(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Tes DNA


__ADS_3

"Dokter Gibran, bagaimana kondisi pasien??? saya ingin kalian segera melakukan pemeriksaan lengkap dan hasilnya segera berikan pada saja satu jam lagi" ucap Davina berwibawa


"Baik nona" ucap dokter tersebut pamit


"Nak, apa...."


"Ma, ini salah satu rumah sakit ku, aku kepala rumah sakit disini" ucap Davina santai membuat semua orang membelalak matanya.


"Bisa kita bicara empat mata Tante Sania" ucap Davina sopan, Sania terkejut karena ini pertama kalinya ia bertemu dengan wanita cantik di depannya, bagaimana wanita itu bisa tau namanya.


Dan yang lebih mengejutkan wanita itu memanggilnya Tante, sedang usia mereka terlihat Davina lebih tua darinya.


Sania ingin memprotes wanita itu, ia mengumpat dalam hati, apa ia terlihat sudah tua????, namun sebelum ia membuka mulutnya, Davina sudah berjalan menjauh.


Namun Sania dengan patuh mengikuti Davina dengan perasaan kesal.


"Ma, pa, om, aku tinggal dulu.


Nenek Ratih sudah di perjalanan mungkin sebentar lagi mereka tiba" ucap Davina lalu berjalan menuju sebuah ruangan.


Davina berbalik badan dan langsung menyodorkan tangannya untuk berkenalan.


"Hai, perkenalkan namaku Davina, dan wanita yang sedang hamil tadi adalah mamaku, dan pria yang berbaju biru tadi adalah papaku" ucap Davina santai, Sania hanya mengangguk dengan senyum canggung


”Silahkan duduk , aku hanya ingin bicara empat mata sebagai saudara" ucap Davina duduk di sofa.


Ruangan ini salah ruangannya saat ia harus datang berkunjung memeriksa rumah sakit nya


"Katakan lngsung apa tujuanmu ingin berbicara denganku" ucap Sania langsung pada intinya


"Aku suka kamu blak-blakan, ini silahkan baca" ucap Davina menyodorkan sebuah dokumen yang ia peroleh dari anak buahnya


"Ini...."


"Ya, mamamu adalah nenekku, dan papaku adalah anaknya. Nenek Ratih kehilangan ingatannya karena percobaan pembunuhan yang di lakukan Karen, namun Jimmy Chou alias Aditya menolongnya dan mengaku sebagai suaminya.


Suami nenek Ratih yang sebenarnya adalah Baskoro yang kemungkinan besar adalah papamu" ucap Davina to the poin.


"ini... ini gak mungkin.


Kau memalsukan ini, aku tak percaya.


Aku pikir kalian orang baik, ternyata dengan kekuasaan kalian memanipulasi kebenaran.


Kalian orang tak bermoral" teriak Sania marah.


Ia sangat terpukul dan tak mau percaya, tapi itu kenyataanya.


Hatinya hancur, terlebih tahu papa yang ia anggap orangtuanya ternyata...


Sania ragu.


"Aku sudah mengatakan apa yang harus ku katakan.


Kau bisa menyelidiki sendiri.


Tapi saat Aditya tahu, ia akan menghentikan mu bahkan mungkin membunuhmu, karena Aditya hanya peduli pada satu orang, yaitu Ratih.


Demi wanita itu pula ia sudah melakukan apapun, bahkan membunuh.


Mungkin kamu tak percaya pada kami, tapi apa yang ada di tanganmu buktinya"


"Enggak, enggak, gak mungkin. Kalian penipu" ucap Sania menangis

__ADS_1


"Sania, Jika kamu gak percaya kami sedang melakukan tes DNA guna meyakinkan.


walau aku yakin seratus persen, bukti konkrit harus ada bukan??? datanglah tiga hari lagi ke rumah sakit ini.


Kalau kamu gak percaya padaku, kamu bisa melakukan test DNA di rumah sakit lain" ucap Davina datar


"Kau akan mengakui kesalahanmu, aku yakin mereka orangtuaku" ucap Sania menghapus air matanya dan melangkah keluar.


Karena kondisi kesehatan Ratih, sidang akhirnya di tunda dua Minggu.


Keputusan hukuman Karen di tangguhkan namun ia tetap di tahan di lapas sampai tiba putusan hakim.


Kenyataan itu membuat Sumiatun alias Karen naik pitam.


ia ingin keluar dari penjara secepatnya, setelah itu ia akan kabur ke luar negeri.


Kakak tirinya tak akan melepaskannya jika ia tetap tinggal di negara ini.


Ratna sudah tiba dan langsung memeluk saudarinya.


walau ingatannya belum pulih seutuhnya, ia ingat punya seorang kakak, dan Ratna segera memeriksa tanda lahir tahi lalat berbentuk Lope di pundak sebelah kiri Ratih, setelah ia melihat hatinya hari, bahagia dan sedih.


Ratna memang saudaranya lirih membuat semua orang menutup mulutnya terkejut.


walau belum yakin tapi Ratna sudah mengidentifikasikannya untuk mereka


Sania membeku di depan pintu karena mendapati seorang wanita yang sangat mirip dengan mamanya, bahkan suaranya


"Siii siapa ibu???" tanya Sania terbantah-bantah


"Saya Ratna, kembaran Ratih.


Ini saudari saya Ratih yang sudah lama hilang" ucap Ratna membuat Sania merasa tubuhnya lemas tak bertenaga beruntung Emillia menopangnya


"Kamu benar sayang, akhirnya mama bisa bertemu dengan kakak kembar mama" ucap Ratna menghapus air matanya


"Nona, dalam lima menit papa and akan tiba, saya tidak bisa menahan, beliau..."


"Aku mengerti, terima kasih Sandi, aku mohon rahasiakan apa yang kamu lihat hari ini" ucap Sania pada pengawal pribadinya yang selalu mengikutinya kemana saja.


Walau sandi orang Jimmy, tapi kedekatannya dengan Sania membuat ia berkhianat ada Jimmy, semua karena Sandi jatuh cinta pada gadis lugu ini.


"Papa saya akan tiba" ucap Sania lirih


"Kami akan pergi, tapi kami mohon jangan beritahu apapun termasuk kami yang datang kesini, kami hanya khawatir keselamatan kalian" ucap Davina


"Baik, pergilah" ucap Sania tanpa menoleh.


Semua orang segera pergi ke ruangan Davina, mereka melanjutkan pembahasan masalah ini di sana.


Setelah tes DNA keluar mereka akan mempunya bukti konkrit bahwa selama ini Jimmy memanfaatkan penyakit Ratih, bahkan mereka sampai menikah.


Mereka tak pernah menduga akan seperti ini.


Ternyata jimmy lah yang menyembunyikan keberadaan Ratih.


Adik kakak itu sama-sama iblis berwajah manusia.


Sementara di ruang perawatan Ratih


Jimmy langsung masuk begitu sampai di ruang perawatan dan melihat wajah pucat istrinya, ia melirik pada Sania dengan muka marah.


Tapi ini semua bukan kesalahan Sania.

__ADS_1


Flash Back#


Mamanya yang sedang membuatkan kopi untuk para penjaga tak sengaja mendengar obrolan mereka dan terkejut.


Ratih berpura-pura ingin keluar membeli sesuatu, karena selama ini Ratih bersikap baik, mereka meluluskan keinginan Ratih, Atas permintaan Ratih mereka juga tak mengabarkan pada Jimmy karena hanya ke supermarket depan dan Ratih juga memakai pakaian rumah, tak membawa tas atau apapun yang mencurigakan.


Tapi mereka salah, Ratih memang sengaja berpakaian biasa di rumah, namun ia menyelipkan beberapa uang di dalam kantung celananya dan juga kartu tanda pengenal, lalu langsung melajukan kendaraannya menuju pengadilan negeri.


Flash Back Off


"Katakan apa yang terjadi??" tanya Jimmy dengan suara pelan, namun Sania merasakan kemarahan di sana


"Mama tadi membeli sesuatu ke supermarket, lalu mama mampir ke sebuah coffee shop, membelikan aku croissant, saat mama keluar kepalanya sakit, beruntung aku menyusulnya" ucap Sania mencari alasan.


Jimmy melirik ke arah Sandy bodyguard yang mengawal Sania, pemuda itu mengangguk.


dan Jimmy melihat Sania memakan croissant dan belum habis tergeletak di atas nakas.


"Aku akan menemui dokter, kita pindahkan mamamu ke rumah alit dekat rumah" ucap Jimmy lalu melangkah keluar menemui dokter untuk mengurus berkas kepindahan Ratih


Jimmy merasa tak nyaman Ratih jauh dari jangkauannya, ia hanya khawatir terlalu sibuk karena masalah yang menimpanya belakangan ini dan Ratih lepas kontrol dan yang terpenting adalah mencegah keluarga besar Baskoro tahu keberadaanya.


Kondisi Jimmy Saat ini sedang tak baik, akan mudah bagi mereka mengambil Ratih dari tangannya


Sore itu juga Ratih di pindahkan dengan ambulance, semua orang hanya bisa melihat dari kejauhan untuk membuat Jimmy tak curiga.


Davina harus memuji kecerdasan otak Sania, mungkin jika semua sudah berakhir, mereka akan menjadi team yang kompak.


Dua hari sudah berlalu, Sania terus memikirkan perkataan Davina, melihat wanita pujaannya melamun Sandy menghampiri Sania


"Hai bos, apa yang membuatmu melamun???"Tanya Sandy


"Menurutmu apa yang ku ceritakan padamu adalah benar???" tanya Sania balik


"Tentang mamamu? tentang kamu atau tentang papamu???" tanya Sandy menatap Sania


"Semuanya" ucap Sania lirih menatap kosong ke depan


"Jika kau merasa takut, jangan kau lakukan.


Kau perlu menguatkan hatimu untuk menerima kebenarannya. Mungkin saja menghancurkan semuanya.


Tapi jika kau memilih mencari kebenaran maka kau harus siap apapun konsekuensinya" ucap Sandy bijak


"Aku takut, tapi aku ingin tahu" ucap Sania menatap Sandy


"Kalau begitu aku akan membuatmu berani. Aku akan mendukungmu dan menghiburmu.


Bahkan jika kau menangis, dadaku siap menampungnya" ucap Sandy menggoda


"Omong kosong, dasar Playboy cak ikan teri" ucap Sania terkekeh.


"Tapi kau suka kan????"


"Mimpi....." cibir Sania menjulurkan lidahnya.


"Aku ingin ke rumah sakit tempat Davina melakukan tes DNA. Aku juga sudah melakukan tes DNA di rumah alit lain. Itu buat antisipasi saja jika ucapan Davina dusta atau mereka memanipulasi data"


"Biarkan aku yang mengambilnya" ucap Sandy yang di balas anggukan lemah Sania.


Sania tak punya keberanian untuk beralasan keluar rumah, Sejak kejadian mamanya pingsan, Aditya seolah mengawasi gerak geriknya.


Sania berharap Sandy bisa mengelabuhi anak buah Aditya.

__ADS_1


__ADS_2