
Akhirnya Jovanka selesai mendonorkan darahnya, kepalanya rasanya berputar,.
Ia sudah di beri teh hangat oleh suster namun karena ia ngeri berada lama-lama di dalam ruangan itu, Jovanka langsung memilih keluar dari ruangan itu.
Jovanka berjalan perlahan keluar dari ruangan tersebut.
"Bu Jovanka" panggil Arjuna menghampiri Jovanka dan membantunya berjalan, mereka lalu duduk di ruang tunggu
"Silahkan minum dulu" ucap Arjuna menyerahkan teh hangat pada Jovanka
" Aku sudah minum di dalam" ucap Jovanka memejamkan matanya karena terasa berputar
"Apa kau baik-baik saja??? apa perlu ku panggilkan dokter???" tanya Arjuna khawatir
"Tidak, tidak, jangan, aku hanya sedikit pusing karena aku punya anemia" ucap Jovanka lirih
"Mengapa kamu nekad donor jika kamu sendiri punya penyakit anemia???" ucap Arjuna sedikit kesal karena wanita ini tidak memperdulikan kesehatannya malah berfikiran membantu orang lain
" Hei aku tidak apa-apa, kamu gak sudah khawatir, penyakit ini tak akan membunuhku, namun mamamu sedang kritis, dia lebih membutuhkan bantuan ku" ucap Jovanka mencoba tersenyum lebar
"Dasar keras kepala" gerutu Arjuna
"Apa kamu bilang???" tanya Jovanka tak senang
"Tidak mengatakan apapun.
ini makan dulu, aku yakin kamu belum makan" ucap Arjuna menyodorkan kotak makan pada Jovanka
"Disini??? ah tidak, aku mencium bau rumah sakit aja kepalaku sudah pusing.
Aku permisi dulu Mr es batu" ucap Jovanka lalu bangkit
"Kau ternyata sehat wal Afiat, karena kamu masih bisa memaki ku Bu Jovanka" ucap Arjuna sinis
"Sudah ku bilang, aku bukan wanita lemah" ucap Jovanka bangkit, namun tiba-tiba kepalanya berputar, Jovanka oleng.
Beruntung Arjuna langsung menangkap tubuh Jovanka sebelum jatuh
"wanita kuat ya??? jangan membuatku tertawa, sekali-kali pun kau bisa menunjukkan sisi lemah mu bukan karena kau lemah, tapi walau bagaimanapun kamu tetap membutuhkan laki-laki" ucap Arjuna , namun Jovanka hanya memutar bola matanya malas
" Bawa aku ke luar, aku mual bau obat disinfektan" ucap Jovanka
Kini giliran Arjuna yang merasa jika Jovanka terlalu lebay, ia memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Arjuna bangkit dan ingin berpamitan pada papanya, di kejauhan Ia melihat papanya berjalan ke arahnya,
"Pa, Arjun pamit dulu sebentar, wanita yang mendonorkan darahnya kondisinya tak baik, jadi Arjuna akan mengantarnya pulang" ucap Arjuna
"Apa dia baik-baik saja nak??? papa baru akan mengucapkan terima kasih padanya"
"Dia hanya pusing pa, tak usah khawatir.
Lain kali saja, biar Arjuna yang mewakili papa mengucapkan terima kasih.
Papa lebih baik ke ruangan mama Wita , dia lebih membutuhkan papa"
"Baiklah nak, hati-hati di jalan dan jangan lupa beri wanita itu uang yang layak" ucap Baskoro
"Baik pa, serahkan sama Arjun.
Lagi pula dia karyawati di perusahaan kita, jadi papa tenang aja" ucap Arjuna.
Baskoro mengangguk dan menepuk pundak putranya.
ia melihat sekilas kearah wanita yang di datangi Arjuna, wanita yang sudah mendonorkan darahnya untuk istrinya
"Wanita itu?????mengapa aku merasakan perasaan familiar melihat wanita itu??? seakan aku sudah mengenalnya lama. Sorot matanya mengingatkanku pada Ayudia, aku yakin sorot matanya mirip dengan Ayudia menantuku,. walau yduia memilki lensa mata biru" ucap Baskoro menatap tajam kearah Jovanka.
Ia hanya fokus memijit pelipisnya yang berdenyut, ia sampai lupa jika ia sedang di tempat umum, Jovanka membuka kacamatanya
Arjuna yang sudah berdiri didepan Jovanka terpaku menatap wajah cantik di balik bingkai kacamata kuno itu, ia seolah tak percaya bahwa Jovanka ternyata cantik.
Jovanka masih memejamkan matanya memijit alisnya
"Sial kepala ku seperti mau pecah" ucap Jovanka lirih yang tak sadar jika bosnya sudah berdiri didepannya memperhatikan semua gerak geriknya
"Aku mau makan bakso yang pedassss sekali, mungkin dengan begitu sakit kepala sialan ini bisa hilang" gumam Jovanka lagi, lalu perlahan ia membuka matanya.
Betapa terkejutnya ia mendapati bosnya sudah berdiri didepannya bengong
"Ah sial gue lupa kalau di tempat umum dan lagi sama si manusia es, apa yang dia pikirkan pas liat wajah gue tanpa kaca mata?, bodoh,bodoh" maki Jovanka dalam hati, ia bergegas memakai kacamatanya dan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa
"Bu Jovanka mengapa anda memakai kacamata yang tebal dan kuno seperti ini???" tanya Arjuna yang merasa aneh
Jovanka modis walau pakaiannya selalu sopan sejak pertama mereka bertemu, namun Arjuna yakin jika Jovanka memiliki selera fashion yang bagus, namun,....
Bagaimana ia bisa tak memiliki selera bagus saat memilih kacamata??? dan lihat saja tadi, wajahnya tanpa kacamata terlihat cantik,
__ADS_1
"Itu karena saya punya minus dan silinder parah sejak kecil pak" ucap Jovanka menunduk menutupi kegugupannya.
Arjuna terlihat menaikan alisnya sebelah, sangsi
"Terserah mau percaya atau gak" ucap Jovanka ingin bangkit, namun ia masih pusing.
Dengan terpaksa Arjun membantunya berjalan.
Jovanka menghela.nafasnya lega, sepertinya ia selamat kali ini, namun entah nanti apakah Arjuna masih membahasnya atau tidak.
Mereka berjalan menuju mobil Arjuna, setelah itu mobil meninggalkan halaman rumah sakit, Jovanka menyebutkan alamat rumahnya, ia memilih memejamkan matanya, hingga tanpa sadar ia tertidur.
Setelah satu jam perjalanan, mereka sampai di sebuah halaman parkir tidak begitu luas, nampak parkiran itu penuh oleh beberapa mobil dan motor
Arjuna menggoncang bahu Jovanka yang tertidur
"Apa kita sudah sampai di rumahku???" tanya Jovanka mengucek matanya yang masih mengantuk, lumayan sakit kepalanya sedikit berkurang
"Loh, ini dimana pak??? mau apa kita kesini??" tanya jovanka bingung
"Menemui dokter mu" ucap Arjuna tersenyum jail, padahal mereka kini sedang...
"Aaaa, bagaimana kau tahu aku sedang mau makan ini???" ucap Jovanka yang langsung berbinar senang, kantungnya langsung hilang setelah melihat gerobak yang berisi benda bulat-bulat.
"Tunggu, tunggu, bagaimana dia tahu jika aku sedang mau makan bakso??? apa dia menguping saat aku berkata ingin makan bakso, apaa.... "Wajah Jovanka memerah ia melirik ke arah Arjuna yang terlihat cuek
"Apa kamu mau berdiri saja disitu??? " ucap Arjuna langsung masuk ke dalam kedai bakso langganannya, ia langsung memesan bakso, terlihat ia bercakap-cakap dengan pemilik kedai bakso tersebut
"Kamu mu bakso apa??? disini sedia aneka bakso, ada bakso beranak, bakso tenis, bakso tumpeng, bakso isi telor, bakso jamur, bakso mercon, bakso si daging giling, bakso rusuk,bakso...."
"Sudah kamu cari tempat duduk aja, kamu seperti pelayan kedai ini saja" ucap Jovanka menahan tawa karena Arjuna memang mirip pelayan yang sedang menyiapkan menu di kedai ini
"Pak saya bakso urat sama iga ya pak, gak usah pake mie, minumnya es teh manis.
"Siap non, mamang siapkan yang spesial buat pacar den Arjun.
Mamang gak pernah liat dia ajak cewek ke sini, palingan adiknya yang kembar" ucap mang Dirman pemilik kedai bakso tersebut
"Tapi mang, saya bukan pacarnya" ucap Jovanka tersenyum canggung
"bukan apa belum hehehe, mangga duduk neng" ucap mang Dirman cengengesan.
Jovanka hanya menggeleng kecil ingin menjelaskan namun ia urung karena kedai itu di serbu beberapa orang yang baru masuk.
__ADS_1
"Ah terserahlah"gumam Jovanka lalu menyusul Arjuna duduk di samping Arjuna