
Dua Minggu sudah Deswita di periksa, statusnya langsung tersangka pada awal pemeriksaan.
Deswita menyewa pengacara untuk mendampinginya, ia sebenarnya sangat shock bahwa begitu banyak tuntutan yang mengarah padanya, namun ia cukup optimis mereka tak akan menang, mengingat ia bermain bersih.
Deswita yakin mereka tak akan menemukan bukti keterlibatan dirinya, sehingga walau statusnya sudah menjadi tersangka, ia masih angkuh.
Hari ini sidang pertama Deswita, bertepatan dengan hari kepergian sebastian.
Sebastian sengaja memilih hari yang sama dengan hari dimana mamanya akan di adili atas semua perbuatannya.
Semua orang sudah hadir dengan wajah tegang mendengarkan tuntutan jaksa yang seperti membaca dosa-dosa yang pernah di lakukan Deswita.
Terlihat wanita itu hanya menghela nafas pelan dan terlihat santai dengan wajah datar.
Kekesalannya adalah, ia sudah di tahan di penjara dan harus merasakan dinginnya tembok penjara, pakaiannya pun harus berganti dengan pakaian tahanan.
Agenda sidang kali ini adalah mengenai dugaan perencanaan pembunuhan Ayudia.
Materi gugatan di bacakan, semua orang terkesima tak percaya wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah menginjak kepala lima itu tega berbuat keji pada menantinya sendiri, yang tak lain adalah Ayudia.
Bisik-bisik diantara para peserta sidang tak terelakkan membuat hakim harus mengetuk palu untuk menenangkan peserta sidang.
Deswita duduk di kursi pesakitan dan terus di cecar dengan pertanyaan.
Deswita terus menyangkal bukti yang di beberkan, ia tak menunjukkan sedikitpun rasa bersalah dan penyesalan.
Deswita terus saja membantah dan bersikukuh ia tak melakukannya.
wanita yang biasanya terlihat elegan dan sombong itu, tetap mempertahankan citranya sebagai wanita terhormat, ia masih angkuh seperti biasa walau sudah memakai baju tahanan dan duduk di kursi pesakitan.
Di sudut ruangan, seorang pria menatap tajam ke arah Deswita, matanya memerah dengan tangan yang terkepal erat, hingga kuku di jari tangannya menancap di telapak tangannya.
Tanpa sadar air mata turun membasahi wajah tampannya.
Sebenarnya pagi ini saat sidang pertama Deswita, pria itu ingin mengucapkan salam perpisahan dan meminta maaf untuk terakhir kalinya, namun melihat betapa angkuhnya wanita itu, ia berubah pikiran.
Hatinya merasa sakit melihat kelakuan wanita di depan sana yang tak lain adalah mamanya sendiri.
Hatinya membeku, Tak ada kasih sayang yang tersisa.
benci??? ia sudah melupakan kebencian di hatinya, bagaimanapun wanita itu adalah orang yang sudah melahirkannya,
Sebastian tak mau berlama-lama di dalam ruang sidang, tak ada yang bisa ia lakukan.
Apa yang ia ingin kan , tak lagi ia inginkan.
Hanya satu hal yang ia mau kini, secepatnya meninggalkan tempat itu dan berhenti membuang-buang waktu dan energi.
Deswita sudah selesai di cecar oleh banyak pertanyaan yang semuanya ia tentang, ia berjalan menuju bangkunya, namun sudut matanya menangkap sesosok pria yang akrab dan familiar baginya.
__ADS_1
Walau saat ini pria itu memakai kacamata, topi ,serta jaket, ia masih bisa mengenalinya.
Putra kesayangannya, Sebastian dari siluet tubuhnya.
Hati Deswita menghangat melihat putranya akhirnya datang, ia menduga jika Sebastian sudah memaafkannya atas insiden beberapa waktu lalu, sudut mulutnya membentuk cekungan, ia bahagia walau kini ia sedang menderita dalam jeruji besi.
Namun senyumnya langsung hilang saat bola matanya bertatapan langsung dengan Tian, pandangan mata putranya terlihat dingin dan tak perduli, walau tak ada kebencian di sana, namun Sebastian terlihat datar seolah mereka bukan ibu dan anak.
Sebastian bangkit dan membuang pandangannya, memutuskan tatapan mereka dan pergi meninggalkan ruang sidang
Deswita ingin berlari mengejar putranya, namun petugas keamanan langsung menghalaunya, ia berteriak memanggil nama Sebastian, namun anaknya itu tak lagi menoleh hingga pintu ruang sidang kembali tertutup
Deswita histeris, ia terus meronta dan memanggil nama Sebastian dengan putus asa.
Sebastian meninggalkannya.
putranya tak lagi perduli padanya???
selama ini ia hidup untuk Sebastian, ia melawan rasa benci dan jijik pada Baskoro demi putra kesayangannya agar memiliki masa depan cerah.
Ia berjuang menyingkirkan semua rintangan demi Sebastian, demi kekayaan yang akan di warisi Sebastian.
Ia akan hidup nyaman karena putranya tersebut setidaknya akan menerima setengah kekayaan Baskoro, namun kini....
Sebastian membencinya, Tiada yang lebih menyakitkan dari seorang ibu saat darah dagingnya sendiri tidak mempedulikannya.
Deswita menangis dan meraung meratapi dirinya.
Baskoro dan keluarganya yang ada di persidangan kebingungan, apa yang membuat Deswita lepas kendali, mereka tak menemukan sosok Sebastian di sana, karena pagi ini ia sudah pamit untuk perjalanan musiknya, tanpa mau diantar ke bandara.
Namun melihat sosok misterius keluar dari ruang sidang beberapa waktu lalu, mereka menyimpulkan mungkin Deswita melihat kedatangan Sebastian.
Anak itu mungkin ingin mengucapkan salam perpisahan atau mungkin juga melihat mamanya untuk terakhir kali sebelum ia memulai perjalanannya.
Bagaimanapun Sebastian adalah anak Deswita, mungkin Sebastian khawatir dengan kondisi orangtuanya, bagaimanapun di dalam lubuk hatinya, masih ada rasa sayang untuk mamanya.
Sebastian mengaku ia tak tahu kapan akan kembali.
Namun ia berjanji akan kembali.
Hakim terpaksa memutuskan sidang di skorsing menunggu kondisi kejiwaan Deswita stabil.
Sejak melihat kepergian Sebastian, Deswita masih berharap putra nya itu akan menjenguknya, namun Sebastian tak pernah menampakan batang hidungnya.
Deswita jatuh dalam keterpurukan, ia tak memiliki motivasi hidup lagi.
Sepekan kemudian sidang di lanjutkan, selama sidang Deswita hanya menunduk tak membantah, berbeda sekali dengan sosoknya beberapa waktu lalu yang arogan dan tak merasa bersalah.
Akhirnya pengadilan menjatuhkan hukuman lima belas tahun penjara, subsider masa tahanan dan denda dua ratus juta rupiah.
__ADS_1
Deswita tak berkata apa-apa, ia hanya menutup matanya dan bulir air mata jatuh dari sudut matanya.
Baskoro dan keluarganya menyambut senang keputusan hakim, walau jauh lebih ringan dari tuntutan jaksa, namun lima bela tahun bukan waktu yang singkat.
Sidang kedua tentang percobaan pembunuhan dokter Anggara dan Ratna yang mengakibatkan dokter Anggara meregang nyawa.
Deswita mengutuk kebodohannya karena tak melenyapkan bukti hidup.
Security yang melihat bahwa pada hari kejadian ada beberapa orang suruhannya yang ia suruh untuk menyabotase mobil dokter tersebut.
Namun saat Ratna datang untuk di mintai keterangan, Deswita terkejut.
Ia sampai menggigil ketakutan, pasalnya ia mengira wanita itu adalah Ratih, wanita yang pernah ia singkirkan demi menjadi nyonya Baskoro
Deswita sampai pingsan tak sadarkan diri, sehingga Arjuna, Willy dan William menyimpulkan jika Deswita menduga jika Ratih meninggal, lalu bagaimana anak mereka bisa tertukar???
pertanyaaan itu menghantui pemikiran mereka, ada satu puzzle yang hilang dalam kasus ini.
Dan mereka akan mencari tahu, ada kemungkinan besar Ratih masih hidup, atau memang sudah mati seperti reaksi Deswita.
Jika Deswita menganggap Ratih meninggal, apa yang terjadi hingga Sarah yang merupakan anak Ratih bisa berujung di tangannya???
Semua masih teka-teki yang misterius bagi semua orang.
Tanpa mereka sadari, Davina juga hadir dalam sidang tersebut, ia memakai wig dan kacamata, merias wajahnya dengan make up sehingga Willy pun tak akan mengenalinya.
Davina yang memiliki perusahaan kosmetik dan telah mengantongi sertifikat make up artis, bukan hal yang sulit baginya untuk merias wajahnya menjadi sosok yang sedikit berbeda, atau bahkan seorang wanita tua, mungkin Ayudia jika bertanding dengan putrinya pun akan kalah, walau sama-sama memiliki ketrampilan yang sama, karena Davina bahkan berguru langsung pada ahlinya dari beberapa negara.
Awalnya Davina menekuni bidang itu hanya karena hobby merias diri, namun setelah memutuskan bergerak di dunia bawah tanah, ia harus pandai bermetamorfosis dengan banyak wajah, demi keamanan dirinya dan demi misi tertentu.
Hakim akhirnya mengetuk palu.
Tuntutan pembunuhan atas dokter Anggara dan penyebab kecelakaan Ratih membuat Deswita di hukum dua puluh lima tahun, walau Samuel merasa hukuman itu terllau ringan, namun ia tak mau membahas lebih jauh.
Papanya sudah pergi dan tak akan kembali, setidaknya sebagai anak, ia sudah menunjukkan baktinya untuk menegakkan kebenaran atas terbunuhnya Anggara.
Deswita mengepalkan tangannya, rupanya itu lah alasan Ratih masih hidup kala itu, rupanya yang ada dalam mobil dokter Anggara adalah Ratna.
Sidang selanjutnya akan di gelar sebulan lagi.
Deswita sudah menerima hukuman empat puluh tahun penjara, mungkin ia akan menghabiskan sisa hidupnya di dalam jeruji besi.
Keesokan harinya, Deswita kedatangan seorang pengunjung yang ingin menemuinya.
Deswita tak memiliki teman,. saudara apalagi orang yang perduli padanya.
Lia sudah di penjara dan Aurel hilang entah kemana, ia sendirian.
Deswita bertanya-tanya dalam hati siapa orang yang mau menemui ya??? atau mungkin keluarga Baskoro??? atau putranya???
__ADS_1