(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Latar Belakang William dan Willy


__ADS_3

Setelah kenyang memakan bakso yang super pedes, semangat dan mood Jovanka langsung naik, ia tak menyangka jika pria dingin dan menyebalkan seperti Arjuna bus bersikap baik pada orang, ia tak pernah menduga jika Arjuna Isa bersikap seperti manusia, pasalnya ia terkenal dingin dan kejam


Setelah kenyang mereka langsung menuju rumah Jovanka, namun Jovanka yang tak mau ada gosip miring tentangnya, meminta Arjuna menurunkannya di depan komplek dan memilih naik ojek untuk menuju rumah kontrakannya


Ia sudah sangat merindukan anak-anaknya


Begitu masuk kerumah, Jovanka langsung di sambut oleh pelukan hangat anak-anaknya yang berlari menghambur ke arahnya


Mereka memeluk dan menghujani Jovanka dengan ciuman


"Ma, atu cium bau Baco" ucap Davina mengendus- endus seperti kucing mencium ikan


"Tau aja, mama bawakan kalian bakso" teriak Jovanka membuat ketiga anaknya berbinar senang, mereka langsung meraih plastik berisi bakso dari tangan Jovanka


"Tunggu sayang panas, biar mama bukakan nanti, mama mau ganti pakaian duku" ucap Jovanka khawatir anak-anaknya terkena kuah panas


"Cepet m, kita udah gak sabar nih" ucap Daffi menelan Saliva nya


"Tunggu sebentar ya sayang, Daffa awasi adik-adikmu" ucap Jovanka


lalu ia menuju kamar Bu Ratna


Tok tok tok


"Bu, apa ibu sudah tidur??" tanya Jovanka di balik pintu kamar Ratna


"Ya nak, ibu baru selesai sholat isya, kamu sudah pulang nak??"


"Iya Bu, Jo bawa bakso kita makan sama-sama yuk Bu, tapi Jo ganti pakaian dulu karena sudah lengket" ucap Jovanka mengendus aroma tubuhnya sendiri


seolah bau disinfektan menempel disana


"Baiklah, mandi sekalian, biar ibu yang tuang baksonya ke mangkuk" ucap Bu Ratna


"Terima kasih ya Bu" ucap Jovanka yang di balas anggukan kepala Ratna yang tersenyum lebar.

__ADS_1


Jovanka langsung menuju kamarnya segera mandi dan berganti pakaian karena anak-anaknya sudah tak sabar makan bakso


Jovanka tersenyum senyum sendiri, ia teringat saat makan bakso tadi menjahili Arjuna dengan menambahkan sambal beberapa sendok sampai wajah Arjuna seperti kepiting rebus, merah karena kepedasan.


Arjuna sampi minum lima gelas air untuk mengusir rasa pedasnya


"Arjuna,,... Kalau di pikir nama itu tak asing, hemmm, aku baru ingat itu suamiku yang kejam itu.


tapi ya walau namanya sama tapi bos nya punya sisi baiknya sedikit ya hanya sedikit, sementara pria itu jahat, meninggalkannya saat hari kedua pernikahan mereka dan akhirnya ia berujung di tangan mama pria itu


Jovanka menggertak gigi mengingat kekejaman mertuanya, walau papa dari suaminya baik, namun pria tua itu tak pernah menegur istrinya apalagi memarahinya walau istrinya sudah sewenang-wenang pada dirinya.


Jovanka benci keluarga itu.


Setelah rapih Jovanka langsung turun, mereka makan bakso bersama


Sementara di tempat lain


Baskoro nampak termenung, sejak beberapa waktu lalu ia seolah sedang berfikir keras apakah penglihatannya salah atau ia diliputi rasa bersalah ketika dengan gamblang istrinya bersikap buruk pada mantunya itu, bagaimanapun Ayudia adalah anak sahabatnya, seharusnya ia membela menantinya itu, namun ia justru diam sehingga Deswita makin berulah karena seolah mendapat angin segar dari suaminya


Bahkan saya Adhi Prakasa masuk rumah sakit karena shock dan bersikukuh jika anaknya tak akan melakukan itu, nyatanya Baskoro tetap tak bertindak mencari tahu, kini i menyesali semua perbuatannya di masa lalu.


Deswita bersikap di luar nalar karena ia juga membuka kesempatan itu.


"Pa, sebaiknya bapak istirahat saja, biar saya yang akan menjada ibu Deswita" ucap William yang baru sampai menggantikan Willy, ia sempat tidur beberapa jam di apartemennya setelah membelikan makanan dan minuman untuk Jovanka, kini gantian Willy yang pulang.


Dua orang kakak beradik itu saling kerja sama bahu membahu. mereka di adopsi oleh Baskoro sehingga mereka bertiga tumbuh bersama, jangan lagi sangaikan kesetiaan mereka berdua pada keluarga Baskoro, mereka sanggup mengorbankan nyawa mereka demi orangtua angkat dan Arjuna.


"Nak, kita bukan di kantor, mengapa kamu selalu seperti itu, apakah papa harus mengingatkan mu terus???" tanya Baskoro tanpa menoleh, matanya menatap lirih ke pemandangan di bawah sana, sebab kamar rawat Deswita berada di lantai tujuh rumah sakit tersebut.


"Tapi ibu Deswita..."


"Maafkan papa ya, papa akan memperbaiki semuanya perlahan, urusan Deswita serahkan pada papa" ucap Baskoro kini membalikkan tubuhnya menatap William, keponakannya yang yatim piatu.


"Papa tak perlu meminta maaf, Bersabarlah pa, Allah pasti akan membukakan hati mama Deswita suatu saat nanti"

__ADS_1


"Sampai kapan???" tanya Baskoro lirih.


William tak tahu harus menjawab apa, ia hanya diam tak mampu berkata apa-apa


"William, papa mau tanya, apa wanita yang mendonorkan darahnya karyawan di perusahaan kita???siapa namanya???" tanya Baskoro teringat sosok familiar yang ia lihat dari jauh


"Iy pa, wanita itu kepala bagian perencanaan, Bu Jovanka namanya, mengapa???" tanya William


"Ah tak apa-apa.


Bisakah papa minta data lengkap wanita itu???, bisa kamu serahkan pada papa tanpa sepengetahuan Arjuna???"


"Bi..bisa pa, akan William kirim lewat email


"Baiklah, tolong rahasiakan"


"Baik pa, papa istirahatlah, keadaan mama Deswita sudah stabil, jika ada sesuatu William akan bangunkan papa, sebentar lagi Arjuna akan sampai.


Baskoro mengangguk dan menepuk lembut punggung William


"Terima kasih kalian sellau mengerti papa, maafkan sikap keras Arjuna sama kamu ya, jauh di lubuk hatinya papa yakin dia menyayangi kalian"


"William mengerti pa, kami tak pernah benci dengan Arjuna, dia saudara kami" ucap William lirih


"Papa bangga dan bahagia nak, ku tumbuh jadi pemuda bertanggung jawab dan dewasa"


Baskoro lalu menuju kasur yang disediakan untuk pihak keluarga beristirahat, tak kamu kemudian terdengar dengkuran halus, Baskoro sudah tertidur.


Memang William maupun Willy memilih ngekos ketimbang harus hidup satu atap dengan Deswita, dikarenakan mereka tak mau papa angkat mereka bertengkar karena Deswita yang bersikap merendahkan anak-anak angkatnya, lebih baik mereka ngekos, kuping plong karena tak harus mendengar makin dan Omelan Deswita, hidup jadi tenang.


"Untuk apa Papa minta data Bu Jovanka???, aneh" ucap William menggelengkan kepalanya, tidak biasa-biasanya Baskoro memperhatikan bawahnya, apa ia mau secara pribadi mengucapkan terima kasih??? entahlah"


"Kenap Aloe geleng-geleng aja, loe gak mabok ekst**i km???" tanya Arjun melihat William dengan muka penuh selidik


"Gue lagi pusing, dah Sono mending loe mandi bro, Bau" ucap William menutupi hidungnya membuat Arjuna mengeram kesal dan langsung menuju kamar mandi,

__ADS_1


__ADS_2