
"Baiklah besan kami tinggal dulu ya" ucap Lia pada Baskoro, baskoro hanya mengangguk dan tersenyum membalas ucapan Lia, setelah mereka pergi, terlihat Baskoro menghela nafas.
walau Baskoro tidak suka dengan Aurellia, namun kenyataanya adalah anak mereka sudah bertunangan dan tinggal menunggu waktu mereka menikah.
namun kini....
Ayudia sudah kembali, ia tak
mungkin membiarkan Arjuna dengan wanita itu, terlebih ia tak pernah suka dengan Aurellia.
Semua bermula dari kelancangan Deswita yang mengatakan ingin menjadikan Aurellia sebagai menantunya, ia menilai sosok Aurellia lebih baik daripada Ayudia yang kabur dengan lelaki lain saat usia perkawinan mereka baru seumur jagung.
Hanya karena tak enak pada Adhi saja, Baskoro terpaksa menyetujui usulan bodoh istrinya saat mereka bertandang ke rumah Adhi.
Namun setelah sampai di rumah, baskoro memarahi Deswita habis-habisan.
Walau Deswita yang selama ini merawat Arjuna sejak kecil, namun masalah jalan hidup kini ia serahkan pada putranya itu, ia tak mau kembali membuat kesalahan yang sama.
Hati Jovanka terasa di tusuk-tusuk, setelah Aurellia dan Lia pergi, ia langsung mendekati Adhi dengan air mata berlinang.
"Papaaaaaa" Jovanka langsung berhambur mendekati Adhi, Adhi yang saat ini sedang tertidur terbangun mendengar suara teriakan seseorang, suara yang tak asing baginya, suara yang ia rindukan selama tujuh tahun belakangan ini.
Kehangatan pelukan seorang anak yang ia rindukan.
Perlahan kelopak mata Adhi terbuka, sebuah mata kosong tanpa harapan yang membuat hati Jovanka serasa di remas, sakit....
"Si..siap kamu???" tanya Adhi lirih melihat seorang wanita muda memeluknya sambil menangis
"Pa, ini Ayudia pa, anak papa, Ayu masih hidup pa, apa yang terjadi pada papa" ucap Ayudia terisak, namun di luar dugaan Adhi berusaha melepaskan tangan Jovanka yang memeluknya dengan pandangan bingung.
"Kamu bukan anakku" ucap Adhi tak mengenali Ayudia,
Ayudia atau Jovanka terpaku, ia lupa jika saat ini ia sedang menutupi jati dirinya.
Hanya suara saja yang sama bukan berarti bahwa itu adalah putrinya, kerinduannya akan sosok Ayudia tak akan membuatnya buta dan mengira orang lain sebagai putrinya.
Masih terpatri dalam ingatannya wajah cantik dan bola mata indah yang di wariskan oleh mendiang istrinya, Eldrea Jovanka
"Dia putrimu Bro, dia anak kita, anak yang kita kira hilang di telan bumi dan tak ada kabar beritanya selama bertahun-tahun" ucap Baskoro menghampiri sahabatnya yang tergeletak lemah.
"Papa.... aku Ayu pa" ucap jovanka Ia baru menyadari papanya tidak mengenalinya dengan penampilan ini,
Jovanka lalu membuka kacamatanya, ia melepaskan ikatan rambutnya, menghapus riasan di wajahnya.
Adhi terpaku melihat wajah itu, putrinya.
lalu bola mata biru milik Ayudia???? wanita ini walau mirip dengan putrinya, namun Adhi masih ragu-ragu.
Ayudia membuka softlens yang ia pakai. Kini wajah aslinya nampak di depan mata, hanya rambut blonde nya yang ia warnai hitam.
Adhi menangis dan langsung memeluk putri yang amat ia rindukan
"Alhamdulillah ya Allah, Engkau mendengarkan doa-doa ku, Allahu akbar " ucap Adhi menangis tersedu-sedu, Adhi sangat bersyukur bisa bertemu lagi dengan putrinya., harapan yang awalnya tak mungkin kini menjadi kenyataan.
__ADS_1
Saat Ayudia dinyatakan kabur, Adhi awalnya kecewa. namun saat Ayudia di nyatakan pergi dengan kekasihnya, Adhi curiga.
pasalnya Ayudia tidak pernah dekat dengan siapapun, ia cenderung cuek dan judes.
sangat tidak masuk akal putrinya pergi dengan kekasihnya, walau ia awalnya menolak di jodohkan, bukan berati ia akan tega mengecewakan papanya.
Adhi tahu betul karakter Ayudia, itu karena Ayudia tergolong anak yang penurut walau agak sedikit manja, ia punya rasa tanggung jawab tinggi atas keputusannya, jika saat itu ia memutuskan menikah walau tak suka, ia tak kan membuat malu keluarga, Adhi yakin itu.
"Papa, bagaimana papa bisa seperti ini??? apa yang terjadi pada papa???" ucap Ayudia memberondong papanya pertanyaan
"Papa terjatuh, mungkin karena shock karena kamu menghilang begitu saja, papa kena serangan jantung.
Papa akan sembuh, papa akan sembuh karena ada kamu nak" ucap Adhi bersemangat
"Papa harus sembuh, kini Ayu sudah kembali dan ada tiga orang yang harus papa temui" ucap Ayudia bersemangat.
Semoga setelah melihat si kembar kesehatan papanya bisa pulih kembali, karena obat yang paling mujarab adalah tekat kuat dari pasien itu sendiri.
"Siapa itu nak???" tanya Adhi penasaran
"Ada langkah kaki mendekat, sebaiknya segera perbaiki penampilanmu" ucap Baskoro yang mendengar suara hak tinggi bertemu dengan lantai rumah sakit.
"Apa mereka kembali pa???"
"Sepertinya, segera kau ke kamar mandi" ucap Baskoro tak mau semuanya terungkap sekarang.
Baskoro khawatir kedua siluman rubah itu akan mencari cara licik melenyapkan Ayudia kembali dan menguasai harta Adhi secepatnya.
"Apa yang kalian bicarakan hingga terlihat tegang sekali?? pak Baskoro jangan membahas bisnis dulu, suamiku masih belum stabil kondisinya" ucap Lia membenarkan selimut Adhi yang turun, ia mencium aroma minyak wangi di sana.
"Apa ku memakai parfum mas??? punya siapa???" tanya Lia menyelidik
Deg
Adhi dan Baskoro saling tukar pendapat seolah mengatakan apa alasan Adhi memiliki aroma parfum Ayudia, itu karena tadi Ayudia memeluk papanya.
Baskoro mengacungi jempol wanita ini, endusan nya bak anjing penjaga, tajam!!!.
Adhi meminta parfum karyawan ku karena ia malu aku datang dia sedikit bau Pesing" ucap Baskoro beralasan, walaupun tak sepenuhnya salah.
"Oh ya, kemana karyawan itu???" tanya Aurelia mencari keberadaan Ayudia
"Dia sedang di toilet, katanya mules" ucap Adhi
"Benarkah???" ucap Aurellia setengah mencibir, ia tak percaya papanya mau meminta parfum orang, rasanya aneh dan bukan style papanya banget.
"Apa kami orangtua perlu berbohong untuk masalah kecil??? kau hanya terlalu sensitif , bukan begitu Lia???"
"Be...benar , susah buat apa mengurusi orang gak penting, gak mungkin papamu macam-macam sama pegawai rendahan yang di bawa besan" ucap Lia, membenarkan dan sekaligus menghina.
Sungguh ciri khas wanita ini, tak ada bedanya dengan mantan istrinya Deswita, seolah mereka satu jiwa beda wajah, sama-sama menjijikkan.
"Maaf saya lama" ucap Jovanka menundukkan kepalanya
__ADS_1
"Ayo kita pulang.
Adhi aku pulang dulu.
next time aku akan datang menjengukku lagi.
Oh ya Lia, jika kau lelah dan tak bisa menjaga sahabatku ini kau bisa mengabari aku, aku akan kirim orang ku untuk merawat suamimu" ucap Baskoro serius
"Sebenarnya besok aku ada janji dengan teman, bisakah besan mengirim orang menjaga suamiku seharian???" tanya Lia langsung termakan umpan yang di tebar Baskoro, Baskoro tersenyum licik
"Dia saja, apa bisa??? kalau yang lain aku khawatir mereka akan memanfaatkan keadaan ya kan besan tahu sendiri keluarga kami cukup berada, aku takut orang lain yang di kirim besan merayu suamiku.
Bagaimana jika di saja," tunjuk Lia sambil mencibir penampilan Jovanka yang terlihat sangat culun
"Ma, apa kau yakin???" tanya Aurel setengah berbisik
"Lihat saja, dia culun dan polis, gak mungkin macam-macam" bisik Lia membalas ucapan putrinya
"Tapi kok perasan aku gak enak ya ma???"
"Kamu terlalu mendramatisir, susah kau ikut apa kata mama, lumayan kita bisa ke spa dan shopping seharian.
Sejak orangtua itu sakit, wajah mama kusam" gerutu Lia
"Baiklah, mama jangan menyesal, aku sudah memperingati mama"
"Jo, apa kamu bisa???" tanya Baskoro yang tak perduli dengan dua wanita yang sedang kasak kusuk di sampingnya
"Ba..baik pak bisa" ucap Jovanka lirih
"Bagus, bagus.
Adhi besok mba Jo yang menjagamu" ucap Baskoro
"Kalau begitu saya permisi, ibu, bapak, mba" ucap Jovanka lirih masih dengan menundukkan kepalanya
"Gue balik dulu bro, Lia gue cabut.
Ah menantu terima kasih kopinya ya" ucap Baskoro langsung meraih kantong paper bag berisi dua cup kopi untuk dirinya dan Ayudia
"Hati-hati dijalan Bro" teriak Adhi bersemangat karena besok putrinya akan menemani nya seharian.
"Kok gue ngerasa gak asing ya liat wanita itu, seperti seseorang yang gue kenal baik.
Tapi siapa???
gue gak kenal atau pernah kenal dengan wanita culun itu, bisa ya udah jaman modern itu kacamata setebal buku pelajaran, ckckck,
siapa yang mau melirik cewek kiper dan culun gitu?
Tapi hebat dia bisa kerja di perusahaan mas Arjuna, berarti otaknya lumayan encer ya nilai plus lah menutupi wajahnya yang...
Ah sudah lah" gumam Aurel memutar bola matanya malas, buat apa ia memikirkan sosok ga penting itu.
__ADS_1