
"Tidak, tidak Bu hakim.
Adik ipar saya tak bersalah, ....." teriak seorang wanita memaksa masuk ke dalam ruang pengadilan.
Semua mata tertuju padanya dan membelalak mata mereka, terkejut melihat sosok seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik sedang berdiri di depan pintu sidang dengan nafas terengah-engah
Tok Tok Tok
"Tenang,tenang semuanya" teriak hakim ketua karena ruang sidang menjadi gaduh
"Apa anda tahu konsekuensi dari tindakan anda??
anda bisa saja di pidanakan karena mengganggu proses hukum" ucap hakim terlihat marah
"Maaf Bu hakim, kedatangan saya untuk mengklarifikasi.
saya, saya Ratih. wanita yang di katakan di bunuh oleh Karen" ucap Ratih membuat suasana sidang menjadi gaduh kembali.
Sementara Arjuna melangkah maju mendekati mama kandungnya, matanya berkaca-kaca
Namun Ratih hanya melirik sekilas lalu kembali fokus menatap kedepan
"Sidang akan beraksi Elama tiga puluh menit, dan anda nyonya Ratih, kaki perlu kartu tanda pengenal anda dan anda akan di mintai beberapa pertanyaan.
Sidang di lanjutkan kembali setelah setengah jam.
ini kejadian yang tak terduga.
Saya perlu berdiskusi dengan kedua pengacara dari pihak terdakwa dan penggugat" ucap hakim lalu meninggalkan ruangan sudang setelah memukul palu
Semua orang yang hadir gempar tak terkecuali Karen yang melihat Ratih.
Karen pernah di ancam oleh Jimmy, walau ia pernah lepas dari kematian karena Jimmy melepaskannya, namun kali ini ia dilema.
Bahagia atau sedih???
Bahagia setidaknya ia lepas dari tuduhan pembunuhan terencana, sedih karena setelah keluar dari tahanan mungkin nyawanya akan lebih buruk daripada di penjara karena Jimmy kakak tirinya lebih dari iblis yang kejam.
Ratih sepenuhnya mengabaikan Arjuna dan keluarganya, seperti ia tak mengenal mereka sama sekali.
Ia justru berjalan menuju Karen yang masih duduk
"Adik ipar, adik ipar, bagaimana keadaanmu??? maafkan aku telat datang karena baru tahu kejadiannya.
Kakakmu terlalu sibuk dan mungkin tak mau memberitahuku karena kesehatanku yang buruk, semoga kau tak marah padaku ya?" ucap Ratih Menggenggam tangan Karen, sementara Karen hanya diam menatap Ratih.
"Aku, aku akan meminta kakakmu membebaskan mu ok?? aku akan menjadi saksi mu" ucap Ratih bersemangat.
"Mama...." ucap Arjuna lirih berdiri di samping Ratih.
__ADS_1
"Si..siapa kamu??? Siapa mamamu???" tanya Ratih bingung menengok ke kanan dan ke kiri
Melihat wajah sedih pria di depannya, entah mengapa jati Ratih tak nyaman.
Pria itu terlihat sangat familiar, tapi Ratih tak ingat di mana ia pernah melihatnya
"Mama, aku Arjuna anak mama" ucap Arjun serak, sementara Ayudia sudah meneteskan air mata haru di samping suaminya, Willy dan William juga melihat Ratih dengan mata berkaca-kaca
"Mama...." gumam Willy dan William membuat Ratih bingung, ia merasa gelisah melihat wajah orang-orang yang mengelilinginya.
Tiba-tiba kepalanya berdenyut hebat. Ratih memegangi kepalanya dan mengerang kesakitan hingga tubuhnya limbung dan ambruk.
Arjuna, Willy dan William berteriak memanggil nama mamanya.
Ratih bisa mendengar itu sebelum semuanya gelap dan ia tak sadarkan diri.
Arjuna langsung membopong tubuh mamanya dan berlari keluar dari ruang sidang, nampak seorang gadis belia berlari dan begitu melihat keadaan mamanya, gadis itu berteriak marah
"Apa yang kalian lakukan dengan mama ku??? kenapa kondisi mama seperti ini???" tanya nya panik
Arjuna melongo di tempatnya, wajah gadis belia itu mirip dengan Sarah, hanya saja gadis ini begitu polos dan sederhana
"Sa...Sarah???" ucap Arjuna lirih
"Itu bukan Sarah kak, cepat kita bawa mama Ratih ke rumah sakit dulu" ucap Willy menyadarkan Arjuna dari keterkejutannya,
"Ikut kami" ucap Arjuna meminta gadis tersebut mengikuti mereka.
Sementara Willy di belakang kemudi dan Ayudia duduk di sampingnya.
mereka langsung menuju rumah sakit beriringan dengan mobil William yang hanya berdua dengan Emillia di dalam mobil.
Davina yang meminta Agatha hadir dalam sidang tersebut mengabarkan berita besar itu, Davina langsung menuju rumah sakit begitu mendengar kabar tersebut, ia penasaran.
Ia memang menargetkan Jimmy, namun bodohnya ia tak pernah mencari informasi istrinya, Davina hanya berfikir jika wanita itu sudah malang karena menikah dengan Jimmy.
Namun diluar dugaan wanita itu adalah neneknya dari pihak papanya.
Semua orang sedang menunggu Ratih di periksa dokter, sementara ketiga pria itu menatap sendu ke arah mama mereka.
Ayudia mendekati gadis belia yang mirip dengan Sarah adik iparnya.
Ayudia menduga jika gadis belia ini adalah kembaran Sarah mengingat wajah mereka yang begitu mirip.
Ayudia merasa harus mendapatkan bukti dengan test DNA.
"Hai siapa nama mu??"
"Sania" ucap Sania menoleh sejenak dan kembali menatap sedih mamanya
__ADS_1
"Apa wanita itu mama mu??" tanya Ayudia lagi yang di balas anggukan pelan gadis itu.
"Apa kau tahu sesuatu, maksud kakak adalah apa mamamu memiliki masalah dengan ingatannya???" tanya Ayudia hati-hati
wanita itu tak langsung menjawab, ia memperhatikan Ayudia dari ujung kepala hingga kaki, melihat Ayudia sedang berbadan dua dan suami wanita ini membawa mamanya ke rumah sakit, setidaknya menurut Sania mereka orang baik, hanya saja ia masih bingung penyebab mamanya kambuh
"Mama menderita amnesia akut.
Itu terjadi saat mama habis melahirkan dan terjatuh" ucap Sania, Sania hanya mengatakan fakta yang ia dengar dari Jimmy Chou, walau ada kenyataanya bukan seperti itu.
walau Sania sedikit curiga melihat beberapa bekas luka di tubuh mamanya dan kepalanya , namun Sania tak mau berfikiran buruk pada papanya.
ia tak mu menyangsikan papanya, ia yakin Aditya papa yang baik dan sempurna.
Apapun alasan Papanya berbohong, mungkin itu alasan baik, Sania tak mau menanyakan lebih lanjut.
"Oh terjatuh? pasti jatuhnya di tempat yang sangat tinggi sehingga ia mengalami trauma psikis"
"Itu... mungkin saja" ucap Sania pada akhirnya
"Sania, nama kakak Ayudia, dan pria yang memakai kemeja biru Dongker adalah suami kakak, Arjuna
di sebelahnya adalah adik sepupu kami namanya William dan di sebelahnya adiknya Willy.
Aku, maksud kakak kami terkejut melihat mamamu, dia begitu mirip dengan almarhum mama mereka, semuanya.
Bahkan mama mereka mempunyai kembaran juga yang wajahnya mirip.
Mungkin sebentar lagi mereka akan tiba" ucap Ayudia
"Itu... itu gak mungkin. Mama hanya memiliki aku anaknya" ucap Sania menolak kenyataan
"Sayang, itu hanya dugaan kami saja. Bisakah kau memberi kami waktu sepuluh menit sebelum kamu mengabarkan papamu??"
"Aku..."
"Please" ucap Ayudia ingin berjongkok membuat Sania buru-buru menariknya, wanita ini sedang hamil.
Akan terlihat buruk jika wanita di depannya itu bersimpuh di depan Sania. terlebih usia wanita itu lebih tua darinya.
"Kak Ayu, aku hanya bisa memberimu sepuluh menit sebelum papaku datang , karena anak buah papaku orang yang hanya setia pada papaku" ucap Sania pada akhirnya.
"Terima kasih, itu sudah lebih dari cukup" ucap Ayudia.
"Mama, bagaimana keadaan nenek???" tanya Davina yang baru saja tiba
"Nenekmu sepertinya penyakitnya kambuh"
Dokter sudah keluar dari ruang perawatan, Ratih di beri selang oksigen dan harus di infus, ia di beri obat penghilang sakit dan obat tidur agar sakit kepalanya berkurang.
__ADS_1
"Kepala Rumah sakit" sapa dokter yang memeriksa Ratih
Semua orang menatap bingung ucapan dokter senior tersebut