emang" ucap Jovanka menahan senyum


"Jooo, kejam banget sih" protes Emil kesal


Jovanka tiba-tiba menepuk keningnya, ia melupakan sesuatu.


Siang ini ia akan menjemput si kembar dengan William, namun tiba-tiba Emil datang, apa yang harus ia lakukan????


"Jo, kenapa loe jadi kaya orang sawan gitu???" tanya Emil polos


"Apa gue harus jujur aja ya sama nih bocah, apa papa dan william setuju aku menambah satu orang lagi yang tahu tentang masa laluku???


tapi Emil gadis yang baik, ya walau kadang-kadang gokil sedikit sih, tapi sejauh ini dia orang yang enak dan bisa di percaya" gumam Jovanka menatap Emil, sementara yang di tatap jadi serba salah dan jengah


"Kenapa sih loe liatin gue sampai segitunya?? muka gue growing ya??? ah ternyata baru loe yang sadar gue habis dari dokter kulit kemarin, perawatan muka" ucap Emil tersenyum lebar sambil memegang wajahnya


"Kepedean banget loe, gue cuma lagi mikir sesuatu"


"Ah, sekali-kali buat gue seneng apa Jo, tinggal bilang iya juga apa susahnya sih" protes Emil dengan wajah sedih


"Iya iya, bawel


Mel, sebenarnya ada satu rahasia lagi, gue harap loe bisa jaga rahasia ini ya...


gue...."


Tin Tin Tin


Suara klakson mobil menghentikan ucapan Jovanka, lalu kaca mobil turun dan wajah tampan William terlihat, William nampak menaikan alis sebelah karena melihat keberadaan Emilia

__ADS_1


"Eh pak William, siang pa, mau makan siang ya???" sapa Emil sopan, sementara William hanya mengangguk pelan tanpa menjawab.


"Ayo naik" ucap Jovanka yang langsung masuk ke dalam mobil William, sementara Emil mematung di tempatnya karena terkejut


"Ayu ah Jo bagaimana kamu bisa ajak Emil???" bisik William lirih


"Dia mau ikut jemput anak-anak, aku yang tanggung jawab, dia sudah tahu semua" ucap Jovanka tak menjabarkan maksud kata dari "sudah tahu semua"


"Tapi Jo...."


"Woi malah bengong, jadi ikut kaga?? gak enak klo ada yang liat kita sama William" ucap Jovanka menyadarkan Emil.


Emil langsung celingak-celinguk melihat keadaan dan langsung masuk ke dalam mobil dengan cepat


Mobil langsung melaju meninggalkan parkiran menuju sekolahan si kembar.


Emil tak bersuara di kursi belakang, ia berubah menjadi gadis pendiam yang manis.


Jovanka sampai heran mengapa sahabatnya itu langsung berubah seratus delapan puluh derajat, ia melirik ke arah Emil dari kaca spion, sahabatnya itu justru sedang asik memandangi wajah tampan William, apa dia berubah jinak karena menyukai William bukan karena segan?????


Sementara William yang sadar Amelia menatapnya jadi salah tingkah


beruntung mobil mereka sampai di depan sekolahan si kembar, Jovanka langsung turun sementara Emil masih terdiam di tempatnya


Tak lama kemudian si kembar langsung masuk ke mobil, mereka terkejut melihat Emilia di dalam kursi penumpang


"Tante genit???" panggil Daffa membuat wajah Emilia memerah karena malu


"Tante Davina kangen" ucap Davina memeluk Emilia


" Tante kaleng rombeng" ucap Daffi menyalami Emilia, sementara Emilia melotot kesal ke arah Daffi, jika saja tak ada William di sana, sudah pasti ia.akan mencubit dan mencium wajah tampan Daffa dan Daffi seperti yang pernah ia lakukan beberapa waktu lalu


terakhir kali si kembar habis kena cium Emil, hingga keduanya memiliki dendam kesumat pada Emil.


mereka tak suka dianggap anak kecil sementara Emil dengan gemas menciumi pipi mereka.


Jovanka hanya bisa tertawa geli melihat Daffa dan Daffi yang kala itu habis diciumi Emil.


keduanya berteriak meminta tolong jika mereka sudah di perkosa oleh Emil.


Terkadang Jovanka sampai tak habis pikir darimana perbendaharaan anaknya itu, mereka anak yang unik sekaligus sering membuat Jovanka terheran-heran karena kelebihan mereka, termasuk saat Daffi dengan fasih berbicara Jepang, padahal ia tak pernah mengajari bocah itu.


Bangga?? tentu saja sebagai Orangtua ia sangat bangga , namun juga khawatir bagaimana jika si kembar tumbuh besar dengan cepat dan Jovanka tidak.bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan.


Terkadang Jovanka sampai merutuki dirinya sendiri yang saat masih sekolah suka membolos dan malas belajar.

__ADS_1


__ADS_2