
"Mengapa kau sejak tadi tersenyum??? tak ada yang pernah mengatakan padamu jika senyummu terlihat menjijikkan"
"Bos,. kau tidak lihat jika sekali aku tersenyum bisa membuat banyak wanita tergila-gila padaku"
ucap pemuda itu dengan senyum percaya diri
"Dalam mimpimu, kau terlalu memandang tinggi dirimu" ucap seseorang di samping kemudi
"Aku mengatakan yang sebenarnya. kau akan memahaminya kelak saat kau dewasa, bahwa di digandrungi banyak wanita itu sangat menyenangkan dan ada kepuasan tersendiri" ucap pria tampan itu
"Dasar Playboy cap Kampak, pikiranmu hanya wanita saja, apa kau memiliki banyak waktu senggang??? apa aku masih kurang memberimu pekerjaan ????"
"Kau... ah menyebalkan, merusak kesenangan orang saja" ucap pria itu cemberut
"Cepat katakan apa yang kau dapat tadi di ruang sidang??" tanya penumpang di sebelahnya tak sabar
"Pengacara yang membela tersangka seperti dugaan mu merupakan orang suruhan seseorang, sepertinya ia di tekan. Mengapa kau punya otak begitu cemerlang??? aku curiga kau manusia kerdil hahaha" ucap pria itu tertawa terbahak-bahak
Bugh
Sebuah pukulan mendarat di perut pria tampan tersebut, membuatnya terbatuk-batuk , walau tak begitu sakit, namun tetap saja ia terkejut
"Axel apa kau bosan bekerja padaku???"
"Kau ...
Tidakkah kau memiliki selera humor?? aku hanya sedang bercanda bos, kau seperti kakek tua yang senang mengomel, aku yakin kau akan tua sebelum berkembang, atau mungkin kau anak kecil yang kerasukan roh kakek-kakek???
ku bos paling kejam sedunia" gerutu Axel kesal
"Sepertinya pekerjaan yang kuberikan terlalu ringan untukmu.
Kau punya banyak waktu senggang untuk berimajinasi tinggi.
apa masih masuk akal kau terlalu banyak menonton televisi.
Aku sudah jenius sejak lahir dan juga aku bos paling imut sedunia" ucapnya terkekeh
"Iya paling imut, iblis berbalut tubuh mungil" ucap Axel lalu tertawa lagi
"Sepertinya kau harus ku turunkan jabatan"Dengus kesal terdengar
"Apa itu ancaman??? dengar bos, aku tertantang.
Apa kau mau menduduki kursi pimpinan sendiri??? apa orang akan percaya pada bocah ingusan yang belum genap delapan tahun" ucap Axel meledek dan tersenyum penuh kemenangan
"Dasar kau jika aku tak perlu kau, sudah Ku sepak kau" ucap pria dia sebelahnya, pria kecil yang ternyata adalah Daffa.
Axel tertawa penuh kemenangan, ia akan sellau kalah, namun jika di singgung tentang orang yang bisa memimpin perusahaan, Daffa kalah telak.
Ia memiliki otak sejenis pria dewasa, namun kondisinya take mungkinkan ia memegang tampuk kepemimpinan.
Axel merupakan tangan kanan Daffa, dia lah yang selama ini menjalankan bisnis Daffa dan memimpin perusahaan berbasis teknologi dan IT,
Daffa perlu seseorang yang bisa ia percaya dan pilihannya pada Axel, pemuda tampan yang memiliki latar belakang baik, sebelum memberikan kepercayaan yang begitu besar, Daffa sudah mengujinya dan pria muda itu jujur dan dapat di percaya.
"Aku anggap itu pujian untukku, bos kecil imut ku.
Apa tak sebaiknya kau memanggilku kakak??
kau bertingkah seperti orang dewasa, come on Daffa, kamu itu masih kecil, kencing pun belum lurus.
aku yakin anu mu masih seukuran biji melinjo" ucap Axel makin berani menggoda bos nya.
__ADS_1
Axel tertawa terbahak-bahak hingga sebuah tongkat kartu tol menepuk keningnya keras, siapa lagi jika bukan Daffa pelakunya.
Axel meringis kesakitan, ia mengelus wajahnya yang terasa pedih akibat pukulan tingkat tersebut
"Cih , cari mati" ucap Daffa kesal
"Kau anak kecil, melakukan kekerasan pada orangtua??? apa mamamu mengajarkanmu seperti itu?"
bagaimana jika wajah tampanku rusak dan para gadis menjauh dariku???tanya Axel masih mengelus keningnya, ia lalu menepikan kendaraannya dan mengaca
"Aku akan mencarikan mu kekasih, tenang saja" ucap Daffa acuh tak acuh,
"Kau, kau tidak tahu wanita, masih bah kencur bisa-bisanya mencarikan ku kekasih, ckckck" ucap Axel menggelengkan kepalanya, Daffa hanya mengangkat bahunya tak perduli
Cepat antar kan aku kembali ke mall itu, aku takut mereka mencari ku karena terlalu lama hilang.
Aku tak mau mamaku khawatir"
"Kenapa kau tidak membuka kedoknya depan mamamu, apa kau tidak lelah berpura-pura polos dan imut,
by the way, aku jadi penasaran bagaimana rupa mamamu??? apa dia wanita cantik??? apa papamu yang tampan?"
"Buang pikiran mesum mu Axel, kau bosan hidup" ucap Daffa melotot
"Bisakah kau sekali-kali jangan mengancam ku???
kau iblis kecil yang kejam, gak lucu kan aku takut pada anak kecil yang bahkan kencing saja masih di pegangin" ucap Axel meremehkan Daffa
"Apa kau pipis gak pernah di pegangin???? apa kau pakai tingkat penyangga??? mau itu anak kecil atau orang dewasa, semua laki-laki sama.
aku khawatir ketika pembagian otak kau datang terakhir setelah semua orang dapat, sehingga kau punya otak sedikit korslet" ucap Daffa sinis
"Hahahaha" Axel tidak marah di Katai begitu, sedari belum lihat sosok Daffa ia sudah biasa mendapat ucapan ketus Daffa. Namun Axel tahu jika Daffa baik, hanya saja mulutnya sedikit tajam.mereka sudah sampai di parkiran sebuah mall, dimana mereka bertemu.
"Kau.... " Daffa menghentikan kalimatnya saat ponselnya bergetar
Drrrttttt drttttt drttt
Mama Calling.....
"Assalamu'alaikum ma"
"Wa'Alaikum salam, anak nakal kau kemana???
mama sudah katakan jangan berkeliaran sembarangan.
kita sedang dalam mode siaga" ucap Ayudia cerocos Ayudia kesal
"Maaf ma, aku hanya ke toilet"
"Omong kosong, Jacky menghubungi mama kau menipu pengawal dan meloloskan diri, dimana kamu, awas saja mama jewer sampai putus kuping mu" omel Ayudia
Axel yang mendengar betapa galaknya mama dari bos kecilnya terkekeh geli melihat wajah Daffa yang puas ketakutan
Daffa mengisyaratkan Axel diam, namun bocah tengil itu malah tertawa kencang, ia puas dan semakin penasaran ingin mengenal sosok yang sedang mengomeli Daffa
"Kau dimana?? siapa itu yang tertawa.
Mama sudah di dalam mall, dimana kamu???" tanya Ayudia tak sabaran
"Aku... aku bertemu om-om, dia akan membawaku ke mama" ucap Daffa segera mengakhiri panggilan teleponnya sebelum genderang telinganya pecah karena teriakan Ayudia.
"Siapa yang kau sebut om-om????"
__ADS_1
"Siapa lagi ya kau, cepat gendong aku dan bawa ke restoran S lantai dua, mamaku juga menuju ke sana.
Aku peringatkan jangan berbicara yang aneh-aneh atau karirmu tamat"
"Buku kali tamat, lagi pula kau bisa jalan sendiri, mengapa kau minta aku menggendongnya???
bagaimana jika para gadis mengira aku sudah memiliki anak, itu..."
"Axel Wijayaaaaa"
"Ah baiklah kau menang bos kecil, tahukah kau, aku ingin sekali memoles kepalamu, menyebalkan" gerutu Axel langsung menggendong bocah kecil yang merupakan bos nya, jika orang tahu, tak akan ada yang percaya, karena itu mustahil.
Namun tidak bagi Daffa dan Daffi.
masing-masing memiliki perusahaan mereka sendiri.
Ketika mereka berjalan banyak ibu-ibu muda bahkan para gadis yang mengagumi Daffa dan Axel, mereka dalam sekejap menjadi pusat perhatian, bahkan ada yang meminta foto atau sekedar mencubit pipi Daffa karena gemas
Axel yang tak mau di kira orangtua Daffa langsung mengatakan jika Daffa keponakanya sebelum mereka bertanya, sungguh Axel tak mau pamornya turun.
Axel dalam hati tertawa senang melihat Daffa yang mencoba tersenyum walau kesal karena pipinya di cubit, bahkan ada yang menciumnya
"Aku juga mau di cium sama cewe tadi, lumayan bening" ucap Axel menoleh pada sekumpulan anak abege yang mencium Daffa tadi
"Dasar pedofil" ucap Daffa namun Axel tak perduli, ia terus maju sambil tertawa
Hingga mereka tiba di restoran yang di maksud, seorang wanita cantik blasteran dengan mata biru langsung berlari ketika melihat Daffa dalam gendongannya
"Apa..."
"Berisik, sebaiknya kau jangan bicara macam-macam dan berakting lah yang baik, aku akan beri bonus"
"Sayang, ya Allah, kamu membuat mama khawatir" ucap Ayudia langsung memeluk Daffa yang baru saja di turunkan oleh Axel dari gendongan ya, ayudia menangis
"Anak nakal, jangan seperti ini, apa kau mau membuat mama jantungan hah???" ucap Ayudia berubah seratus delapan puluh derajat dan langsung menjewer Daffa
"Mama ampun, sakit ma, aku minta maaf" ucap Daffa dengan wajah memelas, Ayudia langsung memeluknya lagi, hatinya hampir saja meloncat saat tahu Daffa hilang. Ayu langsung menghapus air matanya, ia melupakan pemuda yang membawa Daffa tadi
"Maaf aku sampai lupa, Ayudia, mama nya Daffa" ucap Ayudia mengulurkan tangannya
"Axel Tante" ucap Axel sopan, dalam hatinya berteriak.
mama dari bos nya sangat cantik dan terlihat masih sangat muda, apa Daffa bukan anaknya???
"Daffaaaa" teriak Arjuna begitu sampai, ia merasa sangat lega dan langsung memeluk putranya, Daffa yang kurang menyukai Arjuna sedikit tersentuh, papanya menyayanginya.
Axel mengalihkan pandangannya ke arah Pria yang baru sampai, terlihat wajah tampan Daffa berasal dari gen papanya
"Dia??" tunjuk Arjuna pada Axel
"Ah saya yang menemukan anak om tadi ketika tersesat" ucap Axel menggaruk kepalanya yang tak gatal.
kedua orangtua Daffa pasangan yang serasi, satu tampan dan satunya sangat cantik.
melihat Daffa bersikap seperti anak-anak timbul niat usil, seringai licik tersungging di bibir pria tampan itu
"Terima kasih ..."
"Axel om"
"Ah Axel terima kasih ya, maaf merepotkan mu" ucap Arjuna berusaha akrab
"Gak masalah om, lagi pula Daffa anak yang sangat imut, saya jadi gemas melihatnya" ucap Axel berjongkok dan menarik pipi Daffa dengan gemasnya
__ADS_1
Daffa hanya tersenyum, walau dalam hati ia mengumpat kesal dengan kelakuan Axel.