(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Kena Batunya


__ADS_3

hanya butuh satu hari team Davina bisa menemukan siapa klien yang menyewa organisasi Alex.


Davina langsung mengerutkan alisnya, klien yang di maksud adalah seorang pengusaha kaya raya di negara ini. Davina menduga akan banyak orang yang terlibat, melihat keterlibatan pengusaha ini yang merupakan politikus juga.


Beberapa waktu lalu juga akibat pernyataan Jimmy, beberapa orang penting kena imbas dan menjalani beberapa investigasi.


Terlalu banyak yang bermain di uang kotor yang Jimmy putar, tak menutup kemungkinan bukan hanya satu dua orang yang akan merasa gerah dengan kesaksian Jimmy Chou.


Davina memprediksi akan ada badai besar yang akan datang, lebih besar dari yang ia duga.


Davina berfikir keras, ia harus melibatkan kedua saudaranya dalam hal ini. setidaknya dengan mereka bertiga bekerja sama maka semua akan lebih mudah di tangani karena akan saling mendukung.


Jujur saja Davina perlu keduanya untuk membantunya mengumpulkan semua informasi yang akurat, bukan hanya satu line.


Dan Daffi adalah pakar nya., si jenius elektronik dan informasi di belakangnya. ada Vincen yang memiliki kemampuan analisis tajam.


Sementara di kubu Daffa ada Axel, ya walau beberapa waktu lalu pria itu cidera parah di wajah, namun dia tetap bisa bekerja walau masih menjalani serangkaian operasi wajah untuk rekontruksi wajahnya yang rusak karena ulah Jimmy Chou.


Davina menyerahkan orang suruhan Alex untuk Agatha tangani, Davina tak mau mengotori tangan ya, ia hanya akan menyekap orang itu sampai semuanya selesai.


Pergolakan dalam organisasi Alex sepertinya cukup di manfaatkan baik oleh orang kepercayaan Alex.


Malcom? asisten dan orang kepercayaan Alex yang sudah Alex anggap saudara nya sendiri, lalu ada dendam apa diantara Malcom dengan Jimmy? mengapa pria itu bersikukuh menerima job pembunuhan Jimmy padahal jelas Alex melarang adanya pembunuhan, sungguh teka-teki.


Davina tiba di rumahnya menjelang sore hari,


Setelah tiba di rumah, nampak dua pria kecil sedang menunggunya, siapa lagi jika bukan Daffa dan Daffi., kedua kakak kembarnya


"Kau membuang-buang waktu kami" ucap Daffa kesal


"Maaf kak, aku harus mandi dan berganti pakaian" ucap Davina pelan dengan wajah lelah


"Mandi dan ganti pakaianmu, kami akan menunggu di ruang keluarga, ayo kak" ajak Daffi yang lebih pengertian di banding Daffa yang kaku.


alih-alih menunggu mereka malah asik main game dan mengabaikan Davina yang sudah datang setelah mandi dan berganti pakaian


"Nanggung nih, kami lagi battle" ucap Daffi sementara Daffa hanya melirik sekilas dan kembali sibuk melihat layar monitor


Davina hanya menghela.nafas, ia berjalan menuju dapur, membuat hot matcha milk dan mengambil anggur di lemari pendingin, lalu kembali ke ruang keluarga.


Davina duduk memperhatikan dua saudaranya sambil menikmati buah dan segelas matcha.


Davina asik menikmati ekspresi kalah Daffa dan ekspresi kemenangan di wajah Daffi.


Kedua kakaknya itu terlihat normal seperti anak usia mereka.


"Ahhhhh sial, kau curang Daffi" protes Daffa Tek menerima kekalahannya membuat Davina tertawa


"Kau saja yang tidak pandai bermain game ini, menuduh curang lagi" protes Daffi tak terima


"Kalian dua anak ingusan, main game aja Samapi berantem" ejek Davina cekikikan


"Kau juga ingusan, berlagak sudah dewasa.


Liat udel mu saja bodong karena kebanyakan makan" ledek Daffi yang di angguki Daffa.


Kali ini Daffa setuju dengan perkataan adiknya


"Terserah kalian, ada yang perlu aku diskusikan.

__ADS_1


Ini masalah Jimmy Chou" ucap Davina membuka diskusi mereka


"Bukanya dia sedang dalam proses hukum, kita tunggu saja berapa lama ia di penjara" ucap Daffa santai


"Bukan itu, apa kalian tidak tahu hasil sidang beberapa waktu lalu?" tanya Davina menatap kedua saudaranya


"Tahu, terus???"


"Jimmy kini jadi incaran pembunuh karena menguak fakta keterlibatan beberapa orang. Beberapa waktu lalu di sel tahanan ya ada orang yang mencoba membunuhnya, lalu setelah di rawat, di rumah sakit juga ada pembunuh yang dikirim, beruntung selamat"


"Kenapa gak mati aja sih tuh orang, nyawanya banyak bener kaya kucing" cibir Daffa sewot


"Orang jahat susah matinya kak, di dunia di siksa, di akhirat kena siksa.


Jangan bilang kamu bantu si Jimmy Chou itu??" selidik Daffi menatap tajam Davina


"Kau.... bagaimana bisa kau membantunya?? apa kau sudah gila? bagaimana jika papa ,mama, nenek, kakek ah pokoknya keluarga besar kita tahu, kau bakal kena luapan emosi mereka!!!!


Apa kau mau di usir dari rumah dan tak dianggap anak lagi???" pekik Daffa tak bisa menahan emosinya.


Ia kecewa Davina membantu Jimmy yang jelas-jelas sudah menghancurkan keluarga mereka dan membunuh anggota keluarga mereka.


"Karena dia papa kandung om Sebastian" ucap Davina lirih.


"Astaghfirullah" pekik Daffa terkejut


"Innalilahi yang bener dav???" tanya Daffi tak percaya.


Davina mengangguk pelan membuat kedua kakaknya mengelus dada


"Nasib apes. kita masih beruntung berasal dari kecebong papa Arjuna, walau dia papa yang payah" ucap Daffa menghela nafas


"Woi, kita lagi gak bahas kecebong lah gen lah.


Kalian belum cukup umur. cuci otak kalian yang gak jelas itu" ucap Davina sewot.


Apa pria selalu seperti itu???


"Kenapa kau yang sewot, kita kan lagi bicara fakta, ya kan Daffi???"


"Yoi" jawab Daffi lalu mereka berdua tertawa


"Mau lanjut apa gak?? kalau kalian gak mau ya gak apa-apa" Davina hendak bangkit dari tempat duduknya, namun Daffa dan Daffi menariknya duduk kembali dengan senyum lebar


"Duduk adik manis, gitu aja sewot" ucap Daffa dengan senyum menyebalkan


"Iya, iya, gak baik ngomel-ngomel terus, nanti cepet tuir" timpal daffa nyengir kuda


Setelah memastikan saudarinya duduk, Daffa mulai terlihat serius,


"Jadi alasanmu membantu Jimmy hanya karena om Tian?" tanya Daffa pada adiknya


"Salah satunya, aku khawatir semua perkara yang sedang kita ajukan ada sangkut pautnya dengan orang di belakang Jimmy Chou. Pria itu hanya boneka dari orang kuat di belakangnya"


"Masuk akal, tapi tetap saja aku benci mendengar kau membantunya" ucap Daffa


"ya Anggap saja Davina menjaga agar hukum yang akan Jimmy terima tetap berjalan, jika pria tua itu mati dengan mudah, pastinya sangat di sayangkan bukan???"


"Benar kak, itu pemikiran ku.

__ADS_1


Jika ia harus di hukum , maka biar hukuman itu tetap terjadi, dan aku ingin menggaruk semuanya sampai ke akar-akarnya agar keluarga kita damai tanpa ada musuh" ucap Davina meyakinkan kedua saudaranya


"Aku setuju, walau menyelamatkan Jimmy terasa mengkhianati keluarga kita, tapi ya sudahlah" ucap Daffa pasrah


Davina langsung menjelaskan semua detailnya, Daffa dan Daffi mengangguk-angguk serius mendengarkan.


Mereka melihat dengan jelas bahwa jika mereka tak bersatu, kemungkinan akan fatal.


"Aku mengerti, aku akan bantu, hanya saja Axel..."


"Ngapain manggil-manggil gue?" tanya Axel yang tahu-tahu sudah berada di belakang ketiga bocah kembar tersebut, wajahnya yang masih di perban hanya menyisakan sepasang mata membuat ketiganya berteriak terkejut


"Astaghfirullah, axellll, cari mati" teriak Daffa marah, namun Daffi dan Davina melotot pada kakak mereka.


Jika bukan karena Axel berkorban nyawa, Jimmy tak akan berhasil mereka bekuk


"Kau kurang kerjaan" gerutu Daffa kesal


"Habis ghibah gak ngajak-ngajak sih, kan gue bete di kamar" ucap Axel asal.


sudah tiga hari Axel pulang ke kediaman Angelo karena demi kenyamanan seluruh keluarga yang merasa berhutang budi pada Axel


"Hello bro..., tidur loe terlalu miring ke kanan, makanya loe error" ucap Daffa kesal


"Hahaha loe kok tahu???" ucap Axel menggaruk kepalanya yang tak gatal


"Daffaaaaaaaaa, kamu kok gak sopan sama Axel???


Minta maaf" teriak Arjuna dengan wajah marah.


"Mamam, singa keluar dari kamar" ucap Davina lirih menahan tawa


"Kenapa pa???" tanya Ayudia sambil membawa segelas susu di tangannya


"Daffa gak sopan sama Axel" adu Arjuna pada istrinya


"Wah, abis perkara kau kak, macan betina lebih buas dari yang jantan" ucap Daffi menimpali membuat Axel tertawa terkekeh


Tiga bocah nakal ini benar-benar sangat....


"Daffaaaa, mama gak pernah ngajarin kamu gak sopan sama yang lebih tua, cepat minta maaf setelah itu berdiri di dapur. Sebelum makan malam kami di larang beranjak dari sana!!!!"


"Masa, Daffa bukan anak kecil"


"Bukan anak kecil gimana?????, burung kamu aja masih sebesar biji melinjo. cepat minta maaf atau mama jewer kamu sampai telingamu panjang!!!" bentak Ayudia yang memang mudah marah akibat hormon kehamilannya


"Yang tabah dan ikhlas kak" bisik Davina


"Aku mendukungmu dalam doa" timpal Daffi setengah berbisik. Daffa memandang kedua saudaranya kesal tanpa berkata apa-apa


"Sorry bro" ucap Axel lirih


"Bukan kamu yang minta maaf, tapi anak nakal ini" ucap Arjuna yang mendengar ucapan Axel


Setelah meminta maaf Axel dengan terpaksa, Daffa berdiri di ujung dapur sampai jam makan malam.


Entah berapa kali ia bersin sampai mengeluarkan air mata, pasalnya asisten rumah tangga sedang memasak cabe dan beberapa menu untuk makan malam di rumah itu, dan bau asap nya menyengat hidung.


Ini hukuman paling kejam yang Daffa terima

__ADS_1


__ADS_2